Murid Hanyalah Titipan
Mengomentari berbagai berita tentang (pen)jelek-jelek-nya pendidikan Indonesia.
Murid Hanyalah Titipan
Tulisan ini hanyalah clotehan (opini) seorang anak yang sedang berfikir akan berita tentang nasib instansi pendidikan Indonesia, hanya karena hilangnya citra profesi dimasa depan.

Selalu ada hal yang lebih penting untuk kita lakukan. Salah satunya adalah belajar. Mungkin tak banyak hal yang lebih penting dan berada diatas tingkatan belajar itu, seperti beribadah, makan dan bernafas bersama hembusan asap rokok (disekolah). Mohon maaf untuk menyinggung, tetapi saya pikir tersebut patut untuk kita simak dan kawal bersama. Seorang KepSek yang dinonaktifkan disebabkan tamparan kepada salah satu muridnya (yang melanggar).
Mari kita tilik kasus-kasus yang ‘sempat’ menarik keperihatinan publik pada tahun sebelumnya. ‘Kurangnya jumlah guru di daerah terpencil’ jika boleh saya mengingat kembali, Indonesia telah mengalami krisis guru. Mirisnya, hal tersebut tidak diketahui kapan bermulai dan berakhir hingga kapan. Bahkan majunya teknologi saat ini tidak dapat menangani masalah tersebut. Bukannya memajukan, tetapi malah menjatuhkan satu persatu instansi pendidikan yang merupakan hal yang sakral.
Izinkan saya menganggap pendidikan sebagai satu kewajiban yang sangat krusial bagi setiap orang. Apakak sistem pendidikan adalah satu hal yang bisa dianggap remeh-temeh?, bagaimanapun setiap butuh akan belajar, berfikir, berkembang dan bernalar. Kaki untuk berjalan, mata untuk melihat, mulut untuk makan dan otak untuk berfikir dan menampung pengetahuan. Apakah otak hewan juga untuk berfikir?. Tentu, tapi hanya untuk memuaskan ‘nafsu’.
Salah satu dunia pendidikan adalah lingkungan persekolahan. Tempat kita melangkah pada tahap awal untuk menghadapi kehidupan seterusnya. Ada beberapa hal yang harus dipenuhi untuk sebuah tempat dapat dikatakan sekolah. Tetapi menurut saya yang terpenting adalah adanya guru dan murid. Seorang dapat dikatakan guru karena ia mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi murid. Sedangkan murid adalah seseorang yang belajar di bawah bimbingan seorang guru.
“Ngapain juga mau disuruh menghormati guru?, toh ortuku yang bayar mereka dan aku cuman pingin belajar!”. Secara garis besar asumsi tersebut telah menjamur banyak di benak para murid. Saya akan mengingatkan kembali, proses pembelajaran tidak hanya sebatas memberi ilmu dan menerima. Tetapi mendampingi, membimbing, hingga mencetak sesuatu yang lebih baik daripada sebelumnya.
“Tapikan banyak guru yang semena-mena!, emang boleh begitu?”. Pesatnya media digital yang menyebarkan kekerasan guru terhadap murid, telah menjadi pusat perhatian baru bagi publik. Berita “KepSek di-non-aktifkan karena menampar murid” adalah satu kasus yang menarik untuk dibahas. Ketika mendengar berita itu, golongan pemuda merasa marah dan sebagian golongan pemuda dan tetua yang lain berkomentar ‘lemah’.
Pembelajaran tidak hanya sebagai penambah ilmu pengetahuan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Tetapi juga tentang moral dan etika dikehidupan sehari-hari. Penanaman nilai bahwa kita tidak boleh mencuri, menghormati yang lebih tua, bertutur kata yang santun adalah satu hal yang berbeda tetapi sangat berguna. Sebagai makhluk yang dapat berfikir, apakah kita menerima jika seseorang yang telah memberikan banyak hal, dicaci maki bahkan disakiti oleh orang lain?. Saya harap kalian berpendapat tidak demikian.
Indonesia sebagai negara yang sedang mengalami krisis guru, saya kira tidak patas untuk mengimplikasikan dogma kekerasan guru terhadap anak. Citra guru yang menurun dapat memperkeruh krisis yang terjadi. Jangan sampai terlintas dipikiran guru bangsa“murid adalah titipan, yaudah terserah mereka, kan cuman nitip; nggak boleh berubah sedikitpun barangnya!, berubah dikit tanggung jawab nanti”.
Zaman boleh terus berganti atau berputar, dan banyak hal juga boleh lebih maju atau berkembang. Tetapi, tidak semua harus berubah membuntuti semuanya. Tetapi saya harap beberapa dogma tidak mengikutinya. Seperti murid yang merupakan tanggung jawab guru untuk mendidik dan mencetak mereka agar menjadi lebih baik. Begitupun sebaliknya, murid menghormati dan menyayangi guru selayaknya orang tua mereka sendiri.
메타데이터
- post_id
- a2bef0d9d911
- slug
- murid-hanyalah-titipan-a2bef0d9d911
- url
- https://medium.com/@zakysthofa/murid-hanyalah-titipan-a2bef0d9d911
- canonical_url
- https://medium.com/@zakysthofa/murid-hanyalah-titipan-a2bef0d9d911
- author_url
- https://medium.com/@zakysthofa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 17:47:31