Every Single Thing About You, Pathetic
Malam datang terlalu cepat ketika aku mendengar ucapan dari lawan bicaraku.
Every Single Thing About You, Pathetic
Malam datang terlalu cepat ketika aku mendengar ucapan dari lawan bicaraku.
“Apa yang salah? Kenapa gak ada kesempatan kedua?”
Mie ayam yang aku makan tidak ada tambahan sambal. Namun tenggorokanku tercekat dengan perih yang datang tiba-tiba seolah ada yang terbakar disana. Aku menatap perempuan yang duduk di hadapanku. Mata yang tegar dan terlalu jujur untuk isi kepalaku yang selalu egois.
Ada yang salah dengan ucapannya. Ada yang tidak benar dengan caranya menyimpulkan suatu keadaan. Namun kesalahan itu seperti sebuah cahaya. Karena pada nyatanya, ucapannya tidak pernah sepenuhnya salah.
Perempuan ini adalah teman dekatku. Terlampau dekat untuk diucap sebagai sahabat. Dia seperti belahan jiwaku, mungkin itu berlebihan, but yes, she is my other half. Namun untuk kali ini, seluruh sel-sel tubuhku menolak untuk sejalan dengannya.
“Is it?”
Aku yakin suaraku terdengar terlalu menentang untuk jujur, begitu pun tatapan yang aku tangkap sudah menyadari bahwa aku tidak berpikir sejalan.
“He hurt you. Dia ngegampangin lo, and pretending that is was nothing. Gimana maksudnya lo balik ke dia dengan cara semudah itu?”
Aku membuka mata terlalu lebar terhadap potongan-potongan cerita yang sampai pada telinga. Tentang malam-malam yang dia lalui dengan suara laki-laki yang berada dalam rantauan, laki-laki yang tanpa sadar sudah berikan harapan lebih dari yang dia kira. Kondisi menyedihkan, rentan, dan aku pun sadar itu mudah raib.
“Sienna, setiap manusia punya pilihan, so do i. Lagipula, kita selalu hidup di hadapan pilihan, dan semua itu tergantung dari diri kita sendiri.”
Ah, aku adalah Sienna.
Aku meremat kecil batang sumpit. Sejenak aku lempar pandanganku ke luar warung mie ayam. Hujan masih turun, kecil, rapuh, seolah mengejek isi kepalaku yang tidak lagi sejalan. Karena demi apapun, aku menolak ini semua.
“Jenar, jangan bilang kalian komunikasi intens lagi?”
Jenar, perempuan di hadapanku, kawan baikku ini, anggukkan kepala seolah itu bukan hal besar. “Gak bisa dikatakan intens, but yes, baru kemarin malem kita ngobrol-”
“Jenar, friends dont call like that. Gimana bisa kalian kayak gitu kagi setelah semua itu? Setelah lo dikecewain?”
Jenar terpaku sejenak menatapku. Kilat terkejut hadir disana meskipun samar. Terlampau tahu jika aku sudah tidak sependapat. “Kita ngobrol sewajarnya aja kok, biasalah tentang minat kita. Gue kira, mungkin kita sama-sama butuh temen ngobrol. Blokirannya udah gue buka, Sienna, gue mau damai, buat apa sampai berlarut-larut, lagipula semua manusia punya kesempatan.”
Lagi pula semua manusia punya kesempatan?
Itu menamparku cukup keras. Tidak, aku menolaknya. Aku tidak mengenal kesempatan itu. Aku tidak bisa berpikir seperti Jenar.
“Tapi dia gak pantes.”
“Sienna, semua manusia punya hak yang sama.”
“Tapi gue gak bisa kayak lo, Jenar. I won’t be able to give opportunities to people who don’t respect me.”
Jenar menatapku sekali lagi, seolah kali ini berusaha memberikan pemahaman padaku. “Lo kan tahu gue gak punya hubungan apa-apa sama dia,” Jenar tersenyum tipis. “Sekali lagi, manusia itu punya kesempatan, Sienna. Tuhan, yang berkehendak atas segalanya aja selalu nerima gimana pun keadaan kita. Masa sih kita yang cuma manusia, mahluk yang gak punya apa-apa ini gak bisa ngelakuin hal yang sama? Kita hidup di dunia ini aja karena kehendak Tuhan, Sienna. Setiap orang itu datang kehidupan kita buat bawa pelajaran. Lo, atau orang yang lagi kita bahas sekarang. Semuanya datang ke hidup gue buat bawa pelajaran dunia ini. Gue belajar dari itu semua.”
Aku tercekat, dada sedikit sesak. Kepala egoisku menolak itu semua. “Gitu ya? Maksudnya gue terlalu egois? Am i a bad adult? Karena gue gak bakalan bisa ngelakuin itu semua.”
Udara di sekitar kita terasa berat sesaat.
“Bukan gitu, Sienna. Lo gak bisa ngelakuin hal yang sama bukan berarti lo orang yang buruk. Gue cuma mau jadi baik, Sienna. Hidup kita tuh bener-bener gak ada yang tahu bahkan kita sendiri. Dia ngelakuin semua itu, biarlah itu jadi urusan dia. Begitu pun apa yang gue lakuin ke orang-orang sekitar, itu juga urusan gue, Sienna. Kita punya pilihan, dan salah satu pilihannya adalah jadi orang baik. Gue emang dapet perlakuan kurang baik dari dia, gue sempet kecewa, gue sempet ngerasa gak adil. Tapi gue sendiri juga sadar, gue gak punya hak apa-apa. Mungkin waktu itu gue yang terlalu banyak berharap, sedangkan gue udah tahu salah satu masalah terbesar manusia adalah berharap ke manusia lainnya. Jadi gue mau tata ulang semuanya, Sienna. Gue sama dia, mungkin cuma sama-sama butuh temen ngobrol. Kalau pun ujung-ujungnya kayak yang udah-udah, itu urusan dia, gue kan gak bisa mengendalikan orang lain. Gue cuma mau bersikap baik, karena gue juga mau diperlakukan baik sama orang lain. Mungkin kebaikan gue bukan dibalas sama dia, tapi dibalas orang lain, atau lewat jalan apapun itu.”
Jenar menghela napas pelan, dia letakkan alat makannya di mangkuk. Tangannya terlipat di atas meja. Seolah menimbang, apa lagi yang perlu disampaikan pada nyala mataku yang jelas-jelas menolak ini.
“Sienna, semua ini titipan.”
Menyebalkan, fakta itu membuatku nyaris muntah.
“Pilihan yang ada di tangan lo, itu dari-diri lo sendiri. Begitu pun sama pilihan yang gue punya, dan gue lagi berusaha pilih yang terbaik.”
Aku ingin berkata lantang-lantang padanya. Mengatakan bahwa dia pantas menerima orang yang lebih baik. Pantas untuk diperlakukan lebih baik. Tidak perlu tetap berinteraksi dengan orang-orang yang sudah jelas pernah menancapkan duri. Orang yang pernah ucapkan kata tanpa ada pembuktian. Orang-orang yang datang dan pergi seenaknya.
Sejujurnya aku pun tidak tahu mana yang salah. Pendirian orang baiknya, atau kepalaku saja yang terlampau keras kepala. Menolak bahwa kita masih harus perlakukan baik orang yang telah sakiti kita.
“Sienna, balik lagi, itu semua tergantung diri kita sendiri.”
Ya, cukup dengan itu.
Aku hanya ingin habiskan waktu santaiku untuk berbicara banyak hal dengannya, tidak berputar hanya pada hal ini saja. Mungkin saja, memang aku yang tidak cukup baik. Mungkin saja, aku memang orang yang buruk di kehidupan ini.
Jenar baru saja mengantarku pulang. Aku baru selesai membersihkan diri, duduk di atas kasur dengan ipad terbuka, baru selesai mengedit foto kebersamaan kita untuk di upload di media sosial. Setelah itu, aku hanya gerakkan jariku pada satu aplikasi media sosial. Jariku tidak sengaja menekan ikon direct message yang langsung terhubungan dengan beberapa room chat. Lalu mataku begitu saja terjatuh pada yang berada di paling bawah.
Sialan.
Dadaku sesak seperti di remas kuat.
“Lagi pula setiap manusia punya kesempatan lagi. “
That sound pathetic.
Menurutku sekali berakhir sudah berakhir.
Mungkin berbeda dengan pandangan Jenar, namun ini pilihanku.
Aku sudah mengakhiri semuanya.
Benar-benar menyedihkan.
Mochachino yang sempat kami beli sebelum pulang membuat mataku tidak kenal kantuk.
Aku benci dengan malam malam seperti ini. Malam yang membuatku mengingat semuanya. Mengingat setiap rangkaian manis menjanjikan yang pahit di ujung. Mengingat semuanya seolah itu adalah satu-satunya caraku berpegang pada kehidupan. Dasar menyedihkan.
Jemariku kembali bergerak pada ruang percakapan itu. Aku menggulir mulai dari atas dengan mata yang kembali memanas. Masih sama seperti malam-malam ketika aku merindukan semua ini dan memutuskan membaca pertukaran pesan yang kita lakukan sebelum bencana itu datang.
Jenar mungkin diberikan harapan palsu oleh orang yang kita bahas sekali lewat saat makan mie ayam tadi. Namun setelah membaca percakapan yang ada di ruang obrolan dengan lelaki bernama Kelana ini — percakapan sebelum aku memblokir semua akses kontak kami — aku menyadari bahwa aku ada di posisi laki-laki yang telah menyakiti sahabatku beberapa waktu lalu.
Aku adalah perempuan yang selalu berusaha berdiri di atas kakiku sendiri. Aku mempercayai bahwa aku bisa lakukan semuanya dengan kemampuanku. Aku tidak membutuhkan laki-laki, termasuk Kelana yang masuk ke kehidupanku dengan cara paling ngawur.
Aku meremas ponselku kuat-kuat. Bodoh, aku merindukannya.
Aku merindukan perhatian yang selalu dilemparkannya. Kekecewaan kecil berbalut canda setiap aku menimpali kemanisannya dengan cara jutek — membela diri dari kemungkinan terburuk, yaitu jatuh padanya. Laki-laki adalah hal yang membingungkan, namun Kelana berada di peringkat pertama, mengalahkan ayahku yang selalu mengeluh sesak namun tetap curi waktu untuk merokok.
Kelana datang dengan cara paling ngawur, lemparkan keseriusan berbalut godaan yang selalu aku anggap aneh. Namun entah, mulanya dari mana, aku mulai menggantungkan diriku — pada percikan harapan atau pun kasih — karena aku menyukai caranya. Caranya membuatku diperhatikan tanpa merasa dikendalikam. Caranya membuatku merasa dikasihi tanpa alasan. Caranya mendorongku dari belakang tanpa membuatku merasa lemah. Caranya meluluhkanku tanpa membuatku merasa aku perempuan yang lemah.
Aku mengaku telah jatuh hati padanya. Pengakuan dalam diam, dan aamiin yang aku selipkan di setiap obrolan menjelang tengah malam kita. Ternyata aku hanyalah Sienna yang pada akhirnya jatuh pada Kelana dengan cara paling absurd.
Kenangan yang aku akhiri beberapa bulan lalu menghantam dadaku dengan tragis. Malam ini masih sama seperti malam ulang tahunku terakhir, malam tahun baru kemarin, malam aku pulang ke rumah tanpa pesan hati-hati olehnya.
Entah Kelana lelah, atau aku yang terlalu bodoh, atau memang keduanya adalah fakta?
Aku tidak tahu mulai kapan tepatnya kita mulai membentangkan jarak. Kemana Kelana? Itu yang muncul di kepalaku di bulan pertama kita tidak lagi menelfon di malam hari setelah menjalani hari-hari melelahkan. Bulan pertama aku menyadari, Kelana mulai menjauh.
Aku berusaha menepis pikiran itu jauh-jauh. Mungkin Kelana hanya sedang sibuk.
Namun bulan berikutnya lebih buruk. Pesan-pesan yang hanya sekadarnya saja. Tidak ada yang berarti disana.
Aku pun mulai menyumpahi kesibukanku sendiri.
Meskipun begitu, pertanyaan pertanyaan itu tetap tersimpan rapi di kepalaku. Dasar aku, perempuan beranjak dewasa yang tidak bijaksana, egonya terlalu tinggi, dibumbui gengsi setinggi langit. Bukannya berusaha menghubungi lebih dulu — bertanya apakah semuanya baik-baik saja atau mungkin aku ada salah — aku malah menorehkan keyakinan bahwa aku tidak perlu repot-repot menghubungi, jelas aku punya kesibukan yang tidak sederhana. Dalam kepalaku malah tertanam pikiran, kalau dia bisa sibuk tanpa memedulikanku, kenapa aku tidak?
Dasar bodoh!
Kelana tidak lagi sama, hanya itu yang aku yakini.
Lalu bulan itu datang. Di pertengahan tahun. Berita menggemparkan datang dari salah satu negara maju, tempat yang ditinggali Kelana, tempat yang sqngat jauh dariku. Gempa, kemungkinan tsunami, evakuasi, dan lain sebagainya. Berita itu benar benar memecahkan semuanya. Jemariku bergerak cepat melesat ke ruang percakapanku dengan Kelana.
Bubble chat pertama terkirim.
Hanya tertera centang satu.
Aku lanjutkan, tidak hanya kirim satu, aku kirimkan puluhan. Berisi kekhawatiran, apakah dia terdampak gempa? Atau kah dia sudah berada di tempat yang aman?
Pertanyaan itu tidak terjawab.
Sehari
Dua hari
Tiga hari
minggu berlalu
Bulan berlalu
Tanda di buble chat itu tidak berubah. Kelana kemana?
Aku benci bertanya-tanya. Aku benci fakta aku tidak mengetahui apa-apa tentangnya. Jelas saja, aku hanya mengetahui kota dimana dia tinggal, aku tidak mengetahui teman dekatnya disana, aku tidak mengetahui cara untuk mengais kabarnya.
Dasar menyedihkan.
Pada titik ini, aku sadar bahwa aku terlalu menganggapnya gampang. Aku tidak pernah tahu banyak tentang Kelana. Aku tidak pernah bertanya. Hanya dia yang bagikan secuil kesehariannya disana, itu pun, aku hanya menganggapnya angin lalu, menyedihkan.
Bulan berganti bulan, lalu november datang, akhir november. Aku sedang mempersiapkan banyak ujian. Lalu pesan itu datang di halaman obrolan media sosialku. Tempat biasa aku terhubungan dengan Kelana selain dengan aplikasi obrolan sejuta umat. Aku tengah pusing pusingnya belajar ketika aku melihat direct message dari akunnya berada di titik paling atas. Dengan kurang ajar bertanya:
“Hey, are you okay? I saw you last update at 4 days ago.”
Kalimat paling ngawur untuk orang yang sudah aku tunggu balasan pesannyabselama 4 bulan lamanya. Kepalaku panas, aku lelah, dan kalimat pembukanya sungguh kurang ajar. Bagaimana bisa baris kalimat itu mampir padaku yang bertambah satu lagi alasan untuk membenci laut.
Lalu pada saat itulah semuanya meluap. Kekesalanku, kenapa pesanku di aplikasi sebelah tidak pernah digubris, kenapa dia tidak menghubungiku lewat aplikasi ini, kenapa baris kalimat itu yang dia lemparkan setelah sekian lama. Aku marah, karena aku sadar, sepertinya dia sudah tidak menginginkanku.
Kepalaku panas.
Pada saat itulah semuanya meluap, kekesalanku kenapa dia menjaga jarak sebelum bencana itu datang, kenapa Kelana tidak menghubungiku dengan cara lain jika memang ponselnya hilang ketika proses evakuasi, kenapa baru sekarang? Kenapa pula datang di waktu yang sangat tidak tepat?
Luapan emosi itu mengantarkanku pada kenyataan. “Selama ini aku ngira kamu udah gak peduli lagi sama aku.”
Dan yah?
Kepala penuh ego ini hanya berusaha lurus pada pendirian awal yang kini mulai terasa tidak masuk di akal.
Kepalaku hanya terpaku pada kenyataan dia menghilang selama ini dan datang dengan baris kalimat ngawur di masa persiapan ujianku. Pada saat itulah aku berpikir. Memang sepertinya tidak ada yang perlu dipertahankan lagi.
Aku dan Kelana bukan sepasang kekasih. Aku mau pun dia tidak berkewajiban untuk lemparkan kabar. Mungkin kita memang tidak pernah bertaut.
Pendirianku berdiri terlalu keras kepala, dan Kelana hanyalah laki-laki yang bisa lelah.
Mungkin Kelana memang lelah, bagaimana bisa dia tetap bersikap layaknya madu pada perempuan yang selalu menanggapi madunya dengan tepisan sarkas.
Aku hanyalah perempuan yang menganggap kasih laki-laki pada perempuan itu sepalsu bayangan di tengah kegelapan. Kelana tidak boleh berhadapan dengan orang keras kepala ini. Kelana bisa dapatkan kesempatan lebih banyak dan lebih baik.
Bukan denganku yang ditinggal sedemikian rupa saja lagaknya sudah paling tersakiti hingga enggan berikan kesempatan lagi.
Mataku yang panas kembali terpaku pada kalimat terakhir di ruang obrolan terakhir kita. Kalimat permohonannya yang selalu mengiris ketika dibaca berulang kali. Permohonan maaf telah berpikir dangkal akan harapanku. Permohonan agar kita bisa susun ulang dari awal.
Kelana, memang sudah habis waktunya. Mulai sekarang, adalah waktunya untukmu bertemu orang yang jauh lebih baik. Atau bertahan dengan aku yang keras kepala ini akan membuat orang sebaikmu berulang kali menelan pahitnya kasih yang dilempar ragu-ragu.
Namun tetap saja, aku merindukannya.
“Every year youll get older, Sienna, and ill be there for you. I’m the one who waits for you to grow older, kemudian pikiran itu datang, how much more you will bloom.”
Bohong, Kelana sudah tidak menemaniku di hari ulang tahunku yang terakhir.
“Sienna, tahun ini aku juga bahagia bisa ngobrol banyak sama kamu. I want to stay with you in the next year.”
Bohong, akhir tahun terakhir, Kelana sudah tidak menemaniku menghitung pergantian waktu sembari menonton kembang api dari kediaman masing masing.
“Gak usah khawatir, nama kamu selalu ada di resolusi tahun depanku kok.”
Itu pasti juga bohong. Kelana akan segera menghapus namaku dari kehidupannya.
Sekarang hanya tersisa aku dan ego menyedihkan ini.
Aku merindukan Kelana. Tiap malam-malam seperti ini datqng, aku adalah pihak yang berkali-kali menguatkan diri untuk tidak membuka blokiran sosial media kita. Aku menahan diri untuk tidak melemparkan baris kerinduan. Aku menahan diri untuk tidak terlihat menyedihkan.
Sepertinya Jenar benar.
Kebaikan datang dari mana saja, asalkan kita juga tetap berbuat baik. Percakapan hari ini membuka mataku lebar-lebar. Semua ini hanya titipan. Kelana adalah salah satu titipan yang diambil karena aku tidak layak menggenggamnya. Jika memang berbicara tentang kesempatan yang dimohonkan Kelana di percakapan terakhir kita, akulah yang tidak berhak akan itu.
“Lagipula setiap manusia pumya kesempatan lagi.”
Kalimat itu terngiang lagi di kepalaku.
Lantas, apakah aku juga masih memiliki kesempatan? Apakah aku diizinkan untuk baik? Apakah aku diizinkan untuk berbalik kembali pada Kelana.
Kepalaku berdengung. Kalimat permohonan Kelana, aku baca berulang kali. Lalu satu kesimpulan yang aku dapatkan.
Waktu yang aku miliki bersama Kelana, telah raib.
Aku hanya bisa diam dari sini, biarkan semuanya mengalir, entah membasuh rindu ini perlahan lahan, atau menyiksaku hingga aku akhirnya menyerah dan berbalik mengais kesempatan yang mungkin akan balik ditendang oleh Kelana.
Aku bukan Jenar yang baik hati. Mengharapkan orang baik datang ke kehidupanku yang seperti ini, rasanya seperti pendosa yang mengais surga. Lalu, biarkan aku membasuh dosa itu perlahan lahan. Menyelami tiap perihnya hingga suatu waktu nanti, aku bisa lebih menghargai segalanya.
메타데이터
- post_id
- a3d5a37ba2a7
- slug
- every-single-thing-about-you-pathetic-a3d5a37ba2a7
- url
- https://medium.com/@nanayah/every-single-thing-about-you-pathetic-a3d5a37ba2a7
- canonical_url
- https://medium.com/@nanayah/every-single-thing-about-you-pathetic-a3d5a37ba2a7
- author_url
- https://medium.com/@nanayah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13