Kacamata
Beberapa waktu lalu saya memeriksakan mata saya untuk pertama kalinya.
Kacamata
Beberapa waktu lalu saya memeriksakan mata saya untuk pertama kalinya.
Sejak kuliah saya pakai kacamata, tapi bukan karena mata saya minus. Mata saya mudah iritasi dan cukup sensitif karena debu sehingga membuat saya rajin membawa insto ke mana-mana. Screen time saya juga tinggi dalam keseharian, jadi tidak jarang menggunakan lensa anti blue light atau anti radiasi. Tapi tidak pernah karena minus. Saya merasa penglihatan saya baik dan selalu bisa melihat hal-hal di kejauhan dengan jelas. Namun yang bagi saya terasa aneh, setiap kali mengintip via view finder kamera DSLR saya, entah kenapa settingan view finder nya selalu harus dipasang untuk mata plus. Hal itu cukup membingungkan.
Beberapa bulan setelah menikah, Nyonya Princess (begitu saya memanggil istri saya) yang memang rajin me-maintain kesehatan tubuh mengajak saya membeli kacamata baru sekalian melakukan pengecekan mata. Awalnya saya tidak terlalu berminat memeriksakan mata saya dan hanya ingin membeli kacamata hitam saja, tapi kemudian dipaksa.
Setelah diperiksa, ternyata mata saya silinder 1,75. Tentu saja saya kaget. Saya memang merasa terkadang sedikit berbayang namun saya kira normal-normal saja atau sedang lelah dan akan hilang setelah tidur. Saya juga merasa kadang saat memotret lurus, ternyata setelah dicek hasil fotonya di laptop menjadi kurang lurus. Apakah ini hanya distorsi lensa atau mata saya, saya kurang tahu. Tapi setelah mencoba kacamata baru hasil preskripsi, dalam hati saya menjerit.
“LAH, KOK TERNYATA PENGLIHATAN GUE BISA HD BANGET KAYA GINI?!”
Sebentar, apakah selama ini saya terlalu memaklumi dan berkompromi dengan kondisi saya sendiri dan menganggap hal tersebut normal? Apakah sebenarnya saya hidup jauh di bawah standar kenyamanan dan merasa ok dengan itu?
Entah kenapa, setelah dari situ selama beberapa lama berikutnya saya mengalami krisis eksistensial, haha. Pikiran saya terasa seperti menelusuri kembali kehidupan dan masa lalu saya. “Apa aja ya yang selama ini udah gue kompromikan..” “Dalam pekerjaan kah.. Apakah gue sabar-sabar aja waktu menerima bayaran lebih kecil dari semestinya? Apakah gue nggak protes saat mendapat perlakuan yang kurang?” “Dalam pertemanan kah.. Apakah gue menahan diri saat berbeda pendapat dan mengikuti pilihan yang sebenarnya gue kurang nyaman?”
And the list goes on...
Berhari-hari saya memikirkan hal ini hanya karena terpicu kacamata saja, haha. Ada-ada saja ya. Namun seperti tahun-tahun sebelumnya, bulan November selalu menjadi bulan yang penuh refleksi diri karena merupakan bulan di mana saya berulang tahun. Saya belum memikirkan secara menyeluruh doa saya dalam memasuki usia yang baru, tapi saya harap saya bisa semakin menjadi sebenar-benarnya diri saya, sejujur-jujurnya, dengan asertif dan berani dalam berkehidupan.
Looking back 30 tahun ke belakang, jika segala pencapaian saya yang saya anggap sudah sangat banyak itu bisa saya capai tanpa menjadi diri saya yang 100%, kira-kira dengan menjadi diri saya sepenuhnya tanpa batasan, apa yang akan bisa saya raih ya? Bucket list saya masih banyak. Mari lanjut bertualang lagi.
-Biru

Saya sedang main HP, gambar karya Vian Vinpizza
Jika kalian menyukai konten saya, kalian bisa support saya untuk terus berkarya via trakteer. Cek juga konten saya di Youtube dan ocehan tidak jelas saya di X. https://trakteer.id/birusyailendra/tip
메타데이터
- post_id
- a55fa2034ffd
- slug
- kacamata-a55fa2034ffd
- url
- https://medium.com/@birusyailendra/kacamata-a55fa2034ffd
- canonical_url
- https://medium.com/@birusyailendra/kacamata-a55fa2034ffd
- author_url
- https://medium.com/@birusyailendra
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 06:31:53