will we get through this?
— (he is all alone)
will we get through this?
— (he is all alone)
One shot; 1.5k Words Rate: T — with mature themes, implied nsfw Main Ship: Kim Mingyu x Xu Minghao (Gyuhao) Tags: Angst, Omegaverse, Alpha!Mingyu, Omega!Minghao, Mpreg CW/TW: Mentioning infidelity and abortion.
“Gimana?” tanya Jun sambil memijat pundak Minghao yang duduk di sampingnya, dalam upaya menenangkan rekan kerjanya.
Wajahnya masih pucat, matanya yang tadi fokus pada gawainya sekarang beralih ke Jun, “Mau jemput, udah otw katanya.”
“Good, setidaknya dia masih keliatan khawatir sama lo. Especially knowing your condition…”
Jawaban dari Jun membuat Minghao menahan napasnya, perasaan dalam dirinya makin campur aduk.
Lamunan Minghao pecah, karena lima belas menit kemudian suara notifikasi muncul dari handphone Minghao. Segera ia melihat gawainya dan membaca notifikasi yang tertulis di layarnya pesan dari kekasihnya.
Aku udah di depan.
Membacanya pesan dari Mingyu sedikit membuat Minghao menelan ludahnya. Ia tarik napas dalam dan menatap teman kerjanya, “Mingyu udah sampai Jun.”
Bangun dari tempat duduknya, Minghao dan Jun berdua berjalan keluar dari restoran. Minghao menemukan Mingyu sudah di depan mobilnya, bersiap menyambut Minghao. Dari jauh, Minghao berusaha untuk meneliti ekspresi wajah kekasihnya. Tidak ada kemarahan ataupun kekecewaan yang terlukis di mukanya, tetapi memang ia tidak menyambutnya dengan ceria seperti biasanya.
Sebelum Minghao pergi menuju Mingyu, ia membalikkan badannya dan menatap Jun, memberikan lambaian tangan kecil sebagai tanda ia akan pulang duluan. Teman kerjanya hanya memberikan senyuman dan dua jempol kecil untuk menyemangati Minghao.
Mingyu membuka pintu mobilnya, mempersilahkan kekasihnya untuk masuk duluan.
Dari dalam Minghao bisa melihat Mingyu membungkuk ke Jun sebagai izin untuk pergi duluan bersama Minghao dan ia masuk ke dalam mobil.
Hening.
Degup jantung Minghao berdetak tidak karuan rasanya. Ia mewanti-wanti kekasihnya mengeluarkan sepatah kata, memberikan reaksi dan berbagai pertanyaan perihal kejadian yang ditemukannya, perihal yang disembunyikan oleh Minghao. Tetapi tidak ada, Mingyu hanya fokus menyetir mobilnya.
Ruang sempit dalam mobil itu tersebut hanya diisi dengan suara kecil samar-samar dengung mesin mobil dan suara seorang presenter radio malam yang sedang membacakan keluh kesah pendengarnya.
Sesungguhnya pertengkaran antara Mingyu dan Minghao itu sudah biasa terjadi selama menjalani hubungan mereka. Minghao kenal baik kekasihnya yang apabila ada sesuatu, baik itu baik maupun buruk, Mingyu akan selalu mengkomunikasikan dengan dirinya. Tapi untuk kali ini, Minghao tahu Mingyu benar-benar marah. Ditunjukkan dengan dirinya diam seribu bahasa.
Tidak mau memulai percakapan karena takut, Minghao menyandarkan kepalanya ke jendela mobil. Kelopak matanya terasa berat, ia berusaha menahan rasa kantuknya dengan mengedipkan matanya berkali-kali. Sampai akhirnya semua kabur dan gelap.
.
.
.
.
Kepala Minghao pening akibat terkesiap dari bangunnya. Melainkan duduk dan tertidur di jok mobil, ia sudah terbaring tempat tidur apartemennya yang empuk itu. Di tengah peningnya kepala, perlahan ia menyesuaikan diri, menerjap-nerjapkan mata yang terkena silauan akan pantulan mentari pagi di ruangan putih itu. Ia memikirkan Mingyu yang bukannya membangunkannya ketika mereka sampai, Mingyu memilih untuk menggendongnya saat ia terlelap di mobil tadi malam.
Mengingat soal Mingyu, Minghao melihat sisi kasurnya yang kosong dan berantakan. Setidaknya Mingyu masih mau tidur sekasur dengannya, pikir Minghao.
Tak hanya kasurnya yang absen dari sosok kekasihnya, tetapi memang tidak ada tanda-tanda keberadaan Mingyu di apartemen mereka. Kamar mandi kosong, tidak ada suara televisi, tidak ada bau sedap sarapan pagi yang biasanya menyambut Minghao dari bangun tidurnya. Tidak mungkin ia kabur, karena Minghao tahu Mingyu bukan tipe yang lari dari masalahnya.
Minghao bangun dari kasurnya, berjalan menuju ruang TV yang bersebelahan dengan ruang makan. Meniti satu persatu perabotan yang menghiasi ruangannya, dan berakhir duduk di sofa empuknya.
Di tengah kesunyian membuat Minghao memikirkan bagaimana cara ia menjelaskan kondisi dirinya kepada Mingyu.
Tenggelam dalam keheningan, Minghao makin meratapi keadaannya. Memikirkannya membuat Minghao kecewa, seketika terlintas di kepalanya apakah Mingyu tidak mau menjadikan Minghao sebagai matenya? Terlebih lagi mereka sudah bersama selama 4 tahun, bahkan bulan depan akan menyentuh 5 tahun. Obrolan membangun masa depan bersama pun tak pernah lepas di dalam topik pembicaraan mereka. Di luar itu, mereka selalu menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan intim, dan Mingyu selalu menghindar apabila keduanya memiliki jadwal rut dan heat yang bersamaan. Puncaknya adalah kemarin ketika Mingyu mengetahui bahwa Minghao hamil, dari reaksi dan sifat Mingyu yang nampak dingin sekali.
Rasanya sakit perlahan memenuhi dada, ada kemungkinan bahwa Mingyu memang tidak mau menjadikan Minghao sebagai mate-nya. Satu hal lagi terlintas dipikirannya, apakah Minghao harus menggugurkan janin dalam kandungannya?
Dadanya sesak ketika memikirkan semua itu. Ia sangat mencintai Mingyu dan selalu bermimpi untuk membangun keluarga bersamanya. Tetapi nyatanya Mingyu nampaknya memiliki perasaan yang berbeda.
Suara gagang pintu berputar dan denyit pintu yang dibuka membuyarkan lamunan Minghao.
“Aku pulang.”
Mingyu tercengang ketika melihat Minghao yang duduk sendirian di tengah ruang TV. “Myeongho, udah bangun?” nadanya lembut, membuat Minghao makin bingung.
“Aku abis jogging, terus sekalian beli sarapan.” lanjutnya sambil meletakan bungkusan di tangannya dan mengeluarkan isinya satu persatu; bubur ayam kesukaan Minghao.
Minghao menahan napasnya, tidak kuat dengan perlakuan Mingyu saat ini yang terlihat sangat santai, seakan-akan mereka tidak memiliki masalah. Hal itu memperburuk perasaan Minghao yang campur aduk dan asumsi dimana Mingyu mungkin tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Muak dengan basa-basi yang dilakukan Mingyu (walaupun bagian dari Minghao menemukannya sangat manis saat Mingyu membelikannya sarapan), tetapi ia mengesampingkan itu semua. Minghao membuka mulutnya, “Mingyu…. cut the chase, get to the point. Just drop the question.” ucapnya.
Mendengarnya, senyuman Mingyu langsung turun. Ia menghela napasnya, mempersiapkan dirinya dan menatap Minghao serius. “Myeongho, are you cheating on me?”
Minghao masih membungkam bibirnya, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka untuk sementara. “Kenapa… kamu bisa mikir kayak gitu?” akhirnya pemuda Tiongkok itu angkat bicara, suaranya kecil tetapi tetap terdengar oleh lelaki di hadapannya.
“Ya, terus apa Hao? Kamu mau aku mikir apa?” tanya Mingyu balik, seketika feromonnya terasa masam di lidah. “Yang di dalam otakku cuma bagaimana kamu bisa hamil? Gak mungkin omega hamil kalau gak seks saat mereka lagi heat dan alphanya sedang rut. Di saat bersamaan. Dan kita gak pernah seks ketika kita di kondisi itu. If its not doing it with someone else, then how?”
“Jawabannya udah jelas, aku gak selingkuh dari kamu. I will never. Kamu sendiri yang tau kalo kita tiga bulan kemarin memutuskan pakai suppressant karena kita berdua lagi ada proyek dan kita gak mau ada yang ganggu kita. Dan yang kemaren itu, the last sex we had setelah berbulan-bulan kita gak lakuin, Mingyu.”
“Itu tidak mengurangi kemungkinan kamu gak ngelakuin itu, Hao. Maybe you needed someone else’s touch karena ya, aku belom bisa ngapa-ngapain karena kerjaan kita.”
“For god’s sake Mingyu! Kalau aku heat aku juga gak bakal keluar rumah! And you’re the first person to know!”
“Tapi — “
Mingyu mencari pembelaan lain yang akhirnya membuat Minghao jengah. “Forget it. Turns out, I can’t talk to you right now. Beneran percuma.”
Minghao membuang wajahnya, ia meninggalkan Mingyu dan berjalan ke arah kamar. Ia membuka lemari dan mengambil beberapa pakaiannya, menumpuknya di atas kasur.
Mingyu menyusul Minghao ke kamar, “Ka-kamu mau kemana?!” nadanya agak tinggi.
“Ke rumah mami,” matanya pun segan untuk menatap kekasihnya, dan tangannya tidak berhenti memasukkan baju-bajunya ke dalam tas.
“Kita belom selesai bicara,” ucap Mingyu sambil menarik pergelangan tangan Minghao agak keras, membuat lelaki Tiongkok itu berhenti melakukan administrasinya.
Minghao menatap lelaki yang lebih dari tingginya, “Gak ada yang bisa dibicarain Gyu. Aku pun baru tau aku mengandung bayiku kemarin! And I know it doesn’t make sense! Yang bisa aku jawab cuma kalau aku. Gak. Selingkuh. Dari. Kamu!”
Mingyu nampak tersinggung ketika Minghao menaikkan suaranya, ia bisa merasakan feromon dari Minghao yang tertekan, alisnya tertekuk, “Myeongho, kenapa jadi kamu yang marah?!”
“Ya aku marah! Ketika aku cinta mati sama kamu, tapi kamu gak percaya sama aku. Kamu nyudutin aku ketika aku juga masih berusaha memproses semua ini.”
Seketika Mingyu tidak sanggup membalas perkataan Minghao, dan Minghao langsung menarik tangannya dari genggaman kekasihnya, ia mengambil tasnya yang isinya cukup berantakan karena ia tidak punya waktu untuk melipat pakaiannya. “Terserah kamu mau tanya Jun, Kak Oci, Kak Shua, siapa pun. Bahkan yang baru tau aku hamil cuma Jun.”
Minghao menenteng tasnya dan berjalan cepat ke arah pintu keluar, memakai sepatu slip onnya dengan cepat. Ia terhenti sampai Mingyu berhasil mengejarnya dan meraih tangannya untuk kedua kalinya, tetapi kali ini langsung dihempaskan oleh pemuda Tiongkok itu. Tetapi ia berhenti di depan pintunya.
“With all question in your head, what do you want me to do? Get rid of it?” suara Minghao pecah ketika mengeluarkan kata terakhirnya, dadanya sesak. Ia sesekali mengedipkan matanya, memaksa air matanya tidak menetes dari pelupuknya.
Mendengarnya, Mingyu yang tadi terlihat ingin mengatakan sesuatu seketika terdiam seribu bahasa.
Minghao menghela napasnya, “Mingyu, despite everything, aku seneng banget pas aku tau mengandung bayi ini. Because I know, its yours too.”
“I’ve always wanted to built the small family that we’ve — I’ve been dream of, with you. Setiap kita bicarain masa depan kita, aku selalu nungguin sampai kapan mimpi ini jadi kenyataan.” tambahnya, suara lembut Minghao menunjukkan dirinya yang penuh harap.
“Myeongho…” Mingyu mencicit kecil.
“Tapi kamu — kamu kayak kecewa banget. Mungkin yang selama ini kita bicarakan emang cuma mimpi belaka dan mungkin cuma aku yang mau.”
Minghao membenarkan ransel dipunggungnya, “Aku pergi dulu. Kita bisa bicara lagi kalo emang kepala kita udah jernih. Take care, Mingyu.”
Minghao menutup pintunya, meninggalkan Mingyu yang mematung di apartemennya.
메타데이터
- post_id
- a4f5dcf79ce9
- slug
- will-we-get-through-this-a4f5dcf79ce9
- url
- https://medium.com/@moonsolstice/will-we-get-through-this-a4f5dcf79ce9
- canonical_url
- https://medium.com/@moonsolstice/will-we-get-through-this-a4f5dcf79ce9
- author_url
- https://medium.com/@moonsolstice
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 19:44:04