Skygazing
Tahu ga, aku merasa, langit itu seakan-akan memang tercipta untuk menghiburku, menghibur siapa pun yang melihatnya. Aku senang sekali…
Skygazing
Tahu ga, aku merasa, langit itu seakan-akan memang tercipta untuk menghiburku, menghibur siapa pun yang melihatnya. Aku senang sekali memandangnya lama-lama.
Pas aku sadari, ternyata dari kecil aku udah penasaran banget sama langit. Waktu itu sore, aku ambil satu kursi plastik di depan rumah. Duduk tegak. Bertekad. Ga boleh mengedipkan mata sama sekali sampai melihat perubahan warna langit secara real time. Jaman SD kelas dua, mana tahu ada teknologi kamera timelapse. HP aja ga punya.
Tapi tahu bagaimana akhir cerita bocah kecil penasaran ini? Setelah sekian menit aku berusaha tetap membuka mata, tiba-tiba aja mataku berkedip, dan seketika warna langit sudah berubah!

source: pinterest
Itu memori yang masih tersisa. Saat itu aku mengambil kesimpulan, bahwa ada sejenis saklar lampu yang ditekan untuk mengubah warna langit, dan kesimpulan lainnya bahwa Allah merahasiakan perubahan warna langit itu dari mata manusia, sampai mataku aja dibuat berkedip tiba-tiba biar ga melihat perubahan warnanya secara real time.
Setelah dewasa, belajar tentang pergerakan Matahari, benda-benda langit, Bumi yang berotasi. Ya, Allah tidak pernah menyembunyikan kehebatan-Nya. Aku saja yang memang belum belajar.
Kenapa merasa terhibur saat melihat langit?
Menurutku, keindahan warna dan coraknya nggak pernah gagal.
Subuh, terbit, dhuha, dhuhur, ashar, maghrib, isya’ dengan berbagai warna dan coraknya yang selalu berganti, bagaikan lukisan terindah yang pernah ada. Lukisan yang ga ada tandingannya.
Waktu tahajud menjelang subuh, warna langit masih sangat gelap. Aku biasa mendongak ke atas, mencari bintang dan bulan yang bertaburan di sana. Kemudian tersenyum menyapanya. Oh, hai Sabit. Kita mau masuk bulan baru. Oh, ada Kejora juga, bintang paling bersinar di sebelahnya.
Kalau mereka tak muncul, aku bergumam, “Ke mana perginya bintang-bintang di langit Ciputat?” Mungkin mereka tertutup awan mendung. Walau terkadang sedih tak bisa melihat bintang bulan, tetap diri ini sangat bersyukur. Karena tandanya, Allah masih izinkan aku untuk bangun dan melihat langit lagi.
Teringat saat masih di Kairo, langit jarang sekali mendung, bahkan bisa terhitung jari saking jarangnya. Aku pun biasa tinggal di lantai paling atas, dimana langit benar-benar terhampar luas di mata ku. Ma Sya Allah, indah tak terkira.

Langit di Kairo
Subuh menjelang terbit. Salah satu mahakarya terhebat Allah atas langit. Teringat saat melihat matahari terbit dari atas Gunung Sinai. Perlahan matahari memunculkan biasnya, biru yang gelap mulai ter-gradasi dengan bias cahaya matahari. Warna-warni indah yang sangat menakjubkan siapapun yang melihatnya. Keindahan yang nggak bisa bikin orang memalingkan pandangan darinya. Bisa kalian bayangkan betapa indahnya, bukan? Bahkan kamera secanggih apa pun tidak bisa menangkap keindahannya persis se-mengagumkan aslinya.

Sunrise Sinai Moutn
Pada saat-saat seperti itu, aku merasa Allah juga hadir di dekatku.
Sungguh, itu yang kurasakan setiap tersiram lembut sinar matahari di waktu beranjak ke dhuha. Teringat, saat masih di pondok, kelas 6 (kelas 12) akhir KMI. Aku biasa jadi remaja masjid. Dari Isya’ tidak kembali ke asrama sampai waktu dhuha. Saat matahari mulai naik, memancarkan kehangatannya, saat itulah aku bergegas melaksanakan shalat dhuha, mencari sudut di masjid yang terkena sinar matahari. Kalau shalat di bawahnya, kemudian berdoa, seakan sedang disoroti oleh cahaya ilahi (kata orang-orang). Ku pandangi sinarnya yang lembut. Sungguh, rasanya seperti Rahmat Allah juga ikut menyentuhku lembut.
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah malam dan siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. Al-Fussilat]: 37)
Jelas aku tidak shalat pada matahari. Aku sungguh sangat kagum pada penciptanya. Dan merasakan kasih sayang Allah lewat cahayanya.
Menuju siang, matahari semakin naik ke atas. Biasanya kita menghindari aktivitas langsung di bawahnya. Namun, memandangi warna langit saat tengah hari itu, ga kalah menyenangkan. Biru yang terang dan cerah. Terkadang dihiasi dengan awan-awan putih bergumpal. Di mana pun posisiku saat itu, langit siang yang cerah tetaplah indah.
Kalau lelah dan penat di siang hari, menengok ke arah langit seperti memberi kekuatan, Ayo lebih semangat! Pancarkan banyak kebaikan, sebagaimana langit juga memancarkan keindahan di siang hari! Ya, seakan-akan dia berkata itu padaku.
Walau kalau di Bogor langit siang lebih sering mendung, tapi aku tetap suka dengannya dan hujan yang turun darinya. Warnanya yang kelabu, seakan mengajak aktivitas padat untuk terurai. Bukan membawa kesedihan, atau kenangan buruk, tapi membawa ketenangan dan kesejukan. Ya, aku tetap tersenyum memandang langit kelabu itu.
Menuju sunset, momen yang disukai semua manusia. Ya, termasuk aku juga.

sunset di pantai
Kamu tahu kan, warna biru muda, pink, ungu, kuning, orange, merah, semua warna ada di waktu matahari mau beranjak pergi. Teriknya pun telah hilang, diganti dengan angin sepoi yang sejuk, menuju dinginnya malam. Langit senja, dari sudut mana pun kita memandangnya, tetap indah.
Bahkan malam dengan bintang yang menghiasinya.
…وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ
Sungguh, Kami benar-benar telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang,… (QS. Al-Mulk: 5)
Teringat saat sedang berkunjung ke daerah perkebunan kurma Matrouh Siwa, daerah yang jauh sekali dari polusi cahaya perkotaan. Saat maghrib saja, langit benar-benar penuh dengan butiran bintang. Seakan-akan tidak ada satu jengkal pun yang kosong dari cahayanya. Indah Ma Sya Allah tak terkira.
Dan yang paling buat ku suka melihat langit, saat menjelang pulang nya matahari dan seluruh manusia ke rumah masing-masing, setelah letih dan penat dengan aktivitas seharian, yang terkadang baik terkadang terasa buruk, saat itulah ku tatap langit lamat-lamat dengan senyuman,
Masih ada harapan di hari esok, jika Allah mengizinkan.
Dan ternyata, setelah ditadabburi lagi, Nabi Muhammad SAW., role model hidupku dan kamu, juga menengok ke langit saat beliau berharap pada Allah.
…قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ
Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit… (Al-Baqarah · Ayat 144)
Saat itu, beliau berharap dalam hatinya, tidak mengucapkan harapan dengan lisannya. Dan ya, jelas Allah mendengarkan manusia yang paling dikasihi-Nya.
Sejatinya, ke mana pun kita mengarah, selama harapan kita gantungkan pada Allah, Allah pasti akan mendengarnya. Namun, berharap pada Allah sambil melihat langit, ada perasaan yang ga bisa dijelaskan, perasaan optimis dan penuh harap, hanya pada Allah sang Pemilik Segalanya.
Jadi, seburuk dan seberat apa pun hariku dan kamu, langit tetaplah sama, tetaplah indah.
Dan di mana pun itu kakiku berpijak, pasti ada langit yang sama di atasnya. Seakan kita semua juga terhubung dengan langit Allah. Langit di atas tanah Palestina, dan di atas tanah yang kupijaki sekarang, juga langit yang sama. Maka lihatlah ke atas, berharap dan berdoalah.
Sungguh, ada bukti kuasa Allah di sana.
Kalau Allah sangat mampu membuat langit seindah itu, apa yang sulit bagi Allah untuk membuat kisah hidup kita juga menjadi sangat indah?
메타데이터
- post_id
- a52d2efe8d02
- slug
- skygazing-a52d2efe8d02
- url
- https://medium.com/@at1kah.sayy1dah99/skygazing-a52d2efe8d02
- canonical_url
- https://medium.com/@at1kah.sayy1dah99/skygazing-a52d2efe8d02
- author_url
- https://medium.com/@at1kah.sayy1dah99
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 04:07:45