Sherlock yang tidak terasa seperti Sherlock
Ulasan serial Young Sherlock (2026)
Sherlock yang tidak terasa seperti Sherlock
Ulasan serial Young Sherlock (2026)
Sherlock Holmes, tokoh detektif fiktif paling terkenal di dunia, bahkan setelah satu abad lebih kemunculannya, belum juga terlupakan. Berbagai macam media tetap berusaha menceritakan petualangan detektif slengean ini dan keseruannya dalam memecahkan misteri.

Young Sherlock Poster
Sudah tidak terhitung banyaknya adaptasi yang terinspirasi dari karya detektif ini, mulai dari media cetak sampai audiovisual. Dari serial hitam-putih sampai tayangan ultra-sinematik sudah pernah menyandang namanya. Karya ini bahkan memiliki tempat sendiri bagi para penggemarnya di Inggris sana, Baker Street 221B, untuk melihat museum dari karya fenomenal ini.
Sebagai penggemar novelnya, saya pernah mengikuti ceritanya dari petualangan A Study in Scarlet (Benang Merah) dan beberapa novel lanjutannya. Semuanya seru dan menarik, namun perasaan itu tidak tertuntaskan lewat novel. Rasanya ada yang belum berakhir dan saya ingin mendapatkan lebih banyak ceritanya lagi.
Perasaan itu lalu terpuaskan lewat kehadiran serial TV BBC, Sherlock, yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch. Sherlock kali ini lebih modern, lebih berkelas, dan misterinya lebih seru, tidak kalah dengan novel orisinalnya.
Tidak lama setelah itu, muncul pula film Sherlock Holmes yang diperankan oleh Robert Downey Jr., lalu spin-off adik mereka, Enola Holmes, yang kembali memunculkan Sherlock versi Henry Cavill. Belum lagi dengan Sherlock versi tua dalam film Mr. Holmes yang diperankan Sir Ian McKellen.
Setelah serangkaian film dan serial tersebut, tahun ini kita digembirakan dengan munculnya serial Sherlock baru yang akan membuat para Sherlockian bersukacita. Kali ini serialnya datang dari Prime Video yang berjudul Young Sherlock.
Young Sherlock adalah serial 8 episode yang menceritakan kisah Sherlock muda yang harus menjadi pesuruh di Kampus Oxford sebagai hukuman dari kakaknya. Di sana, ia menjadi pelayan bagi semua siswa sekaligus belajar dari kampus yang diisi oleh para cendekiawan terkemuka dunia. Di sanalah ia bertemu dengan James Moriarty yang kelak akan menjadi teman baiknya.
Episode bagian awal menceritakan keseruan Sherlock mengeksplorasi dunia sekitarnya sampai cerita utamanya mulai dimunculkan. Seorang profesor ditemukan meninggal dunia di ruangannya dan sebuah gulungan asli dari karya legendaris Art of War telah dicuri.

Young Sherlock Scene
Tuduhan jatuh pada Sherlock yang memang kebetulan memiliki kunci semua ruangan, dan karena itu ia harus masuk ke dalam penjara. Moriarty yang tidak terima dengan akhir seperti itu akhirnya membebaskan temannya, dan mereka mulai melakukan penyelidikan bersama.
Tidak banyak yang bisa dikatakan dalam sinopsis ini karena sebuah serial misteri memang tidak boleh dibocorkan isinya. Selain karena kejutan misteri yang menjadi daya tarik utama, misteri itulah yang menjalin semua episode pada musim pertama ini menjadi padu.
Jika harus memberikan penilaian, memandang segala pengalaman dan keseruan yang saya harapkan dari para pendahulunya, saya hanya bisa memberikan nilai 2,5 dari 5 poin. Hal itu dikarenakan serial ini tidak membuat saya gembira saat melihatnya, namun di sisi lain juga tidak begitu mengecewakan.
Hal yang saya kurang sukai dimulai dari penggambaran karakternya. Saya tidak suka melihat karakter di film ini "diacak-acak" sampai rasanya sulit mengenali sifat bawaannya. Sherlock yang optimis dan seru digambarkan mengalami banyak trauma serta tidak tahu cara berkelahi. Moriarty yang dingin malah jadi pria penggoda, Mycroft seperti tidak punya pendirian, dan ibunya diceritakan sebagai orang gila.
Kedua adalah masalah ceritanya. Cerita Sherlock seharusnya menitikberatkan pada kemampuan deduksi yang mencengangkan. Serial ini memang memberikan hal itu, tapi porsinya sedikit. Ceritanya malah lebih mirip petualangan ala The Mummy yang sering berpindah negara.
Selain itu, format ceritanya terasa terlalu panjang untuk misteri yang sedikit. Karena terbiasa melihat Sherlock menyelesaikan masalah per “episode”, sulit melihat satu kasus ditarik hingga 8 episode. Akibat cerita yang dimelarkan tersebut, twist-nya menjadi mudah ditebak dan ending-nya kurang berkesan.
Pindah ke bagian yang saya sukai, saya suka dengan set-nya yang rapi, mengingatkan saya pada film Emma. Penggunaan hook pada tiap akhir episode juga menarik, sehingga saya punya alasan untuk lanjut menonton. Humor yang digunakan juga lumayan, meskipun terasa biasa saja karena pengulangan.
Itulah pengalaman saya menyaksikan Young Sherlock. Tentunya bukan serial Sherlock terbaik, tapi setidaknya masih memiliki unsur nostalgia. Sherlock Holmes tetaplah Sherlock Holmes; selalu memiliki pesona menarik yang sulit diabaikan.
메타데이터
- post_id
- a6652b42ff0b
- slug
- sherlock-yang-tidak-terasa-seperti-sherlock-holmes-a6652b42ff0b
- url
- https://medium.com/maratonton/sherlock-yang-tidak-terasa-seperti-sherlock-holmes-a6652b42ff0b
- canonical_url
- https://medium.com/maratonton/sherlock-yang-tidak-terasa-seperti-sherlock-holmes-a6652b42ff0b
- author_url
- https://medium.com/@la_sira
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 11:53:40