Mingyu, Wonwoo, and Music
“would you die for me then?”

Mingyu, Wonwoo, and Music
Manusia memiliki penyesalannya masing-masing dalam hidup mereka. Ada yang menyesal karena tidak sempat membahagiakan kedua orang tua mereka, ada yang menyesal tidak belajar dengan sungguh-sungguh dan berakhir tidak lolos di kampus impian mereka, dan ada pula yang menyesal karena kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup mereka.
Biasanya, perasaan sesal yang dirasakan manusia akan memudar seiring waktu, selama objek dari penyesalan itu masih ada di dunia ini.
Sayangnya, perasaan sesal yang dirasakannya sekarang tidak bisa dipudarkan oleh apapun bahkan dirinya sendiri.
Wonwoo menghela napas, matanya tidak bisa terpejam dengan tenang. Sudah lebih dari dua tahun berlalu sejak kejadian yang membuat dirinya tidak bisa mendengarkan musik lagi itu terjadi. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar, sementara pikirannya dipenuhi kenangan tentang seseorang yang tidak lagi ada di sisinya.
Senyumnya, tawanya, dan pelukan hangatnya masih membekas di ingatannya.
Matanya melirik ke arah pojok ruangan. Di sana, terdapat gitar berwarna hitam dengan senar yang sudah putus milik Mingyu—pacarnya—yang sudah tidak terpakai selama dua tahun ini. Ia bangun dari duduknya, mengambil gitar itu dan tersenyum sedih.
Mingyu menyukai musik. Ia pandai dalam memainkan gitar dan menciptakan lagu.
Bagi, Wonwoo. Mingyu adalah segalanya—teman pertama, pacar pertama, bahkan ciuman pertamanya. Mustahil bagi Wonwoo untuk melupakan Mingyu, karena hampir semua hal pertama dalam hidupnya terjadi bersama lelaki itu. Seakan-akan, Mingyu memang menyuruhnya untuk tidak melupakannya.
Wonwoo menyayangi Mingyu dengan sepenuh hatinya. Kehadiran Mingyu mengisi kekosongan yang ia rasakan sejak kecil. Bersama Mingyu, Wonwoo tidak pernah merasa sendirian lagi.
Awalnya, tidak ada yang salah dari hubungan mereka. Mingyu tetap seperti biasa, hingga perlahan ia mulai menjauh dari Wonwoo—bukan karena Mingyu berhenti mencintainya, tetapi justru karena ia mencintainya.
Saat SMA, Mingyu memutuskan untuk membentuk band bersama teman masa kecil mereka. Wonwoo tidak ikut bergabung dengan mereka karena ia tidak terlalu tertarik pada musik seperti Mingyu dan temannya.
Meski begitu, Wonwoo selalu memberi dukungan pada Mingyu. Ia selalu menemaninya ketika sedang mengerjakan demo lagu band mereka walaupun dirinya tidak dipebolehkan oleh pacarnya untuk mendengarkan lagu itu hingga lagu itu selesai.
Namun, lama-kelamaan, Wonwoo merasa terpinggirkan. Waktu yang dulu mereka habiskan bersama, kini lebih banyak dihabiskan Mingyu bersama band-nya. Wonwoo merasa musik sudah mengambil Mingyu dari hidupnya. Ia merasa tidak dianggap lagi. Ia merasa ditinggalkan oleh mereka.
Ia membenci musik.
Hubungan mereka semakin merenggang—Wonwoo yang menjauh dengan memendam perasaannya, sementara Mingyu yang sibuk menyelesaikan lagu bersama temannya. Wonwoo tidak pandai dalam menyampaikan apa yang ia rasakan, tetapi ia takut dengan perasaan terpendamnya yang suatu saat akan meledak.
Hingga akhirnya apa yang ia takuti terjadi. Perasannya meledak dengan cara yang salah.
Saat dalam perjalanan pulang, seperti biasa, Mingyu menceritakan mengenai tentang progres lagunya yang sedang dibuatnya dengan semangat. Namun, Wonwoo hanya diam—tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Mingyu.
Mingyu, yang menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Wonwoo, langsung menanyakannya. Namun, tidak seperti yang diharapkan oleh Mingyu, pertanyaannya pada Wonwoo justru menjadi pemicu pertengkaran mereka.
“Kamu sadar nggak kalau kamu udah jarang sama aku karena kamu terlalu fokus sama band-mu!” Wonwoo akhirnya meluapkan isi hatinya belakangan ini.
“Tapi kamu dulu dukung aku! Kenapa sekarang baru gini, Won? Harusnya dari awal kamu bilang ke aku soal ini. Kalau kamu nggak bilang, aku nggak akan pernah ngerti sama apa yang kamu rasain!” Balas Mingyu dengan suaranya yang meninggi.
“Gimana aku bisa bilang ke kamu, Gyu, kalau kamu aja sesuka itu sama musik!” Wonwoo berteriak, suaranya dipenuh rasa frustasi.
Mingyu terdiam sejenak, menatap Wonwoo dengan mata yang penuh luka. Lalu, dengan suara yang lebih tenang, ia berkata, “Wonwoo, harusnya kamu tau. Aku bakal milih kamu daripada musik. Aku lebih suka kamu daripada musik ataupun bandku, Won. Apapun bakal aku lakuin buat kamu. Kamu cuma perlu bilang.”
Mingyu menarik napasnya dalam-dalam, lalu melanjutkan, “Kamu mau aku keluar dari band? Aku bisa, Won. Kamu mau aku juga berhenti main musik? Aku juga bisa lakuin itu. Apapun, Wonwoo. Aku bakal lakuin semuanya buat kamu!”
Wonwoo yang sudah dikuasi emosinya, menjawab dengan kalimat yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
“Kalau gitu,” suara Wonwoo bergetar, “apa kamu mau mati buat aku, Gyu?!” Wonwoo berteriak dengan frustasi.
Terdapat keheningan sebentar menyelimuti mereka, Mingyu menatapnya dengan kaget, lalu melihat ke arah matanya dan tersenyum kecil.
“Iya, Wonwoo.”
Mingyu mencintai musik, tetapi ia mencintai Wonwoo lebih dari apapun. Bahkan, Mingyu rela melakukan apa saja untuk Wonwoo, termasuk menyerahkan nyawanya.
Beberapa hari setelah pertengkaran mereka, kenyataan yang tak pernah Wonwoo bayangkan terjadi. Wonwoo menemukan Mingyu di kamarnya, tergantung dengan tali yang melilit lehernya.
Mingyu telah membuktikannya pada Wonwoo jika ia benar-benar mencintai Wonwoo lebih dari apapun.
Selama ini, lagu yang dibuat Mingyu bersama teman bandnya adalah untuk Wonwoo agar ia merasa tidak sendirian di dunia ini, tetapi, ternyata Mingyu salah.
Wonwoo hanya membutuhkan kehadirannya, bukan lagunya.
Sampai sekarang, Wonwoo belum pernah mendengar lagu yang dibuat Mingyu untuknya karena lagu itu masih belum selesai, dan Wonwoo tidak akan pernah bisa mendengarkan musik lagi.
Wonwoo membenci musik dan dirinya.
메타데이터
- post_id
- a4ebeb63969d
- slug
- mingyu-wonwoo-and-music-a4ebeb63969d
- url
- https://medium.com/@kingarthurisdead/mingyu-wonwoo-and-music-a4ebeb63969d
- canonical_url
- https://medium.com/@kingarthurisdead/mingyu-wonwoo-and-music-a4ebeb63969d
- author_url
- https://medium.com/@kingarthurisdead
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 05:06:58