Oh, kekasihku
Kekasihku bertanya mengapa manusia hidup jika akhirnya bermuara pada kematian.
Oh, kekasihku

Aventurine MBG (My Boy Gwe) — Honkai Star Rail.
Aku suka cara netra kekasihku menatap manik cokelat gelapku. Berbeda dengan milikku yang tampak hitam jika dilihat dengan mata telanjang, iris kekasihku terlihat seperti batu ametis yang dipoles terlalu halus — bahkan di bawah cahaya paling biasa sekalipun.
Rambut kekasihku berwarna champagne blonde pucat, jatuh lembut di sekitar paras tampannya dengan helaian-helaian yang sedikit berantakan. Ujung helaian rambut depannya melengkung lembut di sekitar wajah tanpa benar-benar menutupi matanya. Seolah sengaja memberi ruang agar sorot ungu itu tetap menjadi pusat perhatian.
Tunggu—sedari tadi aku menyebut dirinya dengan ‘kekasihku’. Saking menawannya pasanganku, aku sampai lupa menyebutkan namanya.
Aventurine. Betul, seperti menyebut nama batu kristal semi-mulia — aventurine. Sebetulnya, itu bukan nama yang lahir bersamanya.
Sebelum dunia mengenalnya sebagai Aventurine, ia pernah memiliki nama lain yang terdengar lebih manusiawi: Kakavasha.
Mungkin aku jatuh cinta padanya karena ia membuat segalanya terlihat indah. Cara ia menyunggingkan senyum, cara ia bertutur, cara ia menilik lawan bicaranya. Sungguh, aku berani bersumpah—Tuhan pasti menciptakannya terlalu teliti sampai-sampai aku tidak dapat menemukan satu hal pun yang terlihat biasa dalam dirinya.
Aku yakin, bahkan dengan probabilitas 33.550.336% tidak ada satu pun manusia yang mampu terlihat setenang kekasihku tanpa diam-diam membuat orang lain jatuh hati.
Terkadang, aku sedikit cemburu dengan aksesori-aksesori yang sering dipakai kekasihku.
Mulai dari cincin-cincin emas yang melingkari jemari pasanganku.
Lalu gelang dan jam tangan keemasan yang berkilau samar setiap kali ia menggerakkan tangannya.
Hingga kacamata dengan lensa berwarna rose tinted yang sering berada paling dekat dengan netra ametisnya.
Sungguh tidak adil. Bahkan benda-benda mati pun terlihat begitu beruntung saat berada sedekat itu dengannya.
Arjuna hatiku gemar bergonta-ganti pakaian. Dan sialnya, aku selalu ingin hadir sebagai perempuan dan menjadi orang pertama yang jatuh hati setiap kali melihatnya dalam wujud yang berbeda.
Ia pernah mengenakan busana merah khas Tiongkok. Di lain waktu — lebih tepatnya saat Halloween, ia sempat menjelma sebagai kapten bajak laut. Lalu ada juga saat ia mengenakan seragam IPC (Interastral Peace Corporation) miliknya.
Lelakiku bekerja untuk IPC (Interastral Peace Corporation) sebagai manajer senior di departemen investasi strategis. Kedengaran mengagumkan, bukan?
Namun, favoritku tetap saat ia mengenakan pakaian yang paling sering ia gunakan, yaitu jas hitam beraksen emas yang membungkus tubuhnya dengan anggun, sementara kain panjang berwarna champagne jatuh di kedua sisi tubuhnya, bagaikan tirai kemewahan yang sengaja dibuka.
Hiasan bulu putih di bahunya membuat penampilannya terlihat mewah dengan cara yang nyaris berlebihan, namun anehnya tetap terasa wajar jika dikenakan oleh pasanganku.
Sementara sarung tangan hitam ketat membalut jemari panjangnya tanpa menutupi seluruh tangan. Lelakiku sepertinya sengaja ingin memamerkan urat-urat nadi di punggung tangannya.
Setiap kali aku menatap penjudi itu, aku tidak ingin mengalihkan pandanganku. Bagiku, mengatupkan kelopak mataku selama sepersekian detik saja sudah cukup untuk kehilangan detail kecil yang tidak akan terulang kembali.
Aku ingin sekali mengusap ibu jariku di atas wajahnya, sekadar memastikan bahwa ia nyata — bahwa karisma yang kulihat bukan hanya bayangan dari pikiranku sendiri.
Betapa eloknya arjuna hatiku.
Aku masih mengingat pertama kali saat hatiku berpihak kepada kekasihku. Penampilannya tampak flamboyan, dengan karisma yang terlalu menyilaukan mata untuk diabaikan.
Namun, siapa sangka, di balik wajah rupawan itu, tersembunyi cara bertahan hidup yang nyaris mengerikan: ia tidak takut kalah, tidak pula gentar mempertaruhkan segalanya.
Aku larut dalam setiap kata yang ia ucapkan—dibalut dengan keyakinan, kadang terlalu licin hingga sulit dibedakan antara kejujuran dan siasat.
Baginya, keberuntungan bukan sesuatu yang pantas ditunggu. Ia malah memperlakukannya sebagai sesuatu yang bisa dikendalikan, dipancing, bahkan diperdaya.
Barangkali cara pandangnya terhadap kehidupan terbentuk dari masa silamnya yang kelam. Aku bahkan tidak kuasa menyusun kisah tersebut menjadi kata-kata yang utuh.
Malam itu, linangan air mataku jatuh tanpa permisi — membasahi pipi, seolah ia tidak mau lagi menunggu izin dari hatiku yang retak. Tepat setelah aku mengetahui apa yang ada di balik seringai flamboyannya itu.
Tentang Aventurine. Lelaki yang pernah hidup sebagai Kakavasha.
Setelah aku mengetahui semuanya, ada sesuatu yang di dalam diriku mulai bergeser. Alih-alih menepi, justru aku semakin terseret ke dalam dirinya. Aku kian terjerat rasa cinta dengan cara yang tidak bisa sepenuhnya kupahami.
Sejak saat itu, aku mulai mendambakan kehadirannya di setiap sudut ruang hidupku. Dunia terasa sepi ketika ia tidak ada, dan terlalu bising ketika ia hanya muncul sebagai kenangan.
Di suatu kesempatan, kekasihku mengutarakan kegelisahannya — mengapa manusia diberi kehidupan jika pada akhirnya mereka akan bermuara pada kematian.
Aku yang mendengarnya langsung terdiam. Pertanyaannya terasa terlalu masuk akal hingga aku tidak tahu harus menyangkal bagian mana.
Setelah merenung, akhirnya aku menemukan jawaban atas pertanyaan pujaan hatiku. Kematian sendiri hampa akan makna. Yang bermakna bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan pilihan yang diambil dan derita yang ditanggung oleh manusia selama darah masih mengalir hangat di dalam tubuh mereka.
Ah, lihat aku. Tanpa sadar, aku kembali terlalu banyak berbicara soal kekasihku. Namun, siapa yang bisa menyalahkanku?
메타데이터
- post_id
- a5064e070e1a
- slug
- oh-kekasihku-a5064e070e1a
- url
- https://medium.com/@dindahaira/oh-kekasihku-a5064e070e1a
- canonical_url
- https://medium.com/@dindahaira/oh-kekasihku-a5064e070e1a
- author_url
- https://medium.com/@dindahaira
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30