← Back to list

Kitab Pertama yang Kubaca di Tahun 2025

Memilih Kitab Amsal dan Raja Salomo.

Jesica Caroline in Pelita Kasih · 2025-01-13 04:33 · 102 claps · 4.4 min read paywalled
#pelita-kasih #amsal #alkitab #kristen #kekristenan
Open on Medium ↗

#146 | Kekristenan

Kitab Pertama yang Kubaca di Tahun 2025

Kitab Amsal dan Raja Salomo.

Photo by Tim Wildsmith on Unsplash

Photo by Tim Wildsmith on Unsplash

Belum menjadi Member Medium? Klik di sini untuk versi gratis!

Seperti janjiku di tulisan sebelumnya, kali ini aku akan menceritakan lebih lanjut mengenai kitab yang sedang kubaca dalam menumbuhkan kebiasaan membaca Alkitab satu pasal sehari.

[embed]Satu Pasal Sehari Memulai kembali kebiasaan membaca Alkitab.medium.com

Jadi, kitab yang sedang kubaca per 4 Januari lalu adalah kitab Amsal.

Mengapa Memilih Kitab Amsal Sebagai Bacaan Pertama di Tahun 2025?

Menginjak usia kepala dua, aku sadar bahwa memperoleh kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan adalah hal yang sangat penting. Aku membutuhkan semacam landasan yang dapat memberiku banyak nasihat yang benar dan sesuai dengan kehendak-Nya. Dan dengan membaca kitab Amsal adalah keputusan yang tepat karena tiap lembaran kertasnya berisi kumpulan nasihat.

Kredibilitas dari penulisnya pun tidak usah diragukan lagi. Raja Salomo yang menulisnya.

Siapa itu Salomo?

The Judgment of Solomon, oil on canvas by Peter Paul Rubens, c. 1617; in the Statens Museum for Kunst (National Gallery of Denmark), Copenhagen.

The Judgment of Solomon, oil on canvas by Peter Paul Rubens, c. 1617; in the Statens Museum for Kunst (National Gallery of Denmark), Copenhagen.

Salomo adalah raja ketiga setelah Saul dan Daud, yang dipilih oleh Tuhan untuk memimpin umat-Nya. Kisah hidupnya sangat menarik untuk diikuti, terutama karena ia diangkat menjadi raja pada usia muda, seperti yang tercatat dalam 1 Raja-raja 3:5–14. Saat itu, Salomo merasa sama sekali belum berpengalaman untuk memimpiatu sebuah bangsa yang sangat besar, yaitu Israel, setelah kematian ayahnya, Daud.

Dalam pergumulannya itu, Tuhan menampakkan diri kepada Salomo melalui mimpi di Gibeon (1 Raja-raja 3:5) dan memberinya kesempatan untuk meminta apa saja yang diinginkan oleh Salomo.

Kira-kira, apa yang kamu inginkan jika berada di posisi Salomo yang diberikan kebebasan untuk meminta apa saja yang kamu inginkan oleh Sang Pencipta?

Kala itu, Salomo sedang galau memikirkan tanggung jawabnya yang sangat besar. Hatinya berat dan gelisah. Tanpa lupa memuji kebesaran-Nya setelah ditanyai oleh Tuhan dalam mimpi, ia kemudian memberitahukan keinginan hatinya yang terdalam dengan lantang:

6: Lalu Salomo berkata: ”Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.

7:Maka sekarang, ya Tuhan, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman.

8: Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.

9: Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” — 1 Raja-raja 3:6-9

Salomo tidak meminta kekayaan, umur panjang, atau pun kemenangan telak atas musuh-musuhnya. Nampaknya, permintaan ini menyenangkan hati Tuhan, sehingga, tak hanya diberikan hikmat yang luar biasa — bahkan lebih dari siapa pun di zamannya dan setelahnya — Tuhan juga memberi bonus berupa kekayaan yang melimpah dan kemuliaan (1 Raja-raja 3:11-13).

Bahas Kasus yang Berhasil Diselesaikan Oleh Salomo dengan Kebijaksanaannya

Salah satu kisah yang menunjukkan kebijaksanaan Salomo yang datangnya dari Tuhan itu adalah ketika dua ibu yang datang kepadanya untuk mencari keadilan (1 Raja-raja 3:16–28).

Kedua perempuan itu tinggal di rumah yang sama, dan masing-masing melahirkan seorang bayi dengan selang waktu beberapa hari. Namun, salah satu bayi meninggal karena ibunya tanpa sengaja menindihnya saat tidur. Ibu yang kehilangan anaknya kemudian menukar bayi yang telah meninggal itu dengan bayi yang masih hidup milik perempuan yang tinggal bersama dengannya itu. Ini merupakan dilema yang sulit karena tidak ada saksi.

Apakah yang dilakukan oleh Salomo?

Ia dengan kejam memerintahkan agar bayi yang hidup itu dibelah saja menjadi dua, supaya adil, agar masing-masing ibu diberikan setengahnya.

Well… Tidak, tidak. Bukannya Salomo sekejam itu. Ia ingin melihat respons dari kedua perempuan yang tengah menghadapnya. Masing-masing respons yang diberikan oleh mereka akan mengungkap kebenarannya. Ibu yang sebenarnya dari anak yang masih hidup itu sangat mengasihi anaknya, sehingga ia pun rela menyerahkan bayi itu kepada perempuan lain daripada melihat anaknya dibunuh. Sementara itu, perempuan yang bukan ibu kandung itu malah setuju dengan keputusan kejam Salomo yang sebenarnya hanya memancing respons mereka.

Happy ending. Salomo akhirnya memberikan bayi itu kepada ibu yang rela menyerahkan bayinya agar tetap hidup. Hal ini membuat seluruh Israel kagum dan mengakui kebesaran Tuhan yang telah memberi raja yang memimpin mereka ini hikmat untuk menegakkan keadilan.

Sebagai anak hukum, kisah ini tentu memiliki makna yang mendalam untukku. Hikmat Salomo mengajarkan pentingnya memahami hati manusia, menggali kebenaran di balik fakta, dan memutuskan perkara dengan bijaksana, bukan hanya berdasarkan logika saja, tetapi juga nilai-nilai keadilan yang lebih mendalam.

Kisah Salomo ini mengingatkan bahwa kebijaksanaan sejati tidak hanya berasal dari ilmu atau pengalaman yang kita dapatkan dalam hidup, tetapi juga dari hati yang mau bergantung kepada Tuhan dan berkomitmen untuk menjalankan kebenaran.

Berikut adalah beberapa nasihat dari Salomo yang ada di kitab Amsal:

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” — Amsal 3:5–6

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” — Amsal 3:27

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” — Amsal 4:23

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya, atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” — Amsal 6:6–8

“Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” — Amsal 10:19

“Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” — Amsal 12:25

“Jawaban lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.” — Amsal 15:1

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” — Amsal 17:22

“Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya, memelihari diri dari pada kesukaran.” — Amsal 21:23

“Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya.” — Amsal 22:15

“Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.” — Amsal 29:11

Terima kasih telah membaca!

Dengan Cinta, Jesica Caroline ❤

-00- Support Jesica untuk membeli buku di sini!


메타데이터
post_id
a40d1f792c1e
slug
kitab-pertama-yang-kubaca-di-tahun-2025-a40d1f792c1e
url
https://medium.com/pelita-kasih/kitab-pertama-yang-kubaca-di-tahun-2025-a40d1f792c1e
canonical_url
https://medium.com/pelita-kasih/kitab-pertama-yang-kubaca-di-tahun-2025-a40d1f792c1e
author_url
https://medium.com/@jejes511
status
ok
fetched_at
2026-07-18 15:10:39