← Back to list

-`Good Enough

🦊🐰

Lintang Utara Langit · 2026-05-29 11:34 · 0 claps · 9.0 min read
#ode #junhan #fanfiction
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✍️ · Writing & Creative

-`Good Enough

🦊🐰

🦊🐰

Juna spontan menolehkan kepalanya ke sisi kanan, arah di mana fotonya dibidik. Tampak oleh kedua netranya sosok Semi yang berdiri dengan mengenakan jaket putih yang melapisi kaos tanpa lengan, kemudian sebuah topi berwarna hitam menghiasi kepala cowok berambut cepak itu.

Selama di tempat billiard Juna tak melakukan apapun, hanya berharap Jian muncul di balik pintu atau sekedar membalas pesannya memberi konfirmasi. Hingga waktu sewa berakhir pun Juna tetap diam di sudut ruangan dengan pandangan mengedar ke sekitar, menonton orang-orang menikmati permainan mereka sembari Juna sesekali memeriksa gawai berharap ada harapan.

Nyatanya, saat ia melihat story Jian rasa kesal yang menumpuk dalam benaknya tak lagi bisa dibendung. Tanpa ba bi bu ia langsung keluar dari tempat billiard, beberapa orang tentu memandang aneh padanya sebab hanya diam meski mereka tawari untuk bergabung, pun beberapa pekerja ikut menanyai alasannya tak melakukan apapun hingga akhir.

Bodohnya setelah keluar dan mencari area sepi untuk berdiam diri, Juna masih berharap ada secercah kata yang dikirimkan Jian untuk sekedar memastikan keadaan Juna atau mungkin dia masih ingat soal janji mereka. Sejujurnya ini kali pertama Juna dikecewakan Jian seperti ini, sebab itu rasa penolakan dalam dirinya berulang kali bilang kalau Jian tidak mungkin bersikap seperti ini. Juna terus mencoba memahami.

"Jun," panggil Semi setelah Juna lama diam tak merespon panggilannya yang pertama.

Juna sedikit tersentak, membenarkan posisi berdirinya untuk tegap seraya merapatkan jaket yang menempel di tubuh.

"Lo ngapain di sini Mi?" tanya Juna balik, terakhir kan Semi akan lembur untuk mengerjakan bagian Juna yang lupa diselesaikan.

Semi terkekeh, "lah, gue yang duluan nanya lo ngapain di sini. Di sini emang tempat main gue Jun."

Oh, Juna baru tahu soal itu. Ia menarik napas dalam, padahal ia berusaha keras menyembunyikan rasa kecewanya, namun kehadiran Semi sama sekali tak bisa membuat dia berhasil tenang. Malahan ia merasa bersalah pada Semi karena cowok itu harus bertanggungjawab atas pekerjaannya padahal Semi juga punya kesibukan sendiri.

"Maaf ya Mi, harusnya tadi gue ngerjain tugas gue aja," kata Juna lesu, yah dia sedikit menyesal.

Menyadari nada bicara Juna yang terkesan sedih, Semi memiringkan kepala heran, "lho? Emanganya kenapa? Kena tegur Mas Sean kah? Atau gimana?"

Juna menggeleng pelan, jemarinya meremat ujung jaket, "gue gak jadi main Mi."

"Oalah, gue kira kenapa," sahut Semi, masih santai, "gue sih aman aja Jun, gue sekalian rapiin task gue. Aman kok."

Semi memandang Juna yang air mukanya datar, sorot matanya menunjukkan kesedihan dengan pupil bergetar.

"Kenapa gak jadi main?" tanya Semi lagi.

Juna menghela napas, menyandarkan punggungnya pada pagar, "dia mendadak sibuk Mi, jadinya ya... gitulah. Padahal gue udah ngerepotin lo, tapi malah kaya gini."

"Loh, kenapa lo malah jadi gak enak sama gue?" Semi semakin heran, cowok itu melepas topinya lalu mengusap rambutnya sendiri, "jadi lo baru dikabarin kalo dia gak bisa pas lo udah pergi? Atau gimana?"

Semi kembali melontarkan pertanyaan, jika sekedar ungkapan singkat dia malah bingung dan tidak bisa menyimpulkan apa yang telah terjadi. Raut wajah Juna sesedih itu, rasanya pasti ada alasan lain yang lebih menyakitkan.

Juna menggeleng, "gak. Dia gak ngabarin. Malahan dia gak aktif sampe sekarang. Rencana kami mau main dari sore terus tadi siang dia ngabarin kalo bakalan telat dan minta ketemu di tempat billiard, gue udah sampe di tempat billiard dan nunggu dia, chat dia terus tapi dia sama sekali gak ada kabar. Terus gue liat story dia lagi jalan sama pacarnya. Gue kek... mungkin kalo dia ngabarin gak bisa gue rasanya gak sekecewa ini, tapi malah..."

Perkataan Juna menggantung di akhir, dia tidak bisa melanjutkan sebab bibirnya mendadak beku, sama sekali tidak sanggup menceritakan apapun.

Semi berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu Juna. "Ooh, gue paham Jun. Wajar kok lu kecewa."

Juna menundukkan pandangan, berpikir, "tapi Mi, gue sama sekali gak bisa marah ke dia. Gue dari dulu sering nyusahin dia, bahkan pas dia mulai seneng sama dunianya sendiri gue malah gak rela. Rasanya jahat banget kalo gue marah pas dia seneng sama kehidupan yang dia jalanin."

"Gak gitu Jun," balas Semi serius, "bukan masalah seneng gak seneng, tapi yang namanya janji ya harus ditepati. Kalau emang gak bisa ya minimal berkabar, kalau kayak gitu kan lo udah nunggu, udah effortlah istilahnya. Coba nanti kalian obrolin ajalah ya."

Semi menurunkan tangannya dari bahu Juna setelah ia bicara dan memastikan keadaan Juna sedikit lebih baik. Juna mengangguk mengiyakan ucapan Semi, dadanya yang sesak sedikit terasa longgar.

Kemudian, Semi memandang ke sekitar mereka yang cukup ramai. Kawasan ini diisi dengan tempat olahraga yang lebih ramai ketika malam.

"Lo mau main di Space ya?" tanya Semi, kepalanya menunjuk ke arah gedung bertingkat dengan lampu gading terang yang menunjukkan nama tempat.

Juna mengangguk, "iya, baru pertama ke sini sih Mi. Biasanya gue main di Asoka tapi udah penuh."

"Mau main gak?" tanya Semi, menawarkan.

"Loh, emangnya bisa? Katanya udah gak ada jadwal buat jam 10 ke atas," seperti itulah yang Juna tahu dari percakapan saat reservasi sebelumnya.

"Bisa, ayo."

Semi menarik lengan Juna agar mengikuti langkahnya masuk ke dalam gedung tiga lantai yang ramai oleh para pria dengan sorakan setiap mereka berhasil mencetak poin.

Juna terdiam di pintu masuk ruang biliard, beberapa sosok yang tadi bermain masih ada bahkan tampak menyadari keberadaannya. Lalu, Semi menariknya lagi setelah cowok itu berhasil menemukan keberadaan salah seorang pekerja yang ia kenali.

"Satu jam berapa Mas?" Semi langsung mengalungkan lengannya pada pria yang mengenakan topi merah dan fokus pada meja tengah.

Pria yang disapa Semi tersenyum ketika melihat wujud Semi. "Eh Semi, lama gak muncul. Aman?"

"Ya begitulah," jawab Semi, menurunkan tangannya dan bersedakap, matanya menilai keadaan, "rame ya Mas, ada slot gak?"

"Ada," jawab si pekerja, pria itu turut menyadari kehadiran sosok orang lain yang datang bersama Semi. Dalam beberapa saat ia berhasil mengenali rupanya yang dirasa tidak asing, "lho Mas— eh iya tadi ada barang Mas ketinggalan. Untungnya balik lagi."

Semi memandang Juna sedangkan yang ditanyai mendadak panik, dengan cepat ia memeriksa barang bawaan sampai menggeledah isi tas sedangkan si pekerja bicara pada pekerja lain sampai akhirnya sebuah dompet berwarna hijau tua tiba di tangannya dan diserahkan pada Juna.

Seketika Juna bernapad lega sebab ia baru sadar bahwa dompetnya memang tidak ada di dalam tas. Semi melengos.

"Masnya tadi dipanggilin tapi gak nyaut," tambah si pekerja, "Masnya juga dateng dari jam delapan tapi sampe waktu habis cuma diem, ditanyain juga diem, tau-tau ilang."

Semi terkekeh, "maaf ya Mas, gue nitip temen gak bilang-bilang. Tadi gue lagi gym."

Pekerja itu memandang kesal, menepuk lengan Semi dengan ujung tongkat billiard, "eh, Mi, Mi. Kasianlah temennya nungguin."

"Maaf Mas," kata Semi sambil tertawa, ia memandang Juna yang sekarang memastikan keadaan barangnya yang lain. Ia menoleh pada pekerja, "jadi ada slot ya Mas? Mau sejam dong."

"Langsung ke lantai dua aja Mi, nanti ada Mas Gilang."

"Oke Mas, makasih ya. Ayok Jun." Semi meraih lengan Juna lagi. Juna mengangguk pelan sembari membungkuk kecil dan bergumam terimakasih.

Juna mengikuti langkah Semi menaiki tangga menuju lantai dua.

"Sering ke sini Mi?" Tanya Juna, keakraban Semi dengan orang-orang di sini terlihat begitu jelas, bahkan beberapa pengunjung pun menyapa Semi seakan tidak asing.

Semi mengangguk, "dulu gue pernah kerja di sini Jun, sekitar delapan bulananlah?" Semi mengira-ngira, "makanya kenal."

"Tapi Mas Gilang malah kesel karena gue beneran bisa, ah itulah dia menyepelekan."

Semi tersenyum tipis menanggapi celotehan Juna yang menceritakan kembali kejadian menarik yang mereka lakukan beberapa saat lalu. Dengan cepat Juna berbaur dengan orang-orang yang ada di lantai dua setelah dikenalkan sebagai temannya Semi.

Sebetulnya orang-orang di sanalah yang duluan menyapa Juna, lalu ya semuanya mengalir secara alami.

"Manusia kan emang gitu Jun, harap maklumlah ya." Semi menaikkan reslteting jaket, "btw Jun, gue bau gak?"

Juna mendekatkan kepalanya ke bahu Semi, mengendus sedikit aroma tubuh cowok yang badannya lebih besar dari dia itu. Lalu Juna menggeleng, "gak Mi, wangi kok."

"Oh iya? Tadi gue keringetan abis gym, takutnya ganggu." Balas Semi, "mau langsung pulang Jun?"

"Iya, capek," kata Juna, "laper juga. Tadi gak sempet makan."

"Ayolah makan dulu sebelum lo pulang," ajak Semi, "deket sini banyak yang masih buka."

Pilihan utama mereka langsung jatuh pada kios beratap biru yang memiliki beragam menu dengan gerobak masing-masing yang tersusun di bagian depan. Juna memesan nasi goreng sementara Semi hanya meneguk air berperisa manis, katanya dia masih kenyang berkat makanan yang dikirimkan Juna tadi.

"Ah, anak rantau juga ternyata. Gue sih baru tiga tahunan di sini? Lulus kuliah gue sempet kerja di deket rumah, terus gue ikut kenalan ke sini dan gak pulang-pulang."

Semi sedikit menjelaskan kehidupannya setelah mendengar cerita Juna yang rupanya mirip dengannya. Bedanya Juna berada di tempat ini sejak awal masuk kampus hingga sekarang.

"Iya, tapi gue mahasiswa kupu-kupu Mi, kalo main sama Jian pun gak jauh dari area kampus. Terus karena ada something itu gue makin narik diri, hidup gue berantakan."

Semi menaikkan satu alisnya, jemarinya mengaduk minuman yang tersisa di gelas dengan sendok. "Something? Gue penasaran tapi kayanya privasi ya?"

Juna mengangguk ragu, jemarinya mengetuk permukaan meja yang plastiknya mengelupas, "mungkin suatu hari gue ceritain Mi, soalnya mungkin buat orang lain cuma masalah sepele tapi bagi gue enggak."

"Ya kalau buat lo sampe jadi manusia ansos tentu gak sepele Jun, lagian kan mental orang beda-beda. Terus–"

"Semi?!"

Juna dan Semi serempak menoleh ke sumber suara yang terdengar nyaring dari arah samping, Juna memandang heran sedangkan Semi tersenyum tipis pada seorang cewek dengan dress pendek biru menyapa. Cewek itu tersenyum ramah, matanya melengkung indah dengan hiasan berwarna coklat dan gliter perak di sekitar mata. Cantik.

"Udah lama gak keliatan, La. Kemana aja?" tanya Semi basa-basi.

Cewek itu berjalan mendekat lalu menepuk lengan Semi, "ah, lo kali yang udah lama gak keliatan. Biasa juga nongkrong di JYC."

Semi terkekeh, mengetuk pelipis, "lagi banyak kerjaan La, pusing."

"Iya deh yang jadi orang kantoran," sindir si cewek.

Kemudian Semi menggeser posisi duduknya, memberikan ruang yang sekiranya cukup bagi teman ceweknya untuk duduk.

"Duduk La, darimana emangnya lo?" tanya Semi sembari menepuk tempat di sebelahnya.

Cewek itu menggeleng, "gak usah Mi, gue bentar beli makan doang."

"Darimana? Dan mau kemana?" tanya Semi ulang.

Cewek itu mengedipkan satu matanya, "biasalah Mi." Netranya mengedar lalu menyadari ada sosok orang lain yang duduk di seberang Semi, matanya melirik pada Semi sebagai isyarat mempertanyakan identitas orang di hadapan Semi.

"Kenalin La, temen kerja gue, Juna namanya." Semi memperkenalkan Juna.

Juna membungkuk kecil lalu berdiri menyambut tangan cewek yang duluan mengulurkan tangan untuk berkenalan.

"Juna," sebut Juna.

"Bela," balas si cewek sembari tersenyum.

Begitu uluran tangannya terlepas, Bela menatap Semi, "kirain dari tinder juga, temen tinder lo kan hobi lo ajak ke sini."

Semi tersenyum malu, ia mengibaskan tangan.

"Eh, eh. Emangnya temen tinder doang yang boleh gue ajak ke sini?" tanya Semi, seakan sikapnya salah.

Bela tertawa, "yakan biasanya" bahunya naik, "terus nanti lo bungkus."

Semi merengut kesal, seakan-akan sikapnya seurak-urakan itu. Jarinya telunjuknya naik ke udara dan digoyangkan, ia melirik Juna untuk melihat ekspresinya sejenak sebelum bicara ada Bela, "hush, jangan menyebar fitnah La. Gue ke sini bungkus makanan doang gak bungkus orang."

Bela tertawa, sesaat kemudian ia mendengar bahwa pesanannya selesai, "becanda Mi, gue duluan ya. Babay!" Cewek itu melepaskan kiss bye dengan jemari lentiknya lalu pergi meninggalkan Semi dan Juna.

Juna terpaku di tempat, memikirkan banyak hal sejak sosok Bela menyapa mereka. Apa yang Bela ucapkan soal Semi membekas di ingatannya. Kalau dipikir, Semi memang punya banyak teman. Juna tidak tahu asalnya, bagaimana mereka bertemu atau sejauh apa. Tetapi tampaknya 'teman tinder' Semi pasti tidak satu dua orang.

Pun sekarang Juna teringat dengan pesan 'flirting' yang Semi lontarkan dengan mudah baik ketika mereka berstatus 'Ary' dan 'Kai' maupun setelah mengetahui sosok asli masing-masing. Ya, bisa sedikit mendapatkan gambaran Semi ini orang yang seperti apa.

Juna sendiri tidak masalah, karena toh tujuan awalnya hanya ingin menjalin pertemanan. Tidak lebih.

"Udah Jun?" tanya Semi, melirik piring makan Juna yang hanya menyisakan beberapa butir nasi. Semi melirik ke arah jam tangan silver yang melingkar di lengan kiri. "Pengen geser tapi besok pagi ada urusan."

Juna mengangguk, membereskan sisa makannya dengan mengumpulkan sendok dan garpu di satu tempat serta membersihkan area sekitar piring.

"Banyak kegiatan ya Mi?" tanya Juna basa-basi.

Semi mengangguk, "janjian sama temen juga."

"Oh. Ayolah pulang, dah mau ganti hari juga." Juna berdiri, mendorong kembali kursi yang ia duduki agar rapi sedangkan Semi mengenakan kembali jaket putih yang sempat ia lepaskan karena merasa gerah.

Keduanya keluar dari area kios dengan sapaan dari para pemilik usaha pada Semi yang seolah sudah sangat akrab dengan mereka.

Juna memeriksa pesan di ponselnya, bahkan sampai tengah malam pun tidak ada pesan yang dikirimkan oleh Jian untuk memberi kabar.

"Kost lo di mana Jun? Deket area kampus berarti?" tanya Semi, ia mulai menggulir layar gawai untuk mencari akomodasi yang bisa membawa mereka berdua.

Juna mengangguk, ia melakukan hal yang sama.

"Ayo gue anter."

Mendengar ucapan Semi, Juna heran. Mendadak perkataan Bela kembali terngiang di kepalanya, tidak mungkin Juna akan 'dibungkus' kan?

"Gak usah Mi, jauh," tolak Juna.

"Ye, nanti lu digangguin preman lagi," balas Semi

Juna tertawa miris, "yakan waktu itu lagi sial, pas itu pun daerahnya sepi dan gue gatau sama sekali."

"Beneran lo bisa nih? Gak lucu nanti gue dapet cerita lo diganggu preman lagi," Semi memastikan, jemarinya berhenti menggulir layar untuk mendengarkan keputusan Juna dahulu.

Juna mengangguk mantap, "bisa Mi. Udah mau ganti hari, kelamaan nanti kalo lo nganter gue dulu, kan lo mau ada urusan besok pagi."

Semi menggaruk pelipis, mengangguk, "iya sih. Oke deh, gue tungguin sampe gojek lo datang, udah pesen?"

"Udah Mi," Juna menunjukkan riwayat pesanan yang baru saja ia lakukan.

Di tempatnya Semi mulai mengatur pesanan untuk dirinya sendiri, ia juga mengatur beberapa alarm untuk bangun lebih cepat. Tak lama sebuah motor merah-hitam dengan plat yang Juna cocokkan dengan pesanan tiba. Si pengendara pun ikut mengonfirmasi pesanan.

"Mi, gue duluan ya. Makasih udah dibantu banyak," Juna memandang Semi sembari menerima helm dari pengendara motor.

Semi mengangguk kecil, tangannya masuk ke saku celana. Saat Juna naik ke atas motor barulah ia bicara, "Jun, kalo lo bangun cepet telpon gue jam lima ya. Takut gak kebangun."

Juna menimbang permintaan itu sejenak sebelum akhirnya setuju dan mengacungkan jempol, "siap Mi."


메타데이터
post_id
a66dda4de4c6
slug
good-enough-a66dda4de4c6
url
https://medium.com/@vionicaafrianda/good-enough-a66dda4de4c6
canonical_url
https://medium.com/@vionicaafrianda/good-enough-a66dda4de4c6
author_url
https://medium.com/@vionicaafrianda
status
ok
fetched_at
2026-06-12 18:14:10