← Back to list

Di Mana Lelaki Ideal Itu?

Demi menjaga martabat yang tersisa, kau memaksa sudut-sudut bibirmu terangkat. Sebuah senyuman formalitas yang melelahkan, tepat ketika…

R.A Awani · 2026-05-23 04:04 · 0 claps · 2.7 min read
Open on Medium ↗

Di Mana Lelaki Ideal Itu?

Photo by Prayudha Saputra on Unsplash

Photo by Prayudha Saputra on Unsplash

Demi menjaga martabat yang tersisa, kau memaksa sudut-sudut bibirmu terangkat. Sebuah senyuman formalitas yang melelahkan, tepat ketika lelaki di hadapanmu mulai bingung membedakan mana rak buku fiksi dan nonfiksi. Ini kencan kelimamu bulan ini. Aplikasi kencan di ponselmu rupanya tidak dibekali algoritma untuk menyaring pria yang bebas dari buta literasi. Sambil memutar-mutar sedotan di gelas kopi, kau terpaksa menjelaskan perbedaan kedua genre itu dengan bahasa paling awam — seperti guru TK yang sedang mengeja abjad.

Lelaki itu manggut-manggut, matanya berkejap sok tertarik, namun kau tahu tatapan kosong itu sedang mengembara entah ke mana. Dalam hati, kau sudah menyusun rencana eksekusi: begitu pantatmu bangkit dari kursi ini, nomornya akan masuk daftar blokir permanen.

Teman-temanmu sering mencibir bahwa seleramu melubangi langit. Terlalu banyak kriteria, terlalu pemilih, hingga gonta-ganti teman kencan sudah seperti mengganti baju bagimu. Namun, kau punya kalkulasi sendiri. Cinta bagimu bukan sihir yang jatuh dari langit, melainkan logika yang harus sinkron. Kau menolak dibodohi oleh romantisasi murahan, dan kau membenci kebodohan secara terang-terangan.

Untungnya, parasmu yang memikat — dikombinasikan dengan watak keras kepala yang tak terbantahkan — membuat teman-temanmu akhirnya menutup mulut dan memaklumi.

“Aduh, maaf banget. Aku baru ingat ada rapat dadakan dari kantor,” ucapmu, melirik jam tangan dengan raut panik yang dibuat-buat demi memangkas durasi tersiksa.

Wajah lelaki itu seketika layu. Ia mengangguk pasrah, berjanji akan meneleponmu nanti. Kau memasang topeng penyesalan terdalam, lalu melepas senyum manis yang menjanjikan harapan palsu tentang adanya kencan kedua. Padahal, untuk sekadar membalas pesannya besok pun, kau sudah tak sudi.

Sebelum taksi daringmu tiba, kau melipir ke toilet kafe untuk menata ulang penampilan. Jemarimu cekatan menyisir helai demi helai rambut hitammu yang legam, menyemprotkan sedikit hairspray agar tetap pada tempatnya, diikuti kepulan parfum yang menguar mewah. Kau memoles lipstik merah menyala, memastikan penampilanmu tetap prima. Kau tidak sedang pulang; kau bersiap bergeser ke kafe lain untuk target berikutnya.

Lelaki kedua ini sekilas tampak menjanjikan. Alisnya tebal membingkai sepasang mata yang memancarkan binar kecerdasan, rambut kecokelatannya tertata rapi, dan ia punya pembawaan yang matang. Detak jantungmu sempat bergeser naik. Kau mulai melancarkan taktik interogasi halus: mengulik hobinya, membedah buku favoritnya, hingga menanyakan motto hidupnya.

Namun, tepat pada pertanyaan ketiga, pertahananmu runtuh.

“Aku tidak percaya institusi pernikahan. Bagiku, itu cuma produk kapitalis yang menjebak,” ujarnya retoris, begitu mantap seolah baru saja memenangkan debat di parlemen.

Bahumu seketika melorot. Kau, yang tumbuh besar dalam kehangatan keluarga yang menjunjung tinggi kesakralan lembaga pernikahan, merasa seperti disengat listrik. Bagimu, komitmen dan penyatuan tubuh adalah ritus yang suci. Namun, lelaki di depanmu ini justru melontarkan kalimat yang membuat bulu kudukmu meremang: “Ya, kalau mau berhubungan seksual di luar nikah tidak masalah, yang penting sama-sama konsen.”

Seketika itu juga, pesonanya menguap. Di matamu, ia baru saja meruntuhkan ruang sakral milik perempuan yang selama ini kau jaga.

Harapanmu pupus total di pertanyaan ketiga. Malas berdebat secara ideologis, kau kembali memanggil bakat aktingmu. “Ya ampun, Ibu baru saja mengirim pesan. Beliau minta diantar ke rumah sakit sekarang,” ujarmu dengan nada cemas yang terukur.

Lelaki itu tampak khawatir dan langsung menawarkan tumpangan mobilnya. Kau menolak halus, beralasan bahwa taksimu sudah menunggu di lobi. Sambil mengucapkan terima kasih, kau melangkah pergi, mengabaikan kalimatnya tentang “kencan kedua” yang sudah pasti akan berakhir di ruang hampa.

Di dalam taksi yang membelah jalanan, kepalamu mendadak pening. Kau bersandar pada kursi, menatap ke luar jendela sembari merenung: apa yang salah dengan standarmu? Mengapa dunia dipenuhi lelaki yang jika tidak melempem secara intelektual, justru kelewat liar melanggar prinsip dasar yang enggan kau toleransi?

Ibu jarimu bergerak lincah di atas layar ponsel. Menekan tombol blokir untuk kedua nomor pria tadi, menghapus seluruh jejak digital mereka dari hidupmu, lalu dengan satu sentuhan tegas, kau mencopot pemasangan aplikasi kencan sialan itu dari ponselmu.

“Bisa agak cepat, Pak? Saya mau pulang,” ujarmu pada sopir taksi, sebelum akhirnya memejamkan mata, mencoba mengusir sisa pening yang berdenyut di pelipis.

R.A Awani


메타데이터
post_id
a4c046fa6180
slug
di-mana-lelaki-ideal-itu-a4c046fa6180
url
https://medium.com/@raawani/di-mana-lelaki-ideal-itu-a4c046fa6180
canonical_url
https://medium.com/@raawani/di-mana-lelaki-ideal-itu-a4c046fa6180
author_url
https://medium.com/@raawani
status
ok
fetched_at
2026-06-22 12:55:45