Hopeless Romantic
Entah kapan tepatnya aku menemukan istilah hopeless romantic seperti judul lagu Meghan Trainor itu. Yang jelas, rangkaian kata itu tepat…
Hopeless Romantic

Entah kapan tepatnya aku menemukan istilah hopeless romantic seperti judul lagu Meghan Trainor itu. Yang jelas, rangkaian kata itu tepat menggambarkan kisah cintaku. Hopeless romantic, romatis tanpa harapan.
Secara harfiah, aku memang merasa diriku ada di lembah hopeless romantic. Aku suka hal-hal romantis, meski tak ada harapan. Aku tetap percaya suatu saat akan ada waktunya, meski sampai di titik ini, tidak ada apa-apa. Dan aku selalu bersikap seakan baik-baik saja (ya memang baik-baik saja).
Aku mencoba mengetikkan judul lagu itu di kolom pencarian. Sebuah definisi yang kutemukan berupa; Istilah tersebut merujuk pada sudut pandang seseorang yang menilai bahwa hubungan percintaan mereka seakan baik-baik saja meski kenyataannya tidak demikian. Jadi, apakah hubungan percintaanku bisa dibilang baik-baik saja, ketika aku tidak sedang — dan tidak pernah — ada di sebuah hubungan? Ternyata, dalam artikel yang definisinya kukutip di atas, ada beberapa tanda seseorang dapat dikatakan hopeless romantic, antara lain;
- Terlalu mudah jatuh cinta (tidak, aku sulit jatuh cinta. Sesulit mengakui jika sedang jatuh cinta);
- Terobsesi dengan semua hal romatis (bisa dibilang demikian);
- Jatuh cinta sendiri (sepertinya, dalam setiap penyangkalanku mungkin merupakan poin ini);
- Gairah romansa cepat meredup (aku tidak paham, tapi yang jelas aku orangnya setia, hehehe);
- Mengabaikan peringatan (tidak diabaikan, tapi dipertimbangkan. Cuma, biasanya kalah sama kehendak hati);
- Sering melamun dalam hubungan cinta (melamun itu pasti, tapi jujur aku tidak paham poin ini);
- Jarang langgeng (tentu aku tidak pernah ada di tahap ini).
Artikel lain yang kubaca adalah POPBELA. Laman itu, dulu, dulu sekali, sering kukunjungi untuk melihat info perzodiakan (penganut zodiak termasuk hopeless romantic bukan ya?). Penjelasan di artikel itu, tidak jauh beda dengan di artikel sebelumnya. Namun, sepertinya lebih valid karena disertai kutipan narasumber yang namanya asing untukku.
“Orang hopeless romantic sering jatuh cinta dengan gagasan tentang seseorang dan bukan orang yang sebenarnya,” kata konselor berlisensi Shanta Jackson, LPC.
Sial, kurasa, aku demikian.
Intinya, orang hopeless romantic jatuh cinta pada orang baik yang dalam segala hal cocok dengan dirinya, dan juga cinta padanya. Padahal semua itu cuma ada di pikirannya sendiri. Tapi, katanya, orang hopeless romantic tidak sadar akan hal itu. Sedangkan aku, aku selalu sadar dan tahu diri. Karena itulah aku tetap ada di titik ini dengan pasang surut perasaan yang kualami dan kuatasi sendiri.
Seseorang bernama Kendra Allen, dalam artikel yang sama bilang, kalau enggak masalah percaya pada cinta sejati, menghargai romansa, dan menginginkan hubungan kayak di cerita dongeng. Dalam kasusku, aku enggak pernah muluk tentang pasangan. Tapi, aku juga percaya kisah cinta kayak di drakor itu ada. Aku juga enggak berharap, sih, (pernah kepikiran aja, hehe) jadi salah satu yang punya kisah itu. Kenapa? Ya, pikir aja sih, jangankan kisah dongeng, kisah cinta biasa aja aku enggak punya. Maksudku, I don’t even have a chance to love someone else. Kisah drakor yang mampir di hidupku, genrenya sedih melulu. Kalaupun ada yang romance, aku cuma jadi figuran. Mentok, second lead (baca: badut) aja.
Jadi, kurasa, aku tidak sebegitu hopeless romantic-nya. Tapi, jika ada istilah untuk menyebut orang yang lebih hopeless dari hopeless romantic, ya itu deh aku. Sad girl? Ahahaha, istilah lama yang klise. Tapi, itu juga boleh. Memang demikian kan.
Kadang, saat mengobrolkan prihal ini dengan teman sejawat yang sama-sama tidak dalam sebuah hubungan, aku tidak menemukan pencerahan sama sekali. Alih-alih, aku sudah punya jawaban di pikiran. Jawaban itu menyabotase diriku yang (mungkin) picky ini. Ketidakmauan (baca: ketidakmampuan) untuk menjalin hubungan percintaan membuatku merasa istimewa, padahal aku ya sama dengan banyak sad girl(s) di luar sana. I’m an ordinary person — who doesn’t have anychance (dan sok idealis).
Mungkin banyak solo player di luar sana yang penasaran bakal dapat jodoh darimana, lalu menerka dan mencoba. Dalam kasusku, aku ya demikian. Kurasa, opsi terkaanku lebih banyak dari mereka. Tentu kubumbui dengan narasi romantis dan… kadang kurang masuk akal. Maksudku, sesuatu yang di luar nalar. Ah, bukan, seperti plot twist dalam cerita? Eh, apa ya? Ya intinya, hal-hal di luar dugaan. Tapi, seperti apapun usaha-usaha yang kulakukan, semua itu sebatas khayal. Aku tidak pernah berusaha sungguhan (sepertinya). Sisi diriku yang lain menentang sikap itu. Banyak hal yang mengurungkan niatku untuk bergerak seperti orang lain. Dan seharusnya, itu bukan masalah. Banyak juga kok, di luar sana yang ketemu jodoh meski effortless. Dan enggak semuanya spek Kim Tae Hee atau Meghan Trainor. Intinya, alur cerita bikinan Tuhan pasti lebih apik dan epik.
Tunggu! Tulisan ini, bukan dalam rangka aku ingin buru-buru ketemu jodoh, enggak. Hanya… kurasa aku juga ingin memiliki kisah cintaku sendiri. Rasanya percuma jika aku paham banyak kondisi percintaan dan cara menanganinya, ketika itu semua hanya ada pada tulisan dan adegan-adegan virtual. Rasanya tidak betul jika aku sering memberi nasehat perkara cinta kepada teman-teman yang sedang dalam sebuah hubungan, padahal aku sendiri tidak pernah ada di situasi itu. Lebih-lebih, aku merasa kosong ketika mengingat selama seperempat abad hidup, satu-satunya laki-laki yang mencintai dan kucintai sudah tidak ada dan tidak akan pernah bisa kugapai lagi.
Seorang teman yang sesungguhnya hubungan percintaannya tidak begitu kudukung (aku turut bahagia dan sepertinya dia tidak memerlukan pendapatku), tapi tetap terkesan romantis, pernah memberikanku sebuah saran, jika aku belum punya pencapaian atas diriku, maka jangan coba-coba punya ayang. Aku ingin membantah, tapi dia benar. Dan jika harus dijelaskan, saran darinya adalah jawaban termudah yang bisa kusampaikan jika ditanya kenapa tidak punya — dan tidak pernah punya — pacar. Kata dia, semua tetap kambali ke diriku. Padahal, dia sangat tahu aku dan memang begitu yang kupikirkan selama ini. Cuma… cuma dan cuma… seperti yang kubilang, rasanya… sedikit menyesakkan.
Saat kupikir, tidak ada yang salah dengan diriku, saat itu juga, puluhan kesalahan-kesalahan di diriku tampak. Pilihan-pilihan yang selama ini kuperjuangkan. Situasi dan keadaan yang sedang kualami, semuanya kujadikan alasan untuk bertahan sendirian. Padahal, itu bukan masalah. Bukankah lebih bagus jika ada yang menemani untuk bangkit dari keterpurukanmu itu? Kamu memenjara diri, lalu memohon untuk dibebaskan. Namun, saat ada kesempatan untuk kabur, kamu bersikeras menunggu remisi atau waktu pembebasanmu tiba. Padahal kamu sendiri yang harusnya menentukan kapan itu terjadi, karena dirimu yang memenjarakan dirimu sendiri.
Harusnya, aku tidak bisa disebut kesepian ketika percaya bahwa bias adalah obat segala lara. Harusnya, aku tidak boleh mengeluh menjadi hopeless romantic ketika aku bisa memilih cerita cinta seperti apa yang akan kusimak dan kunarasikan di berbagai kesempatan. Harusnya, aku tidak perlu memohon cinta ketika (aku yakin) ada seorang laki-laki yang mencintaiku seumur hidup — dan mati — nya lebih dari laki-laki manapun kelak. Harusnya aku tidak cemas tentang masa depan karena itu sedikit melenceng dari prinsip-prinsipku. Harusnya… ah, harusnya tidak begini. Harusnya di usia 25 tahun, aku tidak begini. Harusnya aku sudah punya penghasilan teratur dan tabungan yang banyak. Harusnya aku sudah punya banyak karya yang dikenal dan membanggakan. Harusnya aku sudah terbebas dari trauma masa lalu kan?! Harusnya, aku, setidaknya, punya satu kisah cinta, yang nyata.
Baiklah, sekian sambatan hari ini. Aku akan kembali melanjutkan hidup, seperti biasa saja. Baik-baik saja, dan tetap waspada. Dan, ya. Aku tidak akan menyangkal jika cerita fairy tale tidak sepenuhnya maya.
메타데이터
- post_id
- a604b7baf16f
- slug
- hopeless-romantic-a604b7baf16f
- url
- https://medium.com/@alithyuni69/hopeless-romantic-a604b7baf16f
- canonical_url
- https://medium.com/@alithyuni69/hopeless-romantic-a604b7baf16f
- author_url
- https://medium.com/@alithyuni69
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 01:50:08