← Back to list

Dipeluk Luka

Aku menulis ini ketika aku baru saja selesai membaca salah satu bagian dari kisah “Season of Love” oleh Alea (@writtenbyinfj on Instagram)…

Alnapen · 2026-02-20 16:22 · 0 claps · 1.9 min read
#mother-wound #tangki-cinta
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Dipeluk Luka

Photo by damla on Unsplash

Photo by damla on Unsplash

Aku menulis ini ketika aku baru saja selesai membaca salah satu bagian dari kisah “Season of Love” oleh Alea (@writtenbyinfj on Instagram) sembari mendengarkan Kekal oleh Nadin Amizah.

Temanku pernah bertanya padaku, “Apa inginmu ketika menjadi seorang ibu?”

Aku jawab ia dengan sejuta bayanganku, “Aku ingin jadi ibu yang tak pernah melarang anakku melakukan apapun yang disukainya selama tidak merugikan orang lain. Aku ingin jadi ibu yang mampu memfasilitasi apapun yang anakku ingin lakukan. Aku ingin jadi ibu yang membiarkan anakku jatuh dan bangun karena kakinya sendiri. Aku ingin… aku ingin… aku ingin,”

Dan ribuan ingin lain yang pernah terlewat dalam benakku tiap aku membayangkan diriku membesarkan seorang makhluk lain yang merupakan darah dagingku. Angan yang terasa jauh, tetapi dekat secara bersamaan dari genggamanku.

Namun, apa aku benar bisa membiarkan si kecil itu untuk berdiri di kakinya sendiri ketika ibunya saja tidak mampu berdiri di kakinya sendiri? Apa aku benar bisa membuatnya tahu apa yang ingin ia lakukan ketika aku sendiri saja tidak dapat menentukan apa yang ingin dan akan aku lakukan? Apa aku benar bisa?

Yang pasti, aku sungguh berharap, anakku kelak dapat tahu apa yang diinginkannya, apa kesukaannya, hingga seberapa jauh kemampuannya. Aku ingin anakku bangga atas pencapaiannya sendiri. Aku ingin anakku menyesal telah melakukan sesuatu untuk mengambil pelajaran darinya. Aku ingin anakku menyesal tidak melakukan yang terbaik, tetapi aku tetap di sisinya, mendengarnya, memelukanya, memberinya semangat, atau mungkin mentraktirnya sepotong es krim cokelat yang mengembalikan tawanya hingga ia tak berlarut pada perasaan kecewa dan sesalnya.

Aku ingin hadirku tak pernah menyusahkan si kecil yang belum tentu akan ada itu. Dalam banyak harapku, aku tak ingin membuatnya merasa tercekik dengan ekspektasiku. Aku ingin membebaskannya, seliar-liarnya, tanpa merasa aku melilitkan tali kekang pada lehernya karena itu sungguh menyakitkan dan membunuh perlahan.

Oh, apa kita perlu pula bicara tentang kesehatan mentalnya? Jika iya, aku ingin dia nyaman bercerita apapun padaku tanpa menutup suatu bagian cerita. Namun, jika dirasa ia perlu bantuan profesional, aku akan dengan senang hati mendampinginya. Akan ku buat suatu rumah yang benar-benar mengisi tangki cintanya. Entah dari kata sayangku padanya, entah dari perhatianku padanya, maupun dari hubungan antarpenghuni rumah yang membuatnya tersenyum bangga memamerkan pada temannya.

Lalu, aku ingin rumah yang membuatnya merasa bebas, tak terikat, dan punya sudut favoritnya. Maksudku, aku ingin rumah yang membuatnya betah berada di dalamnya. Si kecil itu harus mencari kenyamanan dan validasi di rumah, bukan malah mencari kenyamanan dan validasi dari teman maupun lingkungannya yang lain.

Aku harap, aku bisa mewujudkan rumah kecil, penuh impian, dan hangat untuk si kecil yang entah akan ada atau tidak itu. Semoga, aku bisa selalu bisa memeluk si kecil itu dengan suka ketika mungkin banyak luka telah memeluk tubuh dan hatiku dengan atau tanpa sengaja. Semoga, semoga, semoga.

Bandung, 2026


메타데이터
post_id
a4618a5efc4e
slug
dipeluk-luka-a4618a5efc4e
url
https://medium.com/@AU27Lee/dipeluk-luka-a4618a5efc4e
canonical_url
https://medium.com/@AU27Lee/dipeluk-luka-a4618a5efc4e
author_url
https://medium.com/@AU27Lee
status
ok
fetched_at
2026-06-28 04:42:08