← Back to list

Memoar Bulek dan Kantin Sekolah

Kemarin pagi saya berkesempatan untuk bisa makan kembali di salah satu tempat bersejarah, yang membuat saya kuat bertahan selama mengenyam…

Amelia Arum Ramadhani · 2023-08-11 23:09 · 2 claps · 2.6 min read
#kantin #memoar
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

Memoar Bulek dan Kantin Sekolah

Kemarin pagi saya berkesempatan untuk bisa makan kembali di salah satu tempat bersejarah, yang membuat saya kuat bertahan selama mengenyam pelajaran di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kantin. Jika boleh jujur, kantin menjadi monumen kenangan yang masih saya gelakkan ketika bertemu teman-teman sejawat (dibandingkan isi mata pelajaran sekolahnya). Sudah lebih dari 10 tahun–waktu yang sudah bisa dihitung genap oleh dua tangan, tapi rasanya baru kemarin lusa saya mencopot pakaian putih biru dengan asal. Momen-momen seperti ini yang membuat waktu terasa cepat berlalu, walaupun kenyataannya tidak demikian.

"Bulek" panggilan akrab kami, anak-anak bocah ingusan kelaparan yang lari seperti zombi ketika bel istirahat berbunyi. Sajian makanan ringan seperti gorengan (favorit sepanjang masa: tempe goreng), hingga makanan yang tidak berat-berat amat mendobrak habis perut siswa yang kelaparan. Dari sekian banyak kantin, kantin bulek yang paling konsisten tingkat keramaiannya. Bukan karena makanan yang disajikan berbeda, bisa dibilang tiap kantin menyajikan menu yang sama rata, tapi karena bulek memperlakukan kami seperti anaknya. Saya berani bilang bulek hafal semua nama anak yang makan dikantinnya. Bukan nama saya saja, nama teman-teman sejawat saya juga masih diingat dengan baik oleh beliau. Yang membuat saya terharu, biarpun sudah tidak bertemu bertahun-tahun, dengan perubahan wajah yang tiap tahunnya seperti terbentur sesuatu sehingga wajah siapa saja bisa terlihat berubah, bulek tetap ingat nama saya. Tetap ingat perawakan saya dulu dengan rambut kepang satu dan selegam coklat batangan.

Potret Bulek Menjerang Mi

Potret Bulek Menjerang Mi

Mengingat nama dan merasa dihargai ternyata ada korelasinya. Hal ini juga dibahas di beberapa jurnal, seseorang akan merasa dihargai ketika diajak berbincang dengan menyertakan nama, konsep ini sering diterapkan oleh guru di sekolah, dengungannya sama seperti yang diuraikan jurnal berikut:

Betapa besar pengaruh mengingat nama orang, yang seringnya diremehkan dalam kehidupan sehari-sehari (termasuk saya, kebanyakan karena lupa). Sepertinya mulai detik saya menulis ini, nama-nama orang yang saya kenal akan saya catat dengan baik, bukan hanya di buku, tapi juga di kepala yang ruangnya mulai sesak (usaha dulu).

Sambil makan, diam-diam sebagai alumni bongsor saya menggeledahi perawakan anak-anak SMP yang sedang makan di kantin Bulek. Kenapa mereka terlihat sebesar biji jagung, kecil betul. Apa saya dulu terlihat seperti ini? Atau bahkan sampai sekarang saya masih terlihat seperti biji jagung? (mengingat rasanya badan saya berhenti tumbuh ke arah langit saat SMP). Setelah puas melirik kanan kiri dan terkekeh, saya menenggelamkan diri ke dalam tumpukan mi goreng dan tempe goreng yang sedang kawin, enaknya (disertakan dengan gambar di bawah, bonus bongkahan kaki). Makan tidak membuat kepekaan telinga saya berkurang, terlebih dibantu dengan desingan suara orang Melayu yang seperti menelan toak, amat nyaring. Riuh sekali di meja sebelah, Bulek bilang mereka anak SMA (atau baru lulus SMA). Kantin kerap dijadikan mimbar dadakan, banyak orasi yang memerlukan lengkingan, katanya gosip cepat merebak di kantin, sekali lagi, katanya. Kadang kantin juga dijadikan lahan untuk konser, saya ingat ada yang menyanyikan lagu Laskar Pelangi kemarin. Suaranya lumayan, sepertinya anak padus.

Potret Makanan Kawin

Potret Makanan Kawin

Setelah puas berlagak layaknya Intel yang perlu mengamati sekitar, saya dan teman saya akhirnya pulang dengan perut kenyang dan hati senang. Kembali mendatangi kantin sekolah seperti memutar video lama yang usang tapi berharga. Tidak hanya Bulek, semua peralatan kantin hingga makanannya seperti memiliki jiwa yang patut untuk dirindukan dan dikenang. Kelak ketika memiliki keluarga, akan saya boyong mereka kesini, agar mereka paham seperti apa rasanya makanan yang layak disebut tempe goreng.


메타데이터
post_id
a2c75f6ca5a5
slug
memoar-bulek-dan-kantin-sekolah-a2c75f6ca5a5
url
https://medium.com/@ameliaarumramadhanii/memoar-bulek-dan-kantin-sekolah-a2c75f6ca5a5
canonical_url
https://medium.com/@ameliaarumramadhanii/memoar-bulek-dan-kantin-sekolah-a2c75f6ca5a5
author_url
https://medium.com/@ameliaarumramadhanii
status
ok
fetched_at
2026-06-26 21:52:29