← Back to list

Entrok: Konstruksi Sosial, Politik, dan Moral Kehidupan

Menginjak buku ketujuh ini, saya benar-benar dibuat geram, kesal, dan perasaan campur aduk lainnya yang rasa-rasanya kayak noda membandel…

vena amallia · 2025-10-16 03:27 · 11 claps · 3.2 min read
#sejarah #perempuan #entrok #kehidupan #politik
Open on Medium ↗

Entrok: Konstruksi Sosial, Politik, dan Moral Kehidupan

Memasuki buku kedelapan ini, saya benar-benar dibuat geram, kesal, dan perasaan campur aduk lainnya yang rasa-rasanya kayak noda membandel. Entrok, entah mengapa menjadi bacaan yang tak terbayangkan sebelumnya. Tapi tak mengapalah, sebab buku ini mendorong saya untuk membuka mata lebar-lebar soal adat yang turun temurun memang dilestarikan.

Bila kita dengar ‘entrok’ apa yang Anda bayangkan? Ya, benar, bagian dari pakaian perempuan. ‘Entrok’ berasal dari Bahasa Jawa yang berarti ‘bra’ atau BH. Tenang, orientasi buku ini tidaklah ‘liar’. Justru, menyentil setiap segmen kehidupannya. Lantas, mengapa harus tahu ini? Karena ‘entrok’ ialah simbol dorongan dan kobaran bahwa perempuan pun mampu untuk meraih apa yang ia inginkan, meskipun harus letih berkeringat.

Babak Baru: Ambisi Marni

Marni, seorang anak tunggal dari buruh ‘ngupas singkong’ yang kesehariannya mencari pekerjaan di Pasar. Tinggalnya hanya di gubuk serabut kelapa, kesehariannya makan gaplek. Kira-kira begitu terus siklus hidupnya, tanpa diupah dengan uang sepeserpun. Keinginan Marni saat itu hanyalah beli ‘entrok’ apapun caranya, akan ia lakukan.

Berbeda dengan Ibunya yang berpasrah dengan pekerjaan sehari-hari, Marni justru mengambil langkah yang amat berani. Ia sudah cukup lelah, karena kerja ‘ngupas singkong’ sama sekali tidak menghasilkan uang. Sebab, buruh perempuan hanyalah digaji dengan bahan makanan, sepertihalnya jika ngupas singkong cukup dibayar dengan gaplek. Sedangkan buruh laki-laki digaji dengan mata uang. Hal tersebut yang memperlihatkan diferensiasi antara laki-laki dan perempuan, serta bagaimana masyarakat kita seakan-akan melabeli ‘pekerjaan berat’ hanya untuk laki-laki.

Dengan tekadnya yang keras, Marni berani ambil resiko. Ia putuskan untuk ‘nguli’ meskipun sebagai perempuan. Ia berani bekerja apa saja, asal menghasilkan uang untuk beli entrok. Lantas, ia bertanya pada Teja, seorang kuli laki-laki di Pasar yang memang kerjanya angkat-angkat jika ada yang menyuruh. Melalui tekadnya itu, perlahan ada orang yang datang untuk mencari bahan masakan, seperti sayur, cabai, bawang dan lain sebagainya. Perlahan, Marni mendapat langganan, menghasilkan uang, dan berhasil meraih impiannya.

Melalui pekerjaan sehari-harinya itu, Marni menyisihkan sebagian penghasilannya untuk bakulan. Ia berniat untuk keliling dengan tenggok rumah ke rumah. Sejak ia berkenalan dengan Teja, ia diam-diam menaruh hati padanya, namun ia hanya tak suka kalau Teja hanya kerja kalau disuruh.

“Aku juga membencinya. Benci atas kesabaran dan penerimaan ya pada nasib. Benci atas ketidakberdayaannya mengubah hidupnya.” Kegigihan Marni berbanding terbalik dengan Teja, “Tapi aku menyimpan harapan dan mimpi. Cukup dengan harapan itu saja aku bisa melakukan apa saja.” Di bab ini, Marni digambarkan begitu penuh dengan karakternya yang pemikir, misalnya saat ia dipaksa untuk menikah lantas berpikir “Punya anak? Bagaimana jika aku punya anak nanti? Mau jadi apa anakku nanti? Tukang kupas singkong' atau bakulan keliling desa kalau perempuan? Anak laki-laki ikut bapaknya nguli?” Ia takut, anaknya mengalami hal sepertinya, punya bapak tapi minggat, punya ibu tapi bodoh dan melarat.

“Uang” Pembungkaman Paling Jitu

Babak baru kehidupan Marni benar-benar dimulai, berkat kerja kerasnya ia sukses mengumpulkan banyak uang. Namun, ia justru diharuskan untuk menyetor sebagian penghasilannya ke orang-orang bersepatu tinggi, dengan seragam loreng dan pistol di pingganggnya. Orang-orang percaya bahwa itu salah satu cara untuk “minta perlindungan.” Di sini, penulis cukup apik dalam menuturkan bahwa aparat memegang kuasa secara otoriter di lingkungan masyarakat. Kontrol politik suatu partai turut menentukan bagaimana masyarakat akan hidup. Di samping itu, latar cerita turut disangkut pautkan dengan PKI, Cina, pers, penghilangan, dan monetisasi terhadap lingkungan dan ekonomi. “Apa pun yang mereka lakukan, apa pun yang mereka katakan, intinya duit. “Selama kita nuruti permintaan mereka, memberikan berapa pun duit yang diminta, beres urusan cari makan dan urusan dagang.”

Tidak dapat disangkal bahwa Marni memiliki karakter pekerja keras, misalnya saat ia sukses “Simbok, lihatlah anakmu ini sekarang. Kita dulu kerja memeras keringat seharian, diupahi telo, bukan uang, hanya kita perempuan. Lihatlah sekarang, anakmu yang perempuan ini, berdiri tegak disini mengupahi para laki-laki. Akan kupekerjakan perempuan perempuan itu dan kuberi upah tak kurang dari pada yang diterima suami-suami mereka.” Namun, kesuksesannya justru mendapat banyak cibiran dari para warga. Ia dituduh melakukan pesugihan ‘ngingu’ tuyul, dan lain-lain. Padahal dibalik semua itu, ia rela mengorbankan apapun untuk membuat keluarganya sejahtera “Hanya keringatku sendiri, segala tenagaku, yang bisa menjadi penolong dalam hidupku.” Rasanya cukup emosional saat membaca bab-bab ini, Marni justru berdebat dengan anaknya, Rahayu yang menganggap Ibunya berdosa hanya karena perbedaan dalam ‘meminta’.

Konklusi

Bagi saya, buku ini cukup emosional, menguras energi saat membaca tiap-tiap babnya. Penulis dengan rapi mengalihkan sudut pandang antar tokoh dalam setiap bab, alur maju-mundur juga tidak menjadi penghalang untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bisa dirasakan, kalau Marni adalah gambaran perempuan yang berani, pemikir, pekerja keras, dan dedikasi hidupnya yang besar terhadap keluarganya. Ia hanya ingin anaknya jadi sarjana, berkecukupan, dan mendapat kesejahteraan dalam hidup “Aku membeli semua yang kuanggap bisa membuat anakku senang.” Di samping itu, saat Marni mengalami masa keterpurukan ia berpikir bahwa “Orang hidup hanya butuh punya harapan, lalu dia akan merasa punya jiwa dan semangat.” Secara keseluruhan, buku ini menggambarkan sudut pandang ekonomi, stigma, dan konstruksi sosial yang melekat di masyarakat. Terakhir, salah satu kutipan kesukaan saya, “Apakah artinya semua perjuangan terhadap penindasan dan ketidakadilan, kalau kebiadaban di depan kita sendiri saja tak mampu kita atasi.”


메타데이터
post_id
a4e3f430a031
slug
entrok-konstruksi-sosial-politik-dan-moral-kehidupan-a4e3f430a031
url
https://medium.com/@venaamallia/entrok-konstruksi-sosial-politik-dan-moral-kehidupan-a4e3f430a031
canonical_url
https://medium.com/@venaamallia/entrok-konstruksi-sosial-politik-dan-moral-kehidupan-a4e3f430a031
author_url
https://medium.com/@venaamallia
status
ok
fetched_at
2026-07-16 18:55:29