Apakah semua bentuk tekanan benar-benar mendidik?
catatan gelap dari budaya “senioritas”
Apakah semua bentuk tekanan benar-benar mendidik?
catatan gelap dari budaya “senioritas”
Bagaimana kalau yang disebut “pembentukan mental” ternyata lebih sering berupa penekanan? Bagaimana kalau yang dinamai “pendewasaan” justru meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh?
Yang lebih berbahaya adalah cara sistem mendiamkannya. Kekerasan jarang disebut sebagai kekerasan. Ia diberi nama lain, pembinaan, latihan mental, pendisiplinan. Korban perlahan dibuat ragu pada dirinya sendiri. Kalau sakit, dibilang lemah. Kalau protes, dibilang tidak siap. Pada akhirnya, banyak yang bertahan bukan karena setuju, tapi karena takut dicap gagal.
Partisipasi pelajar dalam kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi sering diposisikan sebagai jalur pembentukan karakter. Di dalamnya, kita sebagai pelajar diharapkan belajar tentang tanggung jawab, kepemimpinan, kerja sama, dan ketahanan mental. Narasi ini tidak sepenuhnya keliru. Namun, di balik semangat tersebut, terdapat sesuatu yang jarang dikritisi secara terbuka, terutama ketika ketahanan mental dijadikan pembenaran atas kekerasan, baik verbal maupun fisik.
Sejumlah ekstrakurikuler bahkan secara sadar membangun citra “keras” atau “sangar” sebagai identitas. Disiplin yang ketat dipromosikan sebagai nilai utama, dan tekanan ekstrem dianggap sebagai proses pendewasaan. Masalah muncul ketika batas antara ketegasan dan kekerasan menjadi kabur. Teriakan, penghinaan, hukuman yang tidak proporsional, hingga pemukulan dengan alasan yang tidak logis sering kali disamarkan sebagai bagian dari tradisi pembinaan. Pada titik ini, penting untuk mempertanyakan… apakah semua bentuk tekanan benar-benar mendidik?
Budaya senioritas memainkan peran sentral dalam normalisasi hal tersebut. Relasi antara senior dan junior tidak lagi berdiri pada fungsi mentoring, melainkan pada relasi kuasa yang timpang. Senior memiliki wewenang, sementara junior dituntut patuh tanpa ruang untuk bertanya. Ketika kekerasan terjadi, ia jarang dipandang sebagai pelanggaran, melainkan sebagai konsekuensi dari posisi. Dalih “kami dulu juga mengalaminya” menjadi justifikasi yang terus mereproduksi siklus kekerasan lintas angkatan.
Dalam konteks ini, definisi “mental kuat” menjadi problematis. Ketahanan mental menjadi kemampuan untuk menahan rasa sakit, rasa takut, dan ketidakadilan tanpa protes. Padahal, ketahanan yang sehat seharusnya tumbuh melalui tantangan yang masuk akal, umpan balik yang jelas, dan lingkungan yang aman secara psikologis. Ketika penderitaan dijadikan ukuran kekuatan, organisasi tidak sedang membangun karakter, melainkan melatih pembungkaman emosi.
Lebih jauh, hal kekerasan seperti ini tidak dapat dilepaskan dari lemahnya akuntabilitas institusi. Banyak kasus berhenti di level internal dengan alasan menjaga nama baik. Pembina sering kali tidak terlibat secara aktif, atau memilih tidak tahu. Akibatnya, kekerasan tidak hanya dibiarkan, tetapi secara struktural dilindungi. Korban dipaksa diam, sementara pelaku tidak pernah benar-benar dimintai pertanggungjawaban.
Tulisan ini tidak bermaksud menafikan nilai organisasi atau menggeneralisasi seluruh ekstrakurikuler sebagai ruang yang berbahaya. Banyak organisasi yang mampu menegakkan disiplin tanpa kekerasan, dan membentuk kepemimpinan tanpa merendahkan. Namun, justru karena potensi besar itulah, hal-hal yang melukai perlu dikritisi. Membicarakan sisi gelap bukan berarti anti-organisasi, melainkan bentuk kepedulian terhadap kualitas ruang belajar itu sendiri.
Mungkin sudah saatnya kita menggeser pertanyaan. Bukan lagi “seberapa keras lingkungan ini?”, tetapi “seberapa manusiawi proses pembentukannya?”. Mental kuat tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari kejelasan nilai, keadilan, dan rasa aman untuk tumbuh. Organisasi yang benar-benar mendidik adalah yang menantang anggotanya untuk berkembang tanpa harus kehilangan martabatnya sebagai manusia.
10/2/2025
메타데이터
- post_id
- a6d021a2d637
- slug
- apakah-semua-bentuk-tekanan-benar-benar-mendidik-a6d021a2d637
- url
- https://medium.com/@oseanrk/apakah-semua-bentuk-tekanan-benar-benar-mendidik-a6d021a2d637
- canonical_url
- https://medium.com/@oseanrk/apakah-semua-bentuk-tekanan-benar-benar-mendidik-a6d021a2d637
- author_url
- https://medium.com/@oseanrk
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13