SUNDA NGAWITAN — SEBUAH PENGANTAR
MENGAPA PERADABAN DIMULAI DARI KOSMOLOGI? Setiap kali kita bicara soal membangun peradaban, kita sering tergoda memulai dari hal teknis…
SUNDA NGAWITAN — SEBUAH PENGANTAR

MENGAPA PERADABAN DIMULAI DARI KOSMOLOGI? Setiap kali kita bicara soal membangun peradaban, kita sering tergoda memulai dari hal teknis. Kita meributkan infrastruktur, angka ekonomi, atau inovasi teknologi. Kita lupa mempreteli satu fondasi paling dasar. Kita jarang membongkar bagaimana manusia memandang alam semesta tempat mereka hidup. Peradaban selalu bermula dari kosmologi. Kosmologi adalah cara sekelompok manusia merakit pemahaman tentang semesta dan posisi mereka di dalamnya. Awalnya, semesta tampak seperti ruang yang asing, tidak berbentuk, dan liar. Kondisi ini kita sebut khaos (chaos). Manusia kemudian merapikan kekacauan itu menjadi wilayah yang punya bentuk dan tatanan agar bisa dihuni. Khaos pun berubah menjadi kosmos. Tata letak desa, aturan makan, sistem kekerabatan, hingga cara kita mengelompokkan hewan lahir dari tatanan ini. Kosmologi bertindak sebagai cetak biru di balik ekologi budaya sebuah masyarakat. Leluhur Sunda memakai kosmologi untuk merancang tata ruang yang menyelaraskan makrokosmos (jagat raya) dengan mikrokosmos (dunia manusia). Mereka memastikan tidak ada satu pun elemen kehidupan yang ditinggalkan. Dasar penggerak dari semua tatanan ini bermuara pada worldview atau pandangan dunia. Setiap peradaban, entah mereka religius, agnostik, atau pengabdi sains sekuler, pasti memiliki worldview yang mengendap di kepalanya. Worldview bekerja seperti lensa kognitif yang fundamental. Lensa ini menyaring arus informasi semesta yang begitu kompleks. Tanpa lensa ini, akal manusia lumpuh. Mereka tidak bisa mencerna realitas, apalagi mengambil keputusan komunal. Lensa inilah yang kemudian membentuk ruang “kita”. Ia melahirkan kesepakatan kolektif soal etika, moral, hukum, dan identitas bersama. Pemahaman antarmanusia untuk membangun sebuah masyarakat mustahil terjadi tanpa adanya worldview yang disepakati. Cara Anda memperlakukan sungai, tanah, atau hutan bergantung seratus persen pada kacamata ini. Jika Anda memakai worldview modern yang antroposentris, Anda akan melihat hutan sebagai komoditas yang sah untuk dieksploitasi. Jika Anda memakai lensa tradisional — seperti Sunda, Ubuntu di Afrika, atau Buen Vivir di Amerika Latin — Anda akan memandang flora, fauna, dan bumi sebagai kerabat yang setara di dalam komunitas kehidupan. Sejarah peradaban adalah sejarah evolusi worldview. Saat kapasitas kognitif kita berkembang, kita mengganti kacamata kita. Kita melihat kosmos dengan cara baru. Lewat proses itulah, sebuah dunia dan peradaban yang baru pun ikut lahir.
MENGAPA KERANGKA GLOBAL GAGAL: YANG ABSEN DALAM SDGS Anda mungkin sering mendengar janji manis tentang Sustainable Development Goals (SDGs). Banyak pihak berharap kerangka global ini bisa menyelamatkan bumi dari kehancuran. Kenyataannya, kita perlu membongkar alasan utama mengapa target-target ini sering kali menemui jalan buntu. SDGs gagal karena ia lahir dari kacamata Barat yang berwatak reduksionis dan neo-liberal,. Kerangka ini memakai logika ontologis yang sama persis dengan penyebab krisis bumi saat ini,. Ada sebuah kontradiksi fatal di dalam SDGs. Kerangka ini memaksa kita melindungi alam sambil terus memacu pertumbuhan ekonomi yang tak terbatas. SDGs percaya penuh pada modal swasta dan pasar bebas untuk membereskan masalah peradaban. Pola pikir ini sangat antroposentris. Manusia ditempatkan sebagai penguasa, dan alam dinilai berharga hanya jika ia berguna bagi kepentingan manusia. SDGs juga menutup mata terhadap akar masalah yang nyata. Kita jarang melihat dokumen global ini menuntut penghentian gaya hidup konsumtif kaum elit atau membongkar monopoli kapitalis. Saat kita membedah SDGs menggunakan kacamata masyarakat adat, ada tiga hal besar yang hilang. Pertama, dimensi biosentrisme. SDGs memandang alam murni sebagai “sumber daya”,. Pandangan lokal seperti Sunda menempatkan alam sebagai kerabat dan subjek hidup, Kita diwajibkan merawat hubungan timbal balik dengan bumi. Kedua, dimensi spiritualitas dan budaya. SDGs terlalu kaku dengan deretan angka dan indikator mekanis. Kerangka ini membuang peran identitas budaya dan etika dari daftar obat penyembuh bumi. Tanpa kesadaran spiritual dari dalam diri manusia, keseimbangan sistem tidak akan pernah terwujud. Ketiga, dimensi kolektivitas. Rumusan SDGs sangat beraroma individualisme. Kosmovisi lokal memandang kehidupan sebagai ruang untuk saling membantu. Kemajuan adalah bentuk pengabdian kepada sesama manusia dan alam. Mari kita lihat Tujuan 8 dalam SDGs. Target ini mengharuskan pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen bagi negara berkembang. Mengejar angka ini secara buta pasti akan memaksa eksploitasi sumber daya secara terus-menerus. Bandingkan hal ini dengan kearifan lokal di berbagai belahan dunia. Konsep Buen Vivir di Amerika Latin memberi alam “Hak-hak Hukum” yang kedudukannya setara dengan manusia. Falsafah Ubuntu di Afrika membangun sistem ekonomi dari praktik tolong-menolong, bukan dari penumpukan modal. Di tatar Sunda, masyarakat memegang aturan Tritangtu yang melarang keras perusakan gunung dan lembah. Ketiga dimensi yang absen ini membuktikan satu hal pasti. Kita tidak bisa menyelamatkan bumi dengan alat yang telah merusaknya. Kita butuh kacamata baru untuk merancang ulang arti kesejahteraan. Sebuah perbaikan sejati mengharuskan kita mengganti kata “pembangunan” dengan konsep “keterhubungan”,. Keseimbangan siklus antara manusia, alam, dan spiritualitas adalah tujuan akhir yang seharusnya kita tuju.
메타데이터
- post_id
- a5be22d42200
- slug
- ngawitan-sebuah-pengantar-a5be22d42200
- url
- https://medium.com/@widianasafaat/ngawitan-sebuah-pengantar-a5be22d42200
- canonical_url
- https://medium.com/@widianasafaat/ngawitan-sebuah-pengantar-a5be22d42200
- author_url
- https://medium.com/@widianasafaat
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 13:13:48