Lelah Menjadi Satu-Satunya yang Selalu Datang
Foto oleh Josh Gordon di Unsplash
Lelah Menjadi Satu-Satunya yang Selalu Datang
Foto oleh Josh Gordon di Unsplash
“Kok kamu nggak pernah ke rumahku lagi?”
“Kok kamu nggak pernah ke sini?”
“Kok kamu nggak pernah jenguk?”
“Kok kamu nggak pernah datang ke rumah saudaramu lagi?”
“Kok kamu nggak pernah?”
“Kok kamu nggak…?”
Lalu perlahan muncul kalimat-kalimat lain yang terasa lebih menusuk.
“Udah nggak nganggap aku teman, ya?” “Kamu udah nggak nganggap aku saudaramu, ya?” “Sombong.” “Kamu berubah.”
Jujur, lelah.
Setiap orang yang dulu paling sering kudatangi, paling sering kusambangi, dan rumahnya selalu menjadi tujuan ketika ada waktu luang, pada akhirnya membuatku bertanya dalam hati:
Kok yang terus berusaha aku saja, ya? Karena kalau dipikir-pikir lagi, mereka tidak pernah datang ke rumahku. Tidak pernah berkunjung ke tempatku. Bahkan sering kali tidak pernah menanyakan kabarku terlebih dahulu.
Padahal rasanya akan jauh lebih menyenangkan jika pertanyaannya disampaikan dengan cara yang berbeda.
"Kamu kok sudah lama nggak ke sini? Lagi sibuk, ya? Kalau ada waktu kabari aku, nanti aku yang ke tempatmu."
Bukankah kalimat seperti itu terasa lebih hangat?
Atau mungkin:
"Kalau nggak bisa ketemu di rumah, bagaimana kalau ketemu di luar saja? Yang penting kita sempat ngobrol. Siapa tahu kamu juga sedang butuh teman."
Karena tidak semua orang nyaman rumahnya dikunjungi. Tidak semua orang punya waktu dan tenaga yang sama seperti dulu. Dan tidak semua jarak bisa ditempuh dengan mudah setiap saat.
Bukan berarti tidak ingin bertemu. Kadang hanya lelah menjadi pihak yang selalu berusaha.
Ada saatnya seseorang yang terus berjalan mendekat mulai bertanya, apakah ada yang mau berjalan ke arahnya juga?
Sebab menjadi orang yang selalu mengusahakan sebuah hubungan ternyata melelahkan. Sedikit demi sedikit muncul keinginan untuk memikirkan diri sendiri dan bertanya:
Kapan giliran kamu yang datang ke rumahku? Kapan kamu yang menyempatkan waktu untuk menemuiku? Kapan hubungan ini terasa diusahakan oleh kita, bukan hanya aku?
Namun anehnya, ketika aku mulai berhenti melangkah sendirian, justru aku yang dianggap berubah.
Aku yang dianggap menjauh.
Aku yang dianggap sombong.
Berbagai alasan pun bermunculan.
"Kamu yang muda, ya kamu saja yang ke sini." "Masa yang tua harus datang ke tempatmu?" "Rumahku jauh, sedangkan kamu dekat." "Aku nggak bisa naik motor." "Aku nggak punya kendaraan." "Aku malu." "Mager ah, kamu saja yang ke sini."
Alasan-alasan yang terdengar begitu wajar hingga akhirnya kutelan bulat-bulat. Seolah jawaban yang diharapkan selalu sama:
"Ya sudah, nanti aku ke sana." "Iya, besok aku mampir." "Habis kerja aku ke tempatmu." "Nanti malam aku usahakan datang."
Dan aku melakukannya.
Berulang kali.
Sampai akhirnya muncul satu pertanyaan yang tidak lagi bisa kuabaikan:
Sampai kapan?
Karena hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling sering datang, siapa yang paling banyak berkorban, atau siapa yang paling besar usahanya. Hubungan yang baik adalah ketika kedua pihak sama-sama menjaga agar tali silaturahmi tidak putus.
Seperti peribahasa, "tepuk sebelah tangan tidak akan berbunyi." Sebanyak apa pun usaha seseorang, akan sulit terasa hangat jika tidak ada usaha yang datang dari arah sebaliknya.
Aku tidak marah.
Aku juga tidak sedang menghitung siapa yang lebih banyak memberi atau mendatangi.
Aku hanya sedang lelah.
Lelah menjadi orang yang selalu berangkat lebih dulu. Lelah menjadi orang yang selalu menghubungi lebih dulu. Lelah menjadi orang yang selalu mengusahakan pertemuan lebih dulu.
Mungkin untuk kali ini, aku hanya ingin diam sejenak.
Bukan karena tidak peduli. Bukan karena sombong. Bukan karena berubah.
Aku hanya ingin tahu, apakah ada yang akan mencariku ketika aku berhenti melangkah lebih dulu.
Karena sesekali, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi tujuan, bukan selalu menjadi orang yang menuju.
메타데이터
- post_id
- a52b1925798b
- slug
- lelah-menjadi-satu-satunya-yang-selalu-datang-a52b1925798b
- url
- https://medium.com/@gikikrisna/lelah-menjadi-satu-satunya-yang-selalu-datang-a52b1925798b
- canonical_url
- https://medium.com/@gikikrisna/lelah-menjadi-satu-satunya-yang-selalu-datang-a52b1925798b
- author_url
- https://medium.com/@gikikrisna
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 07:00:49