← Back to list

Zona Nyaman Itu Memang Nyaman, Tapi Bukan Tempatku Bertumbuh

Sejak SMA, aku punya satu keinginan besar, keluar dari zona nyaman dan merantau ke Jakarta. Kota itu bagiku adalah simbol mimpi…

jyroo · 2025-09-03 11:33 · 0 claps · 5.2 min read
#zona-nyaman #asrama #kuliah #kampus #utbk
Open on Medium ↗

Zona Nyaman Itu Memang Nyaman, Tapi Bukan Tempatku Bertumbuh

Pinterest

Pinterest

Sejak SMA, aku punya satu keinginan besar, keluar dari zona nyaman dan merantau ke Jakarta. Kota itu bagiku adalah simbol mimpi, kesempatan, dan perjalanan baru. Aku sering membayangkan bagaimana rasanya duduk di bangku kuliah, berjalan di tengah hiruk pikuk kota, dan berjuang sendirian jauh dari rumah.

SBMPTN adalah salah satu momen yang paling penting dalam kehidupan tahun akhir di SMA. Memang tidak semua yang menantikan momen ini, tetapi mayoritas lulusan SMA ingin masuk ke PTN.

Segala usaha dan doa dilakukan. Ikut bimbingan belajar, belajar hingga larut malam, ibadah, berdoa, dan yang lainnya. Konsultasi tentang jurusan dan universitas pun tidak dilakukan hanya sekali. Tapi, jika semua itu sudah dilakukan tapi tetap tidak tembus jurusan dan PTN impian, bagaimana?

Hai, nama aku Jiro. Aku lulusan SMA Swasta di Sukabumi, jurusan IPA. Berasal dari sebuah desa kecil yang terpencil, masuk ke perguruan tinggi negeri terasa seperti mimpi yang sulit diraih. Melihat latar belakang sekolah dan kampungku, banyak orang meragukan kemampuanku, bahkan ada yang berkata:

“Masuk UI? Itu hanya mimpi.”

Dulu, aku ingin sekali menjadi sastrawan dan penulis. Alasannya sederhana, aku nggak suka fisika dan hitung-hitungan ya meskipun di SMA jurusan ku IPA, jadi nggak mau ambil jurusan yang terlalu teknis, dan aku juga nggak mau ikut arus yang terlalu umum karena saingannya banyak (also I didn’t want to be like everyone else anyway). Sebenarnya bukan hanya itu, aku juga ingin memberi makna bagi orang lain lewat tulisan, dan aku pikir kalau jadi penulis aku bisa tetap berkarya dari rumah. Jadi, aku masih bisa mengawasi rumah dan anak-anakku nanti.

SNMPTN, SBMPTN, dan Ujian Mandiri 2020

SNMPTN 2020 atau undangan, aku memilih hanya 1 pilihan: FIB UI. Sebenarnya nilai aku nggak bagus-bagus amat. Termasuk yang menengah ke bawah di urutan anak-anak yang mau masuk Univ lain di angkatan aku. Setelah pengumuman dan dinyatakan nggak lolos, aku nangis. Wajar ga si Namanya manusia ..

Sebenarnya aku sudah tahu dan nggak seharusnya aku berharap di SNMPTN, tapi tetap saja sedih karena teman-teman aku banyak yang lolos. Jadi, ada pressure tersendiri dan teman belajarnya jadi berkurang. Akhirnya aku benar-benar berusaha dan banyak ibadah. Nilai try out di bimbingan belajar aku segitu-gitu aja. Dengan tekad kuat serta minta doa dan konsultasi sana-sini, akhirnya aku optimis.

SBMPTN 2020, aku pilih: FIB UI dan FBS UNJ. Sebenarnya itu jauh dari yang aku inginkan. Tapi mengingat nilai TO aku yang segitu-gitu aja, I had to be realistic. Aku akhirnya memilih pilihan itu. Aku termasuk orang yang nekat juga karena pilihan pertama tetap UI. Aku memang masih sangat UI-minded waktu itu.

Saat pengumuman dan dinyatakan tidak lolos, aku nangis sejadi-jadinya. Aku sampai berpikir, “Even di pilihan ke-2 aku masih nggak dapet??” Demotivasi. Pressure semakin bertambah ketika melihat teman-teman aku banyak yang menyusul anak-anak yang lolos SNMPTN. Tapi aku terus berdoa semoga diberi yang terbaik, meskipun dalam hati aku sangat ingin FIB UI.

SIMAK UI 2020, aku memilih FEB, Ekonomi dan Bisnis. Kenapa Ekonomi? Karena dulu aku pernah bercita-cita menjadi Direktur dan pebisnis. Aku kagum melihat orang-orang yang mengenakan jas dengan gagah dan tampak sibuk dengan pekerjaannya. Namun, setelah menyadari bahwa ekonomi dan bisnis tidak lepas dari hitung-hitungan, aku akhirnya mengubur cita-cita itu. Untuk pilihan kali ini, aku hanya berpegang pada prinsip: “coba saja, siapa tahu memang jalannya di situ.”

Sayangnya, aku tetap tidak lolos. Pupus sudah harapanku untuk kuliah di UI. Pada akhirnya, aku harus melanjutkan pendidikan di kampus swasta. Perasaan sedih tentu ada, karena sebenarnya aku tidak ingin kuliah di swasta. Namun, menunda setahun hanya untuk mencoba lagi terasa terlalu lama bagiku.

Memutuskan kuliah di Kampus Swasta Jakarta

Well, ketika melihat hasil SNMPTN, SBMPTN, dan Ujian Mandiri 2020. Hari itu, aku tentu sedih banget. Dalam salat ku seluruh tubuhku menangis. Aku tidak pernah menghadapi kondisi seperti ini, tetapi aku bersyukur bahwa itulah cara Tuhan menguatkan kita, hard times create strong men.

Tetapi satu hal yang tidak pernah padam adalah tekadku: bagaimanapun caranya, aku harus keluar dari kampung ini, keluar dari zona nyaman. Dan ternyata jalan itu datang dengan cara yang tak pernah kubayangkan. Ayahku punya kenalan di salah satu kampus di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Bukan UI, bukan UNJ, bukan kampus impian yang selama ini aku cita-citakan. Awalnya aku ragu, bahkan enggan. Tapi akhirnya aku memilih untuk masuk.

Karena aku sadar, keluar dari zona nyaman bukan hanya soal nama besar sebuah kampus, melainkan soal keberanian untuk melangkah, meski jalannya berbelok dari rencana. Mungkin mimpiku tidak tercapai dengan cara yang lurus. Tapi justru dari situlah aku belajar bahwa hidup selalu punya alternatif. Bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan. Dan bahwa mimpi untuk keluar dari zona nyaman bisa terwujud lewat banyak jalan, asalkan kita cukup berani untuk terus berjalan.

Tahun 2021, di tengah masa pandemi Covid-19 ketika pembelajaran masih berlangsung secara online, aku memutuskan untuk mendaftar di kampus itu. Alhamdulillah, Allah seketika memberikan jalan dan petunjuk-Nya. Aku diterima dengan kuota beasiswa KIP, sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Rasanya seperti pintu yang tiba-tiba terbuka di saat aku hampir kehilangan arah. Dari situ aku belajar bahwa ketika kita sudah berusaha dan menyerahkan diri kepada-Nya, Allah selalu punya cara terbaik untuk menuntun langkah kita.

Awal perkuliahan dimulai dengan ospek yang dilakukan secara online lewat Zoom. Dari sana, aku mulai berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah. Kami saling menyapa lewat pesan WhatsApp dan berkumpul dalam satu grup angkatan yang lahir di masa pandemi. Tidak lama kemudian, seorang teman bersama kakak tingkat menawarkan aku untuk tinggal di Asrama Putra, khusus mahasiswa dari luar Jakarta. Saat itu aku benar-benar tersadar, betapa Allah begitu baik membuka pintu jalan yang begitu luas. Sesuatu yang sebelumnya sama sekali tidak pernah aku pikirkan, bahkan tidak pernah aku niatkan. Ternyata, di balik semua kebimbangan dan rencana yang tak pasti, Allah sudah menyiapkan tempat, teman, dan lingkungan terbaik untuk langkah awal perjalananku di dunia perkuliahan.

Seketika itu juga aku langsung bergegas mencari tahu tentang asrama tersebut melalui sosial media dan berbagai platform lainnya. Ternyata, asramanya cukup menarik dan unik. Hal itu membuatku semakin antusias, karena tinggal di asrama sebenarnya adalah salah satu mimpiku sejak dulu. Aku selalu ingin merasakan hidup di lingkungan asrama, agar bisa memiliki banyak teman, pengalaman baru, serta mengikuti berbagai kegiatan yang akan membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih berkembang.

Perjalanan di Mulai

Hari itu menjadi titik awal yang tak akan pernah kulupakan, aku diantarkan oleh keluarga. Perasaan haru bercampur bahagia tak bisa kujelaskan. Ada rasa berat saat melepas mereka pulang, tapi juga ada semangat baru untuk memulai kehidupan yang berbeda.

Asrama itu tampak sederhana, namun hangat. Begitu masuk, aku langsung bertemu dengan teman-teman dari berbagai kampus. Salah satunya menyapaku,

“Eh, lu baru masuk ya? Dari kampus mana?”Aku tersenyum gugup lalu menjawab,

“Iya, gue baru datang. gue kuliah di kampus sebelah, jurusan ekonomi. lu?”

Ia membalas dengan ramah,

“Gue di kampus Univ Al Azhar, jurusan ekoonomi juga. Wah, asrama ini seru juga ya, banyak orang dari kampus beda-beda.”

Kami tertawa kecil, dan perasaan canggung perlahan menghilang. Tak lama, kakak tingkat pun menghampiri sambil berkata,

“Selamat datang di asrama! Anggap aja ini rumah kedua kalian. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan tanya ya.” Ujar nya

Di kamar, aku berkenalan dengan teman sekamarku. Obrolan ringan pun mengalir,

“Asalmu dari mana?” tanyanya. “Aku dari Sukabumi, Kamu?” “Aku dari Semarang. Sama kayak kamu, baru pertama kali jauh dari keluarga.”

“Wah jauh juga ya dari Semarang”

Malam itu, meski jauh dari keluarga dan berada di tempat baru, aku merasa seperti menemukan rumah kedua. Tinggal di asrama benar-benar membuka banyak peluang: bertemu teman dari kampus yang berbeda-beda, berbagi pengalaman, belajar hidup mandiri, dan merasakan kebersamaan yang tak pernah kudapatkan sebelumnya.

Asrama Sunan Giri

Asrama Sunan Giri


메타데이터
post_id
a2a95fc01ecb
slug
zona-nyaman-itu-memang-nyaman-tapi-bukan-tempatku-bertumbuh-a2a95fc01ecb
url
https://medium.com/@ihyamuhammad1607/zona-nyaman-itu-memang-nyaman-tapi-bukan-tempatku-bertumbuh-a2a95fc01ecb
canonical_url
https://medium.com/@ihyamuhammad1607/zona-nyaman-itu-memang-nyaman-tapi-bukan-tempatku-bertumbuh-a2a95fc01ecb
author_url
https://medium.com/@ihyamuhammad1607
status
ok
fetched_at
2026-07-17 19:04:00