Kompromisasi Batas Personal
Baru-baru ini ayah tiba-tiba meneleponku melalui fitur video call. Begitu diangkat, langsung terlihat wajah ayah dan adikku di ruang makan…
Kompromisasi Batas Personal

Lukisan oleh Reynier Llanes. “The Poet,” 2021
Baru-baru ini ayah tiba-tiba meneleponku melalui fitur video call. Begitu diangkat, langsung terlihat wajah ayah dan adikku di ruang makan, mereka menanyai tentang progres seminarku di hari itu.
Aku berkata, “oke-oke saja. Masih ada dua lagi,” tambahku saat Ibu muncul dari arah dapur dan memberikan selamat.
Aku merasa bahwa progresku seminar yang sudah lama kunantikan, jatuh bangun mengumpulkan nyawa, tidak sebaik yang kupikirkan. Tapi, aku juga tidak kecewa. Menurutku, di kondisiku yang saat ini stabil dalam menjalani kehidupan, seminar adalah salah satu hal yang memang akan terjadi. Sudah diekspektasikan, apabila kurang, aku akan melewatinya meski tidak puas.
Entah aku akan meladeni pikiranku, atau meninggalkannya dan tetap melaju.
Begitu pikiranku, tetapi aku tidak bilang apa-apa ke keluargaku di sana. Sebuah pernyataan yang kompleks, dan aku tidak terlalu baik dalam berbicara hati ke hati tanpa perubahan nada suara.
Percakapan terhenti dengan Ayah menjauh dari kamera, sambil berkata, “yaudah, ngobrol dengan adikmu, ya.” Hingga hanya ada aku dan adikku dalam satu frame layar yang sama. Dia sedang membuat pisang keju, sementara aku di sini dengan laptopku.
Dia tersenyum lebar, berbalik denganku yang langsung berkata. “Aku sedang tidak dalam kondisi ingin bicara, aku tutup teleponnya, ya?” yang langusng dibalas dengan gelengan.
“Jangan, kamu temenin aku. Aku mau mengobrol.”
Oke, pikirku. Yang terpenting aku sudah memberikan informasi tentang diriku. Aku hanya harus menanggapi, meskipun tidak banyak.
Pada akhirnya, selama hampir lima menit kita berhadapan di kamera, aku lebih banyak menjadi pendengar dan menanggapi dengan respon singkat seperti yang sudah kuwanti-wanti. Namun, rupanya adikku tidak suka dengan respon yang kuberikan. “Kok kamu nanggepinnya pendek-pendek begitu, sih?”
Aku menatap layar, “Aku lagi nggak mood,” jawabku pendek. “Kan sudah kubilang.”
Dia menatap tidak senang, “Ya tetap nggak boleh begitu, dong,” katanya. “Kan aku lagi ngobrol, masa nggak ditanggepin.”
“Aku — “ Ucapanku terhenti. Di kepalaku tersiar berbagai macam skenario untuk mendebat argumentasi yang adikku sampaikan. Namun satu hal dalam kepalaku adalah aku sudah menjelaskan tentang kondisiku. Mengapa sekarang dia marah atas hal tersebut?
“Yaudah, karena aku nggak menanggapi, teleponnya ditutup aja.”
“Oke,” dia hanya menatap kamera. Aku tahu dia kesal.
Telepon ditutup. Aku menidurkan teleponku agar kamera tidak langsung berinteraksi dengan mataku.
Aku mendapati emosi bahwa pikiranku sebelumnya tenang dan tidak negatif. Begitu telepon ditutup, perasaan kesalku membuncah. Aku bingung, heran, dan kesal sedikit.
Aku bukan orang yang puitis, dulu pernah. Aku menjalani hidup ingin jujur pada diriku dan orang lain untuk tujuan lebih mengenal diriku sendiri. Tidak lebih. Oleh karena itu, pragmatis adalah jalan bicara yang kupakai. Hanya berisi pikiran dan emosi yang sesungguhnya, tanpa polesan yang membuat semuanya terasa seperti obrolan omong kosong.
Tapi, kenapa saat ekspresi itu kubicarakan, tidak semua orang bisa menghormati hal tersebut?
Dalam kasus ini, apakah batas personal adalah sesuatu yang harus kudiskusikan dengan orang lain meskipun aku sudah merasa tidak nyaman?
dan kenapa aku harus menanggapi dengan baik orang yang melanggar batas personalku meski aku tidak suka?
Pikiranku malam ini, sebagai tambahan, aku mendukung kebebasan batas personal, secara fisik dan mental.
Salam selamat malam, yogya 20260727
메타데이터
- post_id
- a4d942e7797b
- slug
- batas-personal-a4d942e7797b
- url
- https://medium.com/@amelstuffs/batas-personal-a4d942e7797b
- canonical_url
- https://medium.com/@amelstuffs/batas-personal-a4d942e7797b
- author_url
- https://medium.com/@amelstuffs
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 06:34:20