← Back to list

Lebih Dekat Dengan Imam Bukhari dan Kitabnya yang Paling Shahih Setelah Al-Qur’an (Part I…

Ulhakook · 2025-08-08 19:06 · 0 claps · 10.5 min read
#islam #buhari #muslim #biography
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Lebih Dekat Dengan Imam Bukhari dan Kitabnya yang Paling Shahih Setelah Al-Qur’an (Part I: Biografi)

Silsilah Keluarga

Beliau adalah Amirul Mukminin dalam bidang hadis, Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah seorang penganut agama Majusi. Namun, putranya, al-Mughirah, memeluk Islam melalui tangan al-Yaman al-Jufi, yang saat itu menjabat sebagai gubernur di Bukhara. Karena itu, al-Mughirah dinisbatkan kepadanya sebagai “mawla” (yang dibebaskan), sehingga dalam silsilahnya disebut “al-Jufi”.

Adapun kakeknya, Ibrahim, tidak banyak informasi yang diketahui. Sementara ayahnya, Ismail, adalah seorang ulama terkemuka yang pernah belajar dari Hammad bin Zaid dan Imam Malik. Para ulama dari Irak juga meriwayatkan hadis darinya. Ibnu Hibban mencantumkan biografinya dalam kitab ats-Tsiqat, dan putranya, Imam Bukhari, juga menulis tentangnya dalam at-Tarikh al-Kabir.

Ayahnya, Ismail, bukan hanya seorang yang berilmu, tetapi juga sangat wara’ (menjauhi hal syubhat) dan bertakwa. Diriwayatkan bahwa saat wafat, ia berkata, “Aku tidak mengetahui satu dirham pun dari hartaku yang berasal dari haram atau syubhat.”

Dengan demikian, Imam Bukhari berasal dari keluarga yang berilmu, beragama, dan wara’, sehingga tidak mengherankan jika ia mewarisi sifat-sifat mulia tersebut dari ayahnya.

Kelahiran dan Masa Kecil

Imam Bukhari lahir pada hari Jumat, setelah salat, pada tanggal 13 Syawal tahun 194 Hijriah di kota Bukhara.

Ayahnya meninggal saat ia masih kecil, sehingga ia diasuh oleh ibunya yang mendidiknya dengan baik. Harta warisan dari ayahnya sangat membantu sang ibu dalam membesarkannya dengan layak. Sejak kecil, ia sudah mendapatkan perhatian Ilahi. Diriwayatkan bahwa saat kecil, matanya sempat buta. Ibunya sangat sedih dan terus-menerus berdoa kepada Allah. Suatu malam, ia bermimpi melihat Nabi Ibrahim berkata, “Wahai engkau, Allah telah mengembalikan penglihatan putramu karena banyaknya doamu.” Pagi harinya, Allah benar-benar mengembalikan penglihatan Bukhari, dan kesedihan sang ibu pun berubah menjadi kebahagiaan.

Kecerdasan Dini

Kecerdasan Bukhari sudah terlihat sejak ia masih kecil, saat di sekolah dasar. Allah memberinya hati yang mudah menyerap, daya ingat yang kuat, dan pikiran yang tajam. Ia terinspirasi untuk menghafal hadis dan memiliki kemampuan yang luar biasa, bahkan sebelum usianya mencapai sepuluh tahun. Ia kemudian mulai belajar dari para ulama pada masanya di kotanya.

Pada usia enam belas tahun, ia sudah hafal kitab-kitab karya Ibnu al-Mubarak dan Waki’, serta memahami pandangan, dasar-dasar, dan mazhab para ahli fiqih.

Pergi ke Makkah dan Madinah

Pada tahun 210 Hijriah, ia berangkat haji ke Baitullah bersama ibu dan kakaknya, Ahmad. Setelah haji, kakaknya kembali ke Bukhara, tetapi Imam Bukhari memilih untuk tinggal di Makkah. Makkah saat itu merupakan salah satu pusat ilmu penting di Hijaz, di mana ia menemukan apa yang ia cari untuk memuaskan dahaganya akan ilmu dan pengetahuan. Sesekali ia pergi ke Madinah. Di kedua tanah suci itu, ia menulis beberapa kitabnya dan meletakkan dasar-dasar serta bab-bab untuk kitabnya al-Jami’ ash-Shahih. Ia juga menulis kitab at-Tarikh al-Kabir di samping makam Nabi pada malam hari yang diterangi bulan. Ketiga kitab sejarahnya – ash-Shaghir, al-Ausath, dan al-Kabir – menunjukkan kemampuannya yang luar biasa dalam ilmu rijal (biografi perawi) dan kritiknya. Ia pernah berkata, “Jarang ada nama dalam sejarah kecuali aku memiliki cerita tentangnya.”

Perjalanan ke Berbagai Penjuru Dunia

Imam Bukhari melakukan banyak perjalanan untuk menuntut ilmu. Tidak ada wilayah Islam kecuali ia pernah mengunjunginya. Diriwayatkan bahwa ia berkata, “Aku pernah masuk ke Syam, Mesir, dan al-Jazirah dua kali, ke Bashrah empat kali, dan tinggal di Hijaz selama enam tahun. Aku tidak bisa menghitung berapa kali aku memasuki Kufah dan Baghdad bersama para ahli hadis.”

Baghdad saat itu adalah ibu kota kekhalifahan dan pusat ilmu dan ulama. Di sana, ia bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal berkali-kali, yang sering mendorongnya untuk menetap di Baghdad dan menyalahkannya karena tinggal di Khurasan. Dalam semua perjalanan yang melelahkan ini, Bukhari terus-menerus mengumpulkan hadis dan ilmu, serta mencatat pengetahuannya. Ia bisa terbangun dari tidurnya di malam hari, menyalakan lampu, dan menulis sebuah faedah yang terlintas di benaknya, lalu memadamkan lampu itu kembali. Hal ini bisa ia lakukan hampir dua puluh kali dalam satu malam. Demikianlah ketulusan dan pengabdiannya terhadap ilmu pengetahuan.

Peristiwa Antara Beliau dan adz-Dzuhli

Pada tahun 250 Hijriah, ia pergi ke Naisabur, dan penduduknya menyambutnya dengan hangat. Gurunya, adz-Dzuhli, dan para ulama lainnya juga turut serta. Diriwayatkan dari Imam Muslim bin al-Hajjaj, penulis Shahih Muslim, bahwa ia berkata, “Ketika Muhammad bin Ismail datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang gubernur atau ulama diperlakukan seperti yang dilakukan oleh penduduk Naisabur terhadapnya. Mereka menyambutnya dari jarak dua atau tiga marhalah dari kota.” Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli berkata, “Siapa yang ingin menyambut Muhammad bin Ismail besok, sambutlah dia, karena aku akan menyambutnya.” Maka, Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli dan para ulama Naisabur menyambutnya. Ia memasuki kota dan tinggal di rumah keluarga al-Bukhari. Selama beberapa waktu, ia terus-menerus memberikan hadis, dan adz-Dzuhli menganjurkan orang-orang untuk mendengarkannya. Diriwayatkan bahwa adz-Dzuhli berkata, “Pergilah ke orang saleh yang alim ini dan dengarkanlah darinya.”

Fitnah

Kemudian, beberapa orang yang dengki merasa cemburu dan membuat keributan, mengklaim bahwa ia berpendapat tentang khalq al-Qur’an (bahwa lafaz Al-Qur’an itu makhluk). Karena masalah ini, terjadi ketegangan dan perpisahan antara ia dan gurunya, adz-Dzuhli. Hingga adz-Dzuhli berkata, “Siapa yang mengklaim bahwa ‘lafazku membaca Al-Qur’an itu makhluk’, maka dia adalah bid’ah. Jangan duduk bersamanya dan jangan berbicara dengannya. Siapa yang setelah ini pergi ke majelisnya, maka tuduhlah dia.” Akibatnya, orang-orang menjauhinya, kecuali Imam Muslim dan Ahmad bin Salamah. adz-Dzuhli lalu berkata, “Siapa yang berpendapat tentang lafaz, jangan hadir di majelis kami.” Sepertinya ia bermaksud menyindir Imam Muslim karena ia masih sering mendatangi majelis Imam Bukhari. Imam Muslim kemudian mengambil selendangnya dan berdiri dari majelis adz-Dzuhli di hadapan orang banyak. Ia lalu mengirimkan semua catatan yang pernah ia tulis dari adz-Dzuhli dengan seorang pembawa.

Bukhari Bebas dari Tuduhan

Sejatinya, Bukhari bebas dari tuduhan ini. Diriwayatkan bahwa ada seorang pria yang mendatanginya dan bertanya, “Apa pendapatmu tentang lafaz Al-Qur’an, apakah ia makhluk atau tidak makhluk?” Bukhari berpaling darinya dan tidak menjawab selama tiga kali. Ketika pria itu terus mendesak, Bukhari berkata, “Al-Qur’an adalah firman Allah yang tidak diciptakan, dan perbuatan hamba adalah ciptaan, sedangkan menguji (tentang masalah ini) adalah bid’ah.” Yang ia maksud dengan ‘perbuatan hamba’ adalah bacaan dan pengucapan mereka. Inilah pendapat yang dipegang oleh para ulama yang meneliti dan ulama salaf, yang membedakan antara yang dibaca (maqru’) dan perbuatan membaca (qira’ah). Namun, kedengkian bisa membutakan dan menulikan.

Telah terbukti bahwa Bukhari sering berkata, “Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, ia bisa bertambah dan berkurang. Al-Qur’an adalah firman Allah yang tidak diciptakan. Sahabat Rasulullah yang paling utama adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman, lalu Ali. Di atas keyakinan inilah aku hidup, di atasnya aku akan mati, dan di atasnya aku akan dibangkitkan, insya Allah.” Juga terbukti bahwa ia berkata, “Siapa yang mengklaim bahwa aku berkata ‘lafazku membaca Al-Qur’an itu makhluk’, maka dia adalah pendusta.” Kemarahan adz-Dzuhli terhadapnya begitu kuat hingga ia berkata, “Orang ini tidak boleh tinggal bersamaku di kota.” Bukhari pun melihat bahwa lebih baik baginya untuk pergi demi menjaga dirinya dan meredakan fitnah, lalu ia pun pergi.

Kembali ke Bukhara

Ia pergi dari Naisabur kembali ke kota kelahirannya, Bukhara. Penduduk menyambut kedatangannya dengan meriah. Tenda-tenda didirikan sejauh satu farsakh dari kota, dan seluruh penduduk menyambutnya, menaburkan dirham dan dinar kepadanya. Ia tinggal di sana selama beberapa waktu, mengajar dan memberikan hadis. Namun, kemudian terjadi perselisihan antara dia dan Amir Bukhara, Khalid bin Ahmad adz-Dzuhli, yang mengganggu suasana. Penyebabnya adalah kehormatan yang diberikan Imam Bukhari kepada ilmu.

Khalid mengirim pesan kepadanya, “Bawalah kitab al-Jami’ dan at-Tarikh agar aku bisa mendengarkannya darimu.” Imam Bukhari menjawab utusannya, “Katakan padanya: Aku tidak akan merendahkan ilmu dan membawanya ke pintu para penguasa. Jika engkau tidak suka, engkau adalah penguasa, maka cegahlah aku dari majelis ini, agar aku memiliki alasan di hadapan Allah pada hari kiamat karena menyembunyikan ilmu.” Amir itu lalu meminta bantuan orang-orang yang sebelumnya menimbulkan keributan, dan menggunakan hal itu sebagai alasan untuk mengusirnya dari kota. Imam Bukhari pun berdoa agar Amir itu celaka, dan doa orang yang terzalimi itu dikabulkan. Tidak sampai sebulan, Ibnu Tahir memerintahkan agar Khalid bin Ahmad diarak di atas keledai dan diasingkan di atas pelana. Akhirnya, ia berakhir dengan kehinaan dan dipenjara.

Wafatnya

Adapun Bukhari, penduduk Samarkand menulis surat kepadanya, memintanya untuk datang ke kota mereka. Ia pun berangkat. Namun, ketika sampai di Khartank, sebuah desa yang berjarak dua farsakh dari Samarkand, ia singgah di rumah kerabatnya. Di sana, ia jatuh sakit dan wafat.

Ia meninggal pada malam Idul Fitri tahun 256 Hijriah, pada usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum wafat, ia berwasiat agar dikafani dengan tiga lembar kain tanpa gamis dan sorban. Orang-orang memenuhi permintaannya, dan ia dimakamkan setelah salat Zuhur pada hari raya Idul Fitri, setelah menjalani kehidupan yang penuh dengan pekerjaan besar, perjalanan panjang, dan pengembaraan. Semoga Allah merahmatinya dan meridainya.

Guru-gurunya

Perjalanannya memungkinkan ia bertemu dengan guru-guru yang terpercaya dan berjumlah sangat banyak. Diriwayatkan bahwa ia berkata, “Aku menulis dari seribu delapan puluh orang, tidak ada di antara mereka kecuali seorang ahli hadis, dan aku tidak menulis kecuali dari orang yang berkata, ‘Iman adalah ucapan dan perbuatan’.” Di antara guru-gurunya yang terkemuka adalah Ali bin al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf al-Faryabi, Makki bin Ibrahim al-Balkhi, Muhammad bin Yusuf al-Baikandi, dan Ibnu Rahawaih. Jumlah gurunya yang hadisnya ia masukkan dalam Shahih-nya adalah 289 orang.

Murid-muridnya

Banyak sekali orang yang meriwayatkan hadis darinya, hingga dikatakan bahwa ada sembilan puluh ribu orang yang mendengar Shahih-nya. Di antara mereka yang terkemuka adalah Imam Muslim bin al-Hajjaj, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abi Dawud, Muhammad bin Yusuf al-Farabari, Ibrahim bin Ma’qal an-Nasafi, Hammad bin Syakir an-Nasawi, dan Manshur bin Muhammad al-Bazdawi. Empat nama terakhir adalah perawi Shahih-nya yang paling terkenal.

Bukhari Dikaruniai Daya Ingat dan Kecerdasan yang Langka

Dalam hal hafalan, kecerdasan, pengetahuan tentang rijal, dan ‘ilal al-hadits (penyakit hadis), Bukhari adalah salah satu tanda kebesaran Allah di muka bumi. Allah melestarikan sunah Nabi Muhammad melalui dirinya dan para imam hadis lainnya. Diriwayatkan bahwa ia berkata, “Aku hafal seratus ribu hadis sahih dan dua ratus ribu hadis yang tidak sahih.”

Tidak ada bukti yang lebih kuat tentang daya ingat, keluasan pengetahuan, dan ketajaman pikirannya selain apa yang terjadi ketika ia tiba di Baghdad. Para ulama Baghdad berkumpul dan ingin mengujinya. Mereka mengambil seratus hadis, membolak-balikkan matan (isi) dan sanad (rantai perawi)-nya – yaitu, mereka menukar matan hadis ini dengan sanad hadis itu, dan sebaliknya. Lalu mereka memberikan masing-masing sepuluh hadis kepada sepuluh orang. Orang pertama membacakan sepuluh hadis yang ia miliki. Setiap kali ia menyebutkan sebuah hadis, Bukhari berkata, “Aku tidak mengenalnya.” Begitu seterusnya sampai sepuluh hadis selesai dibacakan. Orang-orang awam yang hadir menganggap Bukhari tidak mampu dan kurang ilmu. Namun, para ulama di antara mereka berkata, “Orang ini mengerti.”

Kemudian, Bukhari menoleh kepada orang pertama dan berkata, “Adapun hadis pertamamu, yang benar adalah begini… Adapun hadis keduamu, yang benar adalah begini…” Ia terus menjelaskan kebenaran dari setiap hadisnya. Setelah selesai dengan sepuluh hadisnya, ia beralih ke orang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga yang kesepuluh, menyebutkan hadis yang telah dibolak-balik, lalu menjelaskan yang benar. Para ulama Baghdad tidak punya pilihan lain selain mengakui daya hafal, keunggulan, dan keimamannya.

Salah satu yang hadir dalam ujian berat itu berkata, “Keajaiban bukan pada kemampuannya untuk menemukan yang benar, tetapi keajaiban yang sesungguhnya adalah kemampuannya untuk menyebutkan kembali hadis-hadis tersebut dengan urutan yang sama seperti yang ia dengar dari para penguji, hanya dalam satu kali dengar.”

Bukhari pernah berkata, “Aku tidak akan meriwayatkan hadis dari sahabat dan tabi’in kecuali aku tahu tahun kelahiran, kematian, dan tempat tinggal sebagian besar dari mereka. Aku juga tidak meriwayatkan hadis dari sahabat dan tabi’in – yaitu hadis mauquf – melainkan hadis yang memiliki dasar, dan aku menghafal hal itu dari kitab Allah dan sunah Rasulullah.”

Pujian Para Imam Kepadanya

Dengan kedudukan yang begitu tinggi dalam ilmu dan hafalan, tidak heran jika guru-guru, teman-teman sejawat, dan mereka yang datang setelahnya memujinya. Seseorang pernah bertanya kepada Qutaibah bin Sa’id tentang Bukhari, ia menjawab, “Wahai orang-orang, aku telah melihat hadis, melihat pendapat, duduk bersama para ahli fiqih, ahli ibadah, dan orang-orang zuhud. Namun, sejak aku berakal, aku tidak pernah melihat orang seperti Muhammad bin Ismail.”

Imam al-Aimmah, Abu Bakar bin Khuzaimah, bersaksi untuknya, “Di bawah langit tidak ada orang yang lebih tahu tentang hadis selain Muhammad bin Ismail.” Teman-teman sejawatnya juga memujinya. Abu Hatim ar-Razi berkata, “Khurasan tidak pernah melahirkan orang yang lebih hafal dari Muhammad bin Ismail, dan tidak ada yang datang dari sana ke Irak yang lebih alim darinya.”

Al-Hakim meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Imam Muslim, penulis kitab Shahih, datang kepada Bukhari, mencium keningnya, dan berkata, “Biarkan aku mencium kakimu, wahai guru dari para guru, pemimpin para ahli hadis, dan ahli medis hadis dalam ‘ilal-nya.” Adapun pujian dari mereka yang datang setelahnya, cukuplah ucapan al-Hafizh Ibnu Hajar, “Jika aku mencoba menulis pujian kepadanya dari mereka yang datang setelah masanya, maka kertas akan habis dan napas akan terputus, karena itu adalah lautan tanpa tepi.”

Sifat Fisik dan Akhlaknya

Bukhari adalah seorang pria dengan tubuh kurus, tinggi sedang, kulit sawo matang, dan sangat sedikit makan. Ia sangat pemalu, dermawan, murah hati, zuhud terhadap dunia, dan sangat berhasrat pada akhirat. Ia memiliki harta yang cukup banyak dan membelanjakannya secara rahasia maupun terang-terangan, terutama untuk menuntut ilmu dan para muridnya. Ia sangat dermawan terhadap mereka. Diriwayatkan bahwa ia berkata, “Setiap bulan aku menghasilkan lima ratus dirham, dan aku membelanjakannya untuk menuntut ilmu. Apa yang di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal.”

Ia sangat menjaga kehormatan dalam perkataan dan sangat hati-hati dalam mengkritik perawi. Ia bisa saja berkata tentang seseorang yang ia ketahui berdusta, “Perlu ditinjau,” atau “Mereka meninggalkannya,” atau “Mereka diam darinya.” Pernyataan paling terang-terangan yang ia ucapkan tentang seseorang adalah “Hadisnya mungkar.”

Selain berhati-hati dalam mengkritik, ia juga meninggalkan hadis seseorang hanya karena sedikit keraguan padanya. Diriwayatkan bahwa ia berkata, “Aku meninggalkan sepuluh ribu hadis dari seseorang yang perlu ditinjau, dan aku meninggalkan hadis yang serupa atau lebih banyak dari orang lain yang juga perlu ditinjau.” Imam Bukhari adalah teladan yang harus diikuti dalam kritik yang bersih dan jujur.

Menjaga Kemuliaan Ilmu

Bukhari adalah pribadi yang mulia, memiliki harga diri yang tinggi, dan sangat menghargai ilmu. Ia menjauhkan ilmu dari hal-hal yang merendahkan dan tidak mau membawanya ke rumah para penguasa. Kisahnya yang telah disebutkan sebelumnya dengan gubernur Bukhara, Khalid bin Ahmad adz-Dzuhli, dan penolakannya untuk datang kepadanya untuk membacakan kitab al-Jami’ ash-Shahih dan at-Tarikh di hadapannya dan anak-anaknya, menunjukkan hal ini. Ini adalah ciri khas para ulama rabbani yang tidak takut kecuali kepada Allah, dan tidak merendahkan ilmu demi dunia dan kedudukan. Sejarah Islam memiliki banyak ulama seperti ini, terutama pada masa keemasan awalnya.

Keahlian dalam Memanah

Bukhari juga belajar memanah dan sangat mahir. Dikatakan bahwa ia tidak pernah meleset dari sasaran kecuali dua kali seumur hidupnya. Dalam hal ini, ia mengikuti sunah yang menganjurkan memanah dan seni perang. Tujuannya adalah untuk bersiap menghadapi musuh Islam dan membela agamanya. Demikianlah seharusnya para ulama, mereka membela Islam dengan lisan dan mempersiapkan diri untuk jihad. Ketika panggilan jihad datang, mereka adalah orang-orang yang paling cepat menyambutnya dan menghadapi musuh.

Dalam sejarah Islam, banyak imam besar, seperti al-Izz bin Abdussalam dan Taqiyuddin Ahmad bin Taimiyah, memiliki pengaruh besar dalam membangkitkan semangat jihad dan memenangkan pertempuran-pertempuran penting.

Karya-karyanya

Imam Bukhari memiliki banyak karya, yang paling terkenal adalah:

  1. Al-Jami’ ash-Shahih
    1. Al-Adab al-Mufrad
    1. At-Tarikh ash-Shaghir
    1. At-Tarikh al-Ausath
    1. At-Tarikh al-Kabir
    1. At-Tafsir al-Kabir
    1. Al-Musnad al-Kabir
    1. Kitab al-’Ilal
    1. Raf’ul Yadain fi ash-Shalah
    1. Birrul Walidain
    1. Kitab al-Asyribah
    1. Al-Qira’ah Khalfal Imam
    1. Kitab adh-Dhu’afa’
    1. Asami ash-Shahabah
    1. Kitab al-Kuna

Di antara kitab-kitab ini, ada yang sudah dicetak atau berupa manuskrip, dan ada pula yang dikenal karena disebutkan oleh para ulama lain. Karya yang paling monumental dan abadi adalah al-Jami’ ash-Shahih.

*Terambil dari Kitab Syaikh Muhammad Abu Zahrah yang berjudul: “Fi Rihab Al-Sunnah; Al-Kutub Al-Shihhah Al-Sittah”.


메타데이터
post_id
a646f9c876bf
slug
lebih-dekat-dengan-imam-bukhari-dan-kitabnya-yang-paling-shahih-setelah-al-quran-part-i-a646f9c876bf
url
https://medium.com/@ziaulhaq2727/lebih-dekat-dengan-imam-bukhari-dan-kitabnya-yang-paling-shahih-setelah-al-quran-part-i-a646f9c876bf
canonical_url
https://medium.com/@ziaulhaq2727/lebih-dekat-dengan-imam-bukhari-dan-kitabnya-yang-paling-shahih-setelah-al-quran-part-i-a646f9c876bf
author_url
https://medium.com/@ziaulhaq2727
status
ok
fetched_at
2026-07-18 09:48:19