Fish in the Water: Perjalanan Seorang Seniman Menghadapi Kehilangan dan Mencari Jati Diri
Setiap manusia pasti pernah mempertanyakan apa sebenarnya tujuan mereka hidup di dunia. Sebagian orang memilih mengikuti arus, sementara…
Fish in the Water: Perjalanan Seorang Seniman Menghadapi Kehilangan dan Mencari Jati Diri

Novel Fish in the Water (2019) karya Lee Chan Hyuk
Setiap manusia pasti pernah mempertanyakan apa sebenarnya tujuan mereka hidup di dunia. Sebagian orang memilih mengikuti arus, sementara sebagian lain memberanikan diri untuk mencari panggilan jiwa mereka. Buku ini menceritakan satu dari sekian juta orang di bumi yang berani berkelana mencari panggilan itu.
Pedihnya Kehilangan
Cerita dibuka dengan Seon, lelaki pemilik kafe yang hidup di dekat laut. Dia mencintai musik dan laut. Suasana hatinya selalu bergantung pada jenis musik yang ia dengarkan. Meski begitu, terdapat alasan mendalam mengapa ia mendirikan sebuah kafe di dekat laut.
Hae-ya namanya. Seon bertemu Hae-ya di dek sebuah kapal saat ia sedang berkelana mencari arti dari ‘seniman sejati’. Hae-ya digambarkan sebagai perempuan misterius yang memiliki jiwa bebas. Dia autentik; mengetahui dan menyukai apa yang memang ditakdirkan untuknya. Dia dapat menikmati masa sekarang tanpa harus memikirkan masa lalu dan masa depan. Hae-ya juga tidak terlalu ambil pusing untuk mengkategorikan apa yang sejati atau tidak. Baginya, selama seseorang bisa menepati apa yang mereka katakan, mereka sudah menjadi diri sendiri. Itu adalah sesuatu yang dipegang erat oleh Hae-ya.
Kemisteriusan dan kepribadian Hae-ya yang berbanding terbalik dengan Seon membuat laki-laki itu jatuh cinta. Bersama Hae-ya, Seon perlahan menemukan jawaban yang selama ini ia cari. Tentang kebahagiaan, ketakutan, cinta, penderitaan, bahkan kehidupan yang selama ini selalu ia pertanyakan. Hae-ya membawa Seon masuk ke dalam sebuah ruang yang tak pernah ia tapaki. Sebuah ruang yang menyadarkannya bahwa setiap manusia diciptakan berbeda dan memiliki kebebasan untuk memilih impian untuk dijalani.
Keberadaan Hae-ya membuat hidup Seon berwarna. Hingga suatu hari, Seon harus mengembalikan Hae-ya ke laut, tempat favorit perempuan itu, untuk selama-lamanya. Kata rela tidak pernah Seon ucapkan, tetapi jelas melihat perempuan yang ia cintai meraih mimpinya untuk menyatu dengan laut di depan matanya sendiri bukanlah sesuatu yang ia inginkan.
Semenjak itu, Seon hidup bersama kehilangan. Ibarat kapal tanpa nahkoda, hidupnya menjadi berantakan. Segala hal mengingatkannya kepada Hae-ya, perempuan yang telah membuka matanya mengenai arti dari kehidupan. Membangun sebuah kafe di dekat laut adalah salah satu upayanya untuk mengenang keberadaan Hae-ya dalam hidupnya.
Hae-ya Sang Penunjuk Kehidupan
Hae-ya muncul pada perjalanan terakhir Seon setelah satu tahun berkelana. Kehadirannya begitu menarik dan misterius membuat tak hanya Seon tetapi juga pembaca terpikat padanya.
Perlahan tetapi pasti, Hae-ya memasuki kehidupan Seon. Ia mengajarkan Seon makna dari kehidupan dan hidup itu sendiri. Lewat perkataannya yang menenangkan, kasih sayang yang ia curahkan, tindakan yang berlandaskan keberanian; semua yang Hae-ya lakukan merupakan jawaban dari tanda tanya Seon selama ini. Ini bisa dilihat dalam dialog Hae-ya saat Seon bertanya mengenai rasa takut.
“Terkadang, orang-orang lupa apa yang harus mereka takuti. Karena itulah mereka takut pada hal-hal remeh. Contohnya seorang anak kecil yang takut dikucilkan, atau orang-orang yang takut tidak sempat menyelesaikan pekerjaan mereka pada waktu yang ditentukan.’’
Ia tetap memandang lurus ke depan. “Setelah melihatnya, aku baru sadar. Yang kutakuti sama sekali tidak ada artinya di hadapan ombak raksasa ini. Bahkan kematianku sendiri terasa sangat remeh.” (Hal. 75)
Seperti ikan di dalam air yang tak pernah menyadari air di sekelilingnya, melalui Hae-ya, Seon mulai memperhatikan ‘air’ tersebut. Hal-hal kecil dalam hidupnya berubah menjadi indah dan berharga. Hae-ya berperan sebagai penunjuk, pemandu Seon dalam menavigasi dunia.
Kepergian Hae-ya, yang berbanding lurus dengan motto hidupnya, menunjukkan bahwa Hae-ya adalah seseorang yang teguh pada perkataan dan pendirian yang ia tetapkan pada dirinya sendiri. Meskipun luka mendalam tercipta di lubuk hati Seon, duka yang ditinggalkan menjadi sebuah pembelajaran lain yang Seon terima dari Hae-ya. Spesifiknya mengenai memori, rasa sakit, dan keberanian untuk menggapai impian hidup meski harus menghadapi kematian.
Kesimpulan
Meskipun eksistensi Hae-ya di novel ini cukup ambigu dikarenakan kedatangan dan kepergiannya yang misterius, karakternya menjadi fitur penting dalam perjalanan hidup Seon. Entah sebagai pasangan, navigator kehidupan, atau simbolisme kebebasan; Hae-ya berhasil mengarahkan dan menuntun Seon untuk menemukan panggilan jiwanya.
Walaupun hadirnya hanya sebentar, spirit Hae-ya yang bebas dan pemberani merupakan teladan agar kita lebih menghargai momen-momen kecil di kehidupan kita karena mungkin itu adalah kali terakhir kita diberikan kesempatan untuk menikmatinya.
메타데이터
- post_id
- a33fdf2f866a
- slug
- fish-in-the-water-perjalanan-seorang-seniman-menghadapi-kehilangan-dan-mencari-jati-diri-a33fdf2f866a
- url
- https://medium.com/@boozeera/fish-in-the-water-perjalanan-seorang-seniman-menghadapi-kehilangan-dan-mencari-jati-diri-a33fdf2f866a
- canonical_url
- https://medium.com/@boozeera/fish-in-the-water-perjalanan-seorang-seniman-menghadapi-kehilangan-dan-mencari-jati-diri-a33fdf2f866a
- author_url
- https://medium.com/@boozeera
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 11:03:45