← Back to list

Keajaiban Tesis

Saya menulis ini tengah malam dalam kondisi nggak bisa tidur karena kekenyangan habis makan mie instan pakai nasi. Nggak deng, alibi aja…

rizoles · 2025-12-30 03:20 · 164 claps · 2.5 min read
#bahasa-indonesia #artikel-bahasa-indonesia #tesis #tugas-akhir #magister
Open on Medium ↗

Keajaiban Tesis

Saya menulis ini tengah malam dalam kondisi nggak bisa tidur karena kekenyangan habis makan mie instan pakai nasi. Nggak deng, alibi aja itu. Yang bener adalah kepala saya lagi rame.

Hampir seminggu sudah saya ada di rumah orang tua. Urusan tesis sudah kelar, mendaftar wisuda juga sudah, dan kerjaan part time pun lagi libur. Kombinasi epik untuk hidup tanpa beban … sejenak.

Setiap pulang kampung, saya selalu punya program revolusioner, yaitu perbaikan gizi. Hidup ngekos bikin pola makan saya semrawut. Makanya, momen pulang ini saya manfaatkan sebaik mungkin untuk merealisasikan program itu.

Selain perbaikan gizi, pulkam kali ini juga saya niatkan buat benar-benar ‘membersihkan’ sisa aura tesis yang melekat pada saya satu setengah tahun belakangan.

Dari sebelum saya tiba di rumah ortu, saya sudah bikin rencana. Pokoknya hari-hari pertama di rumah, saya nggak mau ngapa-ngapain dan nggak mau mikir apa-apa. Mau kosongin isi kepala.

Rencana itu berjalan lancar. Hampir seminggu saya nggak ngapa-ngapain beneran. Nggak mikirin kuliah. Nggak mikirin kerjaan. Nggak mikirin info loker. Lossssss. Hidup terasa amat menyenangkan.

Hari-hari saya diisi dengan gelimbungan di kasur dan melakukan hal yang saya suka. Termasuk beragam hobi yang setahunan ini jarang saya sentuh karena pikiran sudah kesita duluan sama tesis. Scrolling tanpa tujuan, nulis, editing foto, ngegambar. Nikmat banget.

Makin syahdu lagi, semua itu saya lakukan dalam kondisi perut kenyang. Kalau di kos saya biasa makan sekali atau dua kali sehari. Selama seminggu di rumah, belum ada jam dua siang, saya sudah melahap empat piring nasi. Empat. Piring. Nasi.

Maaf, pulkam malah jadi kuda lumping.

Eh, hampir seminggu di rumah, malam ini pikiran soal masa depan kembali datang dan ngucap assalamualaikum. Resek. Saking reseknya, ketika saya sedang melakoni hobi, muncul pertanyaan apakah saya berhak santai kayak begini, sedangkan pekerjaan tetap aja belum punya.

Sedih.

Kalau mengingat betapa membabi butanya tesis menghajar hidup saya kemarin, rasanya saya pantas dapet waktu begini. Iya, ini ngevalidasi diri sendiri. Biarin aja, biarin.

Oke, sebenarnya saya sudah muak ngomongin tesis. Cuma ya sudahlah, sekali ini aja, buat catatan pribadi. Biar saya juga nggak gampang ngeremehin orang-orang yang kehilangan kewarasan karena tugas akhir. Karena ternyata semua itu masuk akal.

Banyak dramanya.

Saya sendiri selama ngetesis merasakan progres yang lambat. Yah bimbingan memang ada rutin, sih. Seminggu sekali. Cuma aja sekali bimbingan, durasinya jarang banget nyentuh tiga puluh menit. Asli deh, nunggu I Fu Mie di Solaria kayaknya lebih lama dari itu.

Belum lagi urusan daftar ujian, entah sempro atau ujian akhir, yang nunggu keluar jadwal aja bisa dua sampai tiga minggu. Ditambah hari pelaksanaan, jarak jedanya hampir sebulan. Pernah suatu kali di tempat fotokopian saya ngobrol sama mas-mas yang ambil sekolah profesi dan dulu S2 di kampus saya. Begitu dengar cerita ini, dia langsung tercengang, “Kok bisa selama itu?”

Saya juga bingung, Mas.

Waktu sidang, syukurnya semua berjalan lancar. Penguji bilang nggak perlu rombak besar dan kasih solusi untuk itu. Saya pun membuat revisi sesuai solusi. Eh, apesnya, pas bimbingan revisi malah tiba-tiba disuruh rombak. Kenapa nggak bilang dari awal aja, ya? Kok suka sekali mempermainkan mental saya yang kayak Yupi ini?

Daftar wisuda pun nggak kalah membingungkan. Syarat dan alurnya nggak jelas, sampai saya harus bolak-balik kampus dan tempat fotokopian lima kali buat melengkapi berkas. Tinggal mampir sedikit lagi, kayaknya saya langsung dianggap keluarga sama si mas fotokopian.

Tesis ini memang sesuatu yang ajaib. Ajaib karena selalu berhasil mengundang drama. Kadang saya juga bingung, penyebabnya karena pikiran sudah kemrungsung atau karena dasarnya memang nyebelin aja?

Syukurnya, kini soal tesis dan tetek bengeknya sudah beres. Lega banget. Akhirnya, saya bisa berhenti mikirin ini dan fokus mikirin hal lain.

Sekarang pertanyaannya adalah … what’s next?


메타데이터
post_id
a24133e8e156
slug
keajaiban-tesis-a24133e8e156
url
https://medium.com/@rizoles/keajaiban-tesis-a24133e8e156
canonical_url
https://medium.com/@rizoles/keajaiban-tesis-a24133e8e156
author_url
https://medium.com/@rizoles
status
ok
fetched_at
2026-07-08 08:37:11