Manusia dan Special Bundling-nya
enggak boleh pasrah tapi enggak boleh seenaknya juga. kenapa enggak dua-duanya aja?!
Untungnya, Kutak Pilih Menyerah
Kita adalah pengendara yang sedang berusaha untuk melewati padatnya aktifitas jalan raya. Bila ditanya oksigen atau polusi kah yang lebih banyak kita hirup. Maka jawaban yang tepat adalah menggeleng tanda pasrah. Pasalnya, jumlah kendaraan hampir menyamai atau bahkan sudah melebihi kuota. Mau dilebarkan selebar apapun, pada akhirnya jalanan tak akan pernah cukup. Belum lagi bila dihitung-hitung, kita lebih banyak menghabiskan waktu diluar ketimbang di rumah. Yah, meskipun daerah rumah juga tidak menjamin udaranya lebih terjaga. Tapi, begitulah hidup dengan segala serba-serbinya.
Kalau dikatakan bahwa sebagai manusia kita tidak punya pilihan lain selain menjalani takdir, mungkin tidak bisa dibenarkan juga. Begitupun sebaliknya, kita tidak juga hidup sebebas-bebasnya dengan alasan manusia bisa berkehendak sesuka hati. Sebagai ciptaan Allah kita diwajibkan untuk beriman kepada takdir. Dan Allah pun memerintahkan kita untuk berikhtiar sebaik mungkin. Segala sesuatunya saling berkesinambungan. Beriman kepada takdir bisa menjadikan kita terhindar dari prasangka buruk terhadap-Nya. Sekaligus menjadikan kita bisa introspeksi dan berusaha untuk jadi lebih baik lagi. Nyatanya, selalu ada kesempatan kedua, ketiga, keempat, dll untuk kita, itulah ikhtiar. Dalam berkehendak pun kita tidak bisa seenak jidat berperilaku sesuka hati. Sebagai contoh maksiat sepuas-puasnya taubatnya nanti saja, toh hidup ini suka-suka gue. Tanpa sadar bahwa ajal bisa menjemput kapan saja.
Mengimani takdir dan berkehendak (baca:ikhtiar) adalah special bundling yang Allah karuniakan pada ciptaannya manusia. Saking baiknya Allah, kita diberikan dua kemampuan sekaligus. Alhamdulillah ala kulli hal. Inilah sisi unik yang membedakan kita dari makhluk lainnya. Mungkin bisa kita sederhanakan seperti ini
Kita tidak dibolehkan untuk pasrah sepasrah-pasrahnya dan juga tidak dibebaskan sebebas-bebasnya. Karena akan selalu ada batasan untuk makhluk yang serba terbatas.
Maka dari itu Allah turunkan guide book, sebagai petunjuk agar hidup ini tidak sembrono. Juga mengutus Rasul-Nya sebagai suri tauladan. Sebagai seorang pengendara kita bisa memilih untuk misuh-misuh ditengah kemacetan atau menikmatinya. Mengambil pelajaran untuk berangkat lewat jalan lain atau pergi lebih cepat dari biasanya. Makian tidak menyelesaikan masalah dan merubah keadaan. Untungnya kutak pilih menyerah kata Mbak Bernadya. Berkendaralah sesukamu tapi pastikan tidak menyusahkan orang lain. Taati pedoman dan peraturan yang ada agar selamat sampai tujuan. Ini bukan hanya tentang berkendara.
Wallahu’alam.
메타데이터
- post_id
- a682684331f4
- slug
- manusia-dan-special-bundling-nya-a682684331f4
- url
- https://medium.com/@fandyladaima/manusia-dan-special-bundling-nya-a682684331f4
- canonical_url
- https://medium.com/@fandyladaima/manusia-dan-special-bundling-nya-a682684331f4
- author_url
- https://medium.com/@fandyladaima
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 04:24:24