← Back to list

.0 : Semacam Mengingat Bagaimana Ini Bermula, Disaat Sudah Sejauh Ini Jalannya

Semacam perkenalan, cerita perjalanan, juga berbagai pengalaman mulai dari jangkar dinaikkan hingga pelayaran hampir selesai dan akan…

Muhammad Rikza Chanafi · 2026-01-15 08:03 · 0 claps · 57.6 min read
#hidup #punk #perjalanan #sore #prancis
Open on Medium ↗

.0 : Semacam Mengingat Bagaimana Ini Bermula, Disaat Sudah Sejauh Ini Jalannya

Semacam perkenalan, cerita perjalanan, juga berbagai pengalaman mulai dari jangkar dinaikkan hingga pelayaran hampir selesai dan akan sejenak bersandar di pelabuhan, sebelum (tentunya) petualangan selanjutnya akan dilanjutkan.

Tidak terlalu penting untuk kalian baca. Tidak ada yang dapat kalian ambil. Tidak pula menambah wawasan. Mungkin hanya akan berujung dengan cacian dan cemoohan, tentang bagaimana bodoh, nekat, serta melaratnya aku dalam berbagai hal. Jadi, daripada hanya akan menambah dosa, saranku pertimbangan dulu saja. Boleh jika mau ambil wudu, dua rakaat istikharah dulu, untuk menentukan keputusanmu. Tapi maaf, aku tidak akan menunggu, lha wong tulisan-tulisanku, yo sak karepku!

Dan pada akhirnya, semuanya akan mengikuti satu sama lainnya. Dari yang bermula sebatas melihat, tidak sengaja berkutat, lantas ikut mencoba. Tapi, tidak akan terlalu banyak menaruh ekspektasi, sadar dengan kemampuan yang masih amatir ini. Memang harus seperti itu, sebab konon “pria sejati tidak membeli brand trendy, tapi membeli experience” ucap salah seorang kawan seusai bercerita telah menghabiskan semalam penuh bersama LC di salah satu hidden gem karaoke Jogja. Jadi tidak usah dilanjut juga bahasan ini, takut jadi ga hidden-hidden amat nanti. Tidak usah banyak berbelit dan mengumpat, kencangkan sabuk pengaman, saatnya berangkat.

Tapi aku bingung, di platform (jadul) sebelah aku sudah (menurutku si cukup) banyak menulis beberapa pengalaman hidup dan beberapa lainnya perihal refleksi ketika sedang berada dalam titik terendah hidup, mungkin begitu kalau kata anak muda zaman sekarang — meski sebenarnya juga ga rendah-rendah amat, ga parah-parah amat. Meskipun tidak berbobot dan bisa kupastikan tidak insightfull untuk kalian, toh ya siapa juga aku? Tidak bisa dan tidak layak pula kalian berharap setelah membaca umpatan-umpatan tidak jelasku tiba-tiba langsung mendapatkan motivasi untuk bangun lebih pagi, produktif di awal hari ataupun tercerahkan seperti setelah membaca tulisan James Gwee. Sudah mulai melantur, jadi mari kita buat lebih terukur. Meski tulisan-tulisanku sebelumnya hanyalah berisi life update kecil-kecilan, seperti tentang bagaimana aku menantang Jogja mencoba membonceng salah satu garis keturunannya untuk mencapai dua cita yang salah satunya sudah sangat lama aku impi-impikan. Tanpa perantara, menyampaikan perasaan langsung ke wanita yang aku puja. Berhasil. Sukses besar. Namun tidak dengan cita-cita yang kedua, yaitu nelangsa. Tidak salah dengar, aku ingin merasakan nelangsa, atau galau bahasa gen-Z nya. Mengapa? panjang, singkatnya ibarat dia bulan yang bersinar terang, aku hanya rumput ilalang, yang sejatinya dan kodratnya hanya cukup memandang. Begitu.

Baiklah, sudah mulai ada gambaran bagaimana ini akan ciamik (menurutku) sebagai sebuah awalan. Kalau ternyata tidak bagi kalian, maaf. Peduli setan! Sepertinya juga kalian tidak akan menyempatkan waktu untuk membaca.

Bagian 1–19 Pertama.

Kita berangkat dari bagaimana aku bisa menaikkan jangkar dan memulai pelayaran di Jogja, kota yang katanya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Tidak terlalu dapat disangkal, tapi pada kenyataanya tak semuanya harus selalu dibenarkan apalagi dipaksakan untuk relevan. Berangkat dari sebuah Kabupaten kecil yang tidak sepenuhnya bisa dibilang nyaman, menghabiskan hampir seperlima abad hidup untuk mencari modal, baik pelajaran maupun kehidupan. Kuberi nilai rata-rata, supaya tidak perlu remidial juga tidak membuat terlalu jemawa. Cukuplah, untuk bekal berlayar ke kota yang bagi sebagian besar orang adalah tujuan utama disaat liburan. Bagiku tidak, Jogja itu jauh. Bukan dari segi geografi, tapi ekonomi. Liburan panjangku hanya akan berkutat di kail pancing, kembali menyapa sahabat lama selepas pulang dari Asrama Candradimuka, bermalam di teras Mas Adis, atau kadang mengerjai Pakdhe Sugeng dengan tak pulang-pulang meski beliau sudah tertidur sembari bersandar di dekat perapian. Serta menghabiskan waktu sedari pulang sholat jumat hingga maghrib untuk menyambangi (Alm.) Lek Pawi. Semuanya adalah tempat kopi. Sudah tentu, dari nama sangat janggal jika itu semua coffeeshop atau semacamnya, jangan harap pula. Lumayan haram bagiku untuk menapaki kerikil viral itu dan memesan kopi susu gula aren atau sejenisnya jika tanpa ada ajakan sekaligus dibayarkan kawan. Nama-nama tadipun sejatinya jauh lebih nyaman daripada kopi berbelas atau puluhan ribu yang hanya menjual gengsi untuk memberi makan Instagram Story. Mas Adis dengan keramahan dan suasana rumahnya, Dhe Sugeng dengan sentuhan sederhana namun khas di tiap racikannya, serta Mak Tum dengan kopi susu yang mantapnya masih belum ditemukan tandingannya.

Oleh karena sedikit kenyamanan itu dan beberapa lainnya, aku memutuskan untuk “tinggal” setahun lebih lama dari sebagian kawan seusia, atau bahasa halusnya, gagal mendapat kerja karena Covid sialan, gagal masuk kuliah karena belajar adalah suatu hal yang asing semenjak PPKM digaungkan. Iya, aku lulusan Covid. Tidak jadi berangkat ke Negeri Sakura, tidak boleh dan masih takut mati untuk mendaftar abdi negara — alhamdullilah, satu hal yang sangat aku syukuri sekarang. Hampir satu tahun penuh masa “tinggal” itu dimanfaatkan dengan baik untuk persiapan masuk kuliah tahun depan. Alias, pagi berangkat ngopi dengan tema utama menyambut mentari dan menyapa petani, pulang sebelum dzuhur, tidur, sore memancing atau menikmati senja alakadarnya, sebelum maghrib beranjak pulang, malam ngopi lagi sampai pagi. Ya, se-sialan itu memang, sudah di titik tidak akan membantah atau menampik lagi segala amukan Ibu perihal gaya hidup setara cucu 9 naga ini — alias lagi.

Hingga pada akhir tahun 2021, aku putuskan untuk mencoba mencari pundi, tidak muluk-muluk untuk biaya menjadi sarjana, sebatas dapat membeli kopi susu Mak Tum dan Surya 12 saja. Angin membawa ke sebuah bengkel skena — karena tempatnya tertutup namun ramai pelanggan, sehingga masuk ke kategori yang tau-tau aja — on demand membuat mesin diesel. Palugada pokoknya, apa yang bos mau, kami ada. Mau buat mesin diesel dari 0 besar cuma modal dana, kop mesin dan segala perintilannya kami punya. Mau bawa kop sendiri, sisanya pasrahkan ke kami juga bisa. Asal cuan, semua bisa dikondisikan. Namun sayang, 50 ribu perhari, makan disediakan mulai dari sarapan hingga makan siang, serta uang bensin nyatanya hanya membuat kurang lebih 2 minggu bertahan. Bukan karena alasan klasik para pekerja korporat yang lingkungan kerjanya toxic atau ga sesuai passion, sebab jelas Pak No dan Mas Joko adalah rekan kerja yang seimbang. Satunya sangat kebapakan dengan segala petuah sebab anaknya seumuran, satunya lagi adalah perjaka tua yang hidupnya untuk beribadah, bekerja, dan kadang foya-foya dengan karaoke di boto-nan, kami menyebutnya. Tempat nyanyi alakadarnya dengan pilihan pemandu seadanya di belakang rumah produksi batu bata. Jika mau menyerempet soal passion, kenyataannya bekerja disini tidak jauh dari apa yang bisa dibilang hobi yang dibayar, merakit, menata, mengecat, dan finishing hal-hal berbau otomotif. Masih relevan dengan tiga tahunku di SMK jurusan Teknik Perbaikan Bodi Otomotif. Kerja sepadan ini tersudahi karena adanya kelenjar getah bening dan benjolan di kepala, usut punya usut atau bisa dibilang cocokologinya akibat micin. Kurang dapat diterima dengan cepat, mungkin juga oleh akal sehat, tapi kata Bu Dokter seperti itu, kok. Mau bagaimana lagi. Seminimal-minimalnya diperlukan waktu dua bulan untuk proses penyembuhan, bukan sembuh total, namun melihat progres penyusutan benjolan sebelum nanti tetap harus masuk ke proses operasi. Kalau boleh jujur, segala hal tentang kedokteran aku tidak terlalu suka, terlebih masalah ruang operasi, sudah masuk ke tahap “anti”. Dalam kondisi tidak berdaya, sadar tidak sadar aku secara sukarela harus memasrahkan hidupku ke orang lain yang tak kukenal, meski profesional (harusnya).

Setelah dua tiga kali bolak-balik ke klinik, sudah diputuskan bahwa pengobatan sementara akan dijalankan secara mandiri. Di kondisi ekonomi saat itu pengobatan medis adalah buang-buang uang bagiku, namun bukan berarti pengobatan alternatif atau yang berbau klenik akan menjadi tujuan Bapak/Ibu. Alhamdulillahnya keluargaku tak terlalu percaya. Setelah habis memangkas rambutku di tempatnya Dhe Tamar, kuputuskan untuk mencari nomor sahabatku, yang dulu terkena kelenjar getah bening juga. Dari ceritanya, perjalanan pengobatannya tak singkat, ia sudah menjajal hampir semua jalur, baik medis, alternatif, juga jalur-jalur memotong jalan utama lainnya. Namun, dikali kesekian akhirnya semua dihentikan, syukur alasannya sama dengan kondisiku saat itu. Pundi. Ekonomi. Setelah perbincangan tak terlalu lama melalui telepon WhatsApp, dapat disimpulkan bahwa ia sembuh setelah mulai hidup sehat dan didukung dengan makan-makanan yang berserat. Tak terlalu jadi masalah besar, toh dengan kondisi kepala plontos total aku juga tidak akan sering keluar apalagi plontosku ini bukan tanpa alasan, sebab ada salep yang harus dioleskan sebelum tidur yang rasanya lebih baik aku dipukul dan ditendang oleh sebelas orang — memang berlebihan, tapi panas dan cekit-cekit yang dihasilkan rasa-rasanya hampir sepadan. Nyatanya tak perlu waktu lama, kurang dari dua minggu aku sudah bisa kembali menerima “info ngopi”. Entah genetik dari bapak yang menurunkan fisik dan mental sekuat baja, atau doa ibu yang selalu menyebut namaku di rutinitas sepertiga malamnya. Kurasa satu atau duanya adalah kombinasi yang sempurna.

— Sekilas, Pantura.

Masuk tahun 2022. Disaat beberapa dari total sebelas sudah mulai menjajaki dunia perkuliahan dan mulai mencari akal-akalan supaya bisa pergi dari rumah guna merayakan masa muda yang digadang-gadang penuh dengan kebebasan. Aku dan beberapa sisanya masih tetap “tinggal”. Tapi tentu, hasrat dari jiwa muda yang masih selalu berlindung di pencarian jati diri tidak bisa tinggal diam, setelah beberapa bulan awal tetap menjalani rutinitas bajingan bagi seorang pemuda yang seharusnya sudah mulai menata masa depan, bosan yang sudah semakin akrab dengan keseharian, hingga akhirnya tercetuslah keputusan yang jauh lebih bajingan. Menyusul kawan di perantauan dengan dalih untuk refreshing sebab sudah bosan belajar di rumah, ditambah sedikit bumbu untuk menambah motivasi ketika dapat berfoto di gerbang masuk kampus atau setelah diajak berkeliling menyusur isinya.

Dan mulai dari sini, aku akan semakin kerap menyapa pantura.

Setelah lingkaran perbincangan hanya menyisakan dua atau kadang paling mentok empat personil, akhirnya siasat-siasat tengil mulai disusun. Berapa lama, kemana saja, dengan siapa, dan yang paling utama jika kembalinya tak sesuai jadwal, bualan apa lagi yang harus dilontarkan dan masuk akal supaya orang rumah dapat mengirim pundi kehidupan. Sunggah bajingan memang, semoga karma akan dosa ini sudah tuntas kulunasi. Sebelum hari H keberangkatan, polanya selalu sama, tidak ada keluar malam untuk ngopi atau keluar sore untuk menikmati senja lagi, beberapa hari akan dihabiskan di rumah untuk mendapatkan simpati serta image sebagai anak yang berbakti. H-5 atau paling lambat H-2 siasat mulai dijalankan, wacana akan disampaikan, dan tentu akan selalu saling berkabar terkait respon dari orang Luwang dan Grogolan. Biasanya siasat akan sedikit terhambat jika pundi dari Luwang agak tersendat, namun jika tidak, berarti siasat sudah berjalan mulus dan keberangkatan akan segera diurus. Tandanya, Mio kuning sudah harus segera disiapkan untuk melaju kencang menerjang pantura yang debu dan panasnya selalu jadi oleh-oleh dan bukti perjalanan sesampainya di Semarang. Istilah sunscreen masih sangat asing, kami lebih memilih tisu basah jika memang diperlukan, atau seminimal-minimalnya air keran di swalayan tepi jalan. Lebih mutakhir — lebih tepatnya, uang ngopi akan tetap terjaga, meski muka setara dengan telapak kaki seusai bermain di sawah depan rumah.

Sebagaimana sudah disampaikan di atas, bahwa belajar dan mencari motivasi tambahan hanyalah sebatas bualan. Jadi, sudah pasti buku-buku tebal yang dibawa puluhan hingga ratusan kilometer hanyalah sebagai pemberat, yang jangankan dibaca, dibukapun tidak akan sempat. Kehidupan disana akan berjalan begitu cepat, pagi sudah tentu tidak akan bangun, jika bangun pun kegiatan utama yang dilakukan hanya mematikan alarm yang berisiknya seperti orang mau lahiran. Jika memang benar-benar bangun pun, yang dicari adalah tembakau untuk dibakar, sebuah activity syahdu nan nikmat untuk mengawali hari, terlebih itu adalah suatu hal yang tak mungkin dilakukan jika bangunnya bukan karena alarm, melainkan Ibu pulang dari pasar dan minta bantuan untuk beli garam sebab api kompor sudah dinyalakan dan beliau sudah mulai meracik hidangan yang mustahil untuk ditinggalkan. Sarapan akan menjadi kata kerja yang mulai asing jika tidak karena memang belum tidur sehabis pulang dari berkeliaran. Lumrahnya hidup di Semarang, jam sarapan adalah sekitar pukul dua belas siang atau paling akhir di jam empat sore. Bahkan, jika tidak ada agenda malam hari, sarapan bisa ditumpuk pada pukul sepuluh malam. Tidak ada yang sepadan, bahkan salep pun dua kali sehari sehabis mandi. Namun, jika malam sudah disepakati akan ada kegiatan, sebelum matahari terbenam pasti sudah mulai ada perselisihan siapa yang harus mandi duluan, mulai dari metode suit Jepang, Jawa, dan semacamnya sudah dilakukan. Sebab, kerap kali arah tujuan pasti merupakan arah yang berseberangan dengan lokasi mengistirahatkan badan, jadi persiapan dan perjalanan yang diperlukan akan cukup panjang. Setelah semua siap dan kalcer sesuai dengan keyakinan, waktunya beranjak makan. Cari yang murah-murah saja asal kenyang, sebab biaya beli kopi di kota besar setara dengan Kopi Mak Tum satu minggu penuh dan dilanjut mlipir makan di sego bakar Mbak Nur, meski sadar dan tau di rumah ibu sudah memasak. Lagi-lagi bajingan, dan semoga karma untuk ini sudah aku jalankan.

Kegiatan bajingan yang menjadi tabungan dosa kebohongan ini sudah mulai berkurang intensitasnya ketika mendekati bulan-bulan kelulusan, sebab sadar akan tiba giliran untuk kembali mengupayakan masuk ke jenjang perkuliahan. Karena tinggal hanya beberapa saja yang “tinggal” lebih lama dan hanya tinggal dua yang memperjuangkan hal yang sama, akhirnya dengan penuh keterpaksaan — tentunya — kami mulai menyusun siasat yang kali ini menurutku siasat mulia sebab demi masa depan. Singkat cerita, usai mengalami beberapa kegagalan dan yang pasti sebab tinggal menyisakan aku sendirian, berdoa dan subuh berjamaah mulai sering dilakukan. Oh, Tuhan aku sadar ini sungguh sialan, dan lagi-lagi semoga balasan atas ini sudah kau berikan. Sekilas bisa dikatakan aku mulai mengurung diri, meski kawan yang penuh dengan siasat sudah pulang kembali yang artinya lingkaran perbicangan akan ramai seperti pada awalnya, namun ajakan-ajakan ngopi seringkali sudah kuhindari. Selain pundi yang memang tak seberapa, rasa malu dan gagal sudah pasti jadi salah satu alasan utama. Sayangnya, berteman dengan sepi tidak terlalu membantu, sebab kegagalan-kegagalan lain yang datang hanya membuat pikiran semakin buntu. Akhirnya, di rentang bulan-bulan mepet masuk kuliah — seharusnya — kuterima kembali ajakan-ajakan para pemuda sialan yang sudah mulai mengeluhkan dosen tidak jelas, teman lawan jenis seangkatannya yang menawan, adapula yang bingung mengurus administrasi daftar ulang, dan juga bimbang memilih masuk ke kampus bagus namun jauh dari teman atau dekat namun tidak terlalu terkenal. Sial! Semoga itu adalah karmaku sebab sering menyiasati Ibu dan tentunya durhaka sebab tak mau memahami ekonomi keluarga demi mengikuti gaya hidup kawan-kawan yang rata-rata dari keluarga berada. Aamiin.

— Nyawaku tinggal tiga.

Setelah beberapa rekapitulasi kegagalan dan banyaknya screenshoot-an doa pelancar usaha di galeri, nyawaku tersisa tiga. Satu di kampus dengan nama Jenderal terkenal Indonesia, satu di Jogja, serta satu lagi ada di seberang Provinsi sana. Sebenarnya masih ada satu lagi, namun, mari kuberitahu kalian yang entah kapan akan membaca. Berikut kisahnya.

Motor tua keluaran tahun 1998 yang dimodifikasi tidak lumrahnya anak seusiaku, sebab kuturunkan modelnya menjadi 5 tahun lebih tua, 1993. Dana tak seberapa yang sudah pasti tidak akan dan tidak berani aku siasati lagi, serta tentu doa ibu di sepanjang jalan menuju Jogja. Adalah modalku untuk berangkat ke salah satu ujian sebagai syarat penerimaan mahasiswa baru. Selepas sholat subuh di hari itu aku mulai bersiap, dengan angin pagi yang rasanya sangat berbeda dari biasanya, lebih dingin namun juga lebih senyap. Sudah pasti, Mbah Kum sudah bolak-balik wira-wiri daritadi untuk menanyakan kesiapan mulai dari barang, dana keberangkatan, hingga kondisi motor yang baru akan merasakan perjalanan panjang. Ya, selumrahnya Simbah-simbah saja yang akan melepas cucu kesayangannya (mungkin) untuk pergi jauh ke tempat baru dengan segala resikonya itu. Sudah tentu, Ibu tidak kalah rempongnya, berat untuk melepas anak bungsunya ini terlihat jelas di matanya, namun tasbih yang selalu berputar di tangan kanan sebagai penawarnya. Sebab mau tak mau dan siap tak siap, sejatinya sebagai seorang laki-laki pantang untuk besar di kampung halaman. Untuk Bapak bagaimana tidak usah ditanya, terlalu rumit dan malas mengingat juga memoriku dengannya di masa-masa krusial itu. Mungkin singkatnya, bajingan. Pukul enam tepat seorang kawan sudah tiba sesuai dengan kesepakatan, tasbih Ibu sudah berganti kain pel untuk menyisir debu di teras depan, Mbah Kum sudah duduk di depan rumah bersama kedua keponakanku dengan muka bantalnya, bisa kupastikan Simbahlah yang memaksa mereka bangun lebih awal dari jam biasanya untuk ikut serta mengantarkan keberangkatan. Sudah tentu perasaanku campur aduk, nasi telur sederhana dari Ibu sebagai sarapanku suap demi suap kutelan paksa ke tenggorokan. Bukan soal nafsu makan, tapi di waktu yang sudah mepet itu aku malah sempat-sempatnya merenung dan mereflesikan tentang bagaimana hidup yang kujalani belakangan. Sudah berapa kali aku mengecewakan? Sudah berapa banyak tembakau yang kubakar dalam kamar secara diam-diam meski aku tau Ibu sangat sensitif dengan asap itu, dan yang aku sadari Ibu juga sudah tau akan tabiatku ini. Akhirnya nasi telur sederhana namun penuh dengan doa tidak habis pagi itu, suara motor Bapak memecah lamunanku, ditambah Ibu yang dari luar sudah koar-koar karena tidak enak kawanku sudah menunggu. Baik, aku mulai bergegas menyandat tas selempang dan menata tas yang lebih besar di jok motorku. Kusempatkan untuk berpamitan dengan semua yang ada disana, termasuk Bapak yang bajingannya malah merebahkan tubuh di kamar Kakakku. Kuseret halus tangan Ibu menuju kamar itu, ia berdiri di depan pintu, dan aku berada di tengah-tengah antara Bapak yang terbangun dan duduk di kasur dengan Ibu diluar kamar yang ternyata masih memutar tasbih di tangan lainnya. Momen ini sangat sentimentil, mungkin ini adalah salah satu momen dalam hidup sialanku ini yang jika aku tidak berprinsip untuk tidak mudah menangis, — sebab menurutku air mata seorang lelaki adalah suatu hal yang sakral — aku akan menangis sejadi-jadinya. Bukan sebab keberangkatan, kegagalan, atau segala upaya mengakali masalah pundi, lebih jauh dan lebih dalam dari itu, ini perihal keluarga dan “rumah” yang sudah atau mungkin lebih tepatnya mulai sering goyah beberapa waktu belakangan itu. Apa yang aku ucapkan saat itu untuk keduanya adalah skrip yang sudah aku latih selama kurang lebih seminggu, setiap malam tanpa pernah absensi, sembari menatap langit-langit kamar dari kayu jati. Harusnya. Namun sial, ekspresi keduanya yang membuat seluruh badanku gemetar, nada bicaraku mulai tak karuan, serta air mata yang sudah hampir membasahi pipi, sehingga sudah semua atau belum, sesuai skrip atau tidak, bahkan mereka paham atau tidak, aku memilih untuk mengakhirinya.

Setelah semua sudah siap dan hanya tinggal memutar gas, diatas motor bututku aku masih sempat terdiam. Sekilas dengan cepat datang pikiran-pikiran seperti, untuk apa semua ini? Apakah memang perlu aku mengambil jalan ini? Bagaimana jika ternyata kegagalan lagi yang aku tuai? Haruskah aku tetap berjalan meski memaksa atau sudah cukup sampai sini saja? Aku kembali tersadar ketika Ibu menghampiri dan untuk kesekian kalinya memberikan pesan-pesan yang makin membuat perasaanku campur aduk. Antara ingin cepat bergegas supaya jikalau separah-parahnya air mataku turun ke pipi, hanya udara pagi itu dan daun-daun sepanjang jalan yang jadi saksi. Atau mematikan motor, memeluk ibu, kemudian mengakui bahwa aku belum siap untuk semua ini dan secara tidak langsung juga mengakui bahwa gagal menjadi seorang laki-laki. Dan kuharap kalian menebak pilihan yang tepat. Setelah aku mengiyakan dengan anggukan lemas semua petuah Ibu, aku berangkat. Dengan berat. Namun kusadari, bahwa ibarat pesawat aku sudah terlalu lama delay padahal tinggal melesat. Kususuri jalan dengan gelisah di hati namun tangan tetap memutar gas dengan pasti, kali ini aku menghindari pantura sebab takut khilaf jika harus transit dulu. Kusepakati untuk melalui jalur bawah yang menuju ke Sala dan mampir ke salah seorang kawan yang sudah hampir setahun menetap disana. Sesampainya disana, ketika ada ajakan untuk menghabiskan malam ala anak muda aku mulai berpikir panjang, berbeda seperti biasanya. Setelah cukup lama menimang-nimang, akhirnya aku tetap berangkat namun kali ini tidak dengan wajah berseri sebab akan diciumi oleh angin malam di kota yang masih baru bagiku. Masih saja, aku memikirkan masalah “rumah”-ku, dan berkutat di pikiran-pikiran rumit nan memusingkan pagi itu. Sebagai sebuah tempat singgah sementara, Sala kuberi nilai sembilan sebab harga yang ramah di kantong seorang musafir, seramah warganya. Perjalanan dilanjutkan, sebab selain Sala bukan tujuan utama, separuh jalan sudah ditempuh, dan Jogja sudah didepan mata.

Tak perlu waktu yang terlalu lama, kami sudah tiba di Jogja. Kota yang sebelumnya sudah kusinggung bahwa sangat jauh bukan secara geografi namun dari segi ekonomi, apalagi jika jadi tujuan wisata kala libur sekolah tiba. Tugu Jogja yang ikonik itu tidak terlalu memanjakan mata, mungkin sebab dari kecil aku tidak suka atau memang dengan sengaja tidak mau sama dengan kebanyakan orang, terkait selera terutama. Aku sudah lupa detailnya, tapi Bantullah yang jadi tujuan utama sebagai tempat singgah selanjutnya — sekaligus terakhir. Satu dua hari pertama terbuang sia-sia, tidak ada yang menarik selain bangun sore dan sehari makan sekali di malam hari sebelum berangkat ngopi alakadarnya dan menghabiskan sisa kerja rembulan di pinggiran jalan Malioboro.

Kembali pada topik utama di mana aku ingin mengisahkan (yang seharusnya menjadi) nyawa keempatku. Jumat, aku ingat. Setelah menunaikan kewajiban, aku siap-siap untuk berangkat ke peraduan. Ya, kombinasi yang sempurna antara ke Jogja yang pertama dan gawai — yang kuberi nama POPO — lemot sebagai alat utama untuk mencapai tujuan. Nyatanya, aku tersesat di jalanan yang entah apa dan dimana, aku sudah tiga jam terlambat dari jadwal ujian yang semestinya. Yang bisa dilakukan hanyalah mengabari orang rumah dengan gawaiku yang sudah nge-lag sebab masih panas akibat sempat jadi alat navigasi utama. Sekitaran pukul 5 aku menepi di Masjid yang rasa-rasanya sudah aku lewati tiga atau empat kali padahal di perempatan sebelum dan sesudahnya aku sudah coba jalur yang berbeda, ya sudah, sepertinya Sang Maha punya tempat tujuan yang lebih baik daripada yang ingin kutuju sebelumnya. Berangkat tak sampai, pulang pun bingung. Lebih parah dari bisa bongkar tidak bisa pasang, bisa naik tidak bisa turun, pikirku. Setelah entah salah belok dan menempuh jalan gang yang sampai sekarang aku tak kenal, sampailah aku kembali ke kos kawan. Jika aku tidak bicara, sudah pasti mereka tidak akan tahu bagaimana hari krusialku itu terbuang dengan bodoh dan sia-sia. Mungkin, pikir mereka aku pulang sedikit lebih lama karena mengobrol dengan cewek yang baru keluar ruang ujian dan nampak pusing yang kemudian aku ajak jalan-jalan mutar Jogja sembari bertukar media sosial. Aku tidak mau timbul praduga dan fitnah itu, sebab selain dosa buat mereka, juga hinaan bagiku karena aku tak punya mental seberani itu. Singkatnya mereka kasihan namun tak terlalu banyak beri komentar, syukurlah mereka paham, sebab di kondisiku saat itu tak hanya gagal datang ujian yang muncul di kepala, tapi wajah Ibu, serta segala usaha — meski mungkin tak seberapa — yang sudah aku jalani sejauh ini. Intinya, nyawaku hanya tinggal tiga.

— Patih Gadjah Mada dan Seutas Cerita Dibaliknya.

Sudah tiba waktunya pulang dan menunggu pengumuman. Sudah pasti aku taat dan tidak lagi menyusun siasat supaya ada pundi baru untuk meliar di kota yang jarak satu kampus dengan kampus lainnya terbilang sangat dekat. Hari-hari di rumah terasa sangat berbeda, ibarat aku seorang naripadana kasus korupsi dana haji dan gaji guru yang tak seberapa, detik demi detik yang aku lalui terasa sangat menghantui. Setiap langkah dan laku mulai aku resapi, apakah ketika aku begini akan berdampak ke hasil ujianku nanti? Atau jika aku begitu apakah dapat mempermulus hasil ujianku itu? Harinya Pak Jenderal tiba, jalur nilai raport tanpa ujian dengan pilihan jurusan sebanyak lima. Iya, lima, kamu tidak salah dengar. Sudah tentu lima itu mulai dari jurusan yang sangat aku minati, aku minati, tidak aku minati, untuk memenuhi slot dan untuk jaga-jaga saja, hingga yang terakhir, ibarat aku keterima aku yakin akan lebih sering dengan sengaja melanjutkan tidur daripada cuci muka kemudian bergegas masuk ke kelas. Persetan dengan semua itu! Dan nyatanya, jurusan yang sama sekali tidak aku minati pun menolakku. Aku gagal menjadi Jenderal Muda kala itu. Sudah tentu, di posisi itu aku sudah hilang harapan, bukan bermaksud merendahkan tapi jika dibandingkan dengan 2 sisa nyawaku, klasemen Jenderal ini masih kalah dengan klasemennya Kerajaan, apalagi dengan Sang Patih. Begitu saja aku ditolak, jadi mau dengan alasan apalagi aku tetap menjaga harapan? Tidak ada. Untuk menjadi bagian dari Kerajaan aku hanya mengambil jalur nilai raport, sama seperti ke Jenderal, sedangkan ke Patih aku mengambil jalur ujian, sebenarnya ada lagi yaitu jalur prestasi sebagai seleksi yang ditawarkan. Perihal prestasi tidak usah terlalu dibahas panjang, adapun sungguh sangat tidak relevan. Ahhh.. sialan memang.

Sedikit bercerita tentang proses mendaftar ke sang Patih Nusantara. Pertama, aku tidak tahu jika jalur ini ada. Kedua, belum apa-apa aku sudah merasa tidak pantas serta tidak mungkin juga untuk bisa masuk sana. Ketiga, pada saat penentuan jurusan yang akan aku daftar masih ada drama. Singkatnya, jurusan yang sedari tahun sebelumnya aku sasar dan gagal ingin kembali kucoba, namun Kakak dan Ibu menolaknya. Bahkan kakakku bilang “Goblok! Mencoba juga ada batasnya!” sekilas kurang lebih seperti itulah ujarnya. Dan yap, opsi yang kupilih dengan sisa waktu tak lebih dari satu jam adalah mlipir sejenak untuk menyalakan rokok sembari berpikir. Sebenarnya tak terlalu membantu, memang dasar pengen merokok saja. Ternyata aku lupa, bahwa laptop yang kupakai membuka laman pendaftaran adalah milik kawan yang sejatinya akan mengerjakan paper tugas kuliahnya, sebelum dipakai dan ketika layar masih menunjukkan dua pilihan jurusan yang kosong ia menanyakan mau diisi apa, aku tak tahu saat itu aku sudah tak sadar atau memang dasar sudah gila, tak terlalu kuingat apa jawabanku tapi yang pasti setelah itu aku sudah tak lagi memegang laptop dan ketika tiba waktunya pulang, aku pulang seperti tidak pernah ada drama panjang saat menentukan jurusan. Yang membuatku sadar adalah pesan dari Kakakku yang ingin memastikan adiknya tidak jadi ‘goblok’ seperti yang sebelumnya sudah ia ingatkan. Akupun bingung menjawabnya sebab tak tahu bagaimana jadinya, akhirnya disitu aku kembali bersiasat supaya selamat, meski mungkin hanya untuk sesaat. Hingga tiba waktunya keberangkatan yang penuh dengan momen melankolis di atas, sepertinya aku masih belum tahu jurusan apa yang sedang aku perjuangkan.

Sebelum tepat pukul dua belas, di warung ayam geprek dekat tempat ujianku, setelah kutitipkan rokok sebungkus dan kertas ujian ke kawanku, sebelum suapan pertama aku baru tahu bahwa aku didaftarkan di dua jurusan sastra asing, yang pertama ikonik dengan menaranya, yang kedua, untukku yang membekas adalah rumah produksi film dewasanya, hehe. Ya sudah, mau mengumpat juga tidak sempat, ada ayam geprek yang harus segera dihabiskan dan ada ujian yang menunggu untuk dituntaskan. Dengan segala kecamuk rasa lapar, bimbang, sudah merasa salah jurusan, aku putuskan untuk fokus dulu ke suapan demi suapan. Sialnya, itupun masih tidak bisa, belum genap ada sepuluh suapan, salah seorang kawan mengabari bahwasanya ada indikasi — sebenarnya sudah pasti — bahwa aku akan tiba terlambat ke tempat ujian, sebab informannya mengatakan bahwa saat itu, di gedung yang sama dengan tempat ujianku sudah mulai dilakukan pengecekan berkas-berkas syarat ujian, mulai dari kartu pendaftaran, surat Covid sialan, dan berbagai perintilan. Sedangkan aku? Geprek baru tiba dan belum habis, masih ada es teh dan surya dua belas yang belum aku takis. Hari itu tepat keesokan hari setelah aku gagal datang ujian sebab tersesat di jalan, coba bayangkan, bagaimana peliknya kondisi dan nasibku yang sudah dipinggir jurang. Namun apa? bodoh dan bajingannya aku tetap menyalakan rokok dan menghisapnya dengan tenang, padahal ayam geprek tadi aku tuntaskan dengan kecepatan penuh tanpa menjalankan sunnah Nabi tentang mengunyah makanan sebanyak kurang lebih hingga tiga puluh. Sesampainya di gerbang utama, aku bertanya ke mas-mas dengan almamater karung goni dan senjata utama berupa peta, dia meragukanku karena hanya tinggal tiga menit waktu tersisa, sebelum ujian terlaksana. Keparat! Ya memang tidak salah juga jika seperti itu responnya, tapi setidaknya jangan diawal juga keraguan itu disampaikan, minimal baca dululah kertas ujianku, lihat dulu peta itu, tunjukkan kemana aku harus melaju, baru setelah itu terserah mau mengumpat dan membodoh-bodohkan kenekatanku.

Sesampainya di gedung tujuanku, sudah tentu prediksi telat tidak meleset sama sekali. Mungkin jika ada diksi diatas telat, itu jauh akan lebih tepat. Sebab, pengecekan berkas yang panjang dan rumit seperti yang informan tadi sampaikan saja sudah tidak ada, sempat berpapasan sepertinya salah satu bagian dari panitia pengecekan dilihat dari pakaian yang dikenakan, itupun sudah alih profesi jadi angkat-angkat kursi antrian supaya tidak menghalangi jalan. Dengan nekat aku putuskan untuk menghampiri dan bertanya, sudah sesuai belum nama gedung di kertas dengan yang sekarang aku jajaki, kemudian ruangan blablabla ini di sisi mana gedung ini. Benar untuk pertanyaan pertama, ada di lantai tiga untuk pertanyaan selanjutnya. Sisanya, ia tampak menghela napas panjang sembari menggelengkan kepala, mungkin sembari membatin “Bajingan dari mana dia ini? Kok bisa-bisanya ada orang seperti ini dan lebih parahnya mendaftar disini?” Kalaupun benar prasangka terkait itu, aku tidak mau terlalu ambil pusing, sebab ada anak tangga yang harus segera aku susuri untuk menuju ruangan yang mungkin hampir setengah jam lalu seharusnya sudah aku tempati. Sudah pasti ada lift, tapi aku ini warga kabupaten, bos. Daripada mengambil resiko tidak bisa naik santai, aku mending memilih sedikit berkeringat naik tangga lantai per lantai.

Tibalah aku di lantai tiga sekaligus terakhir gedung ini, ingatku. Aku tidak paham konstruksi bangunan sebaik anak arsitek atau teknik sipil, tapi yang aku tangkap lantai tiga ini tidak terlalu besar, hanya ada satu lorong tidak terlalu panjang dengan kurang lebih lima ruangan yang saling berhadapan, dua di kiri dan tiga di kanan, jika dari sudut pandang orang yang keluar dari lift. Di ujung lorong ini hanya ada kamar mandi di sisi kiri, dan langsung tangga evakuasi di depannya, sejauh yang kuingat seperti itu. Aku tidak menjamin bahwa ini mutlak, sebab kondisiku saat itu jelas sangat mustahil untuk dapat berpikir jernih, kutelusuri perlahan hingga tiba di ruangan sisi kiri paling ujung, dekat kamar mandi. Tanpa mengetuk, aku masuk. Sebab kulihat ada orang yang dari tampilannya pasti dapat menjawab pertanyaan dan kebingungan di kepalaku. Ada dua orang, duduk berseberangan, keduanya berpakaian rapi, satu dengan kursi yang megah ornamennya, dan satunya kursi tamu biasa. Tanpa basa-basi aku bertanya, ruangan blablabla di sebelah mana, dan sesuai dugaanku, sesosok yang aku lupa pria atau wanita dengan kursi megahnya menginstruksikan untuk mengecek tiga ruangan seberang, tanpa berlama-lama aku bergegas entah dengan mengucapkan terima kasih atau tidak, aku lupa. Ya attitude bangsawan Inggris lah, alias. Sudah dua ruangan aku intip dari kaca pintu dari sepenglihatan kasar dan panikku semuanya kursi terisi penuh, harapan dan perjudian soal kursi ujian ini tinggal menyisakan satu kali kesempatan intipan, jika penuh lagi, sudah pasti inilah ujianku sebenarnya, “tinggal” lebih lama lagi dan kembali menyusun siasat untuk tahun selanjutnya. Namun Sang Maha masih memberi kesempatan, tepat saat kedua mataku menempel di kaca pintu, arah penglihatan langsung tertuju ke kursi nomor dua dari paling depan, samping seorang perempuan yang sudah sibuk mencoret kertas buram sembari kedua kakinya diangkat ke kursi menyilang. Tanpa ragu, namun kali ini dengan mengetuk pintu, aku masuk. Satu dari sekian misi hari itu sudah selesai, pikirku.

Namun, karena masuk ruangan dalam kondisi yang sangat terlambat membuat berkas yang tak sempat melalui fase pengecekan ditahan di meja depan. Bapak dosen yang menjadi panitia menuturkan, “Token sudah dibagikan dan sudah mulai proses pengerjaan. Masnya terlambat sangat lama, jadi coba saya bantu tanyakan ke panitia pusat apakah masih dapat mengerjakan dengan segala konsekuensi yang ada?” Dalam hatiku, “Ahay, perihal telat aku sudah prediksi, satu untuk aku, kosong untuk sampeyan, Pak.” Hanya itu yang berani aku balas, perihal panitia pusat dan konsekuensi aku tidak berani banyak cakap, sebab sudah mencakup urusan hidup dan matiku hari itu. Aku tetap dipersilahkan untuk duduk dan mengisi kursi yang memang sudah semestinya aku tempati — sekitar lebih dari tiga puluh menit tadi. Menurutku, meski aku sedang di posisi sakaratul si bapak masih memberikan opsi untuk panik dan tegang tapi dengan duduk, bukan berdiri tegak di depan kelas yang takutnya gerak gusarku mengganggu konsentrasi peserta lainnya. Selang tak terlalu lama, ketika sedang asik — ya tentu sembari panik — duduk di kursi, panitia unsur mahasiswa menghampiri dan menanyakan mengapa aku tidak mulai mengerjakan padahal sudah cukup lama berada dalam ruangan, aku sempat berpikir mungkin Mas ini tuli atau memang kepalang cuek sehingga tak dengar teguran keras dari Bapak Dosen. Namun, entah Pak Dosen masih proses menanyakan nasibku ke panitia pusat atau bagaimana, tapi setelah hampir puluhan menit masih belum ada kabar lanjutan perihal nasibku ini. Mulai terpikir ucapkan mas-mas tadi, rasa-rasanya sudah sejauh ini dengan segala lika-likunya tadi, sayang kalau aku tidak segera mengerjakan meskipun nasibku masih belum jelas, kumantapkan tekadku untuk mulai mengerjakan. Tapi, sialannya adalah tes ini sudah memakai semacam tablet yang jelas aku akan gagap dalam menggunakannya, terlalu trendy buat anak kabupaten sepertiku. Aku masih membawa bolpoin hasil menggeledah seisi kos kawan tak lupa juga pensil yang tak sengaja kutemukan dalam tas ketika ingin merogoh celana dalam untuk pakaian ganti sebelum mandi. Aku tidak membawa apapun yang berbau penghapus, sebab pada dasarnya hidup di usia beranjak dewasa bagaikan melukis di kanvas, kesalahan berupa coretan-coretan akan lebih bijak jika diolah sembari direflesikan daripada sekedar dihapus atau ditumpuk lagi dengan warna putih.

Ya, intinya aku angkat tangan dan bertanya ke siapa saja yang mau menjawab dan membantu mengoperasikan barang keparat satu ini. “Permisi, ini bagaimana ya caranya?” Ucapku dengan tegas dan lantang. Jika mau diingat-ingat, pastilah ada beberapa kepala yang terperanjak naik dan buyar fokusnya dari layar ujian sebab mendengar pertanyaan yang antara polos atau bodoh, namun mutlak kampungan itu terlontar. Tapi aku yakin juga bahwa ada sebagian yang tidak peduli dan tidak mau sedikitpun waktunya terbuang sia-sia serta matanya lepas dari fokus utama, kertas buram dan layar kaca. Akhirnya, Mas-mas tadi datang membantu, mengarahkan aku untuk swipe ke atas dan mulai memasukkan token yang sudah tertera di papan tulis depan, namun tidak bisa. Sebab, per sekian menit token akan berganti untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pasti seperti itulah jawabannya ketika ditanya alasannya kenapa, baru dugaanku saja, tapi aku yakin hampir sepenuhnya. Token terbaru sudah kudapatkan, dan itu dari Pak dosen, yang jika mau kupikir panjang berarti beliau sudah merestui keberadaanku disini dan aku sudah halal untuk mulai membantai segala soal yang akan muncul di layar — atau mungkin sebaliknya. Dan sial, ketika token kumasukkan, subtes pertama yang muncul adalah matematika atau apalah itu, intinya berkutat dengan angka.

Sedangkan…

Bagian 2 — Pandawa dan Yang Ketiga di Candradimuka.

Sekolah menengah pertama aku tempuh dengan waktu semestinya namun tidak terlalu banyak bumbu-bumbu asmara sebagaimana masa remaja puber pada umumnya. Terhitung cuma ada 2, satu sebab dipaksa dan satunya mungkin yang aku baru sadari kini biasa disebut cinta monyet. Tak tahu apa monyet dapat royalti dari diksi aneh ini. Semua fokusku hanya di sepak bola, wajar, dulu menjadi gelandang bertahan tim nasional adalah cita-cita. Untung tidak jadi, sebab dewasa kini sadar ternyata sepak bola dan banyak hal lainnya rupanya dipolitisasi. Sudah, ini bukan tulisan yang akan berisi kritik pedas ke pemerintah, sebab pada nyatanya sudah banyak namun juga tidak terbaca oleh Bapak/Ibu disana yang konon sibuk mengurus negara dan segala tetek bengek-nya. Katanya. Langsung lompat saja ke sekolah menengah selanjutnya, sebab putih-biru hanya berisi kejar-kejaran dengan guru BK, sembunyi di balik pohon kelapa sebab parkir motor ilegal di grebek, rompi oren hukuman yang justru jadi kebanggan, cabut kelas untuk tanding bola di lapangan belakang, menantang semua kelas untuk main futsal amatiran, POPDA, sepak takraw, ditendang Pak Angga, dan beberapa kebodohan-kebodohan masa muda lainnya.

Setelah mulai mengenal keluar malam (yang kebangetan), hampir tidak terasa bahwa tiba masanya bawahan biru harus berubah menjadi abu-abu. Memang sedari awal aku tidak mau berkutat di Tayu, hanya akan bertemu dengan orang itu-itu lagi. Sebab, dari TK hingga di fase itu, aku hanya merasa pindah sekolah belaka, kembali berjumpa dengan muka-muka yang sama, kenakalan yang tidak jauh berbeda, hanya semakin meningkat skala tidak masuk akalnya. Aku sudah putuskan untuk sekolah di kota, SMKN 2 jadi tujuan utama di kepala. Namun, pada akhirnya kita sebagai manusia hanya bisa berharap, berjuang, dan sisanya kita pasrahkan ke Yang Berwenang. Terlebih keadaan juga sama sekali tidak memberi dukungan, usaha keluarga bangkrut, Kakak masih perlu biaya kuliah, Bapak yang “seperti itu”. Oleh sebab itu, sekolah gratis tanpa dipungut biaya jadi solusi, menurut Bapak dan Ibu tentu. Selama fase pendaftaran hingga aku harus datang untuk tes kesehatan yang sangat menyiksa di siang bolong saat puasa, aku tak terlalu mau tau. Kulanjutkan meliar dan keluar malam tembus pagi bersama para kawananku, sebagai bentuk marah dan protes, pikirku. Meski aku sadar, bahwa bagaimanapun juga aku akan tetap berangkat, sebab pilihanku tinggal hanya dua, putus sekolah sebab tak ada biaya atau masuk ke Candradimuka. Kuharap kalian tahu apa yang dimaksud Candradimuka biar sesi ini tak habis hanya untuk membahas istilah lama untuk tempat memupuk sengsara.

— Kebebasan Sebagai Nilai Tukar dan Beragam Hal Tak Wajar.

Singkatnya, sudah tiba masaku untuk berangkat kemudian berpisah dengan semuanya, dunia luar, kawan sepantaran, bahkan keluarga dan kampung halaman. Tentu saja ada hal yang harus dikobarkan dengan gratis tanpa dipungut biaya selama masa pendidikan, dan itu adalah kebebasan. Kebebasan masa muda, harus dibuang setidaknya selama tiga tahun ke depan. Tiga hingga empat bulan pertama haram hukumnya untuk bersua dengan sanak famili, tidak selesai sampai disitu, selama tiga tahun kedepan hanya di hari Minggu aku bisa menyantap masakan ibu, selebihnya aku harus hidup di asrama bersama teman seperjuangan dan kakak kelas yang terlampau bajingan, meski tak semua, tapi mayoritas begitu. Awalnya aku tak terlalu ambil pusing, bahkan dikala momen perpisahan dengan Bapak-Ibu, aku menolak salah satu daftar bawaan wajib untuk siswa baru. Foto keluarga. Ayolah.. ini hanya akan berlangsung kurang lebih tiga bulan, bukan rentang waktu yang akan membuatku lupa bagaimana bentuk muka orang yang sudah merawatku hingga (cukup) dewasa. Kurasa itu berlebihan, lebay bahkan. Malam pertama, saat tiba waktunya istirahat setelah seharian mulai diperkenalkan dengan macam-macam mode kekerasan dan hukuman — secara tidak langsung tentunya — yang akan aku dapatkan selama tiga tahun kedepan ketika jadi siswa yang bengal, aku hampir saja meneteskan air mata untuk pertama kalinya secara sadar. Kuulangi lagi, itu malam pertama. Oke? Entah mengapa, aku tidak terlalu bisa merincinya, bisa jadi iri dengan para teman yang sembari menaruh kepala di tumpukan pakaian yang dijadikan bantal, mereka kompak menatap dan meratap foto keluarganya. Semacam, “Lha terus aku kudu pie iki?” sebab tidak ada yang bisa kupandang selain atap bengkel yang jadi rumah bagi kami selama seminggu ke depan. Benar, laki-laki ditempatkan di bengkel anak otomotif sedangkan yang perempuan di bengkel jurusan pertanian. Kami akan tinggal disitu selama seminggu awal sembari di tiap pagi hingga sorenya diakrabkan dengan kehidupan asrama semi-militer pada umumnya. Bangun di pagi buta dengan sirine kebakaran, petasan, hingga di malam puncak ditambah bumbu percikan listrik bengkel. Kemudian lanjut dikumpulkan di lapangan untuk mendengar evaluasi “kecil-kecilan”, selalu, selama seminggu. Bahasannya tidak terlalu berbeda, berkutat mengoceh tentang betapa leletnya angkatan kami untuk berkumpul di lapangan sedari sirine sialan dibunyikan, ternyata semua diukur dari angka. Dipikir-pikir, siapa juga yang mau bangun lebih cepat dari ayam dan dengan sadar berhimpun untuk mendengarkan umpatan-umpatan tidak jelas yang sudah pasti membosankan. Bagi beberapa teman itu dianggap dongeng untuk kembali melanjutkan mimpi, tentu sambil berdiri. Aku jelas tidak bisa, dengan tinggi 175 dan berat badan yang meski hanya 40-an, aku selalu di posisi penjuru barisan, pasti paling depan, kemudian paling dekat dengan kakak kelas yang berkhotbah lebih awal dari para imam, dan paling rentan untuk dimaki di muka sembari berhadap-hadapan seperti hendak baku hantam. Dingin sudah jangan ditanya, ditambah lagi sedari awal tiba hingga nanti wisuda, kami hanya akan saling sapa dengan pisau cukur tanpa ukuran. Alias botak plontos. Ritual rutin ini akan disudahi ketika adzan berkumandang, kami semua diarahkan ke musholla belakang barisan untuk menunaikan kewajiban. Tentu sembari antri mengambil air suci, beberapa masih coba colong-colong melanjutkan mimpi, lagi-lagi pasti sambil berdiri. Setelah dua rakaat selesai ditunaikan, akan ada acara rutinan yang setiap minggu bervariasi, mulai dari setor hafalan, kajian, intinya kegiatan keagamaan. Singkatnya, sekolahku ini akan menjadi semi-pesantren ketika matahari masih ditutup bulan dan akan kembali ke semi-militer ketika matahari mulai muncul ke peraduan.

Selesai urusan dengan Sang Maha, kami masih belum akan menyapa matras yang jadi alas dan tumpukan pakaian yang jadi penyangga kepala, bahkan tidak sama sekali. Kegiatan selanjutnya adalah lari, memutari sekolah yang di tiap minggunya akan bertambah jumlah putarannya hingga mencapai lima belas kali, setara hampir tiga kilometer atau kira-kira jarak SMPku ke tempat (Alm) Lek Pawi. Setelah cukup basah dengan keringat, selesai pendingingan yang terlalu berdampak sebab kalah dingin dengan sapuan angin pagi, kami kembali ke “barak” untuk bersih-bersih diri. Tidak ada waktu untuk kami sekedar duduk santai di matras dengan tenang sembari mangatur ritme nafas, sekali lagi kami dikejar waktu setiap saat. Untuk mandi, kami diberi waktu 5 menit, tidak lebih. Bukan waktu yang sedikit memang, tapi coba bayangkan jika untuk sekitar 22 orang harus berpatokan dengan waktu yang sama sedangkan kamar mandi yang tersedia hanya dua. Orang sikat gigi sering kali berhadapan dengan yang sedang jongkok membuang tai, tangan bekas keramas penuh busa jadi satu berebut air dengan tangan yang ingin membilas muka. Tentu aku tidak sepolos itu, aku ambil opsi keran belakang barak untuk sekedar cuci muka dan sikat gigi, perihal mandi nanti dulu, mungkin waktu malam atau ketika ada celah saat para senior kembali ke kamar asramanya, pikirku. Memang jorok, tapi selagi masih ada parfum yang dapat membantu apa salahnya menghemat beberapa menit untuk dapat bersantai mesti harus dengan kedok lama mengikat tali sepatu atau pura-pura mondar-mandir cari baju.

Sebelum jam 6 lebih 15 kalau tidak salah, kami sudah harus berseragam putih-biru sesuai asal sekolah. Merapat membentuk barisan tiga shaf untuk segera melakukan pengibaran bendera, jadi, jika mau bicara soal nasionalisme kami sudah (dipaksa) khatam dibanding teman sepantaran yang upacara hari Seninnya selalu ditinggal bersembunyi di kamar mandi parkiran — sebut saja Wildan. Usai bendera mencapai ujung tiang, barisan harus segera diinstruksikan oleh danton — komandan peleton, yang di tiap harinya berganti giliran namun lebih sering jika tiba bagianku kuberikan kepada mereka, siapa saja yang memang sedang cari muka ke para hawa, entah seangkatan atau kakak kelas idola — untuk hadap kanan dan membentuk dua banjar panjang dan menuju ke aula lantai satu untuk sarapan.

Untuk tiga bulan pertama, ruang makan ibarat pintu surga — surga utama tetap di kasur — bagi kami yang fisik dan mentalnya digiling habis-habisan, namun, jika sudah tiba masa menjadi kakak kelas, aku pribadi sudah mulai pilih-pilih. Terlepas memang sudah tau skema bagaimana untuk tidak ikut rutinitas pagi, juga karena sudah terlampau akrab sekali dengan Pak Bandi, salah seorang pekerja catering sekolah kami. Selain itu, beberapa menu menurutku tidak dimasak dengan hati, hanya sekedarnya asal jadi, toh di tiap tahun akan selalu ada sekitar 48 anak yang kelaparan dan siap menuntaskan semua masakan, ya para siswa baru siapa lagi. Ada 10 daftar menu yang selalu diputar, jadi Senin ini dan minggu depan tentu tidak akan sama. Dari 10 tadi dipecah menjadi tiga per angkanya, untuk sarapan, makan siang, serta tentu makan malam. Ingatanku lumayan kabur sekarang, kalau dulu jangan ditanya, ketika sudah tersebut sekarang menu nomor berapa, aku dan 4 kawanku (yang diberi julukan kakak kelas sebagai pandawa, in a bad meaning) sudah tau dan paham kapan harus turun, duduk di mana, mengambil apa saja, dan skema-skema sialan lainnya. Menu incaran utama adalah sate ayam, aku lupa di nomor berapa tapi yang pasti itu menu makan siang, ditambah lagi dessert sate ayam adalah es krim, duh sungguh nikmat dunia yang meski sementara namun cukup bisa jadi pelipur lara dan terutama dahaga di tengah penderitaan. Es krim bisa dinikmati semuanya (seharusnya) kecuali para siswa baru, bukan karena tidak dapat jatah, kejam sekali kalau begitu. Tapi sebab para kakak kelas bajingan yang masuknya duluan selalu menumpuk es krim dua gelas jadi satu, akhirnya, kami para siswa baru hanya kebagian es krim yang hanya tinggal di pinggir-pinggir gelas. Yaaa… semuanya harus berurutan dan terstruktur, kami menganut sistem militer Indonesia, mulai dari paham utama tentang jiwa corsa (aku tidak akan banyak berkomentar), adab ke yang lebih tua dalam bentuk hormat sembari menyapa setiap berjumpa (aku sering colong-colong dengan tidak hormat karena malas dengan cara menyempil di belakang teman, meski nihil, dengan tubuh paling tinggi diantara yang lainnya jelas aku tertangkap basah dan selalu berujung dengan puk..), dan intinya mendahulukan kakak kelas dalam segala hal. SEGALA HAL. Ketika di ruang makan, anggap saja semuanya lapar, tapi tentu sebagai siswa baru kami merasa bahwa kami yang paling lapar. Mulai dari masuk, urutannya adalah kelas XII Putra dilanjut Putri dan seterusnya, setelah semua duduk akan ada petugas yang juga akan bergantian tiap harinya, idealnya adalah dua orang dengan nomor absensi yang sama, temanya bisa beda, bisa satu jurusan kelas X Putra dengan XII Putra, bisa silang jurusan, silang angkatan, apapun itu tergantung keputusan yang berwenang.

“Semuanya, duduk siap.. grak!” (balik kanan, maju jalan, setelah jarak beberapa langkah, hormat ke penerima laporan)

“Lapor, siswa (nama sekolah), jumlah (total ada 144), izin (sekian), sakit (sekian), dinas luar (sekian), siap mengikuti makan pagi/siang/malam. Laporan selesai.”

“Laporan saya terima, pimpin doa, laksanakan!”

“LAKSANAKAN!” (hormat, balik kanan, maju jalan, ke posisi semula, dan memimpin doa”

“Berdoa mulai!” “Berdoa selesai!”

(Serentak satu ruangan) “Selamat makan!”.

Tapi itu semua tergantung hari, sebab menganut istilah Hari Bahasa, wajib bahasa Inggris penuh di Senin dan Selasa, Rabu-Kamis bahasa Jawa, dan Jumat-Sabtu bahasa Indonesia. Ini berlaku untuk semua hal. Hormat ketika papasan, laporan makan, bahkan interaksi dengan kawan. Jadi, coba pikir saja bagaimana jika itu hari Senin atau Selasa dan dapat jatah untuk laporan, seharian penuh pasti sudah menyiapkan teks pegangan untuk dibawa kemana-mana dan dihafalkan, atau bahkan dua hari sebelum tiba giliran, sebab jika ada sedikit kesalahan entah penyebutan atau dari segi urutan penyampaian, harus ulang lagi dan merusak rolling-an. Bagaimana dengan aku? How about me? Kertas hafalan tadi adalah hal yang asing, sebab salah dan benar sejatinya adalah bagian dari hidup. Aku sama sekali tidak pernah memakai metode itu, jika memang salah dan harus mengulang, tinggal mengulang, sesimpel itu. Nyatanya, sama sekali aku tidak pernah mengulang, kalian harusnya paham mengapa.

Setelah serentak mengucap “Selamat makaaaaaan!” keparat-keparat biasanya mulai berulah, dari yang diam saja sehingga kami sebagai bocah ingusan merasa sungkan untuk duluan mengambil makanan, kadang memasang muka kecut dan mata elang untuk memantau seksama tiap gerak-gerik kami atau lebih anjingnya dengan frontal dan santainya memerintah kami yang paling muda untuk mengambilkan apa saja, padahal sejatinya dua kaki yang mereka punya masih normal fungsinya. Dasar bajingan! Senioritas tai!

“Ambil sendiri sana, njing. Kau sehat dan jelas lebih paham soal posisi makanan atau apapun yang kau inginkan. Aku, kami, masih bocah kemarin sore, belum tahu-menahu detail, toh diam akan salah dan kena eval, pun jika mengiyakan pasti akan selalu dicari celahnya dan berujung eval juga. Aku lapar, butuh makan.” Itu yang aku batin dan pendam.

Aku tetap melakukan perlawanan, seminimal-minimalnya dengan cuek saja seolah tak dengar, aku istilahnya ngimbangi mereka ketika hanya diam saja. Memang, puisi tak bisa jadi pengganti nasi, apalagi cuma diam dan saling bertatapan tajam dengan keparat di kursi seberang. Tapi urusan prinsip dan harga diri jauh lebih penting daripada sekedar sepiring nasi. Sialnya, mau aku atau tidak yang berulah pasti aku selalu akan terkena eval baik di lapangan atau privat di dalam kamar. Sebut saja selama masa pengenalan sekolah di kurang lebih tiga bulan awal, di tiap Jumat dan Sabtu malam, aku tidak akan tidur. Sebab, sudah pasti aku akan selalu menerima panggilan, mulai ke kamar para bajingan atau di selasar lantai yang akan selalu meningkat di tiap minggunya. Mulai dari lantai 2 hingga paling sakral dan fatal di balkon lantai 5. Terlepas aku tau atau tidak salahku apa, jika ada hal kecil yang dirasa tidak sesuai selera atau cara pandang mereka, sudah pasti aku jadi orang pertama di urutan penerima panggilan malam. Jika memang aku membuat kesalahan, meski kecil akan jadi besar dan jika besar sudah jangan ditanya lagi bagaimana nasibku malam itu. Namun, anjing dan sialannya, jika seharian penuh aku taat dan patuh pun, tapi ada kesalahan dari temanku yang bahkan aku belum terlalu akrab, aku tetap ikut menerima akibat. Kata mereka, karena aku yang terlampau bengal dan bajingan, bisa jadi pengaruh buruk untuk teman sekitar. BISA JADI?! Sudahlah, mau beribu atau berjuta kosa kata umpatan pun tidak akan dapat menjelaskan bagaimana tidak terimanya aku dengan keadaan. Masalahnya, selain argumen yang tidak masuk akal tentang pengaruh buruk untuk sekitar, ujung-ujungnya aku juga yang menerima dampak paling buruk dibandingkan si pelaku kesalahan. Kan anjing ya… Setelah hampir bertahun-tahun mungkin dapat aku simpulkan, inilah karma sebenernya dari segala rekapitulasi siasat-siasat bajingan. Semoga, aamiin.

— Perihal Sakral dan Warisan, yang Tak Lebih dari Sekadar Bualan.

Tradisi didik-mendidik, asuh-mengasuh tetap berjalan. Mestinya juga hingga sekarang. Namun, unik dan mungkin sialnya, aku dan angkatanku mendidik dan mengasuh dua angkatan, berturut-turut. Satunya jelas karena memang sebagai tanggung jawab, satunya lagi karena keadaan. Singkatnya, ketika duduk di bangku kelas tiga, Covid-19 sedang kencang-kencangnya di Indonesia. Sekolahku dan beberapa sekolah pilihan lain di Provinsiku ditunjuk sebagai sekolah percobaan dengan metode hybrid dalam pengajaran. Apesnya, angkatanku harus masuk dengan dalih pemadatan ujian dan angkatan kelas satu harus masuk juga untuk menjalani masa pengenalan. Sedangkan angkatan tengah-tengah tetap dirumahkan sembari menjadi tempat magang di dekat-dekat kampung halaman. Lagi-lagi kombinasi yang sempurna sebagai penambah beban. Akhirnya, karena keadaan itu aku dan angkatanku harus mendidik dan mengasuh angkatan ketujuh. Selama mendidik dua angkatan, aku pribadi tidak sama sekali ada hasrat untuk balas dendam, perihal bagaimana dulu aku diperlakukan, dihujam habis-habisan tiap malam, hingga dada sebelah tidak lagi bisa tumbuh jadi bidang. Yang aku tanamkan di diriku dan beberapa teman adalah pemikiran bahwasanya kita sama-sama jauh dari keluarga, sama-sama dari golongan kurang berada, kalah dengan nasib, kalah dengan keadaan, jadi sangatlah bajingan jika di perantauan dan di tempat yang seharusnya kita belajar malah menjadi tidak nyaman apalagi sampai tersiksa dan merasa dihantui setiap malam. Namun, nyatanya selalu saja ada “oknum” di tiap angkatan yang merasa paling tersakiti dulu di masa pengenalan, merasa kalau adik kelas terlalu lemah padahal yang diterima belum seberapa. Mudahnya, tipe-tipe “Abang dulu, dek..”.

Pernah kutantang teman sekamar sekaligus ketua pelaksana masa pengenalan kala itu ketika tidak sengaja tengah malam aku naik ke lantai 5 untuk menjemur baju. Perasaan janggal sudah muncul ketika dari lantai 3 naik ke lantai 4 namun suasananya terasa sepi senyap, padahal biasanya waktu malam — yang memang seharusnya buat istirahat — biasanya dijadikan waktu bermain dan bercengkerama untuk mengenal lebih akrab oleh para siswa baru. Ternyata oh ternyata, kawanku yang tingginya hanya sepusarku saat itu mengumpulkan satu pleton putra angkatan tujuh untuk berkumpul di lantai 5, sahut-sahut terdengar tidak jelas alasannya karena sudah hampir dua bulan pelaksanaan masa pengenalan namun progresnya belum signifikan. Sebenarnya itu hal yang sangat masuk akal untuk jadi alasan evaluasi diadakan, namun lantai 5 sebagai latar tempat sudah pasti aku sangkal. Tempat ini memang hanya lantai kosong yang digunakan untuk menjemur pakaian, atau mungkin bagi para keparat — salah satunya aku — dijadikan tempat untuk curi-curi merokok, beberapa juga minum-minuman terlarang — untuk ini aku tidak termasuk.

— Namun tetap saja, jika ingin dijadikan sebagai latar tempat untuk eval, tempat ini berubah jadi tempat yang sakral. Bukan sembarang kesalahan bisa jadi alasan untuk naik ke lantai paling atas asrama putra ini, harus kesalahan yang sangat fatal. Bagaimana tidak, jika melihat medannya, lantai 5 sangat cocok untuk jadi tempat eksekusi paling menyeramkan. Minimnya penerangan, angin yang begitu kencang, serta daun-daun pohon beringin yang kadang gugur sebab bergesekan, kemudian jatuh perlahan yang semakin menambah bumbu ketegangan. Terlebih, dalam adatnya setiap angkatan hanya akan dua kali atau jika memang terlampau bengal dan bodoh bisa lebih dieval disini, sisanya akan bertingkat mulai dari kamar kakak kelas, selasar lantai 2 hingga makin naik sesuai kadar salahnya sampai selasar lantai 4. Sebab semua inilah, penghuni asrama putra akan sepakat atau dipaksa sepakat bahwa lantai 5 adalah tempat yang sakral.

Akan tetapi, usut punya usut kawan kerdilku ini hanya termakan api cemburu. Kudapati informasi ini dari kawan sekamar lainnya yang kebetulan jadi tempat curhat — sebut saja — Si Abang Kecil ini. Ia tertarik kepada salah satu wanita di angkatan ketujuh, konon dari cerita informan bisa kita simpulkan bahwa segala macam bentuk perhatian ekstra sudah diberikan, berbagai seni merayu wanita juga sudah dijalankan, bahkan Adik satu ini sudah semenjak lama — atau mungkin sedari awal — diperlakukan spesial. Sungguh sialan, kekuasaan dan wewenang yang melekat dijadikan alat, kurasa besar nanti Si Abang Kecil ini cocok jadi pejabat. Selang dua hari dari aku menjemur pakaian, di dalam kamar, tepat tengah malam, dibawah lampu kamar yang tak terlalu terang, ditemani sunyi sembari menunggu Si Abang Kecil pulang, aku dan keempat kawan sudah menunggu. Aku pribadi tidak memasang muka sangar seperti empat kawan lainnya yang ternyata juga sudah tau — bukan dari aku — informasi tentang lantai 5 dan satu pleton putra angkatan tujuh malam itu. Mereka terlampau geram dan murka, sebab konon kabarnya ada narasi dari Si Abang Kecil dengan “Abang dulu, dek…” dan blablabla cerita miris nan heroik lainnya, jika benar itu terlontar dari bibir hitam pekatnya sudah pasti empat bajingan ini akan semakin hilang kendali. Bukan bermaksud apa-apa, dari Pandawa ini hanya aku yang bisa dan mampu untuk lebih dominan menggunakan otak daripada sekedar otot, satu dari mereka adalah mantan preman di SMP-nya, satu lagi punya modal badan tinggi tegap dan berisi serta ahli bela diri, satunya lagi hidupnya terlampau keras sejak dini hingga mental dan fisik sudah sangat beradaptasi, dan satu terakhir penganut aliran bela diri yang — no offense — kini pamornya sedikit banyak tercoreng karena ulah oknum yang hanya fomo dan mental keroyokan tapi sama sekali tidak paham esensi, sebenarnya dia sendiri pun juga mengakui ini. Sedangkan aku? Aku hanya pria tinggi kurus tanpa basic bela diri sedikit pun yang hanya bermodal nekat dan wani. Sejatinya, amarah yang memuncak ini juga bukan tanpa alasan ataupun hanya karena Si Abang Kecil mengadakan eval diam-diam, lebih jauh dan lebih dalam ini semua tentang harga diri dan pengalaman. Dulu, semasa kami — aku dan angkatanku — masih jadi fresh fish di sini, yang paling sering menerima “kasih sayang” kakak kelas adalah kami berlima, tidak lebih juga tidak kurang, dan dari kelimanya sudah pasti aku yang jadi juara satu. Sedangkan Si Abang Kecil satu ini, dari dulu dia menjadi manusia pertama yang selalu cari muka, dengan berbagai cara. Melapor ke kakak kelas jika ada yang tidak patuh dengan Hari Bahasa, selalu cepu kala kami menghabiskan malam untuk menggerutu, dan segala hal licik lainnya guna mendapatkan citra baik di depan para senior bajingan. Sepertinya memang dasarnya dia nyaman untuk jadi penjilat, maka dari itu sekali lagi kuulangi bahwa dia sangat cocok untuk jadi pejabat, kelak.

— Sebenarnya evaluasi dadakan adalah hal yang lumrah-lumrah saja, siapa pun berhak jadi inisiatornya. Apalagi jika kesalahan yang terjadi cukup fatal, sebaiknya memang harus segera mengambil tindakan dan akan lebih bijak jika dapat langsung diselesaikan. Takutnya, masalahnya yang awalnya cukup panas sudah tidak lagi layak santap atau paling buruk lagi adalah lupa sebab tertumpuk dengan masalah lainnya, baik masalah fatal betulan lainnya atau yang hanya sekadar pengalihan belaka — terlebih kita hidup di negara yang algoritma masalahnya tak jauh berbeda. Namun, pada dasarnya evaluasi harus dijalankan secara ideal, kita sepakati apa topik utamanya, begitupun topik-topik perintilan lainnya, kemudian jika sudah selesai dengan urusan gagasan utama, akan dilanjut pembagian porsi kerja. Siapa yang akan jadi juru selamat, siapa yang bertugas jadi polisi jahat dan polisi (baik) tidak terlalu jahat, serta siapa saja yang akan jadi penghangat — alias kompor yang tupoksinya manas-manasi keadaan saja. Itulah line-up yang harus selalu ada setiap eval.

Pintu kamar lantai tiga paling ujung dekat tangga terbuka. Si Abang telah tiba, dengan raut yang tampak begitu lesu bak habis ikut andil dalam pembangunan Ibu Kota Negara. Wajar saja, berjuang demi cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan memanglah sangat melelahkan. Setelah menggantung baju di belakang pintu, selepas menaruh jam tangan di atas rak buku, dan ketika dirasa nafasnya sudah mulai stabil setelah naik tiga lantai, seminar malam itu aku mulai. Kuawali dengan memberikan sedikit bridging santai tanpa emosi, namun mulai terlihat rautnya berubah menjadi sedikit terintimidasi, bagaimana tidak, satu kamar dengan lima hewan buas angkatan sedangkan ia yang kerdil dan hitam ini sendiri tanpa kawan. Bukan kami mental keroyokan, namun setelah nirprofesionalitasnya malam itu terdengar hampir ke seluruh telinga penghuni asrama putra lantai dua, mereka semua sepakat untuk menyerahkan pekerjaan kotor ini pada kami berlima, kupikir semua kawanku mengira bahwa persoalan ini sudah termasuk begitu mengkhawatirkan dan sudah tiba waktunya untuk Pandawa turun tangan. Setelah sedikit pergulatan argumen dan beberapa bantahan dari Si Abang, beberapa sudah mulai tampak naik pitam, kondisiku masih santai duduk bersila di ranjang bawah paling tengah. Suasana cukup mencekam, ditambah sedikit sound effect jangkrik dari kebun belakang, suara daun yang bergesekan, dan angin yang berhembus terasa lebih kencang. Saling adu bacot berjalan cukup alot, durasinya juga lumayan lama, hingga ketika Si Abang mulai memberikan sedikit bumbu emosi dan bentakan di sela-sela argumentasinya, hawa di dalam kamar mulai terasa berbeda. Jika boleh aku berimajinasi, kondisi saat itu seperti perang final antara skuat penuh Power Rangers melawan monster utama yang dari latar belakangnya adalah seorang pemuda yang ditolak cintanya, kemudian termakan rayuan iblis untuk mendapatkan kekuatan besar yang digunakan untuk balas dendam. Yang nanti diujungnya ketika selesai mengalahkan baru terkuak cerita masa lalunya yang begitu memilukan, dan akhirnya ia tewas dengan menyedihkan lalu si wanita yang menolaknya menghabiskan sisa hidup dengan penuh penyesalan. Kurang lebih seperti itu, rasaku.

Malam itu benar-salah terasa sangat jauh, kami hanya berkutat dengan isi kepala masing-masing dengan prinsip tidak mau kalah saing. Kami sama kuat dalam mengumpat, sama lantangnya untuk saling mencerca, kami berlima dengan kehidupan asrama yang sia-sia, Si Abang Kecil dengan cinta ditolak dan nirprofesionalitasnya. Sekali lagi aku tegaskan bahwa diantara kami berlima, akulah yang paling bisa untuk dominan menggunakan pikiran daripada sekedar umpatan apalagi pukulan. Biasanya seperti itu. Namun, sepertinya Si Abang Kecil kurang beruntung malam itu, setelah satu umpatan yang notabene ia lempar untuk satu angkatan, aku mulai beranjak dari ranjang dan menghampirinya perlahan. Aku tidak bisa merinci seberapa emosi aku ketika memutuskan untuk berdiri dari posisi nyamanku tadi. Mungkin jika benar, karena ia mulai panik dan gemetar melihat aku yang berjalan semakin mendekat, akhirnya ia tidak terkontrol dan terus-terusan mengumpat hingga pada akhirnya ada satu fakta yang nyatanya baru aku tahu setelah hampir tiga tahun hidup bersama dan saling bantu. Dengan posisi sedikit membeku dan sama terkejutnya dengan seisi kamar, kami berlima karena sama sekali tak menyangka, dia sendiri sebab mungkin merasa salah sebab tak sengaja mengucapkannya, aku (lumayan) lepas kendali. Kuraih lehernya, lantas kuhantamkan seluruh badannya ke apa pun di depanku, aku yakin punggungnya beradu keras dengan gagang pintu, namun itu bukan urusanku. Sontak, empat lainnya terperanjat dari posisi awal dan dengan sigap mulai memposisikan diri sebagai pihak netral. Mereka berupaya memisahkan kami berdua, namun tentu saja aku tak terima, bahkan satu atau dua dari mereka kutantang gelut jika masih ikut campur lebih lanjut. Sepersekian detik aku mengingat ucapan sekaligus prinsipku untuk menjalani sisa hariku di sekolahan ini, aku tidak ingin memiliki sedikit pun niatan balas dendam, aku ingin antar angkatan punya hubungan hangat diluar konteks pendidikan — baik formal ataupun informal — aku bermimpi bahwa tidak perlu lagi ada yang menjadi samsak di tiap angkatan, aku harap semi-militer hanya sejauh ketika matahari mulai naik kemudian turun dan digantikan bulan, dan malam jadi waktu intim untuk saling mengenal bukan hanya dengan teman sekamar namun juga lintas angkatan, bukan seperti ini, bukan pula seperti keputusan eval diam-diam sebab tak terima cinta tak terbalas. Akhirnya, kuhujamkan beberapa tinju keras ke tembok samping telinganya, mungkin tak sampai lima, namun entah bagaimana suaranya bisa membuat seluruh penghuni asrama keluar kamar dan mulai was-was akan apa yang terjadi di dalam kamar paling ujung ini. Aku tidak terlalu ambil pusing pikiran orang, intinya kurasa malam itu aku yang menang, sebab berhasil memberi pelajaran (menurutku, si..) dan karena tetap teguh pada pendirian.

— Ujian di Depan Mata, Dipaksa Menata Langkah Selanjutnya, dan para Panglima, Tapi Sedikit Saja.

Sudah tiba masanya angkatanku berkutat dengan pemadatan-pemadatan soal ujian nasional, tidak terlalu banyak yang dapat diceritakan selain setiap selesai sesi pemadatan yang keluar hanyalah umpatan serta rasa sesal. Sebagian — mayoritas — menyesal sebab merasa tidak menyelesaikan rangkaian tadi secara maksimal, sebagian sisanya menyesal mengapa terlalu ambil pusing hingga lama keluar ruangan, sedangkan banyak hal lebih asik yang bisa dilakukan. Sembari kami diwajibkan untuk pemadatan kami juga diwajibkan memilih peminatan, sekilas seperti, “Kamu mau jadi apa setelah resmi jadi alumni nanti?”, apakah berminat langsung meraup sebanyak-banyaknya pundi, atau lebih berminat menempuh sekolah tinggi, atau mungkin lebih tertarik untuk menjadi bos muda dengan usaha mandiri. Kami diwadahi. Setelah data berhasil direkapitulasi, semaksimal mungkin pihak sekolah mencarikan mitra dengan aspek terkait, tentu dengan budget seadanya. Alumni-alumni yang sudah masuk ke sekolah tinggi baik kedinasan atau university akan dipanggil kembali untuk memberikan adik-adiknya motivasi. “Kemiskinan ini bukan hambatan kalian untuk menjadi sarjana” Selalu sama, meski orang yang berbeda. Dari berjam-jam mereka beretorika, sebenarnya itu intinya. Memang tak salah, tapi kemiskinan menurutku juga bertingkat. Adanya yang miskin saja dan masih bisa untuk diupayakan, ada pula yang miskin melintir yang memang harus bekerja dulu sebelum mengejar impian, dan ada yang melarat yang harus kerja lebih ekstra dan mungkin gajinya hanya cukup untuk makan sekeluarga, keluarga utama sebab untuk berumah tangga, jujuuuuur… perlu berkah barokah porsi ganda dari Sang Maha. Kemudian untuk mereka yang memang orientasinya langsung bekerja, pihak sekolah akan memberikan sesi yang tak jauh berbeda. Mereka-mereka yang baru balik ke Indonesia selepas beradu nasib di Negeri Sakura akan selalu jadi narasumber utama yang hukumnya ibarat sunnah muakkad untuk ditiru dan diikuti jejaknya, tidak terkecuali aku. Aku berhasil melaksanakan tahapan-tahapan dengan cukup baik, potensiku berangkat kesana juga relatif tinggi, namun sebab Covid sialan akhirnya mereka-mereka yang seharusnya pulang sebab habis kontrak diperpanjang sepihak untuk tiga tahun menetap lebih lama dari jadwal semestinya. Sudah tentu, melihat itu kubuang mimpi untuk meraih banyak pundi kemudian pulang dan memberangkatkan Bapak/Ibu haji, sebab imbasnya sudah terasa ke angkatan di atasku yang seharusnya tinggal berangkat namun akhirnya tersendat dan berujung ke pribadi masing-masing, dalam artian, mereka yang sadar bahwa hanya menunggu bukanlah solusi pasti akan banting setir untuk mencari pundi. Penjahit, pelayan resto, satpam, atau apapun yang intinya menghasilkan, sedangkan mereka yang — menurutku, maaf — tolol hanya akan menetap di desa lebih lama dan tidak berbuat apa-apa dengan alibi(?) atau keyakinan bahwa “Seberapa lama pun aku gini-gini aja, yang penting besok berangkat ke Negeri Sakura” mungkin seperti itu jika mau kubayangkan. Atau mungkin aku yang terlalu naif karena hanya mengacu bagaimana pagi hingga sore mereka habiskan bersua kawan lamanya, kemudian malam hanya berkutat menghabiskan atau dihabisi Orang Tua via Instagram Story mereka — yang masih stagnan di 2006 dengan filter Rio De Janeiro-nya. Fak, alay banget, suuuuu. — Terkait yang ingin berwirausaha aku tidak terlalu tahu, sebab dari ketiga opsi yang ditawarkan hal satu ini yang sama sekali tidak aku geluti. Sebab, kupikir aku tidak punya bakat untuk ini.

Oleh sebab tidak dapat berangkat dalam waktu dekat terlebih setelah wisuda, akhirnya melanjutkan ke sekolah tinggi jadi opsi satu-satunya. Sebenarnya sudah kucoba memetakan potensi kerja di Indonesia, namun lagi-lagi aku kalah dengan Virus Corona. Namun timbul masalah baru, di mana berkuliah sama sekali tidak ada di jalan pikiran hidupku, terutama perihal belajar dan (harus) berkutat lagi dengan buku. Aku jelas akan lebih memilih untuk dapat mengelas, mendempul, mengecat, serta memoles bodi kendaraan ketimbang harus kembali punya beban tugas yang dalam seminggu harus dikumpulkan, bahkan bisa lebih singkat. Tapi, lagi dan lagi Ibu menyarankan jalan ini, kutempuh komunikasi dengan Ibu ataupun orang rumah dengan “jatah telpon” di tiap malam Minggu yang tentunya harus antri bergiliran dengan seluruh siswa sekolahan atau jika sudah paham skemanya bisa colong-colong disaat yang lainnya masih ikut acara musholla ba’da subuhan ataupun jika sudah terlampau nekat bisa kapan saja asal ada yang jadi mata-mata di luar pintu utama. Maka dari itu, dengan tekad yang tidak sepenuhnya bulat, sesimpel demi Ibu, aku nekat berangkat. Berangkat menuju apa saja yang dapat membantuku masuk ke perguruan tinggi dan langkah pertama yang kulakukan adalah;

Membuka Chrome — (Mengetik) — Jurusan kuliah yang tidak ada Matematikanya — “Filsafat, Seni, Sastra”

Aku belum tahu sama sekali tentang dunia perkuliahan, terkait klaster sosio humaniora, sains teknologi, atau apapun itu. Sama sekali tak tahu. Namun yang pasti, aku tidak mau lagi berurusan dengan angka. Kupikir, kuliah bukan dengan keinginan sendiri adalah cari mati dan dengan sengaja memilih berkutat dengan segala terkait matematika adalah bunuh diri. Maka dari itu, selaras dengan dangkalnya pengetahuanku, dorongan dari Ibu, ditambah hasil dari pencarianku, kumantapkan pilihanku untuk mendaftar di filsafat sebagai pilihan nomor satu, selalu, setidaknya selama dua tahun kesempatan dalam hampir semua jalur pendaftaran. Memang benar bahwa sejatinya tidak ada yang tidak mungkin di dunia, semua layak diupayakan, segalanya pantas diperjuangkan. Namun, sebagaimana kita diberi akal pikiran seharusnya juga harus digunakan untuk mencoba terlebih dahulu memetakan berbagai macam kemungkinan, entah baik atau buruk terhadap sebuah keputusan. Jadi intinya, mencoba masuk filsafat dengan modal nilai rapor yang berkutat di nilai las dan mengecat tergolong terlampau nekat. Mudah disangkal, tidak pula susah untuk dijegal, tapi dengan latar belakang ilmu pengetahuan yang sangat berseberangan kemudian dikombinasikan dengan tidak adanya — sama sekali — semangat belajar, jadi muncul satu pertanyaan besar.

“Sebenarnya, koe edan apa gila?”

Tapi tak apa, kala itu aku menyiasatinya dengan mencoba menelisik lebih dalam, mulai filsafat belajar apa, lulus kerja dimana, hingga siapa saja tokoh filsafat di Indonesia. Bermodal dari Google beralih ke platform lainnya, hadir nama Martin Suryajaya, seorang lulusan Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya. Berangkat dari Sarjana Sastra, dilanjut menjadi Magister Humaniora, hingga gelar Doktoral di konsentrasi ilmu filsafat, terasa sudah cukup untuk jadi tokoh inspirasi bagi seorang bocah labil yang bingung memikirkan masa depannya sendiri. Namun, “jatah online” yang sangat minim ketika di sekolah cukup jadi penghalang untukku memupuk rasa cinta terhadap — konon — induk dari segala ilmu di dunia. Seharusnya bisa disiasati dengan ke perpustakaan untuk membaca, tidak harus filsafat sebenarnya, bisa jadi buku sejarah atau buku selaras lainnya, atau jika tidak seminimal-minimalnya buku persiapan tes UTBK atau semacamnya. Tapi tidak, menghabiskan waktu dengan hanya tidur dan bangun untuk cerita melantur malah jadi pilihan, kadang membuang sore bermodalkan Energen minta teman, kemudian lompat ke balkon jendela kamar untuk melihat sang surya pulang ke tempat peristirahatan. Jadi, sekali lagi, intinya “Sebenarnya aku ini edan apa gila?”, sedangkan teman sebaya sudah sedari awal duduk di bangku kelas tiga mulai memberatkan tas mereka dengan buku-buku tebal yang selalu membawa optimisme di tiap judulnya. Kadang “100% Lolos Blablabla”, tak jarang juga dengan embel-embel “Pawang Blablabla” seolah sedang atau akan berhadapan dengan cuaca. Rata-rata kaum hawa, kami para pria mungkin hanya sebagian kecil saja. Yang — menurutku — lucunya, jarak asrama mereka dengan ruang belajar hanya terpisah satu selokan sangat kecil dan jalan setapak berkeramik bagian dari musholla, namun selain selalu membawa tas yang sama sekali tak pernah kosong isinya, kadang buku-buku tebal lainnya masih ditenteng atau bahkan dipeluk kemana-mana. Sungguh, kalian sangatlah hebat wahai para penerus Kartini. Meski jujur, aku sama sekali tidak termotivasi dan malah berpikir bagaimana kalian dengan sadar suka sekali merepotkan diri sendiri. Bukan bermaksud apa-apa, sungguh, maksudku rerata postur kalian terbilang kecil, beberapa mungkin harus bisa terima disebut kerdil, tapi tas dengan berat — mungkin — belasan kilo itu selalu kalian tenteng kemana pun arah tuju. Jadi, menurutku itu lucu dan di waktu yang bersamaan aku sangat respect kepada kalian. Aku jadi saksi bagaimana segala doa, usaha, ikhtiar, dan tawakal yang sudah kalian tempuh jika suatu saat berhasil tumbuh. Tak hanya untuk kalian, tapi juga untuk semua kawan yang malasnya mati-matian, tak acuh terhadap masa depan, namun cita-citanya jadi miliarder di awal dua puluhan. Kuharap kalian bisa melihat, bahwa yang rela jalan ke kelas dengan badan bungkuk sebab tas yang berat bisa jadi suksesnya tertunda, apalagi (kita) kalian yang ke sekolah hanya bawa seragam saja, kadang buku juga ditinggal di laci meja, menyapa Sang Maha atas dasar terpaksa sebab dibangunkan paksa oleh Papa Zola (panggilan untuk pamong asrama putra yang tegas dan kejamnya diatas rata-rata), dan yang lebih memilih begadang untuk cerita tak jelas perihal segala hal, mulai dongeng cinta, masalah keluarga, hingga kisah-kisah binal meski sadar besok ujian nasional. Semoga lekas sadar, jika (kita) kalian gila seutuhnya.

Hahaha… tapi tak apa, kualifikasi di lamaran kerja hanya berkutat di minimal pengalaman serta kadang penampilan yang menarik saja, perihal larangan sering mengkhayal dan kondisi hilang akal masih jarang yang mencamtumkannya. Bagaimanapun juga, rahayu dan sukses untuk kalian para Panglima Senjata. Aamiin.

Bagian 3 — Dari Lima Maju ke Tiga: Sebuah Pertanda, Waktu Pelayaran telah Tiba.

…aku sangat menghindari matematika atau apapun yang berurusan dengan angka, kecuali uang dalam bentuk nyata, pasti aku akan mendadak pandai dan paling paham perihal hitung-hitungan. Oleh sebab itu, kuputuskan untuk mengumpulkan niat dan semangat sembari berdoa, kurapatkan kedua tangan, kemudian kutaruh kepala di atas meja, aku mulai berdoa. Selesai berdoa, persoalan terkait bilangan serta segala macam ujian hitung-hitungan sudah teratasi. Alias aku keturon, sama sekali tidak mengerjakan satu sub-tes tadi, dan sekarang pun tak tahu apakah benar sub-tes lanjutannya atau sudah ada beberapa yang juga hangus sirna sebab aku masih asik bermimpi(?), aku tidak tahu sama sekali. Wallahi. Setelah menyesal yang tidak mengubah keadaan, aku mulai mencoba mengumpulkan nyawa dan kekuatan, tentunya untuk segera menuntaskan dharma yang sudah ada di depan mata. Sebelum mulai masuk ke soal-soal keparat di layar, aku sempatkan mengedarkan pandangan ke sekitar, melihat bagaimana seisi ruangan masih fokus terhadap soal ujian bahkan mbak-mbak disampingku saja rupa-rupanya sudah tambah lagi porsi kertas buramnya. SHIT?!. Sepertinya dan memang semestinya mereka tiba di Jogja, duduk di kursi sesuai nomor ujiannya, adalah untuk misi suci yang bisa jadi sebagai pembuktian ke keluarga kecil, besar, tetangga sekitar, maupun mantan pacar, bahwa bila nanti berhasil memakai jas berwarna goni, yang harus bangga pasti bangga dan yang harus iri biar iri. Baguslah, sebab aku pun tak jauh berbeda, ada Ibu yang harus kubuat (sangat-sangat) bangga, ada banyak mulut tetangga yang harus kubungkam dengan tak banyak bicara seperti mereka tapi langsung kasih bukti nyata. Bukti bahwa anak dari seorang mantan preman yang masa tuanya tak jelas, masih sering ugal-ugalan dan bahkan lupa tentang skala prioritas, bisa untuk lanjut ke perguruan tinggi yang meski hanya terdiri dari tiga huruf saja namanya, tapi seminim-minimnya pengetahuan para tetangga, sebodoh-bodohnya perkumpulan Bapakku, kurasa mereka akan tahu. Sebab, meski dia agak sialan, bagaimanapun juga akan selalu aku anggap sebagai kepala keluarga, dan oleh sebab itu aku tahu, jika kelak perkumpulan bodohnya bertanya mengapa aku yang biasanya menggantikan dia jaga malam di SMK — supaya dia bisa berkeliaran tak jelas sesukanya — mulai tak ada, dia cukup jawab saja kalau aku berkuliah di **. Kurasa itu lebih dari cukup itu membuat para keparat tadi takjub, meski yang mereka tau dengan fasih hanya perihal menghabiskan uang gaji untuk judi, curi motor sana sini, bacok orang, dan channel penadah segala macam barang curian, pikirku mereka tak asing dan tetap tahu dengan nama kampusku. Supaya Bapakku juga tidak perlu repot kasih banyak penjelasan yang sejatinya juga dia tak akan bisa, apalagi jika sudah mulai merembet ke hal yang lebih rinci, seperti disana jurusan apa, biayanya habis berapa, dan kriwikan-kriwikan *templat lainnya khas mulut orang desa, maka dari itu setidaknya beliau ini sedikit berterima kasih padaku sebab lebih kurang sudah kubantu.

Setelah kembali menghabiskan waktuku dengan tidak bermanfaat untuk yang kesekian kalinya, kumantapkan untuk fokus ke layar kaca, sisa sub-tes apa saja yang jadi santapan aku sudah lupa. Setelah sepersekian menit mengerjakan segala soal sialan ini, aku mulai kepikiran — hal nirmanfaat — lagi. Entah kepalang polos atau memang dasarnya udik, aku mulai memusingknan perihal kertas buram, sebab sepengamatanku semua yang ada di ruangan benar-benar sangat memanfaatkannya, sementara aku? Sependek ingatanku, hanya kusisi dengan lafal Bismillah dengan huruf arab sebisaku, kemudian ruang kosong sisanya yang masih sangat banyak hanya dicoret dengan gambar doodle tak jelas serta beberapa harapan kosong semacam “UGM terima aku, aamiin” sungguh edan. Aku khawatir jika nantinya kertas ini harus dikumpulkan di meja depan, sebab jika aku coba memposisikan sebagai pengawas, tentu aku akan membatin cemas, “Seonggok ini tadi datang terlambat, data dirinya kami sita, mulai pengerjaan soalnya telat, tapi selesai cepat tanpa tambah porsi kertas buramnya. Sebenarnya dia siapa?” Kurang lebih seperti itu yang akan terbesit di kepalaku. Lantas, karena aku tak mau membuat sensasi — lagi — dengan sisa waktu yang tak terlalu banyak, serta beberapa soal yang masih sangat mangkrak, kertas buram ini kucoba kupenuhi dengan berbagai gambar-gambar animasi, seperti Naruto dan para sanak famili, serta tak lupa diujung kanan atas sedikit kata-kata hari ini. Sekali lagi, aku tak terlalu ingat rinci, tapi pada intinya semua soal sudah aku selesaikan, entah dengan baik atau tidak, itu relatif. Yang pasti, kertas buram berhasil penuh terisi sehingga ketika nanti aku harus maju dan mengumpulkan, aku tak perlu cemas atau khawatir menghadapi ekspresi heran dari penunggu meja depan. Dan yap, aku selesai lebih dulu dari sebagian besar pejuang lainnya, terutama mbak-mbak meja sebelah yang — sepertinya — masih saja merasa kurang dengan porsi kertas buram di depannya. Tak apa, good for you, mbak, tapi sorry kursi sampingku harus kosong lebih dini, sebab dengan penuh percaya diri aku berdiri dan melangkah meninggalkan para muda-mudi yang masih bergelut dengan beragam rumus hitung-hitungan, ataupun diam dan merenung di sesi pengetahuan umum sembari merajut hafalan. Kini aku sudah berdiri tegap tepat di depan Pak Dosen dan Mas Mahasiswa di awal cerita, sudah kuprediksi, kalimat pertama yang diajukan sudah pasti kalimat pertanyaan, terkait keyakinan dan kepastianku memutuskan maju untuk sesegera mengambil tas dan meninggalkan ruangan. Aku tak banyak bicara, sebab tak penting mereka tahu bahwa otak dan kemampuan berpikirku sudah mencapai limit dari beberapa waktu lalu, mau bertahan berapa lama pun yang ada hanya akan keram atau coretan di kertas buram yang makin bejibun. Sialnya, setelah dengan polos kubertanya perihal nasib dan kelanjutan kertas yang sudah penuh dengan doa dan ratapan, mereka sama sekali tak mengindahkan hingga Mas Mahasiswa tadi menyeletuk untuk dibawa saja sebagai semacam pengingat usaha — jika nanti gagal, mungkin maksudnya — atau buat kenang-kenangan kelak ketika wisuda — kejauhan bwoooosss, tapi yaudah iya. Sedikit kecewa dan banyak mengumpatnya, dalam hati tentunya sebab aku tak mau meninggalkan kesan kurang ajar setelah kedatanganku yang tak wajar serta tak ingin membuat para pejuang konsentrasinya buyar dari fokusnya terhadap layar, maka dari itu, kuputuskan untuk segera melaju. Meraih tas di depan kelas, berpamitan dengan para pengawas, dan dalam hati say “Semangat, fellas!”.

— KTR Coffee, FVCEK FAMILY, dan Sela-sela yang Mulai Terisi.

Tiba lagi masa-masa yang paling dibenci, menunggu dengan was-was sebab hasil akhir nanti layaknya penentuan hidup dan/atau mati. Namun, waktu menunggu kali ini jauh lebih terasa creepy, sebab hanya menyisakan aku seorang yang masih tak jelas kemana arah tujuan. Yang lain sudah berada di fase persiapan menuju keberangkatan, dan tentu akan semakin banyak masuk ke lingkaran-lingkaran baru, entah untuk sekadar saling kenal, menjelma akrab dan loyal, yang kemudian menghabiskan malam bersama dengan cerita dari kampung asal, urusan masing-masing, tak terlalu aku ambil pusing. Jauh lebih penting aku memikirkan nasibku yang teramat genting, jika di tahun kedua aku mencoba masih saja gagal jadi halaman akhir penghujung cerita, aku sudah di tahap pasrah dan tak tau lagi harus berbuat apa. Sudah pasti berdoa dan berusaha jadi jawabannya, namun untuk apa? Bukan maksud aku enggan percaya ke Sang Maha, aku saja benar-benar tak tahu harus meminta apa, aku benar-benar tak punya pandangan ke depan mau berbuat apa, kemana, dengan siapa, dan jadi apa. Ditambah lagi, rutinitasku menyapa-Nya tak lagi sering seperti di masa-masa aku pusing, aku sudah mulai jarang tepat waktu untuk datang ke rumah-Nya seperti di masa-masa aku sedang buntu, aku sudah tak seperti dulu, meski Sang Maha dengan setia menuntun dan membantuku. Meski aku seorang bajingan dengan kehidupan yang tak jelas dan awur-awuran aku masih punya rasa malu, aku merasa sekotor itu untuk kembali datang ketika sedang dalam kondisi yang bimbang. Meski sekali lagi kuakui bahwa aku pun tak akan bisa berbuat apa-apa selain tanpa kekuatan dan petunjuk dari-Nya. Tapi sudahlah, intinya aku masih merasa malu, bukan ragu tapi malu, dan atas semua keputusanku ini, aku siap ambil konsekuensi, meski lagi-lagi kuakui ketika tiba waktunya aku pasti akan kembali. Kuharap kalian para keparat-keparat yang membaca ini nanti — entah kapan, aku tak peduli — tidak akan sama sekali mengomentari sesi ini, bukan hanya sebab tema utama atau isinya yang notabene merupakan pengalaman spiritual yang pasti satu dengan lainnya berbeda, tapi dibalik kesadaran penuhku menulis ini ada beragam puzzle-puzzle kecil yang melatarbelakangi dan kalian sama sekali tak pantas untuk mencaci atau bahkan untuk sekadar mengomentari. Toh, dapat kupastikan bahwa satu paragraf ini adalah paragraf tanpa revisi berhari-hari.

Aku kembali lagi kerap menyapa Mas Adis dan racikannya, sebelas kawan lainnya pun turut serta. Detik demi detik kali ini dijalani bersama, meski dengan beban pikiran dan perasaan yang berbeda. Namun setidaknya malam-malamku jadi sedikit berwarna, meski kala masalah pundi tiba aku akan kembali berteman akrab dengan dingin malam tepi sawah depan rumah, sembari merokok diam-diam supaya Ibu tak mencium apalagi sampai batuk walaupun sudah tidur di kamar. Kopi Teras Rumah atau yang lebih akrab kami sebut sebagai kenthir ini adalah rumah kedua — hampir — bagi kami semua, tak terlalu berlebihan jika disebut sebagai titik temu dan awal mula, awal atas segala kenangan serta beragam catatan kehidupan untuk kami, tak terkecuali. Mas Adis dengan lapang selalu bisa terima dengan berisiknya kami semua meski tengah malam telah tiba, cuma tetap, sesekali ketika sudah berlebihan teguran akan datang, kami pun tidak akan segila itu untuk mengacuhkan, geser ke tepian jalan jika memang ada konspirasi global yang harus dibahas lebih lanjut atau langsung pulang jika sudah selesai sebatang udud. Disini kami mengenal satu sama lain jauh lebih dalam, satu sama lain mulai bisa menertawakan hal yang beragam, entah itu masalah keluarga, kenangan kebodohan semasa masih berseragam atau hal-hal tak jelas lainnya. Jadi, bagiku pribadi, kenthir bukan sekadar lokasi, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi. Ibarat Potlot di Jakarta Selatan dan kalau di Jepang ada SMA Suzuran. Memang akan sangat tidak sopan jika menuliskan perihal Mas Adis dan kenthir jika hanya secuil begini, tapi mohon maaf karena masih ada banyak yang harus segera ku-rantasi, pun aku tidak bisa berjanji akan membuatku sesi sendiri — meski tidak menutup kemungkinan sama sekali — jadi aku harap kalian memaklumi, namun jika memang ada yang berminat tau lebih rinci, besok ketika kita bertemu jangan sungkan dan ragu untuk cari tahu. Kuucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Mas Adis, KTR Coffee, dan semua pihak yang ikut andil menjadikan semua ini jadi sentimentil.

Yang bisa aku syukuri lagi di masa-masa tunggu yang sangat menghantui ini adalah dipertemukan — kembali — dengan para berandalan selepas aku mengurung diri, sebab merasa malu dan takut jika susah masuk obrolan setelah hampir lebih kurang tiga tahun menjalani masa pendidikan — dibaca: pengasingan paksa. Namun nyatanya benar, sebelum dicoba semua hanyalah ketakutan, sebab aku tak pernah merasa sendiri di keramaian, sama sekali, kupikir mereka pun tak kenal dengan istilah ekslusi, selagi bernyawa dan tidak merugikan semua bisa jadi teman. Entah mulai kapan kami menyematkan “Fvcek Family” sebagai pengganti istilah keluarga tanpa KK, tapi yang pasti, kami sadar — bahkan mungkin bangga — untuk memilih dan menyandangnya, hingga kini. Sebenarnya, kami hanya gerombolan anak muda biasa, beberapa dari kami sudah kenal dan akrab sejak belia, sebab ada yang sudah berteman sedari TK hingga SMA, adapula yang dari TK hingga SMP saja, sebab terpisah jarak ketika SMA — aku. Namun, pada intinya kami berjumpa di SPENSATA (anjai), dan saling bertemu untuk yang pertama di ekstrakulikuler sepak bola. Aku tidak akan merinci bagaimana dan kisah apa saja yang sudah bersama kami lewati, tak terlalu penting untuk kalian juga, tapi sekali lagi, jika ternyata kalian penasaran jangan malu dan sungkan untuk bertanya kala kita nanti berjumpa. Intinya, satu per satu dari mereka sangat berjasa, mereka memberikanku makna, bahwa dapat merasa bebas dan tertawa adalah hal yang tinggi sekali nilainya, mereka memang tidak membahas atau mengajari bagaimana menghasilkan 100 juta di usia dua puluhan awal, tapi lebih jauh dan dalam mereka mengingatkanku untuk selalu dan senantiasa tawakal. Dari mereka aku — juga harusnya kalian — belajar, bahwa syukur dan sabar adalah kunci kehidupan, meski jalannya tak selalu lancar dan untuk melakoninya hampir setengah modar. Kuharap kalian semua akan berjaya sesuai dengan mimpi-mimpi kalian yang sudah pernah dirembuk bersama, perihal akan tinggal dimana, bekerja sebagai apa, spesifikasi rumah hunian, detail dan rinci jenis kendaraan, serta jumlah anggota keluarga dan nama anak nantinya. Kuharap dan semoga, kalian semua para pembaca mendapatkan satu lingkaran pertemanan yang tak kenal perhitungan, rasa sungkan, atau bahkan di belakang menusuk diam-diam, kuharap lingkaran yang kalian pilih dapat berlimpah kasih, di saat kalian jatuh mereka membantu tumbuh, dikala kalian ragu mereka dapat jadi arah tuju, dan ketika kalian bimbang mereka selalu dapat memberi tenang. Meski aku yakin dan sadari perkumpulan antar pria dan wanita pasti akan berbeda, intinya semoga hubungan kalian tidak transaksional belaka, senantiasa membawa tawa, dan yang terpenting ketika di dalamnya kalian bisa jadi manusia seutuhnya. Maka dari itu, beribu terima kasih aku pribadi ucapkan kepada kalian para keparat dan bajingan, yang sudah mau menerima dan hingga sejauh ini membersamai seekor jerapah pincang ini. Terima kasih Fvcek Family, telah mengisi sela-sela sepi. Semoga seperti ini, hingga akhir hayat kita semua nanti. Aamiin.

— Mata Angin Menuju ke Jogja: Kali Kedua dan Lebih Lama.

Berlatar tempat yang familiar — pastinya kalian juga — aku ingat sekali malam itu tak jauh berbeda seperti malam lainnya, pasti akan terbuang sia-sia namun penuh gelak tawa tapi diujung nanti tetap dengan perasaan gelisah yang sama. Segelas kopi susu dengan rasa yang khas, pemuda tersesat kurang lebih berjumlah dua belas, sangat pas untuk sekadar berbincang membahas apa saja yang memang perlu dibahas. Sampai salah seorang kawan mengingatkan perihal pengumuman, pengumuman perihal masa depan, di mana aku bertaruh dan bertarung nilai dengan remaja seusiaku di seluruh Nusantara untuk bisa menjadi bagian dari Jenderal Muda 2022. Sudah sempat kusinggung di atas, jadi bisa kalian skip jika kalian bosan dan malas, sebab intinya sama, aku gagal untuk yang kesekian kalinya. Tawa-tawa kencang sebelumnya jadi agak mereda, mungkin mereka sadar sedang ada yang berbelasungkawa, jadi untuk sepersekian menit waktu akan digunakan untuk mengheningkan cipta, tentu atas para pahlawan yang gugur guna memerdekan negara, serta atas beberapa harapan yang gugur sebab kegagalan kembali menyapa. Namun, bukan para bajingan jika tidak coba usil dan mencairkan suasana, lagi pula memang sudah seperti itu seharusnya dan juga itu pula yang aku harapkan dari mereka, supaya momen-momen kebersamaan ini tak perlu ternodai dengan kesedihan yang tak terlalu berarti. Tawa keras kembali memecah sunyi, sepertinya sedih dan sepi akan kalah telak malam ini. Balas lain kali.

Tak selang lama, ketika suasana sudah kembali seperti semula, ketegangan kembali datang dan menyapa. Masih sama, informasi datang dari seorang kawan, lagi-lagi perihal pengumuman. Dari yang seharusnya di tanggal lima (belas) maju menjadi tanggal tiga (belas). Kali ini ketegangan yang ada yang berlipat ganda, aku menaruh dan bertaruh harapan besar terhadap Patih Nusantara, jika ini gagal, semuanya sirna. Senyum merekah Ibu yang selalu kusemogakan, derajat orang tua yang ingin kutingkatkan, serta cemoohan tetangga pantek yang ingin segera kubungkam. Aku benar-benar belum siap membuka pengumuman ini, terlebih tak selang lama dari kegagalan yang masih membekas di hati, kuputuskan untuk sejenak menepi — dari keramaian utama. Kupikir-pikir lagi, bukan untuk lari atau menghindari, tapi apakah kubuka segera pengumuman itu disini sehingga ketika hasilnya gagal lagi tak perlu kuratapi sebab ada mereka yang selalu bisa membuatku lupa untuk nelangsa, atau kubuka bukan sekarang dan entah dimana, intinya sendiri, sehingga jika nanti aku gagal lagi, setidaknya aku bisa menikmati sedih dan kecewa yang murni untuk pertama kali tanpa distraksi. Itu jika gagal yang kembali aku tuai, tapi jika ternyata aku berhasil? …tapi apa mungkin? Ratapanku terganggu ketika salah seorang kawan datang menghampiri, dia tidak bermaksud sama sekali menggurui, namun lagi-lagi dia — mungkin mereka juga — menyadarkanku untuk berani menghadapi, perihal menjadi laki-laki sejati, yang apapun hasilnya di ujung hari, dibuka sekarang atau nanti, tidak ada bedanya dan tidak bisa diganti. Oleh sebab tamparan keras itu, sudah bulat tekadku untuk membuka nyawa terakhirku tahun ini dan para keparat ini akan jadi saksi. Semoga, aamiin.

Di bawah rimbun daun kelapa, di malam yang dinginnya terasa lebih kejam dari biasanya, di remang lampu kuning kedai Mas Adis, dan di sela-sela tangis anak kedua Bang Klimis. Di segala macam upaya yang sudah semaksimal mungkin kutempuh, puluhan kali terjatuh, ratusan kali kabar buruk, dan jutaan momen terpuruk. Sudah aku lalui, aku hadapi, entah dengan semangat dan senyum berseri, atau sebatas diam dalam sunyi supaya cukup aku sendiri yang meratapi. Tak lupa, berbagai macam rapalan doa, bacaan-bacaan hafalan pelancar usaha, kalimat berserah kepada Pencipta, serta segala hal agamis lainnya guna memuluskan jalan menuju apa yang di cita. Memang tak seberapa, sebab pasti ada yang jauh lebih gila doa dan usahanya, tapi untuk kali ini saja, “Oh Tuhan, kali ini beri aku kabar bahagia, atas apa yang telah aku coba, untuk senyum bangga dari Ibu tercinta. Jika doa dan usahaku masih belum layak jadi alasan untuk Engkau mengabulkan, setidaknya kabulkan doa Ibu di tiap penghujung malam. Aku tahu aku kotor dan penuh dosa, namun jika tidak kepada Engkau, kepada siapa lagi hamba meminta?”. Sudah diputuskan bahwa aku akan membukanya sekarang, tapi yang akan berhadapan langsung dengan layar adalah para kawan, aku tidak punya mental, aku akan tetap di posisi menyendiri, sementara gawai dan sandi kuberikan supaya mereka saja yang membuka pengumuman. Setelah gawai beserta apa saja yang perlu kuisi telah kuberikan ke salah seorang kawan, mereka merapat membentuk lingkaran, seolah seperti sekte yang sedang bersama-sama mendoakan, apa yang mereka percaya dan inginkan. Aku masih termenung diam, mencoba membayangkan saja kemungkinan paling buruk supaya tidak terlalu kaget saat terpuruk. Selalu begitu, sejak dulu, aku sadar dan suka membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam hidup dengan dalih supaya siap ketika itu benar-benar terjadi dan supaya rasa bersyukur jadi lebih tinggi ketika ternyata berhasillah yang aku dapati. Kurasa untuk beberapa hal itu baik, tapi untuk sisanya lagi tidak, atau sebaliknya? Atau semuanya? Entahlah aku tak tau dan di posisi hidup mati saat itu seperti mendebat isi pikiran sendiri hanya sekadar jadi distraksi, sama sekali bukan solusi. Lingkaran tadi lumayan lama memberi kabar lanjutan semenjak gawai telah kuserahkan hingga kini aku mulai bosan, hanya membakar rokok eceran tanpa ada yang bisa aku geser-geser dan mainkan, sampai akhirnya… di malam yang belum terlalu larut, namun masih diiringi rintik dan sedikit kabut, mereka serempak bersorak, benar-benar tampak kegirangan, aku terhentak dari lamunan dan sudah pasti penasaran. Meski, jika dari ekspresi mereka, sudah pasti itu kabar bahagia, namun kuingat lagi bahwa ini “mereka”, dan justru sebab itu aku mulai ragu dengan pikiranku sendiri, terbesit mungkin biar aku tak terlalu sedih dan meratapi nanti, terlepas sesampainya di rumah mereka juga tak akan tau bagaimana aku pasrah dan menyerah. Tapi tak apa, kuhargai usaha mereka. Aku masih pura-pura tak peduli sembari berperang dengan asumsi-asumsi tadi, mereka masih asik bersorak-sorai jingkrak-jingkrak sana-sini, saat itu aku berprinsip untuk tidak akan bertanya, sebab jika benar wajah riang adalah distraksi belaka aku tak ingin mereka jadi merasa sungkan dan malam dihabiskan dengan lebih banyak saling diam. Sampai, dia yang tadi berperan sebagai distributor gawai datang menghampiri, kali ini selain gawai ia juga berperan sebagai distibutor informasi, lebih tepatnya informasi sepi. Tanpa bicara, menyodorkan gawai dengan layar yang masih terjaga, dengan sedikit anggukan kepala, seolah menginstruksikan kepadaku untuk meraih dan membaca.

BIRU. Layar hp bututku itu berwarna dominan biru.

Aku diterima, aku secepatnya akan menyandang gelar mahasiswa, aku akan kembali lagi dan tinggal di Jogja. Aku gemetar sejadi-jadinya, tak bisa kututupi lagi rasa bangga atas perjuanganku selama ini — meski tak seberapa — aku benar-benar akan berteriak sekencang-kencangnya andai tak menggubris letak geografis kedai Mas Adis yang ada di tengah pemukiman desa. Aku sangat bahagia, kuharap dan semoga kalian pernah merasakan euforia yang sama. Aku mengingat bagaimana Loesi — nama yang kusematkan kepada motor butut terkasih, akronim dari Boeloes Mitasi sebab bodi asli yang sudah sedikit diakali — dengan kondisi yang jauh dari kata fit dan prima, dipaksa menerjang segala medan menuju Jogja, mesin overheat belasan kali selama penjalanan misi, tersesat di jalan dan tak tau arah pasti, bagaimana di setiap kilometer yang aku tempuh, selalu diiringi doa Ibu. Malam dingin yang diiringi rintik tadi terasa seperti musim semi di Eropa, langit seperti sedang cerah-cerahnya, mentari bak turut serta tersenyum bahagia, seolah semua komponen dan partikel di dunia bergembira bersama. Aku berhasil kali ini, Bu.

Dengan tangan yang masih terlampau gemetar, rasa bangga yang masih nyaman bersemayam, kuputuskan untuk segera pulang. Selain karena aku sudah punya siasat, sebentar lagi sudah tiba waktunya menunaikan dua rakaat. Aku pulang dengan hati yang senantiasa berdebar sepanjang jalan, tak sabar memberitahu Ibu bahwa anak bontotnya satu ini sesegera mungkin akan masuk university. Ibu selalu bangun lebih awal dari azan subuh, sebab sudah pasti beliau melaksanakan tahajud dan perintilan lainnya, kurasa selepas semua rangkaian sudah ditunaikan adalah waktu yang tepat bagiku untuk beri kejutan. Aku pun tak mau kalah dengan Ibu, sesampainya di rumah dengan masuk diam-diam supaya tak ketahuan baru pulang, aku segera menunaikan kewajiban. Memang imanku masih sangat — dan akan selalu — cetek, tapi sudah tentu tak ada salahnya mengucapkan terima kasih kepada Sang Maha, terima kasih telah mengabulkan doa dan membayar semua usaha, terima kasih telah diberi umur panjang dan manfaat, serta terima kasih atas segala berkah dan nikmat. Setelah usai dengan rangkaian tadi, sebelum matahari benar-benar menyinari bumi, aku sudah siap dengan siasatku dan segera menuju kamar Ibu.

Ibu sudah di atas kasur namun masih bermukena, ia tampak masih sibuk dengan lantunan zikir dilihat dari mulutnya, ia tahu aku ada disana tapi sepertinya tak terlalu menggubris sebab mungkin jengkel karena pulang di atas jam dua, tak apa, secepatnya dan segera akan kubuat suasana ini jadi berbeda dan lebih berwarna. Pertama-pertama kusampaikan perihal Jenderal Muda yang kembali berujung kegagalan, ia tak banyak komentar selain memberikan petuah untuk senantiasa sabar dan berserah, pasti, diimbangi dengan usaha dan doa, ditambahi lagi — sebenarnya menurutku tidak nyambung, tapi tak masalah sebab ini dari Ibu, itu poinnya — untuk jangan sering begadang dan konsumsi tembakau dikurangi bahkan jika bisa dan maunya Ibu tidak usah merokok sama sekali. Biasanya hal ini akan sedikit aku elak, atau kadang durhakanya aku bantah, namun kali ini aku hanya diam untuk tetap fokus pada skema utama. Setelah sedikit berbicang santai, aku mengabarkan bahwa seorang teman semalam memberitahu bahwa pengumuman lainnya dibuat lebih maju dari tanggal semestinya, Ibu mendengarkan. Dari raut wajahnya mengisyaratkan banyak tanda tanya dan rasa penasaran, perihal bagaimana hasilnya, akankah membuat pagi ini menjadi terbuang sebab kembali memanen gagal atau justru sebaliknya, bisa jadi modal utama untuk mengawali pagi dengan indah dan berseri. Namun lagi-lagi aku hanya diam. Sama seperti kawanku semalam, aku hanya menyodorkan gawaiku ke samping tubuh Ibu, dengan sedikit bumbu-bumbu, intinya aku meminta Ibu untuk coba membuka gawaiku, setelah ia meraihnya, layar seterang matahari siang menyambutnya, disini skenarioku sedikit mengalami hambatan sebab Ibu masih fokus untuk membuka saja tanpa melihat apa yang ada di depan mata, sampai akhirnya, “Niku coba baca, Bu.” Dan ya, wallpaper sudah kuganti dengan hasil tangkapan layar website tadi, jelas warna biru itu menyorot mata Ibu, namun memang jika tanpa kacamata akan susah Ibu membacanya, selepas mengenakan senjata utamanya, Ibu mulai membaca, perlahan. Detik demi detik terasa sangat menegangkan, aku tak siap dan sama sekali tak memprediksi bagaimana reaksinya nanti. Aku takut jika nanti aku terharu bahkan sampai menangis, malu, merasa gagal menjadi lelaki. Namun setelah kupikir-pikir lagi, jika memang harus menangis, menangislah, jika harus jadi, maka jadilah.

Pada intinya, aku akan berangkat ke Jogja, entah esok atau lusa. Pasti, dengan Loesi yang membersamai, doa Ibu yang turut menyertai, dana yang pasti akan mepet tapi — Insyaallah — cukup saja, dan jok belakang yang akan diisi perbekalan, apapun itu. See you, Jogja dan sampai jumpa secepatnya di PPSMB 2022. Anjaiiiii…

— Kini: Recently, Maintenant, Saat Ini, dan Saiki.

PANDUAN MEMBACA — ALAKADARNYA.

Males.


메타데이터
post_id
a23aae3d05c0
slug
bonjour-a23aae3d05c0
url
https://medium.com/@jerapahpincang/bonjour-a23aae3d05c0
canonical_url
https://medium.com/@jerapahpincang/bonjour-a23aae3d05c0
author_url
https://medium.com/@jerapahpincang
status
ok
fetched_at
2026-06-28 10:39:35