← Back to list

Kenapa Judulnya Malam Seribu Jahanam?

Cukup mengandung spoiler, tapi mungkin kamu membutuhkannya.

dhea.m in Booknotations · 2026-02-22 08:39 · 242 claps · 3.4 min read
#novel #booknotations #diskriminasi #keluarga #sibling-relationship
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing 💑 · Relationships ✍️ · Writing & Creative

ULASAN BUKU

Kenapa Judulnya Malam Seribu Jahanam?

Cukup mengandung spoiler, tapi mungkin kamu membutuhkannya.

Sampul depan Malam Seribu Jahanam karya Intan Paramaditha | Dok. Pribadi (2026)

Sampul depan Malam Seribu Jahanam karya Intan Paramaditha | Dok. Pribadi (2026)

Akhirnya, setelah sampulnya sering seliweran di mana-mana, aku berkesempatan membaca novel karya Intan Paramaditha. Jujur, awalnya tidak tertarik mau pinjam buku ini, karena bahas feminisme—kata orang-orang. Sering kali pembahasan yang menggunakan istilah ini berbenturan dengan sikap merendahkan laki-laki. Bahkan, ada juga yang “terjerumus” ke standar ganda.

Mari kesampingkan hal itu. Kita fokus ke isi bukunya saja.

Di halaman awal aku membaca novel ini, aku langsung jatuh cinta dengan pemilihan diksi yang digunakan oleh Intan Paramaditha. Selain itu, tokoh-tokoh yang ada ternyata sesuai dengan seleraku saat itu. Membaca tentang keluarga.

Mungkin kamu sudah sering membaca ulasan tentang alur kisahnya. Sebuah keluarga dengan tiga anak perempuan. Orang tua sempat berpisah. Ada salah satu anak yang dibanggakan sang ayah. Timbul iri dari saudaranya. Lalu, mengakibatkan ketiganya tidak saling mengenal satu sama lain.

Itu yang membuat salah satunya meledakkan diri pada hari itu.

Lalu, kenapa judulnya Malam Seribu Jahanam, kalau semua tokoh diceritakan sudut pandangnya? Aku kira pemilihan judul tersebut, karena salah satu dari ketiga saudara mendapat perlakuan tidak adil dari keluarganya.

Menurut keyakinan saya, pemilihan judul tersebut dikarenakan ketiga anak memiliki penderitaannya masing-masing. Sang sulung yang harus terkukung dengan amanat dari almarhumah ibunya—jaga yang hidup, antar yang mati.

Anak tengah, si pengelana, memilih “kabur” ketika keluarganya membutuhkannya. Mungkin karena latar kisah masa kecilnya yang merasa dibuang oleh sang orang tua, ketika sang adik lahir dan mulai besar. Ia terpaksa dititipkan kepada sang nenek, yang konon manusia setengah harimau.

Kemudian, anak bungsu yang membuat iri kakak-kakaknya, karena sang ayah menganggapnya anak kesayangan. Namun perlakuan itulah, yang menjadi bahan malu satu keluarga, terutama sang sulung dan tengah. Apalagi ini berkaitan dengan orang kepercayaan keluarga.

Bagiku kisah sang bungsu yang sangat menarik untuk diikuti. Di awal, ia sudah diceritakan meledakkan diri. Kisah masa kecilnya hanya diceritakan melalui sudut pandang kakak-kakaknya yang membuat mereka iri. Lalu, ketika sang sulung mencari tahu sebab ia meledakkan diri, suara hatinya hanya terungkap melalui lembaran-lembaran kertas buku catatan harian dan sepucuk surat yang ia selipkan di Al Quran.

Sang bungsu, ternyata selama hidupnya merasa tidak bahagia. Sebab, selama hidup ia hanya menjadi perempuan yang disayang dan dijaga oleh orang tua hanya untuk menyerahkan hidupnya kepada laki-laki yang akan menjadi suaminya.

Menariknya, kisah Anisa telah dijadikan bahan penelitian untuk menilai diskriminasi yang terjadi pada keluarganya dan dampaknya terhadap kondisi Anisa dewasa. Dan ternyata, apa yang kuyakini setelah selesai membaca novel Malam Seribu Jahanam terbukti.

Bom bunuh diri itu dilakukan karena sang bungsu ingin membuktikan diri bahwa ia memiliki pilihan sendiri. Ia tidak semanja yang dipikirkan oleh kakak-kakaknya. Buktinya ia berani meledakkan diri dan mengajak keluarganya untuk berbuat hal yang sama.

Itu semua karena diskriminasi dan kurangnya komunikasi.

Andai orang tuanya tidak membedakan anak-anaknya. Andai sang kakak lebih memilih melindungi daripada mengiri kepada Anisa.

Seumur hidupku kuhabiskan waktu menjadi putri orang lain. Putri penurut, istri soleha, dipindah dari tangan bapak ke suami. Lalu, setelah itu aku menjadi umi, merawat kehidupan, tapi lagi-lagi butuh dibimbing, dipimpin. Aku tak percaya imam-imam itu, maka kuambil alih semuanya. Ini semua keputusanku, rencanaku, perhitunganku (Perempuan Pengantin, 2023 : 311).

Meski novel bagi sebagian orang dianggap sebagai cerita fiksi, cerita khayalan, dan tidak perlu dibaca karena tidak bermutu. Namun, bagiku novel-novel seperti ini bisa dijadikan bahan refleksi kehidupan.

Ada beberapa hal yang bisa kupetik dari novel Malam Seribu Jahanam karya Intan Paramaditha—buku ketiga yang aku baca pada tahun ini, setelah *The Anthropocene Reviewed dan novel [Lalu, Baton Diserahkan](https://medium.com/booknotations/lalu-baton-diserahkan-d73ef876d53d)*.

  1. Sebelum memutuskan menikah dan jadi orang tua, ada baiknya memikirkan kesiapan diri, terutama mental, ilmu agama, dan keuangan.
  2. Membedakan anak, terutama fisik dan urutan lahir tidak baik. Apalagi sampai mengamanahkan sesuatu hanya kepada satu anak.
  3. Saling menyayangi sesama saudara ternyata efeknya jangka panjang. Bahkan meski sudah memiliki kehidupan masing-masing, yang namanya saudara tetap tidak bisa terpisahkan.
  4. Dampak diskriminasi ternyata sebesar itu. Bahkan, kalau kamu menganggap itu hanya candaan.
  5. Revolusi selalu dimulai oleh saudara tiri buruk rupa. Bisa saja pernyataan ini dialami di antara salah satu dari kita sebagai umat manusia. Kalau tidak salah ingat, tokoh kepercayaan keluarga ini diolok karena tingkahnya kemayu. Lalu, ia pergi dari rumah dan benar-benar menjadi transpuan.

Setelah ini, aku akan membaca satu buku cerita yang ringan selama bulan Ramadan—tetapi bukan novel—mengangkat tema perjalanan seseorang ke berbagai negara, yang tidak bisa dianggap tempat liburan dan bertamasya. Katanya, penulisnya terkenal dengan kepiawaiannya dalam menghanyutkan pembaca untuk menemukan kembali makna “rumah”.

Oh iya, novel ini telah diulas beberapa kali di Medium. Jika kamu tertarik membaca ulasan lainnya, kamu bisa membaca ulasan kak naufalriady berjudul *Malam Seribu Jahanam: Kisah Horor Keluarga, Bom Bunuh Diri, dan Pertanyaan yang Tak Terjawab. *Ia mengira novel ini berisi cerita hantu yang mengagetkan sampai membuatnya buang air kecil di celana.

Selain itu, kamu juga bisa membaca kekaguman kak Nuriyah Hanik Fatikhah terhadap karya penulis Indonesia yang memiliki gelar doktor ini, di tulisan yang berjudul *Resensi Novel Malam Seribu Jahannam Karya Intan Pramadhita*.

Sumber: Mayada, M., & Sulton, A. (2024). Anisa dan Gothic Feminisme dalam Novel Malam Seribu Jahanam Karya Intan Paramaditha. Protasis: Jurnal Bahasa, Sastra, Budaya, dan Pengajarannya.


메타데이터
post_id
a471137ee1c5
slug
kenapa-judulnya-malam-seribu-jahanam-a471137ee1c5
url
https://medium.com/booknotations/kenapa-judulnya-malam-seribu-jahanam-a471137ee1c5
canonical_url
https://medium.com/booknotations/kenapa-judulnya-malam-seribu-jahanam-a471137ee1c5
author_url
https://medium.com/@dheam
status
ok
fetched_at
2026-06-24 23:31:39