← Back to list

wrong path.

wonhui oneshot au | written by sha.

sha. · 2023-06-30 09:41 · 103 claps · 4.2 min read
#wonhui #fanfiction #alternative-universe #bxb
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space ✍️ · Writing & Creative

wrong path.

wonhui oneshot au | written by sha.

tw // implied sexual content, cheating, divorce.

Pernikahan itu pada awalnya begitu membahagiakan. Manis dan tidak ada tangis. Hanya dipenuhi banyak kasih sayang dan banyak peluk kecup. Lalu tiap harinya selalu berisi sarapan dengan obrolan yang begitu penuh cinta. Sapa hangat di tiap pagi dan malam. Pujian yang tidak hentinya dilontarkan. Pun pula sentuhan yang mendebarkan.

Wonwoo tidak menyangkal tentang fakta bahwa pada saat itu, dia merasa jadi manusia yang paling bahagia sedunia. Terlebih yang berada di sampingnya adalah manusia indah yang sedari dulu dia cinta, Junhui.

Junhui adalah wujud dari mimpi indah yang ia rangkai sedari kecil. Bagaimana sosok itu begitu sempurna, tidak ada celah untuk Wonwoo temukan kurang. Junhui dan segala keindahannya adalah hadiah dari Tuhan yang sudah sepantasnya Wonwoo syukuri dari sepanjang ia hidup di dunia, yang seharusnya Wonwoo puja setiap harinya.

Di mata Wonwoo, Junhui-nya itu terlampau sempurna untuk jadi nyata. Dan pada saat itu, Wonwoo begitu mendamba dan mencintai suaminya.

Namun hari kehancuran datang.

Entah kenapa Wonwoo merasakan begitu berbeda. Bibirnya seolah membeku hingga tidak mampu mengatakan cinta. Tidak mampu lagi beri Junhui pujian yang biasa ia lontarkan. Tidak bisa lagi beri sentuh hangat pada Junhui yang begitu penuh kasih sayang. Hatinya telah berubah tanpa aba-aba, seolah mati rasa.

Bagaimana Wonwoo tidak lagi merasakan getaran yang sama pada Junhui-nya. Bagaimana Wonwoo tidak merasakan debaran lagi saat berada di dekat kecintaannya itu.

Junhui bukan lagi jadi alasannya bahagia.

Awalnya Wonwoo berkali-kali meyakinkan diri kalau itu hanya segala tumpukan rasa lelahnya. Awalnya Wonwoo berpikir kalau itu hanya pemikiran sesaatnya. Namun pada kenyataannya, Wonwoo terlalu pengecut untuk mengajak Junhui bercerita.

Dia malah lebih memilih terbuai pada tawaran gila, tentang bermain-main di belakang dan mengikuti egonya.

Berawal dari pertemuan diam-diam dan pesan singkat kepada seseorang yang umurnya jauh lebih muda darinya—yang tak pernah Junhui tahu, mungkin. Kemeja yang selalu kusut dan jas yang selalu ada bau parfum milik orang lain. Ponsel yang selalu disimpan dan diberi password. Bekas keungunan yang susah payah dia tutupi dengan segala macam cara. Lalu berlanjut pada sesi bercinta penuh napsu berulang kali tanpa memperdulikan bagaimana keadaan Junhui, seseorang yang seharusnya hatinya dia jaga.

Wonwoo tahu bahwa dia bajingan.

Wonwoo tahu betul bahwa dia tidak akan pernah bisa mencium bau surga dengan segala kebrengsekannya.

Namun Wonwoo tidak tahu bagaimana cara berhenti. Dia sudah terlanjur jatuh ke jurang kehancuran hingga tidak ada pengampunan yang pantas dia dapatkan. Dia sudah terlanjur tenggelam ke dalam kubangan dosa tanpa ada jalan keluar.

Wonwoo tidak tahu harus bagaimana.

Dia tidak tahu harus menjelaskan dan memberitahu pada Junhui tentang keinginannya untuk berhenti menyakiti.

Wonwoo terlalu kehabisan akal hingga dia hanya membiarkan semuanya berjalan begitu saja. Menyerahkan diri pada semesta untuk menunjukkan karma yang paling pantas untuknya.

Karena jauh dari semua itu, sejujurnya Wonwoo benci pada fakta bahwa ia hilang rasa pada Junhui, kecintaannya. Fakta bahwa tidak ada lagi nama Junhui disana. Fakta bahwa nama itu sudah digantikan oleh orang lain yang tidak seharusnya menempati tempat itu.

Wonwoo tidak buta, dia tahu kalau dia telah sepenuhnya menyakiti Junhui-nya. Bahkan ketika Junhui tetap berusaha mempertahankan rumah tangga mereka. Bahkan ketika Junhui mencoba menahan Wonwoo agar tetap di sampingnya dan kembali merasakan cinta.

Tentang bagaimana Junhui-nya itu selalu berusaha bersimpuh di kedua kakinya dan memberikan kepuasan yang semampunya diberikan. Tentang Junhui yang berusaha memberi perhatian lebih dan mencoba membuat Wonwoo kembali mencintainya. Tentang Junhui yang mencoba memasak makanan favorit Wonwoo dan menuruti segala perkataannya. Tentang Junhui yang selalu mengajaknya bercerita walaupun akhirnya tetap diabaikan. Tentang Junhui yang terkadang bercerita pada teman-temannya dan meminta saran untuk kelanjutan rumah tangga mereka. Bahkan ketika Junhui menyangkal perkataan teman-temannya dan lebih memilih berusaha membuat Wonwoo kembali mencintainya seperti sedia kala.

Wonwoo tahu semuanya.

Dia tahu betul tentang Junhui yang terjaga sepanjang malam dengan segala pikiran negatifnya. Dia tahu betul bagaimana Junhui-nya menahan isak tangis atau berhasil menangis di balkon ketika dia pulang dari tempat kekasihnya barunya. Dia tahu betul bagaimana Junhui yang mencoba tetap terlelap saat Wonwoo diam-diam menerima panggilan dari kekasih barunya. Dia juga tahu betul bagaimana Junhui diam-diam menyalahkan dirinya sendiri dan mempertanyakan mengapa Wonwoo berubah dan tidak lagi mencintainya.

Wonwoo tahu segalanya, tahu betul.

Tetapi hati Wonwoo bukanlah kuasanya.

Bahkan bagi Wonwoo sendiri, dia tidak bisa untuk mengubah segalanya sesuka hati. Dia tidak mampu memaksakan diri untuk berpura-pura mencintai Junhui.

Padahal Junhui-nya tidak punya salah. Junhui-nya itu tidak punya kurang. Tetapi di cerita ini, Wonwoo-lah yang terlalu bodoh untuk memilih jalur yang salah.

Hingga suatu pagi, dia temukan sebuah amplop coklat berisi lembar surat cerai.

Hari penyesalan tiba. Hari dimana Wonwoo tidak bisa mengubah segalanya. Dimana Wonwoo hanya bisa terdiam ketika tidak lagi melihat presensi Junhui di sekitarnya. Dimana Wonwoo benar-benar kehilangan suaminya.

Harusnya Wonwoo bisa berlutut agar Junhui-nya tetap tinggal. Harusnya Wonwoo bisa memohon maaf atas segala kesalahannya. Harusnya Wonwoo bisa menjelaskan segalanya agar Junhui paham dan mengerti posisinya.

Tetapi dia tidak mampu.

Memikirkan saja dia tidak merasa pantas.

Wonwoo tahu jika dia tidak pantas menahan Junhui untuk tetap tinggal. Karena dia sudah terlampau jahat, menjadi alasan dari setiap tangis dan luka di dalam hati Junhui.

Wonwoo sudah seharusnya melepas Junhui agar Junhui dapatkan seseorang yang beri dia banyak cinta, tidak seperti yang Wonwoo lakukan.

Tidak malah menyia-nyiakan manusia setulus Junhui dan malah menyakitinya.

Dan sekarang… apartemen itu kini hanya berisi barang-barang milik Wonwoo yang bahkan dia tidak tahu kapan Junhui membereskan semua barang miliknya.

Wonwoo terlalu sibuk dengan dunianya. Wonwoo terlalu fokus menyangkal dan berlari kabur daripada menyelesaikan permasalahan mereka. Bahkan Wonwoo tidak menyangka bagaimana Junhui masih selalu memberikan perhatian kecil dengan mengirim pesan bahwa semua makanan siap masak sudah Junhui siapkan di kulkas. Beberapa kertas memo berbentuk kucing yang ditempel di pintu kulkas sebagai pengingat. Juga semua barang miliknya yang disusun begitu rapi.

Junhui benar-benar memilih pergi meninggalkannya dan Wonwoo tahu bahwa itulah yang pantas dia dapatkan.

Wonwoo menerima semuanya.

Lalu alih-alih membalas pesan dari Junhui dan meminta maaf atas segala kebrengsekannya, tangan Wonwoo justru bergerak membuka roomchat lain dan mengirim pesan ke orang itu.

Wonwoo: Mingyu, Junhui sudah minta cerai. Bulan depan kamu kemasi semua barang kamu dan pindah ke apartemen mas. Kita mulai hidup yang baru.

Bahkan sampai akhir,

Wonwoo masih tetap memilih jalur yang salah.

part of “wonhui — tolerate it”

written by sha.


메타데이터
post_id
a4db80671bdf
slug
wrong-path-a4db80671bdf
url
https://medium.com/@yeshabila/wrong-path-a4db80671bdf
canonical_url
https://medium.com/@yeshabila/wrong-path-a4db80671bdf
author_url
https://medium.com/@yeshabila
status
ok
fetched_at
2026-07-25 14:42:11