Semua Salah, Kecuali Saya
#189–[112]: Tentang Self-Serving Bias di Sekitar Kita
RUANG BERKEMBANG
Semua Salah, Kecuali Saya
#189–[112]: Tentang Self-Serving Bias di Sekitar Kita
Photo by Jr Korpa on Unsplash
Dalam sebuah video pendek yang beredar di internet, Raditya Dika pernah menyebut bahwa salah satu “penyakit” yang banyak diderita orang Indonesia adalah self-serving bias. Ini adalah sebuah kecenderungan psikologis menyalahkan orang lain dan berbagai faktor eksternal lain ketika mengalami kegagalan—bukannya berintrospeksi diri.
Raditya Dika memberikan contoh beberapa keluhan yang seakan sudah menjadi template. Dapat nilai jelek saat kuliah? Dosennya tidak suka saya. Hasil tugas kelompok buruk? Karena ada anggota tim yang beban. Selalu ada dalih untuk tidak merasa bersalah.
Belum bergabung di Medium? Lanjutkan membaca di sini.
Pola pikir seperti ini adalah penghambat pertumbuhan. Ego merasa paling benar akan membuat kita gagal berkembang. Ketika ada peluang untuk belajar dari kesalahan tapi kita lebih memilih menyalahkan orang lain demi melindungi ego, pada akhirnya kita tidak mendapatkan apa-apa. Tidak ada pelajaran yang bisa kita ambil.
Radit banyak mengambil contoh dari dunia perkuliahan, mungkin karena menyesuaikan dengan audiensnya. Namun sebenarnya, self-serving bias tidak hanya terbatas di ruang kelas atau dunia kerja tapi menurut saya juga bisa menyusup ke dalam komunikasi sehari-hari—termasuk dalam forum diskusi dan perdebatan publik.
Tidak jarang, bias ini muncul dalam bentuk pembelaan diri yang tampak meyakinkan, tapi sejatinya adalah cara halus untuk menolak kritik dan mempertahankan ego.
Self-serving bias dalam dunia kerja sebagai contoh adalah ketika seorang pegawai tidak mendapatkan promosi, dia menyalahkan sistem penilaian yang tidak transparan, atau rekan kerja yang “lebih jago cari muka”. Padahal, mungkin saja kinerjanya memang belum cukup menonjol.
Dalam rapat evaluasi, saat target tidak tercapai sesuai rencana, dia akan cepat mencari kambing hitam. Alasan penyedia jasa yang lambat, kendala perizinan, atau tim lain tidak bisa diajak kerjasama, menjadi alasan yang segera disampaikan. Koreksi diri justru sering tidak menjadi pilihan utama. Menyalahkan orang lain dianggap sebagai “solusi tercepat” untuk menenangkan diri.
Saya tidak menutup mata bahwa dunia kerja penuh intrik. Politik kantor itu nyata. Tapi jika kita langsung menyimpulkan kegagalan sebagai akibat dari “politik” tanpa pernah mau meningkatkan kualitas diri, itu justru membuat kita terjebak dalam stagnasi. Mengkritik keadaan itu penting, tapi mengkritik diri sendiri adalah keharusan.
Ego yang menjadi bahan bakar self serving bias akan sangat terlihat dalam perdebatan. Salah satu contoh menarik datang dari diskusi antara Ulil Abshar Abdalla—tokoh intelektual NU sekaligus pengurus PBNU—dan Iqbal Damanik dari Greenpeace, dalam sebuah forum diskusi yang disiarkan televisi.
Diskusi itu sebenarnya sangat menarik. Sudut pandang keduanya benar-benar dalam kutub yang berlawanan. Sekalipun begitu diskusi tetap berjalan dengan santun. Tidak ada diskusi modal teriak seperti diskusi yang menghadirkan Roy Suryo dan kawan-kawannya. Saya menduga Iqbal ini orang NU juga—setidaknya secara kultural—karena dia nampak sopan sekali kepada Gus Ulil.
Iqbal memandang kekayaan alam sebagai natural curses karena penambangannya mengakibatkan kerusakan ekologis. Gus Ulil memandang bahwa kekayaan alam seperti nikel adalah anugerah yang bisa dikelola untuk kemajuan bangsa.
Kelemahan dari diskusi itu adalah batasannya yang tidak sama. Iqbal banyak berbicara spesifik di Indonesia—khususnya di Raja Ampat—sementara Gus Ulil berbicara tentang pengelolaan tambang secara umum. Pada satu titik sebenarnya diskusi ini bisa mencapai satu kesepakatan sejak awal tanpa perlu terpeleset kepada tuduhan tidak perlu.
Sayangnya itu tidak terjadi. Gus Ulil agak keluar dari substansi—dan kemudian viral—dengan saat melabeli Iqbal dan Greenpeace sebagai “Wahabi lingkungan”. Mereka dianggap terlalu puritan menolak tambang dan cenderung menebarkan ketakutan kepada masyarakat.
Pelabelan ini sangat terasa ad hominem. Alih-alih menjawab kritik dengan argumen teknis, Gus Ulil terkesan menolak kritik dengan menyudutkan pihak lain sebagai terlalu ekstrem. Di titik ini, sikap beliau saya kira bisa dikategorikan sebagai bentuk self-serving bias karena merasa pendapatnya paling rasional. Sayangnya beliau terpeleset pada cacat logika karena terlalu bersikeras mempertahankan pendapatnya.
Bahkan saat ada data ekologis yang disodorkan oleh Iqbal, tanggapannya tidak berusaha membantah secara ilmiah, tapi justru mempertanyakan mengapa Greenpeace terlalu ingin memulihkan ekosistem ke kondisi semula.
Pertanyaan ini tentu membuat kita mengernyitkan dahi. Begitu pula analogi sawah dan pohon yang hilang di perkampungan akibat pertumbuhan penduduk sebagai bahan bahwa perubahan ekosistem adalah keniscayaan.
Rosi, selaku pembawa acara, sampai harus meluruskan arah diskusi dan menyatakan, “Jadi kondisi ini harus dibiarkan begitu saja?” dan “Saya tidak melihat ada sesuatu yang ekstrem dari upaya Iqbal dan Greenpeace mempertahankan ekosistem.” Sebuah pernyataan yang mencerminkan bahwa framing ekstrem itu memang berlebihan dan tidak adil.
Self-serving bias memang bekerja diam-diam dengan cara menyusup dalam cara kita menilai kegagalan, menghadapi kritik, bahkan dalam cara kita berdebat. Self-serving bias membuat kita nyaman dengan rasa benar, dan abai terhadap kemungkinan bahwa kita pun bisa keliru.
Kalau tidak hati-hati, bias ini akan menjauhkan kita dari proses belajar. Seseorang yang selalu merasa benar, tidak akan merasa perlu memperbaiki diri. Begitu pula lembaga atau organisasi yang menolak kritik mentah-mentah. Mereka akan sulit berbenah karena terlalu sibuk membela citra, bukan memperbaiki substansi.
Pada akhirnya, keberanian untuk tumbuh dimulai dari keberanian untuk bercermin. Memang tidak mudah mengakui bahwa ada kekurangan dalam diri kita. Tapi tanpa kesadaran itu, kita akan terjebak dalam lingkaran pembenaran yang tak berujung.
메타데이터
- post_id
- a3eba6d9e7f4
- slug
- semua-salah-kecuali-saya-a3eba6d9e7f4
- url
- https://medium.com/@yasirfuadi/semua-salah-kecuali-saya-a3eba6d9e7f4
- canonical_url
- https://medium.com/@yasirfuadi/semua-salah-kecuali-saya-a3eba6d9e7f4
- author_url
- https://medium.com/@yasirfuadi
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 16:53:31