Ekspektasi Sederhana, Realita Rumit
JAKARTA — Jurusan Kimia Universitas Indonesia setiap tahunnya tidak luput dari fenomena berkurangnya jumlah mahasiswa. Setidaknya lebih…
Ekspektasi Sederhana, Realita Rumit

Lantai Dasar Gedung Departemen Kimia FMIPA UI.
JAKARTA (10/2022) — Jurusan Kimia Universitas Indonesia setiap tahunnya tidak luput dari fenomena berkurangnya jumlah mahasiswa. Setidaknya lebih dari 10 mahasiswa angkatan 2019 keluar dalam kurun waktu tiga tahun ini. Empat mahasiswa Universitas Indonesia bercerita mengenai ekspektasi dan sudut pandang mereka terhadap jurusan kimia serta bagaimana mereka menghadapi kenyataan.
Rama dan Naila merupakan mahasiswa Kimia Universitas Indonesia angkatan 2019 yang memutuskan untuk pindah ke jurusan Hubungan Internasional (Rama) dan Kedokteran Gigi (Naila) pada tahun 2020, sedangkan Avga dan Ivan merupakan mahasiswa kimia yang saat ini sedang berjuang melewati tingkat akhir.
AWAL MASUK
Senang luar biasa saat dinyatakan diterima di Kimia UI, keempat narasumber memiliki alasan yang serupa mengapa mereka bisa memilih jurusan Kimia.
“Gue lemah banget di kimia jadinya tiap hari belajar kimia. Terus nilai UTBK gue paling tinggi kimia” jelas Naila, seorang Mahasiswa Fakultas Ilmu Kedokteran Gigi Universitas Indonesia 2020, Kamis (3/10).
“Kalau gak kimia ya matematika. Karena basic keduanya punya. Kimia juga paham waktu itu” kata Avga, Mahasiswa Kimia Universitas Indonesia 2019, Kamis (3/10).
“Karena gue ngerasa gue bisa ngerjain soal-soal kimia di SMA” jelas Ivan, Mahasiswa Kimia Universitas Indonesia 2019, Kamis (3/10).
“Gue pernah dapet UTS 100 waktu kelas 11, sekali seumur hidup” jelas Rama, Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Indonesia 2020, Kamis (3/10).
EKSPEKTASI
Ketika berbincang mengenai ekspektasi berkuliah di Jurusan Kimia, Rama merasa tidak dapat menyalurkan pendapatnya sebagai mahasiswa. Karena merupakan ilmu pasti, Rama menyebutkan bahwa sulit untuk menentang suatu pendapat di jurusan rumpun sains dan teknologi. Ia juga mengira laporan praktikum akan berbentuk digital dan menyadari kimia mempelajari hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang.
Naila yang saat ini masih berkecimpung di dunia STEM memiliki ekspektasi yang paling akurat di antara ketiga narasumber lainnya. Ia menganggap kuliah kimia meliputi jam kerja praktik laboratorium yang tinggi serta akademik yang lebih maju dan kompleks. Dengan sedikit ragu dan tawa kecil, Naila menyetujui bahwa ekspektasinya cukup terpenuhi walaupun tetap mengejutkan baginya.
“Gatau kalau sesusah itu” jelas Naila, Kamis (3/10).
Kenyataan lain diungkapkan oleh Mahasiswa Kimia 2019 lainnya, Avga dan Ivan. Mereka tidak menyangka bahwa meraih gelar sarjana di jurusan Kimia melibatkan ilmu yang jauh lebih pelik dan lebih luas dari sekedar “Kimia SMA”.
TANTANGAN
Proses Rama memantapkan hati untuk pindah jurusan tersebut tergolong sangat cepat meskipun sempat ragu apakah memang ingin menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, atau semata-mata hanya karena paradenya. Ditambah mendengarkan pengalaman senior mengenai mata kuliah yang semakin sulit, Rama sudah mempersiapkan untuk UTBK tahun 2020 sebelum genap satu bulan belajar di Gedung G FMIPA UI.
Setelah jalan hampir tiga tahun menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, Rama mengonfirmasi seluruh ekspektasinya terhadap jurusan baru, Hubungan Internasional, 100% terpenuhi.
Berbeda dengan Rama, Naila mengaku pindah jurusan karena melihat peluang yang besar. Penerimaan jalur UTBK tahun 2020 hanya menggunakan nilai TPS (Tes Potensi Skolastik) dan banyak waktu luang saat pandemi menjadi alasan utama Naila untuk mencoba kesempatan tersebut. Hasil coba-cobanya mengantarkan dirinya berkesempatan menjadi dokter gigi di masa mendatang.
Sedangkan bagi Avga dan Ivan, tantangan muncul ketika mereka harus mengulang mata kuliah. Kesinambungan suatu materi yang begitu erat dengan yang lain menjadikan premis ‘kimia susah’ terasa nyata. Sehingga pada akhirnya, potensi kimia dalam diri menjadi pertanyaan personal.
Walaupun demikian, hal tersebut tidak menghalangi rasa syukur dan optimis Avga dan Ivan untuk menyelesaikan sarjana. Kesempatan lainnya seperti organisasi, kepanitiaan, teman, dan hal kecil seperti Kantin Dallas pun menurut mereka merupakan hak istimewa sebagai mahasiswa Kimia FMIPA UI.
PESAN
Dari hasil berbincang-bincang dengan keempat narasumber, berikut beberapa hal dapat dijadikan pertimbangan bagi kalian yang merasa kenyataan perkuliahan kimia tidak sesuai ekspektasi dan mengalami kesulitan dalam menghadapinya:
- Pikirkan dengan matang apa yang diinginkan!
Ketika seluruh pertimbangan untuk pindah ke jurusan lain sudah terpikirkan, perasaan sayang karena telah membuang satu tahun harus dikebelakangkan.
- Jangan lapar mata!
Bertemu dan bertukar sudut pandang dengan mahasiswa-mahasiswa lain dari beragam jurusan memang menggiurkan. Perasaan kagum terhadap fakultas lain sangat mungkin muncul di awal perkuliahan. Namun semuanya perlu dikembalikan ke poin pertama.
- Tidak seburuk itu.
Masih banyak kesempatan yang dapat diikuti untuk dapat mengembangkan diri selama menjadi mahasiswa Kimia Universitas Indonesia.
Penulis: Maryam Fildza Fakhira
Penyunting: Amara Jasmine Azzahra
메타데이터
- post_id
- a213937308dc
- slug
- ekspektasi-sederhana-realita-rumit-a213937308dc
- url
- https://medium.com/@chem.saster/ekspektasi-sederhana-realita-rumit-a213937308dc
- canonical_url
- https://medium.com/@chem.saster/ekspektasi-sederhana-realita-rumit-a213937308dc
- author_url
- https://medium.com/@chem.saster
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 12:06:01