← Back to list

Bagaimana Ekonomi-Politik Membantu Kita Membongkar Dikotomi Nature/Culture

Oleh Indrawan Presetyo (Anggota SEMAR UI)

Serikat Mahasiswa Progresif UI in Kolumnar · 2018-07-04 10:42 · 2 claps · 10.6 min read
#alma #pltpb #slamet #ekopol
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🏔️ · Outdoor & Adventure

(19/07/2017) Ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi demonstrasi menuntut dihentikannya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden di lereng selatan Gunung Slamet. Sumber: Liputan6.com

(19/07/2017) Ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat menggelar aksi demonstrasi menuntut dihentikannya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden di lereng selatan Gunung Slamet. Sumber: Liputan6.com

Bagaimana Ekonomi-Politik Membantu Kita Membongkar Dikotomi Nature/Culture

Oleh Indrawan Prasetyo (Anggota SEMAR UI)

Airnya keruh setelah hujan. Tidak biasanya air menjadi keruh seperti itu. Beberapa bulan terakhir, warga Lereng Gunung Slamet (tempat di mana Curug itu berada) menghadapi air keruh dan banjir bandang yang tak biasanya datang. Warga, bersama mahasiswa dan sejumlah LSM lainnya melakukan perlawanan. Perlawanan itu ditujukan kepada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di kawasan Hutan Lindung Gunung Slamet. Poin-poin yang akan ditonjolkan dalam essay ini adalah bagaimana relasi warga dengan hutan terus berubah mengikuti konteks ekonomi-politik dan apa pentingnya fenomena seperti itu terhadap kajian ini, terhadap perdebatan Nature-Culture dan signifikansi Ekonomi-politiknya.

Kapitalisme membawa kekerasan, dan kekerasan itu dapat dipahami ketika kita melihat kapitalisme sebagai bentuk pengaturan ekologis (Moore, 2015; Patel & Moore, 2017). Ekonomi-politik di sini hadir ketika saya mencoba untuk memahami perubahan-perubahan yang terjadi di lereng Slamet sebagai pertemuan dari berbagai kekuatan-kekuatan yang berbeda. Kapitalisme khususnya, menjadi kekuatan yang akan mendapatkan sorotan. Wolf (2001, 2010) dalam beberapa kajiannya menekankan interkoneksitas dan bagaimana kapitalisme datang, dan mengubah relasi sosial — atau juga melihat budaya sebagai mills of inequality. Sementara itu, Graeber (2008) melakukan kritik terhadap penekanan kepada Forces of Production (FoP) dalam Modes of Production (MoP). Menurutnya, kapitalisme harus dilihat juga dalam kapasitasnya mereproduksi pengaturan relasi yang ada. Tulisan ini, mengambil pendekatan ekonomi-politik yang lebih dekat dengan Jason Moore dan Raj Patel. Bagaimana kapitalisme datang, tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan frontier; bagaimana frontier menjadi bagian dari Accumulation by Disposession (Harvey, 2004). Sementara itu, kemampuan kapitalisme untuk dapat mereproduksi pengaturan relasi sosial, dapat kita lihat melalui strategi cheap care di mana kapitalisme membutuhkan kerja-kerja tidak dibayar dan krusial dalam reproduksi kapitalisme. Pendekatan semacam ini adalah ekonomi-politik dengan wawasan ekologis yang coba dikembangkan Jason Moore; World Ecology.

Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana gangguan yang ada di lereng Gunung Slamet beberapa bulan terakhir itu ada dalam konteks ekonomi-politik yang lebih besar. Argumen dari artikel ini adalah, Pembangunan Pembangkit listrik di tengah hutan lindung, serta dampak ekologis dan penolakan yang terjadi, semua ada dalam konteks pengaturan ekologis. Pengaturan-pengaturan itu, terjadi bersama relasi-relasi ekonomi politik; yang kini adalah kapitalisme. Perubahan — dan juga kerusakan — yang ada, dengan itu tidak lagi bisa dipisahkan dari persoalan ekonomi-politik, serta harus dilihat sebagai bagian dari sejarah sosial — yang panjang — dari Kapitalisme. Tulisan ini kemudian, bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana ekonomi-politik dapat menuntun kita dalam melihat ekologi tanpa Alam (Nature)

Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana gangguan yang ada di lereng Gunung Slamet beberapa bulan terakhir itu ada dalam konteks ekonomi-politik yang lebih besar. Argumen dari artikel ini adalah, Pembangunan Pembangkit listrik di tengah hutan lindung, serta dampak ekologis dan penolakan yang terjadi, semua ada dalam konteks pengaturan ekologis. Pengaturan-pengaturan itu, terjadi bersama relasi-relasi ekonomi politik; yang kini adalah kapitalisme. Perubahan — dan juga kerusakan — yang ada, dengan itu tidak lagi bisa dipisahkan dari persoalan ekonomi-politik, serta harus dilihat sebagai bagian dari sejarah sosial — yang panjang — dari Kapitalisme. Tulisan ini kemudian, bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana ekonomi-politik dapat menuntun kita dalam melihat ekologi tanpa Alam (Nature)

Dikotomi Alam dan Budaya

I argue that ‘Society’ and ‘Nature’ are part of the problem, intellectually and politically; the binary Nature/Society is directly implicated in the colossal violence, inequality, and oppression of the modern world … Capitalism is not an economic system; it is not a social system; it is a way of organizing nature.

(Moore, 2015, p. xx)

Kapitalisme adalah bentuk pengaturan ekologis. Dikotomi ‘alam’ dan budaya membagi “dunia” ke dalam dua kategori besar: manusia dengan segala bentukannya yang dianggap beradab, dan alam sebagai yang liar dan perlu untuk dijinakkan (dimanfaatkan). Kapitalisme. Pemisahan ini menurut Moore dan Patel (2017) dapat dilacak hingga pencerahan yang memosisikan Science dekat dengan Culture dan pengetahuan umum, pengetahuan non-barat sebagai tidak sceintfic dan merupakan tururnan dari Nature. Dengan itu, pemisahan Nature dan Culture sebenarnya selalu memiliki implikasi kekeraan dan eksklusi. Perempuan dan budak hanya beberapa di ataranya.

Di antara berbagai pemisahan yang terjadi dalam periode itu, pemisahan Nature dan Culture adalah salah satu pemisahan yang paling mendasar. Pemisahan-pemisahan lainnya banyak bertumpu di atas pemisahan ini. Culture adalah segala manusia yang berpikir, dan tidak setiap manusia dianggap mampu berpikir (Patel & Moore, 2017). Bagaimana perempuan mulai dipisahkan misalnya, adalah karena adanya anggapan sifat ‘alamiah’ perempuan yang feminim. Sementara itu, orang-orang Afrika atau Amerika Latin yang dijadikan budak tidak pernah juga dianggap sebagai manusia yang dapat berpikir, bahkan terkadang tidak dianggap sebagai manusia sama sekali (Kendi, 2016; Patel & Moore, 2017). Itu semua dapat terjadi dalam kerangka dikotomi biner Nature dan Culture yang muncul dari pemikiran pencerahan.

Dalam sejarahnya, kita melihat frontier sebagai bagian penting dari apropriasi kapitalisme atas ekologi (Patel & Moore, 2017; Tsing, 2007). Pembentukan frontier memerlukan satu asumsi mendasar yang sangat kental dengan dikotomi itu; apa yang ada di luar pemukiman adalah hutan, tanah tak bertuan, dan sumber daya alam lainnya untuk dijadikan uang, untuk diputar menjadi kapital. Dalam prosesnya, berbagai kekerasant erjadi. Berbagai kekerasan ini akan diceritakan lebih lanjut di bagian lain, di mana konsep Cheap dari Moore dan Patel akan lebih dibahas, dan bagaimana ekonomi-politik semacam itu membantu kita membongkar — dan terlibat dalam debat — dikotomi Nature dan Culture. Hal yang pasti, sebuah break antara alam dan budaya harus dibentuk untuk memuluskan kerja kapitalisme. Manusia dalam dikotomi bias lainnya — manusia modern — harus tinggal di lingkungan urban, atau pemukiman tertata. Hutan harus menjadi tempat yang berbeda, meski sebelumnya, hutan, dan apa yang kini kita anggap “alam” adalah bagian dari lingkungan manusia.

Apa kemudian yang dimaksud sebagai cheap nature? Yang dimaksud dengan term itu adalah hasil sekaligus proses dari dikotomi yang hadir bersama kapitalisme dan pengetahuan ‘modern’ (Patel & Moore, 2017). Semua yang jatuh ke dalam kategori Nature akan diupayakan murah, dan jika bisa, akan diapropriasi. Murah di sini, artinya ia bisa diambil dengan biaya se-rendah rendahnya untuk keuntungan sebesar-besarnya. Ada banyak cheap yang mana 7 di antaranya dibahas oleh Moore dan Patel dalam bukunya (2017); cheap money, work, care, food, energy, lives, dan nature itu sendiri

Domain Negara dan Merencanakan PLTPB; bagaimana frontier baru dibangun

Batas-batas hutan yang kini ada, terbentuk dalam arus ekonomi-politik yang besar. Ketika VOC masuk, jati menjadi pohon yang banyak ditebang untuk industri perkapalan (Peluso, 1991; Vandergeest & Peluso, 2006). Hingga 1925, dengan 1729 sebagai tahun awalnya, 75% hutan di Rembang telah ditebang untuk berbagai kepentingan modal kolonial. Sejak akhir abad ke-18 juga, VOC telah menyadari adanya permasalahan. Dengan semangat eksternalitas, kesalahan banyak dilimpahkan kepada penebangan swasta di mana lebih spesifiknya, kesalahan ada pada warga yang tinggal di sekitar hutan. Di abad ke-19, ketika administrasi kolonial membentuk dirinya, pemerintahan kolonial mulai menganggap hutan sebagai domain negara. Larangan-larangan baru muncul dan memaksa warga untuk meninggalkan gaya subsisten. Bersamaan dengan itu, industri perhutanan juga tumbuh dan warga harus membayar pajak. Artinya, ada perubahan pola produksi di banyak desa. Meski begitu, sepertinya aturan itu tidak diterapkan secara merata. Setidaknya, hingga akhir 1990an, warga sekitar masih diperbolehkan mengambil kayu atau hasil hutan lain yang tidak merusak; misalnya mengambil kayu dari pohon yang tumbang atau mengambil kulit janggel untuk kepentingan masing-masing.

Menurut keterangan Pak Qarim, sewaktu dia muda (yang berarti sekitar tahun 1960–1970an), banyak perjalanan yang dilakukan warga untuk mencari kulit janggel dan diolah sebagai obat. Kini, bahkan untuk sekedar mengambil kayu dari pohon tumbang dapat dianggap sebagai perambah hutan dan dihukum. Pada masa-masa sebelumnya, polisi hutan dan staf administrasi lainnya memiliki relasi yang dekat dengan warga dan mereka sesekali mengizinkan warga. Sekali lagi, eksternalisasi menonjol dan kerusakan hutan banyak dilimpahkan kepada warga. Masuknya penebangan “legal” ke hutan-hutan dan ke lereng Slamet ada dalam pola fronterisation dan dengan itu, kita hanya dapat memahaminya bersama upaya untuk menekan agar sumber daya dapat diambil dengan murah dan profit yang besar.

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi itu sendiri sudah dipertimbangkan sejak lama (setidaknya begitu menurut keterangan Pak Qarim dan Pak Tino; keduanya warga Cipendok). Pada masa Orde Baru, rencana-rencana seperti itu selalu ditolak. Kini, dengan semangat neoliberal — late capitalism — dan dengan kepanikan di akhir cheap nature justru rencana itu berjalan. Yang menonjol akhirnya bukan proyek ini sebagai bagian dari rencana negara, tetapi proyek ini sebagai tangan dari Kapital dan upaya membangun frontier baru. Kekerasan negara datang bersama uang yang datang dari pengusaha. Sogokan bukan datang dari anggara pemerintah. Sementara lokasi konstruksi dijaga oleh aparat dan para demonstran digebuk polisi di alun-alun Purwokerto. Kepala daerah datang dengan membawa teknologi pengolahan tahu yang minim air; ini terjadi ketika air keruh dan banjir bandang melanda lereng Slamet. Penyebabnya tentu bukan pembangunan dan perambahan hutan di frontier baru yang tengah dibangun ini. Seperti yang sudah-sudah, penyebabnya adalah warga sekitar yang menebang hutan desa di dekat pemukiman, atau juga petani peladang yang mengambil tanah perhutani untuk kebutuhan sehari-hari; setifaknya begitu kanal resmi negara menyuarakan bencana-bencana itu. Anomalinya adalah, tidak adanya warga yang menebang pohon di wilayah konservasi dan peladang itu juga kini kesulitan mengakses ladangnya, semua setelah frontier baru itu dibuat.

Kapitalisme bekerja dengan terus memutar kapital, dengan kapital sebagai value in motion. Kini dengan kekayaan yang datang dari apropriasi cheap nature ada lebih banyak kapital dari sbeelumnya. Sementara itu, ruang telah habis, dan penggunaan ruang spatio-temporal seperti yang dimaksud Harvey (2004) semakin terbatas. Gerak kapital menjadi liar dan semakin memaksa kita untuk melihat bagaimana kapitalisme ada di dalam jaring-jaring kehidupan dan bukannya di luar itu dan sekedar menagtur relasi produksi kita atau juga reproduksi manusia secara sosial; Kapitalisme ada dalam semua ranah itu, juga sebagai pengaturan ekologis.

Cheap Nature: World-Ecology dan Kapitalisme sebagai Pengaturan Ekologis

Kajian Wolf (2010) tentang interkoneksitas menjadi sangat berguna untuk memahami berbagai koneksi yang terjadi dan bagaimana relasi-relasi ekonomi-politik menjadi penting. Melihat apa yang terjadi di Slamet, kita tidak bisa lepas dari arahan interkoneksitas yang ditunjukan Wolf. Sebuah perusahaan dari Jerman, dengan kapital yang bercampur dari banyak sumber membuat frontier baru di lereng Slamet. Berbagai aksi protes terjadi bukan saja di Purwokerto, tetapi juga di Jerman dan di Inggris; dalam jaringan Aliansi Selamatkan Slamet. Akan tetapi, World-ecology menuntut lebih dari interkoneksitas. Kini, di tengah perubahan yang cepat sebagai akibat dari apropriasi yang telah lama berlangsung, kita dapat dengan lebih mudah menyadari bagaimana tindakan kita selalu terkoneksi.

Kita dapat memahami Lereng Slamet dengan lebih komperehensif ektika kita melihatnya sebagai bagian dari frontier baru yang sedang dibangun. Kawasan hutan lindung itu selalu emnjadi kawasan yang tidak benar-benar tersentuh kapital. Pertanyaannya adalah kenapa kini, kawasan yang selalu dilihat sebagai kawasan tangkapan air dan hutan lindung itu dapat menjadi wilayah proyek. Bukan hanya Kapitalisme memengaruhi ekologi tetapi juga sebaliknya. Nature tidak lagi bisa dilihat sebagai benda pasif sementara Cultrue sebagai produk dan proses kehidupan. Ketika value in motion kesulitan untuk tetap in motion, berarti ada yang berubah, dan perubahan itu bukan terjdi hanya di tingkat kompetisi, tetapi juga pada cheap nature itu sendiri. Artinya, Nature (atau apa yang biasa digolongkan seperti itu) juga memiliki agensi, atau juga potensi (Ingold, 2013). Dengan potensi maupun agensi dari material — materials of life — berarti kita melangkah menuju materialitas. Tetapi, fokus dari tulisan ini adalah bagaimana kita melihat ekologi tanpa Nature — yang dengan itu sebenarnya juga membuka jalan bagi materialitas.

Pembangunan yang Gagal: Mimpi untuk Babak Baru (Hilangnya) Cheap Nature

Apa yang ingin diperlihatkan deskripsi dan analisis dalam tulisan ini adalah untuk menunjukkan bagaimana kapitalisme adalah pengaturan ekologis, dan bagaimana pengaturan ekologis semacam itu memang benar-benar mengubah relasi dan bagaimana kita melihat apa yang ada di sekitar kita. Pandangan kita berubah dengan masuknya kapitalisme. Kulit janggel dalam semangat kapitalisme adalah benda untuk dikumpulkan, diolah, dan dijual. Ketika ia dieksploitasi secara massal tentu tidak akan masalah jika menjadi langka. Ketika itu terjadi

Dalam tulisan ini, saya juga menemukan jika kekerasan menjadi bagian penting dalam upaya pengaturan dari Kapitalisme. Pengorganisasian cheap nature yang berarti apa yang dapat diambil dari alam itu murah, dan bahkan gratis dengan biaya-biaya yang dianggap tidak ada berarti juga kekerasan bagi yang material itu. Langkah selanjutnya tentu adalah memeprtimbangkan materialitas. Akan tetapi, dengan berhenti sejenak dan melihatnya dari sisi ekonomi-politik ini, kita dapat melihat apa yang perlu untuk dibongkar dalam perdebatan Nature dan Culture; Kapitalisme itu sendiri. Sekarang, seperti ajakan Jason Moore (2015) untuk melihat kembali bagaimana ekonomi-politik kita (Kapitalisme) selalu ada dalam jaring-jaring kehidupan. Artinya, tidak ada tindakan kita yang tidak terjadi dan memengaruhi “Nature”. Hanya dengan melihatnya seperti itu kita memiliki cara baru untuk masuk ke dalam perdebatan Nature dan Culture. Keduanya tidak benar-benar ada, kecuali sebagai abstraksi; keduanya dibangun di atas kepentingan value in motion dan kini cheap nature yang menjadi implikasi dari pemisahan Nature dan Culture itu sedang ada pada titik krisisnya. Sebuah cara baru untuk berpikir dan melihat relasi kita — dalam Nature — sedang dangat dibutuhkan. Apa yang dapat dilakukan Antropologi dalam tulisan ini adalah melihat bagaimana abstraksi itu bekerja, danbagaimana sebenearnya abstraksi itu juga ditantang atau setidaknya menjadi masalah bagi mereka yang ada di batas-batas frontier baru dari Kapitalisme.

Kesimpulan

Dikotomi alam dan budaya tidak pernah menjadi dikotomi yang netral. Dikotomi itu juga tidak muncul begitu saja. Kemunculan historisnya bertepatan dengan berkemabngnya kapitalisme modern dan itu bukan suatu kebetulan. Alam (Nature) sebagai kategori dan konsep muncul bersama interkoneksitas akan kebutuhan frontier agar kapital dapat bergerak, dalam suatu ekologi yang sangat khas dari Kapitalisme sebagai value in motion.

Apa yang terjadi di lereng Slamet hanya sebagian — sangat — kecil dari berbagai manifestasi Kapitalisme sebagai pengaturan ekologis, dan tentang memudarnya dikotomi Nature-Culture (yang menopang apropriasi Kapitalisme atas Cheap Nature). Akan tetapi, dari contoh kecil itu, kita dapat melihat bagaimana cara kita melihat lingkungan kita sangat dibentuk oleh relasi-relasi ekonomi-politik yang ada. Dalam cetakan Kapitalisme, kita dengan mudah melihat hutan di lereng Slamet sebagai Nature yang perlu dikelola (oleh negara dan juga bisnis dan Kapitalisme yang bergantung) sekaligus sebagai ruang konservasi. Sementara itu, dalam perspektif lain, ruang-ruang ini adalah ruang bagi tumbuh kembang Kapital, dan itu sebabnya meski Hutan Lindung itu telah dilihat dengan berbagai cara berbeda sebagai kawasan yang perlu dijaga, kini dibuka untuk ekspansi kapital. Ada jumlah Kapital yang menumpuk dengan ruang-ruang frontier yang semakin mengecil. Kapital kemudian harus masuk ke dalam energi berkelanjutan; mungkin, dengan harapan akan cheap energy dari investasi massif di sektor itu.

Pendekatan Ekonomi-politik yang dieksplorasi melalui contoh-contoh yang telah diberikan memberi kita wawasan tentang berbagai kekerasan yang ada dalam dikotomi Nature dan Culture; baik ketika dimulai, atau kini di awal suatu babak baru. Selain itu, kita juga melihat bagaimana beroperasinya kapitalisme juga membawa perubahan pada apa yang biasa kita sebut sebagai Nature. Artinya, tidak pernah ada batas antara Nature dan Culture; keduanya ada dalam satu ekologi yang sama dan saling berkelindan. Hanya dengan menyadari kekerasan yang dibawa oleh Kapitalisme dan dikotomi itu — serta sejarah dari term itu — kita dapat memulai kembali sebuah perdebatan tentang bagaimana melihat ekologi tanpa Nature dan Culture.

Daftar Pustaka

Graeber, D. (2008). Turning Modes of Production Inside Out : or , Why Capitalism is a Transformation of Slavery. Critique of Anthropology, 7–34.

Harvey, D. (2004). the “New” Imperialism: Accumulation By Dispossession. Socialist Register, (40), 63–87. Retrieved from http://www.socialistregister.com/index.php/srv/article/viewFile/5811/2707

Ingold, T. (2013). Making: Anthropology, archaeology, art and architecture. Anthropological Forum. New York & London: Routledge.

Kendi, I. X. (2016). Stamped from the Beginning: The Definitive- History of Racist Ideas in America. New York: Nation Books.

Moore, J. W. (2015). Capitalism in the Web of Life. London & New York: Verso.

Patel, R., & Moore, J. W. (2017). History of the World in Seven Cheap Things. Oakland: University of California Press.

Peluso, N. L. (1991). The History of State Forest Management in Colonial Java. Forest & Conservation History, 35(2), 65–75. https://doi.org/10.2307/3983940

Tsing, A. L. (2007). Friction: An Ethnography of Global Connection. Princeton & Oxford: Princeton University Press.

Vandergeest, P., & Peluso, N. L. (2006). Empires of Forestry : Professional Forestry and State Power in Southeast Asia Part 1. Environment and History, 12(1), 31–64.

Wolf, E. R. (2001). Pathways of Power: Building an ANthropology of the Modern World. Berkeley, Los Angeles, London.

Wolf, E. R. (2010). Europe and the People Without History. Berkeley, Los Angeles, London: University of California Press.


메타데이터
post_id
a652e209df4d
slug
bagaimana-ekonomi-politik-membantu-kita-membongkar-dikotomi-nature-culture-a652e209df4d
url
https://medium.com/kolumnar/bagaimana-ekonomi-politik-membantu-kita-membongkar-dikotomi-nature-culture-a652e209df4d
canonical_url
https://medium.com/kolumnar/bagaimana-ekonomi-politik-membantu-kita-membongkar-dikotomi-nature-culture-a652e209df4d
author_url
https://medium.com/@semarui
status
ok
fetched_at
2026-07-30 02:25:47