← Back to list

THE LAST BLUE JUNE

CHAPTER 6 : STALKING

greenyiee · 2026-06-02 15:07 · 0 claps · 4.9 min read
#stalking #elio #lovers
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

THE LAST BLUE JUNE

CHAPTER 6 : STALKING

hai jul, i’m back

hai jul, i’m back

[embed]hari bersama juliooo

Hari-hari berikutnya di kelas sebelas, berjalan di bawah kendali penuh seorang Arkan June Mahendra. Cowok berzodiak Cancer itu, seolah tidak pernah kehabisan energi untuk terus mengusik ketenangan hidup Julio. Mulai dari langkah pertama mereka memasuki gerbang sekolah di pagi hari, waktu istirahat yang bising, hingga bel pulang berbunyi. June selalu menemukan celah untuk muncul.

June selalu mengikuti ke mana pun Julio melangkah, entah itu ke kantin belakang, koperasi sekolah, atau sekadar di koridor. Sifat supelnya yang agresif, dikerahkan sepenuhnya demi satu misi tunggal.

“Mendapatkan hati Julio”

Dan meruntuhkan benteng pertahanan cowok manis itu. June bahkan rajin mencari tahu segala hal tentang Julio, dari teman-teman les mereka, agar bisa masuk ke lingkaran hidupnya.

Berkat kegigihannya yang tiada henti, mereka berdua akhirnya saling bertukar nomor WhatsApp dan mutual di media sosial. June sering memanfaatkan nomor itu, untuk bertanya tentang tugas kelas, menanyakan PR yang belum selesai, atau membahas materi les matematika. Setiap kali Julio mengunggah status baru, June menjadi orang pertama yang selalu memberikan like dan membalas story-nya.

Bagaimanapun kerasnya Julio mencoba bersikap acuh tak acuh, June selalu punya cara untuk memangkas jarak tak kasat mata di antara mereka. June tidak pernah bosan, mengirimkan pesan teks singkat terlebih dahulu di malam hari, memancing obrolan-obrolan acak, yang terkadang membuat Julio tersenyum tipis sendirian di dalam kamarnya.

Puncaknya terjadi saat bel istirahat siang berbunyi nyaring, menggema ke seluruh penjuru lorong sekolah yang mulai dipadati murid-murid yang kelaparan. Seperti tamu tidak diundang yang kehilangan urat malu, June kembali menampakkan batang hidungnya, di ambang pintu kelas pojok milik Julio dengan cengiran khasnya.

Tanpa memedulikan tatapan heran, dari beberapa teman sekelas Julio, June melangkah lebar dan langsung mendudukkan tubuh jangkungnya, di bangku kosong sebelah Julio. Dia meletakkan kedua lengannya, di atas meja, menatap lekat ke arah wajah Julio, yang sedang merapikan buku catatannya.

June mulai membuka berbagai topik pembicaraan acak, memaksa Julio untuk mengalihkan atensinya, dari ponsel dan mendengarkan celotehannya. Julio yang dasarnya memiliki sifat ambivert, tidak bisa sepenuhnya mengabaikan June, yang terus mengajak bicara dengan binar mata yang penuh semangat.

“Ayo buat api di TikTok,” ucap June tiba-tiba.

Julio mengerutkan dahinya bingung, menghentikan gerakan jemarinya yang sedang memegang pulpen. “Maksud lo?”

June mengeluarkan ponselnya sendiri dari saku celana abu-abunya, dengan gerakan cepat. “Maksudnya kita saling mutualan akun TikTok, Jul. Aku pengen tahu username akun lo apa. Ayo cepetan buka HP lo sekarang.”

Julio mendengus pelan, mencoba memasang wajah judes andalannya, untuk menolak permintaan sepihak itu. “Gak mau, males banget.”

Namun, June bukanlah tipe cowok yang mudah menyerah hanya karena satu buah penolakan ketus. Dia terus mendesak Julio, menyodorkan layar ponselnya semakin dekat, bahkan sedikit memberikan paksaan manis, yang membuat Julio tidak bisa berkutik lebih lama lagi.

Merasa tidak akan bisa menang, melawan keras kepalanya seorang June, Julio akhirnya mengalah dengan helaan napas pasrah. “Yaudah nih, username gue. Jangan berisik lagi lo, setelah ini.”

June tersenyum puas, setelah berhasil mengetikkan nama akun TikTok Julio dan menekan tombol follow, merasa satu langkah kecilnya untuk masuk lebih dalam, ke dunia Julio berhasil tercapai. Tak lama berselang, bel tanda masuk kelas berbunyi nyaring, memutus kebersamaan singkat mereka di meja pojok tengah itu.

June terpaksa bergegas bangkit, dari kursinya untuk kembali ke kelasnya sendiri, karena takut guru mata pelajaran jam berikutnya akan masuk lebih dulu. Namun, saat berjalan menyusuri koridor di depan kelasnya, June melihat siluet Green, yang sedang berdiri santai bersama beberapa temannya.

Niat usil dan jahil yang mendarah daging, di dalam diri June seketika bergejolak kembali saat melihat gadis cuek itu. June memperlambat langkah kakinya, lalu sengaja mendekati salah satu teman sekelasnya, yang sedang berdiri tidak jauh dari Green.

“Eh, gak masuk ya bapak?” tanya June dengan volume suara yang cukup keras.

“Gak, June. Bapak berhalangan hadir hari ini,” jawab teman sekelasnya santai.

Mendengar konfirmasi bahwa kelas mereka sedang mengalami jam kosong, otak jahil June langsung berputar cepat untuk mengelabui Green yang berada dekat di sana. June memasang ekspresi panik, yang dibuat-buat. Lalu berjalan cepat menghampiri Green, dengan langkah yang dihentak-hentakkan.

“Tadi, guru kalian masuk,” ucap June dengan nada bicara yang meyakinkan, seolah-olah dia baru saja melihat sang guru berjalan ke arah kelas mereka.

“Hah???” Green spontan membelalakkan matanya, diliputi rasa panik, yang luar biasa, karena dia belum menyiapkan buku tugasnya di atas meja.

Tanpa berpikir panjang atau memeriksa kebenaran ucapan June, Green langsung berlari sekencang mungkin membelah koridor, menuju ruang kelasnya. Namun, setibanya di dalam kelas dengan napas yang memburu, Green mendapati suasana ruangan yang benar-benar sepi, dan tenang dari keberadaan guru pengajar.

Guru yang seharusnya mengajar mereka, memang tidak masuk karena berhalangan hadir. Yang berarti kelas mereka sepenuhnya sedang menikmati jam kosong. Green berdiri terpaku, di depan pintu kelas yang damai, menyadari bahwa dirinya baru saja menjadi korban kebohongan, mentah-mentah dari June.

“Kurang ajar June,” ucap Green berang, di dalam hatinya. Sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan kekesalan yang membubung tinggi.

Dengan muka cemberut, langkah kaki yang dihentakkan kesal, dan aura kemarahan yang kentara, Green berjalan kembali menuju kelas tempat June berada. Dia mendapati June sedang asyik nimbrung mengganggu beberapa teman perempuan, yang sedang menonton film romantis di sebuah laptop, yang diletakkan di atas meja kayu.

“June sialan, kami kan jam kos!” amuk Green langsung, saat langkahnya berhenti di depan meja tempat June duduk.

June yang melihat kedatangan Green, dengan wajah memerah menahan kesal, justru tertawa terbahak-bahak, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Dia menopang dagunya dengan santai, menatap Green dengan binar mata yang jenaka. “Tu tau,” jawab June singkat.

Pada akhirnya, Green menyadari bahwa ini juga adalah kesalahannya sendiri, karena terlalu ceroboh dan lupa memeriksa jadwal pelajaran kelasnya hari ini. Dia memilih mengembuskan napas berat, mengabaikan ejekan dan tawa renyah dari cowok kelahiran Juni itu, demi kedamaian hatinya.

Green memutuskan untuk duduk bergabung bersama teman-temannya, mencoba kembali fokus menonton kelanjutan film romantis, yang sempat tertunda di layar laptop. Namun, June yang dasarnya tidak bisa diam, tiba-tiba kembali nimbrung dan menyaut dengan nada sok tahu yang menyebalkan.

“Aku pernah nonton ini, akhirnya mereka nikah,” kata June dengan santai, memberikan bocoran alur cerita di depan wajah Green.

Green yang sangat membenci spoiler film langsung melotot tajam, ke arah June dengan dahi yang berkerut dalam. “Lah, jangan spoiler lah!” ucap Green protes, dengan nada tidak terima.

Tiba-tiba, June menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengulas sebuah senyuman tipis, yang sarat akan makna terselubung yang misterius.

“Di-request-in nonton sama teman aku,” ucap June pelan, pandangannya menerawang ke arah jendela koridor luar.

Green mengernyitkan alisnya heran, merasa aneh mengapa June bisa-bisanya meluangkan waktu, menonton film romantis mendayu-dayu, hanya karena permintaan seorang teman. Ya, benar saja apa yang dikatakan June, sosok ‘teman’ yang memintanya menonton film itu, sebenarnya adalah Julio.

June rela menontonnya demi bisa memantau dan menyamakan frekuensi dengan status-status story milik Julio, yang memang sangat menyukai drama romansa. June ingin memiliki topik obrolan, yang sama dengan cowok manis itu.

Sayangnya, Green tidak menyadari sama sekali bahwa sosok ‘teman’ yang dimaksud oleh June dengan binar mata hangat itu adalah Julio, rekan sekelas barunya, yang berwajah teduh. Wajar saja jika Green tidak peka, mengingat dirinya sendiri belum terlalu kenal dekat atau mengobrol banyak dengan Julio selama beberapa hari ini.

Green memilih untuk tidak menggubris, lebih jauh ucapan June. Menganggapnya sebagai angin lalu dan kembali memfokuskan pandangannya pada layar laptop yang menyala. Sementara di sudut meja, June tersenyum misterius sembari merogoh saku celananya, untuk mengirimkan sebuah pesan teks baru ke nomor WhatsApp milik Julio, membiarkan rahasia kedekatan mereka tersimpan rapat di bawah langit siang sekolah yang mulai menghangat.

Next………


메타데이터
post_id
a28aecfe07f9
slug
the-last-blue-june-a28aecfe07f9
url
https://medium.com/@fallinlovee/the-last-blue-june-a28aecfe07f9
canonical_url
https://medium.com/@fallinlovee/the-last-blue-june-a28aecfe07f9
author_url
https://medium.com/@fallinlovee
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56