← Back to list

Ujung Terowongan yang Silau

Dari seseorang yang untuknya rela kuserahkan segala yang kupunya dalam hidup, aku mendapatkan pelajaran yang amat berharga. Satu hikmah…

Muhammad Rais Raya · 2026-04-18 13:01 · 0 claps · 3.3 min read
#relationships #meaning-of-life #happiness
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships 💭 · Philosophy of Spirit

Ujung Terowongan yang Silau

Ilustrasi aku yang semu | Doc: pinterest.com/yourrlaa/

Ilustrasi aku yang semu | Doc: pinterest.com/yourrlaa/

Dari seseorang yang untuknya rela kuserahkan segala yang kupunya dalam hidup, aku mendapatkan pelajaran yang amat berharga. Satu hikmah yang membuatku menyadari arti dari nasihat “Menikahlah ketika dirimu siap” yang sesungguhnya. Aku sama sekali tidak bermaksud menyamakan pernikahan yang suci dengan apa yang belakangan ini aku lakukan. Aku hanya ingin bilang, dari apa yang kulalui belakangan ini, aku bisa mengerti sesuatu tentang hidup.

Baru kusadari, aku sama sekali tidak mengerti dan salah kaprah mengenai arti bahagia yang sebenarnya. Dengan polosnya, aku mengira kencan dengan pacar di akhir pekan, bergandengan tangan kala menyusuri pedestrian, berpelukan menikmati keintiman, jadi satu-satunya yang kuanggap bisa membuat diri bahagia.

Hal-hal yang selama ini kosong dalam diri, pikirku, bisa dipenuhi dengan memiliki seorang kekasih. Rasa sepi, rasa tidak ingin sendiri, rasa ingin dimengerti, rasa ingin dipedulikan, rasa ingin dimiliki, dugaku semua bisa kutuntut dari pasangan.

Kala bertemu dengan seseorang yang tidak bisa memenuhi kekosongan dalam diri, kuanggap dia bukan orang yang tepat. Kucari lagi seseorang yang lain, sama payahnya karena tak mampu mengisi ruang hampa dalam hati. Terus mencari, lagi, lagi, dan lagi sampai capek, merasa dunia tidak segera mempertemukan dengan dia yang bisa membahagiakan, lelah menghadapi situasi yang berulang kali mengecewakan.

Sampai pada akhirnya, lingkaran setan yang tiada ujung itu memberiku kenyataan, kalau aku tidak akan pernah merasa gembira dengan berharap dia menyenangkanku, aku tidak akan pernah merasa terisi dengan menuntut ditemani, aku tidak akan pernah merasa puas dengan meminta untuk dipedulikan, aku tidak akan pernah merasa cukup dengan berharap dia selalu melakukan yang kumau. Bahkan, menyalahkan dia ternyata juga tidak membuatku lega.

Aku menjerit di hadapan cermin! Sebal sampai ubun-ubun. Kepalaku seperti habis terbentur tembok saat menyadari kalau memiliki pasangan itu tidak mengubah apa pun; di hidup ini, semuanya tetap harus kujalani sendirian. Jawaban yang sungguh membuat hati kecewa.

Beneran, aku baru bisa senang kalau aku sendiri yang mengusahakan? Sungguh, aku baru bisa berubah kalau aku sendiri yang memulai? Serius, apa-apa harus aku sendiri?

Are u fcking kidding me? God, seriously?*” Tatapku tajam pada seseorang dalam pantulan cermin.


Sekian purnama berlalu, aku masih sulit menerima kenyataan. Sangat tidak mudah menerima sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diri ini inginkan.

Meski begitu, Tuhan Maha Baik; ada saja cara-Nya untuk memberitahu kalau hidup ini indah membahagikan dan bisa pula turut dirasakan oleh orang sepertiku, yang penuh ketidaktahuan dan kurang mengerti caranya bersyukur atas apa yang dimiliki hari ini.

Warm of our hands

Warm of our hands

Melalui sebuah foto di ruang tunggu bioskop yang tiap malam kupandangi ini, aku akhirnya mulai bisa menerima kalau dalam hidup ini sejatinya memang tentang perjalanan kita sendiri.

Jauh darimu yang tangannya sulit kugenggam membuatku banyak menatap langit memikirkan semua yang telah kita lalui.

Ketika membayangkan, segalanya memang tampak masuk akal, satu-satunya yang bisa membuat aku menjadi orang yang lebih baik dari kemarin itu diriku sendiri. Sebanyak apa pun yang dilakukan dan diberikan orang lain, bila diri ini tidak ingin, semua hanya akan terasa salah.

Semuanya sejak awal ternyata memang tentang diri sendiri.

Aku sadar, ternyata bahagia yang sesungguhnya itu tatkala bisa memberi:

Melihatnya tersenyum atas waktu yang kuberikan, ternyata itulah kebahagiaan yang sebenarnya. Hadiah kecil yang kusiapkan sejak jauh hari dan diterimanya dengan haru, ternyata itulah kepedulian yang sejati. Menyaksikan wajah antusias saat kubercerita konyol padanya, ternyata itulah penghargaan yang menyenangkan. Setia mendampingi segala proses yang melelahkan, memaafkan meski berulang kali melakukan kesalahan, ternyata itulah rasanya dicinta yang sesungguhnya.

Maaf, aku terlalu naif karena selama ini menganggap baik-buruknya hidupku semuanya tergantung pada apa yang kekasihku bisa berikan. Maaf, karena selama ini aku terlampau sibuk meminta apa yang pikirku seharusnya bisa kuperoleh dan terpenuhi dari hubungan ini. Padahal, saat memutuskan bersamamu, itu artinya segalanya bukan lagi soal aku, melainkan tentang kita.

Itulah mengapa akhirnya aku jadi paham alasan orang menasihati, punya pasangan itu harus siap. Mau mendahulukan urusan bersama ketimbang kepentingan diri sendiri. Sabar dan penuh kasih ketika dia begitu menjengkelkan. Pantang memaki ketika keinginan tak dipenuhi. Tak membiarkan mulut mudah mengucapkan kata putus. Hubungan tidak pernah sesempit makan malam di sebuah kedai Blok M, luasnya sampai mencakup kalau diri ini bisa menerima dan memaklumi segala macam kekurangan yang dimiliki orang lain. Dan, rasa bahagia itu ternyata selama ini terselip di antara proses hangat-dinginnya perjalanan menggapai rida Tuhan.

Kini aku paham hidup ini seperti ujung terowongan yang silau. Aku tidak pernah tahu apa yang ada di balik cahaya itu: hamparan rumput hijau, kereta yang siap menabrakku, atau mungkin kamu yang berdiri dengan senyum simpul menantiku.

Aku sadar dengan tanganku sendiri, aku bisa mengubah dunia, aku bisa mengukir hidup ini, aku bisa memberi dan menggapai cita indah kita berdua denganmu yang juga saling mengusahakan.

Bersamamu segalanya menjadi mungkin, tanpamu hanya ada aku dan setumpuk penyesalan. Terima kasih.

~Raya.


메타데이터
post_id
a2fed89973e9
slug
ujung-terowongan-yang-silau-a2fed89973e9
url
https://medium.com/@raizry/ujung-terowongan-yang-silau-a2fed89973e9
canonical_url
https://medium.com/@raizry/ujung-terowongan-yang-silau-a2fed89973e9
author_url
https://medium.com/@raizry
status
ok
fetched_at
2026-07-11 04:18:25