Bangku di Bawah Pohon Flamboyan
Bangku di Bawah Pohon Flamboyan
Bangku di Bawah Pohon Flamboyan
Bangku di Bawah Pohon Flamboyan
Sore itu udara lembap, langit menggantung di antara jingga dan kelabu. Di halaman sekolah yang kini penuh retak dan rumput liar, Rafi berdiri lama memandangi bangku tua di bawah pohon flamboyan. Cat hijaunya sudah mengelupas, tapi di sisi kanan kayunya masih ada dua huruf yang tergores samar: D + R.
Dara yang menulisnya dulu, di hari terakhir sekolah menengah. Rafi yang mengukir garis miring di tengahnya, sambil tertawa, berkata: “Biar kayak tanda tambah, biar kita tetap bareng sampai kapanpun.”
Itu dua puluh lima tahun yang lalu.
1. Dulu: Anak-anak yang Tak Takut Dunia
Mereka bertemu pertama kali di kelas lima. Dara baru pindah dari luar kota — anak perempuan yang cerewet, berambut pendek, dan berani melawan siapa pun yang ganggu teman. Rafi duduk di bangku belakang, anak yang pendiam tapi jago menggambar peta di papan tulis.
Hari pertama Dara masuk, Rafi menertawakannya karena salah baca soal di depan kelas. Hari kedua, mereka bertengkar karena berebut bola plastik di lapangan. Hari ketiga, mereka sudah duduk bersama, menggambar komik di buku tugas IPS.
Sejak itu, dunia seolah hanya milik mereka berdua. Setiap sore, mereka duduk di bawah pohon flamboyan di halaman belakang sekolah. Mereka bercerita tentang apa saja: cita-cita, guru yang galak, teman yang lucu, dan rencana-rencana yang terlalu besar untuk anak seusia mereka.
“Kalau udah gede, aku mau jadi arsitek,” kata Rafi suatu hari. “Biar bisa bangun sekolah baru buat anak-anak kayak kita.” Dara mengangguk. “Aku mau jadi guru di situ.” Mereka tertawa, lalu sepakat: sekolah itu nanti akan punya halaman luas dengan pohon flamboyan yang sama.
Mereka menulis mimpi-mimpi itu di batu kecil, lalu menumpuknya di bawah bangku — menamai tumpukan itu batu-batu mimpi.
2. Waktu yang Mencuri Perlahan
Tapi waktu punya cara sendiri mencuri kebersamaan. Setelah lulus, Dara pindah ke Bandung ikut pamannya. Rafi tetap di kampung, membantu ayahnya di bengkel kecil dekat pasar.
Awalnya mereka masih saling berkirim surat. Lalu Dara sibuk dengan kuliah, Rafi dengan pekerjaannya. Telepon jarang, lalu berhenti sama sekali.
Dara sempat kembali sekali, tahun 2008, saat ibunya meninggal. Rafi datang melayat, membawa bunga flamboyan dari halaman sekolah. Mereka hanya sempat bicara sepuluh menit. Setelah itu, sunyi panjang kembali melingkupi.
Ada kalanya Rafi datang ke sekolah lama sendirian, duduk di bangku itu. Ia menatap ukiran nama mereka dan bertanya dalam hati, “Apakah persahabatan juga bisa menua seperti kayu?”
3. Kini: Waktu yang Melipat Dirinya Sendiri
Hari itu, Dara datang tanpa kabar. Katanya, ia sedang pulang ke kampung karena ada urusan keluarga. Tapi sebenarnya, ia hanya ingin melihat sesuatu yang dulu pernah jadi rumahnya.
Ia menemukan Rafi di tempat yang sama — duduk diam di bangku di bawah flamboyan. Ia hampir tak mengenalinya: rambutnya mulai memutih, kulitnya legam, tapi matanya tetap teduh seperti dulu.
“Masih suka duduk di sini?” tanya Dara. Rafi menoleh, tersenyum pelan. “Bangkunya nggak berubah. Cuma kita yang berubah.”
Mereka duduk berdampingan. Tak ada pelukan, tak ada air mata. Hanya dua sahabat yang menua di bawah bayangan masa kecilnya sendiri.
Dara membawa dua gelas plastik. “Satu teh manis buatmu,” katanya. “Kau selalu nggak kuat kopi.” Rafi tertawa. “Dan kau masih ingat saja.”
Mereka bicara lama — tentang teman-teman lama, tentang sekolah yang kini akan dijual untuk dijadikan toko, tentang hidup yang ternyata tidak seperti bayangan mereka dulu.
“Kadang aku iri sama anak-anak yang masih sekolah,” kata Dara lirih. “Mereka bisa ketawa tanpa tahu bahwa waktu akan mencuri semua itu.” Rafi mengangguk. “Tapi kalau waktu nggak mencuri, kita nggak akan tahu rasanya kehilangan.”
Senja makin tua. Angin menebar daun flamboyan ke pangkuan mereka. Rafi mengambil satu daun, menatapnya, lalu berkata, “Mungkin kita memang nggak sempat menepati semua janji waktu kecil. Tapi duduk di sini lagi… rasanya kayak janji yang akhirnya ditepati.”
Dara tersenyum. “Dan bangku ini jadi saksi yang paling setia.”
4. Pamit yang Tidak Sungguh-sungguh
Mereka berdiri sebelum malam datang. Dara memotret bangku itu dengan ponselnya. “Buat kenang-kenangan,” katanya. Rafi menatapnya. “Kalau nanti kau datang lagi, taruh satu daun flamboyan di sini. Biar aku tahu.”
Dara mengangguk, matanya sedikit berkaca. “Dan kalau kau datang duluan,” ujarnya pelan, “aku pastikan bangkunya tetap ada.”
Mereka berpisah tanpa janji. Hanya satu pandangan terakhir di bawah langit yang berubah warna. Tapi keduanya tahu — pertemanan yang sejati tak perlu diulang atau diperbarui. Ia hanya perlu diingat, dengan cara yang sederhana: duduk di kursi lama, berbagi diam, dan membiarkan kenangan menua bersama mereka.
Akhirnya, pohon flamboyan itu tetap berdiri. Setiap kali musim berbunga datang, kelopak merahnya jatuh ke tanah seperti pesan dari masa lalu. Dan di bawahnya, dua huruf yang tergores di kayu masih bisa dibaca D + R, saksi kecil dari persahabatan yang tak pernah hilang, hanya beristirahat sebentar di lipatan waktu.
메타데이터
- post_id
- a2eb608c3e7f
- slug
- bangku-di-bawah-pohon-flamboyan-a2eb608c3e7f
- url
- https://medium.com/@baranjaelani12/bangku-di-bawah-pohon-flamboyan-a2eb608c3e7f
- canonical_url
- https://medium.com/@baranjaelani12/bangku-di-bawah-pohon-flamboyan-a2eb608c3e7f
- author_url
- https://medium.com/@baranjaelani12
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 11:06:28