← Back to list

Pemasukan dan Pengeluaran

Suara motor butut Mas Caleb menyapa pendengaran Adek yang lagi bersantai di depan TV cembung kontrakan 3 petak mereka, memangku setoples…

kaeris · 2026-07-03 13:55 · 1 claps · 10.0 min read
#caleb #love-and-deepspace
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space 💑 · Relationships

Pemasukan dan Pengeluaran

Suara motor butut Mas Caleb menyapa pendengaran Adek yang lagi bersantai di depan TV cembung kontrakan 3 petak mereka, memangku setoples Khong Guan berisikan rengginang yang agak sedikit gosong. Kipas angin yang berkeretak menggoyangkan rambut Adek yang belum kering sepenuhnya, habis keramas setelah seharian menyapu, mengepel lantai, membersihkan kompor, mengosek kamar mandi…

“Mas Sayang!” Adek melonjak kegirangan melihat suaminya itu masuk dari pintu kayu dengan engsel berderit. Helm hijau di tangan kanan dan dua bungkus keresek di tangan kiri, Caleb tidak menjatuhkannya ketika Adek kesayangannya itu melompat ke pelukannya.

“Adek, adek, adek,” Caleb tertawa melihat betapa energiknya si cantik, tubuhnya mengayun menahan bobot tubuh yang bergelantung di pundaknya. “Hmm, wangi banget kamu.”

“Adek habis keramas tadi!” napas hangatnya mengembus di leher Caleb yang masih lengket, campuran keringat dan asap kendaraan di jalan tadi. “Mas mandi dulu, sana! Kecut!”

Caleb tertawa ketika Adek tidak kunjung melepaskan dekapannya bahkan sehabis dioloknya bau tubuhnya. Pria itu sedikit menekuk lututnya untuk meletakkan helm dan kresek di sebelah rengginang Adek, di kursi kayu ruang tamu sekaligus ruang TV. Setelah tangannya bebas, segera didekapnya sang kesayangan dengan mesra. Tangan kanannya terlingkar di pinggang Adek, yang kiri di pantatnya yang empuk. Ia cubit sedikit untuk mendapatkan reaksi dari Adek.

“Mas, ih!” Adek mengeratkan pelukannya, bergoyang sebal. Payudaranya menempel di seragam Caleb, menekannya, sama seperti si jantan di bawah sana yang mulai menekan celananya.

“Mas mandi dulu,” kata Caleb. “Habis ini kita makan bareng, ya? Tadi Mas mampir beli lamongan.”

YES! Adek berseru kegirangan dalam hati, makanan favoritnya itu. Murah, enak, dan mengenyangkan. Tidak sabar ia menyantap Mas Cal — maksudnya lamongan yang dibawa Mas Caleb.

“Oke,” Adek menjawab, tidak mau terlihat terlalu antusias. Dari kemarin, ia tidak bisa belanja lebih dari dua puluh ribu setiap hari untuk membeli lauk dan sayur. Biasanya Adek memasak oseng kangkung dan membuat sambal, atau sayur bening dan tempe goreng, atau ikan asin dan sayur sop.

Gaji Mas Caleb sebagai tamtama tidak begitu besar. Mereka masih harus sangat berhemat untuk menabung beli rumah, makan sehari-hari, membayar listrik dan air, membeli paketan, mengisi bensin yang harganya kian naik, membeli sabun cuci untuk celana dalam Adek yang cantik itu…

Adek sudah kembali duduk di samping rengginang, helm hijau, dan bungkusan lamongan tadi, pahanya terasa hangat karena menempel dengan plastik lamongan berisi nasi. Ia ambil bungkusan itu dan ia letakkan di meja dapur yang mungil. Dua piring ia pisahkan dari rak, untuk makan nanti.

Sembari menunggu Caleb yang sedang mandi, Adek kembali melanjutkan acara televisi yang tadi ia tonton. Sinetronnya membahas tentang seorang gadis yang jatuh cinta dengan tukang buah yang ternyata adalah seorang CEO organisasi kriminal yang sedang menyamar. Sudah hampir 300 episode dan mereka belum berciuman pula, Adek mendengus.

Tapi dipikir-pikir, dulu Adek pertama kali ciuman dengan Mas Caleb juga sehabis pacaran… Dan cuma sama Mas Caleb saja Adek pernah ciuman. Walau Adek selalu menganggap Masnya itu tampan mampus, suka sekali dipeluk dan apa, tapi Masnya sangat protektif dan menjaga kesucian Adek.

Baju terbuka sedikit? Langsung ditutup. Melirik bikini cantik? Dibelikan daster gombor. Baju basah karena kehujanan? Mas Caleb rela telanjang buat nutupin BH Adek yang nyeplak…

Nah, ‘kan. Jadinya Adek malah bayangin Mas Caleb yang telanjang dada, otot-otot bahunya kekar, lengannya keras dan bisepnya sangat terbentuk. Adek menelan ludahnya, rasanya kisah gadis dan tukang buah yang menyamar tadi tidak se-slowburn Adek sekarang.

Sudah menikah selama seminggu dan belum berhubungan badan sama sekali? Apa, sih, yang Masnya itu tunggu? Adek tiap malam sudah menggesek-gesek pahanya yang berkedut melihat Mas Caleb. Adek tiap dicium tangannya sudah menggerayang turun. Adek tiap dibelai sudah mengeluarkan rintihan enak.

Ceklek.

Pintu kamar mandi PVC berwarna biru itu terbuka, mengayun dan menampakkan Mas Caleb-nya yang hanya memakai handuk saja di sekeliling pinggang. Rambutnya basah, tetesan air masih menetes dari pundaknya, ke bahu, ke dada, ke perutnya.

Adek menelan ludah. Masa bodoh dengan nasi ayam lamongan kesukaanya, Adek mau yang lain.

“Cepet banget mandinya, Mas,” komentar Adek ketika Caleb membuka lemari plastik berwarna-warni yang menyimpan semua pakaian mereka. Tanpa menoleh ke arah Adek, Caleb menjawab.

“Hemat air, Dek,” ucapnya. “Sabun juga udah habis. Nanti habis makan, Mas beli biar besok kamu bisa langsung mandi, ya.”

Adek tidak merespons, sibuk menatap tonjolan di balik handuk Caleb. Masa bodoh dengan malu-malu atau kesopanan, mereka sudah menikah. Adek bisa meminta kewajibannya sekarang.

“Mas,” kata Adek, berjalan mendekati Caleb. “Kamu… Mmm…”

Adek bingung sendiri bagaimana cara mengatakannya. Ia peluk Caleb dari belakang, kulitnya masih dingin. Wangi. Ia tempelkan pipinya ke punggung Caleb, tangannya meraba perut Caleb yang terbentuk sempurna hasil latihan dan olahraga.

“Kenapa, Adek?” tanya Caleb lembut, tangannya melingkupi milik Adek. Ibu jarinya mengusap-usap punggung tangan istrinya itu, diangkat dan dihujani dengan ciuman. “Mas ganti baju dulu, ya.”

“Kalo… nggak usah dipake sekalian gimana?” tanya Adek, wajahnya menghangat di punggung Caleb.

“Apanya yang nggak usah dipake?”

“Itu… Bajunya,” Adek mengeratkan pelukannya, seakan tidak mau Caleb berbalik dan melihat betapa merah wajahnya.

“Hm? Kenapa?”

Adek makin bingung. Bagaimana cara bilangnya, ya?

“Mas sayang Adek, nggak?”

Caleb terlihat mengerutkan kening, tetapi sesimpul senyuman muncul di bibirnya.

“Sayang banget,” Caleb tersenyum, masih mengusap-usap punggung tangan Adek.

“Terus kenapa Mas nggak pernah…” suaranya mengecil. “Kita udah nikah seminggu…”

“Nggak pernah…?” Caleb berusaha memancing adiknya.

“Mas nggak mau… Kaya gitu sama Adek, ya?”

Caleb menghela napas, lalu memutar tubuhnya di pelukan Adek yang sekarang mendongak dan menatap Caleb, matanya berkedip dan bibirnya mengerucut.

“Adek udah siap?” tanya Caleb balik, tidak menjawab pertanyaan Adek. “Mas nggak mau ngeburu-buruin Adek.”

Sekarang gantian Adek yang menunduk malu, lalu mengangguk. “Mau. Udah siap. Adek nungguin.”

Melihat pipi dan telinga Adek yang merah, senyum malu-malu Adek, suara lirih Adek, semua yang dilakukan cantiknya itu hanya membuat Caleb jatuh cinta lebih dalam lagi.

Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, Caleb menarik tangan Adek ke kamar. Diajaknya Adek duduk di kasur yang tipis itu, ditariknya Adek pelan-pelan untuk membantu Caleb membuka handuknya.

Dibimbingnya tangan Adek untuk menyentuh penisnya, ia perhatikan Adek yang sedikit membelalakkan mata. Seringai muncul di bibir Caleb, baru pertama kali kah Adeknya ini melihat penis? Lucu sekali wajahnya.

“Besar banget, Mas,” Adek menahan napas ketika akhirnya ia pegang kebesaran Caleb.

Sentuhan si Cantik itu, sesedikit apapun, mampu membuat Caleb yang tadinya masih bersantai langsung mengeras. Tangannya lembut, hangat, terasa pas. Seperti magnet yang disatukan.

“Mas,” Adek menggerakkan tangannya pelan, ikut menahan napas ketika mendengar napas Caleb yang mulai terengah. “Gini, ‘kan?”

“Adek pinter,” Caleb tersenyum. Diciumnya Adek dengan lembut, lalu ke rahang dan lehernya. Dibukanya kancing piyama Adek satu per satu, disentuhnya payudara Adek. Diputarnya, diremasnya. Diciumnya, diisapnya.

Ciuman Caleb turun ke perut, lalu tangannya melepas celana pendek Adek. Ia tanam hidungnya, bibirnya, lidahnya di balik celana itu. Ia telan segala kepunyaan Adek, membuat cantiknya itu mengerang dan memanggil-manggil namanya. Ia merasakan rambutnya dijambak, paha Adek bergetar, dan cairan manis ia rasakan di lidahnya.

Adeknya sudah siap.

“Cantik,” ucap Caleb sembari mengusap mulutnya, memosisikan diri di antara paha Adek, sebelum ia perlahan — benar-benar perlahan — mulai masuk.

Sempit sekali. Hangat dan licin. Dindingnya memeluk Caleb dengan erat dan rasanya lebih enak dari tangannya sendiri, dari tangan Caleb yang sudah terlatih bertahun-tahun bekerja sendirian.

Mabuk kepayang Caleb dibuatnya, melayang rasanya. Ia tak sadar telah mempercepat gerakan pinggulnya.

“Mas, sakit…” Adek merintih pelan, berpegangan erat pada punggung Caleb yang bergerak di atasnya, menghentakkan pinggulnya dengan berirama. Dikeluarkannya helaan napas pendek-pendek, dengan suara desahan sesekali tergelincir dari bibirnya.

“Sakit?” mendengar rintihan Adek, Caleb berhenti dan menatap gadisnya itu. “Maaf, ya, Sayang. Mas pelan-pelan.”

Hentakan Caleb tadi berubah menjadi dorongan lembut, dengan jemari panjangnya turun menggerayang dan menari-nari di atas bibir Adek yang lain; berputar-putar, memijat lembut lipatan-lipatan, bergerak bebas dibantu pelicin alami. Erangan tak dapat ia tahan ketika melihat wajah Adek, kedua mata cantiknya berkedip-kedip dengan cepat. Bibir ranum istri mudanya itu terbuka, mengeluarkan suara-suara indah yang membuat penis Caleb semakin keras. Ia keluarkan erangan pelan karena itu.

“Tahan, ya, Adek,” bisik Caleb, dirinya pun mabuk kepayang. “Masih sakit?”

Adek tidak menjawab. Matanya masih berputar di angkasa, mencari-cari pegangan selain punggung Caleb yang sudah mulai licin karena peluh. Pinggangnya kelojotan menerima kebesaran Caleb, sungguh rasanya penuh sekali. Bahkan suaminya itu belum masuk keseluruhan, masih membuka dan menunggu sang empunya liang mengizinkan pria itu sepenuhnya.

“M–mas,” Adek merintih, kukunya menancap di punggung Caleb. “Mas Caleb…”

Mendengar namanya dilantunkan dengan begitu indah dari bibir Adek membuat Caleb mengesah. Tinggi ia dibuatnya. Rasanya bisa keluar kapan saja, bahkan hanya dari alunan manja Adek akan namanya. Pria itu memejamkan matanya sesaat, sebelum kembali membukanya dan bertanya, “Masih sakit? Adek sayang?”

“Eng–enggak,” Adek menatap Caleb, kedua alisnya bertaut tinggi. “Udah enak–ah!”

Caleb menghentak sekali, secara refleks otaknya mengendalikan tubuhnya setelah mendengar Adek melontarkan kata-kata yang sebetulnya biasa saja dalam konteks sehari-hari. Namun begitu lemahnya Caleb akan gadisnya, yang sudah menjadi wanitanya — semua yang dilontarkan bisa membuatnya mencurat cepat-cepat.

“Boleh Mas masukin semuanya?” tanya Caleb, memelankan ritme pinggulnya untuk sedikit bernapas. Seharian sudah ia cabuti rumput di depan markas, sudah ia sapu jalanan di tepi lapangan, sudah ia antar komandannya kesana-kemari. Menjerit otot-ototnya, minta dipijat, tetapi melihat Adek menggelinjang tak keruan di bawahnya, memanggil-manggil namanya, telanjang dengan payudara empuk dan manis terbuka hanya untuknya, rasanya Caleb bisa melakukan ini setiap malam.

“Besar banget, Mas… Nggak cukup,” Adek mengeluh. Di ujung kedua matanya terkumpul air mata, entah dari rasa sakit atau rasa yang lain.

“Pelan-pelan, ya, Manisku,” Caleb berbisik di bibir Adek sebelum menyapu ranumnya birai sang istri, melumatnya sembari menyelipkan erangan-erangan yang dibalas dengan desahan-desahan manis. “Tarik napas.”

Merasakan Adek yang mulai rileks, merasakan jemari gadisnya itu meraba dadanya, lantas menyentil dan memutar putingnya, Caleb masuk semakin dalam sampai keseluruhan miliknya disambut Adek. Cantiknya itu begitu sempit, begitu nyaman. Dindingnya memeluk Caleb dengan nikmat, seperti penantian lama.

“Mas, mentok banget…” Adek kembali mengerang, tetapi kali ini tidak ada tangisan. “Enak banget, Mas… Mas Caleb…”

Caleb menambah ritmenya. Napasnya menderu, keringat menetes dari kening ke lehernya, lalu ke dadanya, dan menetes ke payudara Adek yang menjadi asin ketika ia memutarkan lidahnya di sana. Tangannya menumpu badan dan bibirnya naik, sibuk melumat bibir Adek sekarang, merasakan manisnya lidah yang selalu memanggil namanya dengan lembut. Erangan dan desahan kenikmatan memenuhi seisi ruang, menambah kepusingan keduanya akan rasa kepuasan yang mulai muncul.

“Mas!” Adek memekik semakin tinggi, desahannya begitu merdu di telinga Caleb mulai tak bisa mengontrol temponya lagi. Pinggulnya bergerak begitu cepat, menghentak dengan mantap dan penuh, mengejar titik puas yang sebentar lagi ia dapatnya.

Kipas angin kamar ikut mengerang, harus dipukul terlebih dahulu supaya tidak bersuara. Caleb tidak punya waktu untuk memukul kipas angin jadul yang baling-baling dan jaringnya sedikit menggelap akibat debu yang menumpuk di sana. Caleb tidak punya waktu untuk membersihkan kipas angin jadul yang sekarang meniupkan angin sejuk ke pantatnya, yang bergerak meniupkan angin sejuk ke betisnya, lalu ketika angin itu kembali menium ke pantatnya, Caleb tidak tahan lagi.

“Adek,” Caleb membisikkan nama sang kekasih; yang rasanya ingin ia teriakkan nama Adek, jika tidak ada tetangga persis di balik tembok. “Adek. Ah, Adek…”

“Mas Caleb!” Adek membalasnya. Kedua matanya sudah berkedip bak lampu dengan kabel yang dimakan rayap, seperti lampu dapur yang harus diganti Caleb kemarin. Dicakarnya punggung suaminya itudalam-dalam hingga kemerahan seperti diurut koin. “Mas! Enak, Mas! Aah!”

“Adek,” Caleb menggeram, pinggulnya semakin liar. Napasnya menderu kencang sekali, “Mas mau keluar, Sayang…”

“Di dalem, Mas,” suara Adek mengecil, hampir kalah dari kenikmatan yang semakin memuncak. “Ah, Mas Caleb!”

Caleb menggeram, alisnya menyatu dalam-dalam, “Mas mau keluar. Adek. Adek. Adek. Adek!”

Sebuah erangan panjang membuat Adek kelojotan, dipeluknya kencang-kencang Caleb yang masih menggeliat seperti cacing di bawah terik mentari. Rasa hangat yang menyebar membuat Adek terasa melayang, bintang-bintang terlihat berkedip dengan begitu terang di sekitarnya. Atap asbes yang menghitam karena menampung bocor tiba-tiba terlihat sangat menawan. Kasur tipisnya dengan sprei yang sudah dua minggu tidak diganti itu terasa seperti lautan kapas yang siap menerbangkan Adek ke langit ketujuh.

Napas Caleb yang masih menderu dekat di telinganya menjadi pemantik puncak kepuasan Adek, ia turunkan jemarinya sendiri ke sana, diputar-putarnya, ditekan, pergerakan apapun untuk memantik gairah Adek yang akhirnya menyusul Caleb yang masih memasukkan dan mengeluarkan penisnya dengan cepat, padahal sudah ia keluarkan semuanya di dalam Adek.

“Mas, aku… Ah!” bahkan Adek tak dapat menyelesaikan kalimatnya ketika gelombang kenikmatan menghantamnya keras-keras. Dielukannya nama Caleb lagi ketika Adek masih berada di puncak kepuasan yang bertahan lama. Seperti ikan tak dapat air Adek dibuat Caleb, megap-megap tak keruan, kelojotan bak disiram air panas.

Tak peduli tetangga samping rumah mendengarnya. Paling-paling Mas Gideon besok pagi sibuk cengar-cengir sambil memanaskan motornya di depan rumah.

“Sayang,” Caleb mengusap peluh di dahi Adek. “Keluar juga, ya? Enak?”

“Hmm,” Adek hanya mampu mengangguk sembari berdengung, dadanya naik turun, putingnya masih keras sekali. Caleb tertawa melihatnya, mengecup ujung hidung Adek, lalu turun ke dagunya, lalu ke tulang selangka, dan ke payudaranya. Ia kecup pelan, sebelum diisapnya puting Adek, ia putar di dalam mulutnya. Tangan kirinya memijat pelan payudara yang lain, lembut dan tidak beraturan.

“Mas,” Adek memanggil Caleb yang segera mendongak. “Haus.”

Caleb tersenyum mendengar kepolosan manisnya itu, segera menegakkan punggungnya, sejenak memandang Adek yang masih terbaring di ranjang. Sprei sudah kemana-mana. Rambut hitamnya kesana-kemari, menempel di dahi dan di leher akibat keringat dan pengapnya ruangan. Kulitnya penuh dengan ruam-ruam merah pekerjaan bibir Caleb.

Peluh membuat gadis itu bersinar, tetapi lebih dari itu. Ada aura tersendiri yang membuat Caleb mengeras lagi hanya dengan melihat sang istri terbaring dengan dada naik turun mengatur napas, mungkin masih membayangkan nikmatnya puncak kepuasan barusan. Bagaimana bisa ia melakukan ini semua, untuk pertama kalinya, dengan wanita sempurna ini?

Aku benar-benar beruntung. Mungkin begitu pikir Calb saat ini, sebelum beranjak dari kasur untuk mengambil gelas hadiah kopi instan dan diisi air keran yang sudah dimasak tadi pagi. Oh, tidak. Mendengar deruan napas Adek dari dalam kamar saja saja membuatnya ingin keluar lagi. Mantra apa yang dilancarkan gadis–wanita–itu kepadanya? Mengapa ia begitu terpikat?

Adek sadar betul ia baru saja berhubungan dengan Caleb, menjalin kasih dengan sebegitu membaranya untuk pertama kali. Selama tumbuh besar dengan Caleb, tidak pernah terbayang Adek akan bersetubuh dengan Mas kesayangannya itu…

Ia curiga, apakah Caleb berbohong padanya? Pria itu mengaku belum pernah berhubungan badan dengan siapa pun sebelumnya, tetapi mengapa rasanya begitu… Nikmat? Memang sungguh ngilu di awal, tetapi Caleb begitu lembut membimbing Adek sampai-sampai terlintas, siapa saja wanita yang pernah dibimbing Mas Caleb seperti itu?

Menerima uluran gelas dari Caleb membuat Adek menatap suaminya dari depan. Suami. Suami. Masih belum familiar, tetapi Adek betul-betul menyukainya. Betapa lembut suaminya. Betapa sabar suaminya. Betapa besar. Adek kira itu tidak akan cukup ketika melihatnya tadi, tersembunyi di ujung jalinan jejak dari bawah pusarnya. Di bawah perut dengan otot-otot yang lembut, terlihat seperti roti sobek yang dulu sering dibeli Adek untuk sarapan.

Mungkin mulai sekarang Adek bisa sarapan dengan roti sobek yang ini.

Sama-sama matang dan cokelat, dan manis, dan enak. Jauh lebih enak. Di bawah dua dada bidang yang sering Adek jadikan tempat bersandar, yang rasanya sangat nikmat untuk menjadi bantal.

Pria sempurna ini adalah suaminya? SuamiNYA? Benar-benar milikNYA?

“Mas…” Adek memanggil Caleb setelah berterima kasih dan meneguk airnya. Ia letakkan di keramik putih, di samping kipas angin yang masih bersuara heboh, seakan mengejek betapa kerasnya mereka berdua tadi.

“Hm?” Caleb mengambil gelas itu dan meletakannya agak sedikit jauh, takut tersenggol dan pecah. Mereka tidak punya banyak gelas untuk saat ini. Ia lantas kembali ke sisi Adek, mengusap keringat yang membuat sprei lembab. “Kenapa, Sayang?”

“Mau lagi…”

Nasi lamongan sudah menjadi dingin. Adek milih makan malam pakai yang lain.


메타데이터
post_id
a513695dbffd
slug
pemasukan-dan-pengeluaran-a513695dbffd
url
https://medium.com/@jangkarbumi/pemasukan-dan-pengeluaran-a513695dbffd
canonical_url
https://medium.com/@jangkarbumi/pemasukan-dan-pengeluaran-a513695dbffd
author_url
https://medium.com/@jangkarbumi
status
ok
fetched_at
2026-07-25 03:32:15