← Back to list

Kisah Profesor Pisang dan Mustofa Pewaris Bibit Unggul Pisang Bantul

Profesor Pisang, Lasiyo Syaifuddin, atau yang kerap disapa Mbah Lasiyo, adalah warga Padukuhan Ponggok, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon…

Tsania Qonita · 2026-01-12 05:26 · 0 claps · 3.4 min read
#profesor #kisah #kisah-nyata #kisah-inspiratif #bibit-pisang
Open on Medium ↗

Kisah Profesor Pisang dan Mustofa Pewaris Bibit Unggul Pisang Bantul

Foto: kiri Lasiyo Syaifuddin, ‘profesor pisang’ dari Bantul, kanan Bisri Mustofa sang pewaris saat menunjukkan bibit pisang di penangkarannya.

Foto: kiri Lasiyo Syaifuddin, ‘profesor pisang’ dari Bantul, kanan Bisri Mustofa sang pewaris saat menunjukkan bibit pisang di penangkarannya.

Profesor Pisang, Lasiyo Syaifuddin, atau yang kerap disapa Mbah Lasiyo, adalah warga Padukuhan Ponggok, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Bantul. Namanya dikenal luas, tidak hanya melalui surat kabar, tetapi juga media televisi. Ia menjadi sorotan publik berkat kesuksesannya dalam membibit dan mengembangkan tunas pisang. Lalu, bagaimana Mbah Lasiyo bisa mendapatkan gelar tersebut, meski hanya lulusan paket C? Gelar “Profesor Pisang” disematkan kepadanya karena kegigihannya dalam mengembangkan usaha pembibitan pisang sejak tahun 2007. Berkat ketekunan dan semangat pantang menyerah, ia berhasil berkelana menebar ilmunya hingga ke Italia.

Kisahnya bermula dari bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006. Peristiwa itu membuat Mbah Lasiyo kehilangan pekerjaan. Namun, dari keterpurukan itu, ia bangkit dan mulai bergabung pada komunitas Petani Pisang. Atas permohonan pendanaan dari komunitas tersebut, pemerintah desa Sidomulyo memberi bantuan berupa 100 bibit pohon pisang pada anggota komunitas. Bibit itu tak hanya ditanam, tetapi dikembangkan dengan sepenuh hati hingga menjadi ribuan pohon dan dipasarkan ke berbagai daerah. Meski tubuhnya mungkin telah membungkuk dimakan usia, tetapi semangatnya tak pernah surut. Tahun silih berganti, kini mbah Lasiyo telah mewariskan bibit unggul pisang kepada anaknya Bisri Mustofa (39), sosok mbah Lasiyo mungkin telah berpulang tapi warisannya dalam meciptakan dan mempertahankan cikal bakal bibit unggul tak pernah pudar. Mustofa sang pewaris memiliki misi tak jauh beda dengan sang ayah, yakni selalu memasang badan untuk mengawasi pertumbuh Kembangan bibit unggul pisang.

Lelaki paruh baya ini tak pernah putus asa dalam mencoba berbagai hal untuk mengubah takdirnya, ia tak pernah tau esok siapa yang akan menghampiri lahannya, apakah seorang pembeli biasa, atau seorang pengusaha, atau bahkan seorang investor. Tapi ia selalu yakin bahwa dari lahannya lah ia hidup dan menghidupi keluarganya. Zaman semakin berkembang di balik hijau suburnya pohon pisang kini tumbuhlah 18 varietas baru dari yang mulanya hanya 5 varietas, hal ini mencerminkan kerja keras Mustofa dan menjadi bukti jika inovasi dan alam dapat berjalan beriringan hingga menciptakan rasa serta keunikan tersendiri. 18 varietas pisang yang tumbuh subur di lahan Mustofa antara lain; Raja Bagus, Raja Bulu, Raja Sere, Raja Jengkel, Kapok Kuning, Ambon Kuning, Ambon Lumut, Raja Pulut, Raja Kidang, Kojo Atau Pisang Susu, Raja Sewu, Pulut, Klutuk, Mas Kirana, Gabu Atau Koprek, Byok, dan Pisang Moro Sebo.

Dalam bertani Bisri Mustofa selalu menjaga bibit pohon pisang dengan metode yang turun menurun yakni penggunaan pupuk alami dari kotoran kambing tanpa mencampur pupuk kimia, hal ini sudah menjadi tradisi sejak 2007 dan di yakini bahwa hasil dari pupuk organik akan melahirkan buah pisang dengan rasa manis alami. Setiap pagi suara siraman air mejadi ritual khusus dalam pertumbuhan bibit pohon pisang, Mustofa selalu menggiring air tak hanya di satu lahannya, akan tetapi di kedelapan lahannya. Keringat yang tercucur menjadi tanda keberhasilan dalam merawat pohon pisang.

Bagi Mustofa pohon pisang bukan sekedar tanaman, akan tetapi tulang punggung keluarga. Dalam proses penjualan bibit pohon pisang terdapat dua jenis bibit yang ditawarkan, yaitu bibit polybag dan bibit dall. Untuk bibit muda masih dalam tahap awal pertumbuhan akan ditanam di dalam polybag. Kondisi akar masih muda dan belum berkembang luas, harga bibit pohon pisang dalam polybag berkisar Rp14.000 per pohon. Sementara itu, bibit jenis dall merupakan pohon pisang yang sudah dipindahkan ke tanah dan memiliki tinggi sekitar sepinggang orang dewasa. Akar bibit ini lebih kuat dan siap tumbuh lebih cepat setelah ditanam ulang. Karena proses perawatannya lebih lama dan risiko kematiannya lebih kecil, harganya lebih tinggi, yaitu sekitar Rp20.000 per pohon.

Secercah harapan mulai bertaburan, tahun yang menjadi puncak kejayaan dimulai pada tahun 2016 hingga saat ini. “Biasanya orang beli di musim hujan, dulu pernah ada yang beli bibit pohon pisang 1.000 bibit — pengusaha dari Wonogiri. Kalau hari-hari biasa yang beli dari orang-orang pasar” ujar Mustofa. Seperti arus sungai yang tak bisa ditebak, para pembeli datang dari berbagai arah ada yang sekedar mencicipi buah, ada yang ingin menanam, bahkan tak jarang para jurnalis turut hadir untuk meliput kisah di balik kebun pisang ini. Tak heran jika kisah di balik pohon pisang ini mampu menarik perhatian publik secara nasional hingga internasional.

Dilansir dari Detik.com rahasia sukses di balik kebun pisang selama ini adalah penerapan 3M dan TUYUL. 3 M yakni melihat, memahami dan melaksanakannya hal ini yang berhubungan dengan pembibitan pohon pisang. Sedangkan, TUYUL singkatan dari T adalah Takwa, U adalah Usaha, Y adalah Yakin, U adalah Ulet atau inovatif dan L adalah Lincah. Rahasia tersebut masi terus di genggam Mustofa. Namun, roda kehidupan terus berputar suatu kegagalan bukanlah hal yang tidak mungkin dan pasti akan terjadi dalam suatu usaha. Meski sudah di beri pupuk dua minggu sekali serangan ulat di musim hujan menjadi bencana bagi pohon pisang, terlebih pada daun yang bisa menghambat dan merusak cikal bibit unggul pohon pisang.

Baju berlumur noda pasir dan getah yang menjadi saksi, bahwa kebangkitan dari keterpurukan bukan suatu hal yang mudah. Meski di awal keluarga Mustofa mendapat bantuan 100 bibit pohon pisang, nyatanya ia dan ayahnya harus menghabiskan waktu untuk mengabdi pada lahannya agar terus berkembang. Mati satu tumbuh seribu, dari satu lahan menjadi delapan lahan, dari 100 bibit menjadi ribuan bibit, dari 5 varietas menjadi 18 varietas. Kisah yang inspiratif ini mengajarkan kita untuk percaya bahwa usaha tak pernah mengkhianati hasil.


메타데이터
post_id
a2dc6a6d1493
slug
kisah-profesor-pisang-dan-mustofa-pewaris-bibit-unggul-pisang-bantul-a2dc6a6d1493
url
https://medium.com/@tsaniaqonita2/kisah-profesor-pisang-dan-mustofa-pewaris-bibit-unggul-pisang-bantul-a2dc6a6d1493
canonical_url
https://medium.com/@tsaniaqonita2/kisah-profesor-pisang-dan-mustofa-pewaris-bibit-unggul-pisang-bantul-a2dc6a6d1493
author_url
https://medium.com/@tsaniaqonita2
status
ok
fetched_at
2026-06-22 12:55:45