Apa Yang Kita Ga Bicarakan Tentang Berduka (Part III)
Hidup itu rapuh, tapi sangat menguatkan
Apa Yang Kita Ga Bicarakan Tentang Berduka (Part III)
Hidup itu rapuh, tapi sangat menguatkan
Photo by Kimson Doan on Unsplash
Kejadian Random
Beberapa hari yang lalu, aku nge-dm seorang teman yang udah lama aku ga ketemu, 9 tahun. Namanya Maylina. Ini sedikit potongan percakapan kami
Aku: “Aku tu susah eliminasi orang yang kuanggap baik meskipun udah ga kontak lama, hidup itu rapuh.”
Maylina: “You see the goods in people.”
Aku: “I never realized this. makin kesini aku makin sadar hidup tu rapuh kali dan aku melakukan apa yang kubisa untuk ngerawart orang di sekitarku dan hatiku.”
Percakapan ini lingers di hatiku selama beberapa hari dan kurenungi untuk beberapa waktu.
Aku mau cerita dikit kenapa aku bisa mencetuskan percakapan itu. Beberapa hari sebelumnya dan beberapa minggu sebelumnya, aku kembali ambruk untuk kesekian kalinya mengenang orang terdekatku yang sudah berpulang. Don’t judge me, it’s my normal. Aku masih terbayang, bagaimana hidup sebenarnya sesingkat itu juga berakhir hanya dalam waktu yang singkat. Lebih seringnya ga terduga-duga.
Beberapa hari berikutnya aku ngobrol juga dengan kawanku, Rafie. Aku bilang ke dia “sebenarnya duka itu ga bakal pernah sembuh. Akan ada hari-hari biasa kita bisa ambruk dan nangis. Bisa aja kita mimpikan orang itu dalam tidur dan kita juga bisa menangis pas lagi tidur.” Rafie mengiyakan.
Satu hal yang menjadi perenunganku kenapa duka bisa terjadi kapan aja di waktu random. Jawabannya, aku ga tau, jujur. Kadang ada pemicunya kadang juga ga ada pemicu. Menurutku pribadi, kita punya ruang khusus di hati kita untuk orang yang kita sayang, pas orang itu berpulang, ruang itu kosong dan ga ada yang bisa untuk mengisi ruangnya. Hanya, kita masih mengingat kisah bareng orangnya, cerita yang dibuat bersama, cita-cita, dan juga kata-kata penyemangat atau kata bijak dari orangnya.
Selama aku menjalani proses menyembuhkan duka, aku lebih banyak untuk mengupas ‘bawang’ emosi dari duka itu. Maksudnya gini, dalam duka, kita ga cuman bertemu dengan emosi sedih. Sedih itu bisa kita kupas jadi kecewa atau amarah atau yang lainnya. Bisa juga ketika duka terjadi, kita punya rasa lega, menyesal, atau bahkan riang mengingat masa bersama orang itu. Emosi ini bisa kita rasakan sekaligus dan itu gapapa. Pengenalan emosi ini penting untuk mengetahui sebenarnya luka kita bersumber dari pengalaman atau emosi atau kejadian apa yang terjadi dengan orang tersebut dan membuat pendekatan emosi menjadi lebih lembut dan kurang menyakitkan.
Jadi apa hubungannya dengan hidup yang rapuh?
Kita bisa merasakan emosi apapun dengan seseorang, mau senang, marah, kecewa, you name it. Bisa jadi besok sore atau nanti malam orang itu tiba-tiba sakit atau kecelakaan atau apapun lainnya dan meninggal. Ga ada garansi hidup selamanya. Satu hal yang perlu diingat, kita benar-benar ga pernah tau kapan seseorang bisa berpulang. Itulah yang kumaksud dengan rapuh.
Selama aku banyak refleksi tentang kehidupan dan kematian, rasanya unik. Manusia itu hidupnya kompleks. Manusia sangat mudah larut dengan ego. Bisa karena hal remeh jadi marahan berlarut, dendam, membenci. Tiba-tiba orang yang dimarahinya berpulang, merasa sedih dan menyesal. Ini umum sekali aku lihat. Kita terlalu berlarut dengan emosi sendiri sampai lupa memang hidup kita dan hidup orang lain ga ada jaminannya.
Di sisi lain, aku ga bisa menyalahkan. Maksudku, merasakan emosi apapun itu valid juga aku ga pernah benar-benar paham apa yang membuat kita bisa sesakit hati itu. Hanya saja, kalau udah berlarut dan internalisasi emosi dan perasaan negatif itu secara berlebih ke diri sendiri, nah ini berbahaya. Kita bisa bertubi-tubi sakitnya. Skenario terburuknya kalau ini terjadi di kita terhadap orang yang kita sayang dan kita belum sempat untuk rekonsiliasi, kita akan sangat menyesal dan menderita sangat dalam.
Aku ga tahu bagaimana orang berduka yang memiliki skenario yang sama menghadapi emosi-emosi itu. Untuk aku pribadi karena ini terjadi padaku, aku merasakan penderitaan hebat selama bertahun-tahun. Rekonsiliasi emosinya sangat sulit karena orangnya sudah tiada. Kita ga pernah benar-benar tahu mengenai alam baka. Jadi kita hanya bisa berharap Tuhan menyampaikan rasa maaf dan penyesalan kita ke orang tersebut.
Apa Yang Kusadari?
Aku semakin paham kalau hidup itu beneran serapuh itu. Merasa diri kuat, punya segalanya, dan bahkan akan berumur panjang hanya ilusi. Diriku yang dulu berpikiran gitu. Jadi merasa selalu ada waktu untuk mengabaikan hal-hal yang penting. Terutama terlarut dalam amarah dan kebencian ke seseorang yang seharusnya aku sayangi.
Untuk sekarang, sumpah aku belum sempurna. Aku masih manusia. Kadang aku juga masih marah dengan keras ke keluarga aku sendiri. Aku perbaiki sifat ini sedikit demi sedikit dan bagaimana aku harus menyelesaikan konflik dengan orang terdekatku. Menyelesaikan masalah apapun dengan kepala dingin dan menjaga kewelas-asihan.
Beberapa kali aku berefleksi dengan diri sendiri. Walaupun udah mengalami duka dari orang terdekat berkali-kali, ntar ke depannya ada orang terdekat berpulang apakah aku akan sanggup? Jujur aku gatau, tapi kalau mau lebih jujur lagi, aku takut. Aku ga akan pernah bisa menghadapi rasa duka itu.
Tapi ‘kan benar aku ga bisa larut terus menerus rasa takutku. Itu benar, untuk sekarang, aku cukup bijaksana untuk menyadari hidup itu memang rapuh. Seseorang kapan aja bisa berpulang. Tugas kita menjadi manusia yang lebih baik dan memiliki batasan yang sehat. Menyadari juga bahwa hidup dan kematian memang hal yang ga bisa terpisahkan dari namanya kehidupan. Itu alami, itu gapapa.
Bagaimana kita bisa saling menguatkan?
Aku sejujurnya bingung untuk menjawab pertanyaan ini. Aku masih keterbatasan jawaban karena pengalaman hidup dan refleksiku belum sedalam itu. Cuman, yang kutahu ini:
- Kaya di paragraf sebelum sub-judul baru ini;
- Hidup dengan lebih baik, menjadi baik, dan punya batasan yang sehat;
- Jika menemukan orang yang berduka, berwelasasihlah, dan saling mengobrol untuk melepaskan kesedihan satu sama lain;
- Hidupkan momen baik, selalu sadari kalau hidup dan apa yang terjadi, memang sudah menjadi anugerah yang mendukung perkembangan hidup kita secara mental dan spritual;
- Untuk menguatkan diri sendiri kalau duka merupakan kebijaksanaan hidup yang memang harus terjadi, jangan lari dari perasaan negatifnya. Kenali apa yang mau disampaikannya ke diri sendiri;
- Agar kita ga terlalu mudah larut dalam emosi, terutama hal remeh ke orang lain;
- Berbagi cerita, rasa sakit, dan harapan dari duka. Untuk mengingatkan sesama kalau duka itu personal tapi tiap individu punya cerita, pengalaman, dan refleksi yang unik untuk dipelajari satu sama lain;
- Berbagi dan mengingatkan hal-hal baik dari kehidupan, saling memberi harapan baik satu sama lain.
메타데이터
- post_id
- a2fb23a0052e
- slug
- apa-yang-kita-ga-bicarakan-tentang-berduka-part-iii-a2fb23a0052e
- url
- https://medium.com/@mhdalvfadil/apa-yang-kita-ga-bicarakan-tentang-berduka-part-iii-a2fb23a0052e
- canonical_url
- https://medium.com/@mhdalvfadil/apa-yang-kita-ga-bicarakan-tentang-berduka-part-iii-a2fb23a0052e
- author_url
- https://medium.com/@mhdalvfadil
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 08:20:12