Kalau Mimpimu Bikin Gentar, Cari Pegangan dan Siapkan Perjuangan
Dari kecil gue suka banget liat atlas. Halaman demi halaman, gue bolak-balik sambil mikir: “Kapan ya bisa ke negara-negara yang ada di peta…
Kalau Mimpimu Bikin Gentar, Cari Pegangan dan Siapkan Perjuangan

foto pribadi ketika di Machu Picchu, Peru
Dari kecil gue suka banget liat atlas. Halaman demi halaman, gue bolak-balik sambil mikir: “Kapan ya bisa ke negara-negara yang ada di peta ini?” Di halaman belakang atlas, ada gambar 7 keajaiban dunia yang bikin gue makin berandai-andai. Tapi itu cuma bisa jadi mimpi, karena realitanya — keliling dunia tuh kayak mimpi yang ketinggian. Nggak masuk akal buat anak dari keluarga sederhana.
Akhirnya, mimpi itu gue kubur pelan-pelan. Gue pikir, ya udahlah, ini cuma angan-angan masa kecil.
Fast forward ke tahun 2016, saat gue masih kuliah, gue baca satu thread di grup FB Backpacker Dunia. Isinya cerita seorang wanita bernama Rani Aulia yang berhasil keliling dunia setahun penuh. Lalu muncul nama Harris Subhan Riparev yang juga keliling dunia — padahal statusnya waktu itu pengangguran. Tahun berikutnya, gue ketemu lagi sama cerita almarhum Hendra Fu, yang hasil dari kerja WHV setahun bisa dia pake buat keliling dunia: Iran, Azerbaijan, Georgia, Armenia, Yunani, Hungaria, Austria, Cuba, Brazil, Peru, Chile, sampai New Zealand.
Dari situ, mimpi gue yang sempat mati suri… nyala lagi. Karena ternyata: mimpi itu bisa dihidupin ulang kalau kita ketemu panutan yang tepat.
Tapi nemu panutan aja nggak cukup. Gue harus cari cara supaya mimpi itu bisa kejadian. Nah, di grup FB yang sama, gue nemu thread-nya Ujang Arip yang cerita pengalaman kerja sebagai tukang cuci piring di Australia lewat program WHV (Work and Holiday Visa).
Dari situ gue mikir: “Oke, mungkin ini jalannya. Mungkin gue bisa kerja dulu di Australia, nabung, dan dari situ mulai wujudin mimpi keliling dunia.”
Gue lulus kuliah November 2017. Juli 2018, gue berangkat ke Australia buat mulai petualangan WHV.
Tapi kenyataannya… berat, bro. Kebayang nggak sih adaptasi kerja di lingkungan baru, dimarahin bos karena belum terbiasa dengan budaya kerjanya, sebulan nganggur, terus kerja random yang hasilnya cuman bisa nabung 2500 AUD dalam 6 bulan?
Sementara di Instagram atau blog orang-orang, semua terlihat indah dan mudah. Tapi pas dijalanin? Nggak segampang itu, Ferguso.
Untungnya, semua mulai berubah pas gue pindah ke Sydney. Dari situ, gue mulai punya penghasilan lebih stabil dan bisa nabung lebih banyak. Lalu pas kerja di Uluru, tabungan makin cepat terkumpul. Gue pikir, “Wah, ini jalannya. Tinggal dikit lagi mimpi gue kejadian.”
Tapi yaa… hidup kadang suka kasih plot twist. Tahun 2020 datang, dan… boom: pandemi COVID-19. Semua rencana keliling dunia yang udah gue susun rapi langsung ancur. Down banget rasanya. Mimpi yang udah deket banget malah menjauh lagi.
Tapi hidup harus jalan. Tahun 2022, gue balik lagi ke Australia buat coba bangun semuanya dari nol. Dan ternyata — duit yang butuh waktu 2 tahun untuk gue kumpulin dulu, bisa gue capai dalam 5 bulan aja. Rasanya kayak dikasih sinyal: “Ayo lanjut, sedikit lagi.”
Dan akhirnya… Tahun 2023 jadi tahun sakral buat gue.
Gue keliling dunia dari Januari sampai September ke negara-negara impian gue sejak kecil: Singapore, Malaysia, Jepang, Maroko, Turki, Peru, Chile, Hungaria, Slovakia, Austria, Ceko, Jerman, Thailand, Taiwan, Vietnam.

sumber: google maps timeline


gambar (kiri ke kanan): Asakusa Sensoji Temple Jepang, Gurun Sahara Maroko


gambar (kiri ke kanan): Burgtheater Vienna, Halong Bay Vietnam
Gue inget lagi halaman belakang atlas waktu kecil. Gue inget lagi gambar 7 keajaiban dunia. Gue inget lagi versi kecil diri gue yang cuma bisa bengong sambil bertanya, “Kapan ya bisa ke sana?”
Akhirnya mimpi itu kejadian juga. Dan bukan karena keberuntungan semata. Tapi karena satu hal: gue nggak cuma bermimpi. Gue nyari pegangan dan gue berjuang.
Pelajaran dari perjalanan ini simpel:
Selama mimpi itu gratis, jangan takut untuk bermimpi tinggi. Tapi kalau udah punya mimpi yang bikin gentar, jangan cuma dipandangi — carilah panutan yang bisa nunjukin jalan dan siapkan tenaga dan mental buat jalanin perjuangannya.
Karena mimpi tinggi itu bukan buat ditakuti. Tapi buat dikejar, dipeluk, dan akhirnya — diceritakan.
Kalau Lo sedang menyimpan mimpi yang terasa mustahil, tulis aja dulu. Lalu mulai cari: Siapa panutan Lo? Apa langkah pertamanya? Dan apa perjuangan yang harus siap Lo bayar?
Karena siapa tahu… beberapa tahun dari sekarang, Lo juga akan menulis cerita seperti ini.
Ditulis oleh: Mudakelilingdunia Yang dulu cuma bisa liat peta, sekarang udah bisa bikin titik di peta hidupnya sendiri.
메타데이터
- post_id
- a41f2a7eaeab
- slug
- kalau-mimpimu-bikin-gentar-cari-pegangan-dan-siapkan-perjuangan-a41f2a7eaeab
- url
- https://medium.com/@mudakelilingdunia/kalau-mimpimu-bikin-gentar-cari-pegangan-dan-siapkan-perjuangan-a41f2a7eaeab
- canonical_url
- https://medium.com/@mudakelilingdunia/kalau-mimpimu-bikin-gentar-cari-pegangan-dan-siapkan-perjuangan-a41f2a7eaeab
- author_url
- https://medium.com/@mudakelilingdunia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 22:17:22