Tentang Bunda
Detik ini, tubuh dan jiwaku sudah tidak sanggup lagi menerima kesan indah darimu, Bunda. Sudah terlalu menumpuk limpahan cintamu itu dalam…
Tentang Bunda
Detik ini, tubuh dan jiwaku sudah tidak sanggup lagi menerima kesan indah darimu, Bunda. Sudah terlalu menumpuk limpahan cintamu itu dalam diriku ini. Maka, izinkan aku untuk mencurahkan dulu segala kesan cantik yang telah kau beri, sehingga nanti, tubuh dan jiwaku akan kembali siap menerima nada-nada cinta baru darimu lagi-
Sudah ribuan-bahkan ratusan kali aku katakan, salah satu hal yang paling aku syukuri dalam hidup ini adalah bisa lahir dari rahim seorang ibu yang sangat luar biasa. Aku memanggilnya Bunda. Bunda adalah wanita kelahiran Jakarta, tahun 1980. Wajahnya putih bersih, hidungnya mungil, kedua matanya besar, dan sederet giginya amat rapi. Bunda orang yang murah senyum. Kalau dia tersenyum, wah, aku berani bilang bahwa gula kalah manisnya. Hahaha, dia pasti bakalan salah tingkah kalau baca bagian ini.
Menurutku, Bunda punya tubuh yang ideal. Tingginya semampai, pinggangnya ramping, dan bokongnya terbentuk dengan ukuran sempurna. Tapi dia selalu merasa tidak percaya diri karena banyak orang yang bilang kalau tubuhnya itu gemuk dan berisi. Pokoknya Aku adalah garda terdepan yang kerap menjadi sosok pemberi asupan afirmasi positif jika Bunda mulai bertanya “Kak, bunda emang gendut banget, ya?” atau “Kak, bokongku kok gede banget, ya?”
Sebenarnya, aku yakin, pasti dia nggak bakalan percaya dengan kalimat afirmasi yang aku ucapkan kepadanya, tapi setidaknya dia udah nggak terlalu mikirin lagi tentang tubuhnya itu. Waktu itu, Bunda sempat ikut program diet, tapi aku nggak tega lihatnya, dia benar-benar tersiksa selama sepuluh hari.
Bunda adalah sosok yang humoris, dia gampang banget ketawa dengan hal receh- sebelas dua belas sama aku. Dia sering banget nge-jokes atau bercerita tentang hal lucu yang terkadang maksud dari ‘lucu’ nya itu cuma aku dan dia aja yang paham. Dari beragam jenis dan bentuk teman yang sudah aku temui selama hidup, cuma Bunda sosok teman yang paling sesuai dengan kriteriaku. Pokoknya mau curhat tentang apapun itu, Bunda selalu siap mendengarnya tanpa menghakimi. Kalau boleh bilang, Jujur, Bunda cocok banget jadi Psikolog daripada dosen teknik sipil, aww…
Banyak sekali hal yang sudah aku lalui bersama Bunda. Dari zaman Bunda masih memiliki kesabaran setipis tisu dibagi dua, pemarah, dan gampang tersulut emosi sampai menjadi sosok ibu peri yang baiknya minta ampun seperti sekarang ini. Ya, sebelumnya aku mau berterima kasih dulu sama Covid-19 karena selain dampak negatif, ada juga dampak positifnya buat aku. Kalau nggak ada virus Covid-19 mungkin aku nggak bakalan punya banyak waktu berharga yang bisa aku habiskan bersama Bunda.
Ketika aku masih kecil dulu, Bunda sibuk banget kerja. Sampai-sampai sosok aku kecil tuh selalu berdoa sama Tuhan biar setiap hari diturunkan hujan deras, supaya Bunda nggak bisa berangkat kerja dan bisa bersamaku terus. Selain sibuk kerja, Bunda juga sering marah, baik itu menyangkut tentang hal kecil yang aku lakukan atau hal besar sekalipun. Hahaha, suka mau ketawa kalau inget dulu aku pernah nangis parah dimarahin Bunda gara-gara beli skincare dari online shop. Sumpah yaa, Bunda itu kalau marah gila banget, aku bisa dibuat nangis se-nangis-nangisnya. Nada tingginya, kedua mata merahnya, dan dinginnya suasana kala itu masih terekam jelas dibenakku sampai detik ini.
Hari-hari yang sudah aku jalani bersama Bunda itu ibarat tahapan alur cerita, dari mulai orientasi, komplikasi, sampai…(aku nggak bakalan sebut resolusi). Banyak pelajaran berharga yang aku dapat dari Bunda. Bunda adalah definisi seorang ibu yang memang siap untuk menjadi seorang ibu. Bagiku, Bunda tidak hanya figur seorang ibu tetapi juga seorang sahabat, teman, kakak, bahkan guru.
Bunda selalu mendukung apapun yang sekiranya membuatku bahagia. Ya, contohnya, sejak kecil aku sudah di doktrin dia untuk menjadi seorang dokter karena baginya, profesi dokter punya masa depan yang cerah. Aku ingin membuatnya bangga dengan bertekad untuk menjadi seorang dokter. Tetapi nyatanya, aku tidak bisa. Aku lebih suka Psikologi, bukan kedokteran. Bunda awalnya kecewa dengan pilihanku, Tapi dia berusaha percaya kepadaku. Dia yakin bahwa aku bisa bahagia dengan pilihanku sendiri. Itu salah satunya.
Salah duanya, mungkin ini hal sederhana, tapi bagiku ini sangat luar biasa, karena aku yakin tidak semua orang bisa merasakannya. Ya, Bunda mendukungku dalam kegiatan fangirling. Tidak pernah aku sangka, wanita sekalem Bunda mendukung penuh anaknya ini untuk selalu bersenang-senang dengan ketujuh pacar halunya-Enhypen. Demi aku, Bunda merelakan playlistnya yang dipenuhi alunan lagu pop era 70 sampai 90-an menjadi penuh oleh lagu pop korea. Bunda juga pernah mengantarku ke event pop up store Fate+ Enhypen yang letaknya sangat jauh dari rumah. Benar-benar definisi dari ujung ke ujung, hiks.
Aku tahu Bunda mungkin muak dengan semua ini, tapi lagi-lagi, dia selalu berusaha menghargai segala hal yang bisa membuatku bahagia.
Suatu hari nanti, aku juga akan menjadi sosok Bunda bagi anak-anakku. Aku akan meng-implementasikan segala kebaikan Bunda. Aku sayang banget sama Bunda, semoga Tuhan kasih aku waktu untuk bisa membuat Bunda bangga dan bahagia selama masih di dunia yang fana ini. I love you so much, Bunda, semoga Bunda selalu sehat dan dalam lindungan Tuhan, Aamiin.

Bunda…
메타데이터
- post_id
- a51e4bee94db
- slug
- tentang-bunda-a51e4bee94db
- url
- https://medium.com/@sofieutami05/tentang-bunda-a51e4bee94db
- canonical_url
- https://medium.com/@sofieutami05/tentang-bunda-a51e4bee94db
- author_url
- https://medium.com/@sofieutami05
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16