← Back to list

Peron Bernama Kemungkinan

Sebuah cerita pendek

Syafir Rama in Teman Menulis · 2026-08-04 15:41 · 52 claps · 4.6 min read
#jatuh-cinta #cinta-pertama #cinta-sepihak #patah-hati
Open on Medium ↗

Peron Bernama Kemungkinan

Sebuah cerita pendek

Photo by Victor Li on Unsplash

Photo by Victor Li on Unsplash

“Gue nggak yakin lo beneran suka dia. Kadang kita cuma kesepian dan butuh pelarian. Otak lo mencari kriteria yang cocok. Dan orang yang memenuhi standar lo yang tinggi itu cuma crush sepuluh tahun itu.”

Itu nasihat Anggit, suatu sore di taman kota, saat aku menceritakan tentang kamu. Aku mengamini bagian kesepiannya, tapi ragu itu alasan pikiranku terus memutar ulang wajahmu. Kurasa ada alasan yang lebih tepat dari itu. Meski aku belum tahu apa.

“Terus gue harus apa dong?” Bahuku turun. Langkahku melambat.

“Cari kerjaan. Lari lebih kenceng.” Anggit menarik tanganku.

Aku berlari, dan terus berlari, sampai napasku habis. Tapi bayanganmu tetap mengungguli langkahku. Aku berhenti, bernapas susah payah. Ini tidak berhasil sama sekali.

Cewek-cewek di kelas waktu itu berkerumun. Obrolannya sudah bisa ditebak, tentang cowok. Aku tak tertarik bergabung, sampai aku dengar namamu disebut.

“Tapi dia memang baik banget, lho. Waktu dia nebengin gue, dia nawarin helmnya. Katanya biar gue nggak kepanasan.”

Kupingku melebar. Cewek lain menyahut, “Iya, ih. Waktu kita balik dari lari sore kemarin, gue kebetulan jalan di samping dia. Jalanan agak rame. Terus dia narik gue buat tuker posisi, ke sisi dalam trotoar.”

Ada yang mengganjal di dadaku waktu itu. Aku menghitung dalam kepala. Berapa banyak orang yang pernah dapat helm itu? Berapa banyak yang pernah ditarik ke sisi trotoar yang lebih aman?

Banyak sekali, mungkin. Dan anehnya, itu yang justru bikin aku makin yakin, kalau kebaikan itu dibagi rata ke siapa saja. Tak ada yang pura-pura di baliknya.

Tidak banyak orang seperti itu. Bahkan setelah sepuluh tahun mencari dan mencoba sana sini, aku belum menemukan yang sepertimu lagi.

“Katanya, Sas, crush is limited information. Mungkin lo butuh closure.”

Itu giliran Dina, sahabatku yang lain, dua hari setelah insiden lari sore itu. Teori Anggit tentang kesepian yang tadinya kubantah, perlahan mulai terasa masuk akal. Tapi teori Dina terasa lebih dekat ke yang sebenarnya kurasakan.

Mungkin aku memang memikirkanmu karena kesepian. Tapi pertanyaan yang kupunya tentangmu juga nyata. Apa yang kamu suka? Lagu apa yang sering kamu putar? Apa kamu suka makanan Korea? Dan masih banyak lagi. Pertanyaan yang tak pernah selesai kutanyakan pada diri sendiri, apalagi kepadamu.

Kalimat Dina terus terngiang, sampai kemarin sore, saat menunggu kereta pulang, aku akhirnya menimang ponsel dan mengetik pesan untukmu.

Saskia Hai, Aska. Ini Saskia, kalau masih ingat. Katanya lo kerja di x ya? Gue boleh tanya sesuatu?

Aku menatap pesan itu lama sebelum menekan kirim. Lalu menghembuskan napas panjang. Rasanya seperti baru saja melepaskan sebuah beban. Lega, cemas, malu, dan sedikit rasa bangga, bercampur jadi satu.

Selama ini aku hanya berdoa. Berbisik pada semesta agar suatu hari kita dipertemukan di sebuah persimpangan. Ketika aku sudah lebih baik. Ketika aku sudah lebih percaya diri.

Tapi aku tak pernah tahu kapan momen itu tiba. Sedangkan perasaan ini tak kunjung selesai. Kata-kata Dina terngiang. Closure. Itulah jawabannya. Akulah yang harus mencari persimpangan itu sendiri.

Aska Iya, Saski. Tanya aja.

Saskia Boleh kita ketemu langsung?

Aku menggigit bibir. Jawabanmu datang lebih lama.

Aska Boleh. Taman kota?

Saskia Oke.

Senyumku refleks mengembang. Akhirnya keretaku sampai juga. Aku melangkah masuk. Dengan kereta ini, aku siap mencari persimpangan itu.

Aku tidak tahu dadaku bisa terasa ringan dan sesak sekaligus. Langit jingga di luar jendela tampak lebih indah dari biasanya. Aku jadi tersenyum sendiri. Mungkin inilah rasanya ketika seseorang akhirnya berhenti bersembunyi.

Pikiranku mulai berlarian ke sana ke mari. Apa aku harus menyapamu dengan pelukan? Ah, tentu tidak. Mungkin cukup melambaikan tangan. Atau pura-pura tenang seolah mengajak bertemu seseorang yang sudah kukenal bertahun-tahun.

Lalu aku mulai mengkhawatirkan hal-hal yang sepele. Apakah baju ini terlalu santai? Bagaimana kalau nanti kita kehabisan bahan obrolan?

Aku tertawa kecil. Mustahil. Aku punya terlalu banyak hal yang ingin kutanyakan.

Meski begitu, perjalanan menuju taman kota masih terasa terlalu lama.

Aku membuka Instagram sekadar membunuh waktu.

Video seekor kucing mengejar kupu-kupu, Olivia Rodrigo merilis sebuah album patah hati, dan ada restoran Italia tersembunyi di gang sempit — semuanya lewat begitu saja. Lalu ibu jariku berhenti bergerak.

Unggahan terbaru darimu. Kamu memposting ulang unggahan Helen. Tidak ada takarir. Hanya dua sosok yang saling bersisian dan menautkan lengan.

Aku kenal wajah itu. Bukan asing sama sekali.

Wajah yang dulu duduk dua bangku dariku, yang pernah pinjam catatan Bahasa Inggris, yang tahun lalu masih membalas story ulang tahunku. Helen. Dan entah kenapa, mengenali wajah itu justru membuat denyut ini semakin menusuk.

Ponselku gemetar. Sebuah pesan masuk.

Aska Helen boleh ikut kan? Dia juga excited banget pengen ketemu lo lagi.

Aku menatap layar cukup lama. Cukup sampai layar ponsel menampilkan wajahku yang menatapnya tak berkedip.

Kereta terus melaju. Suasana di dalamnya mendadak sunyi. Tapi isi kepalaku menjadi ribut.

Inikah persimpangan yang akhirnya diberikan semesta? Jawaban atas setiap bisikanku? Sebuah tanda bahwa aku sebenarnya tak perlu susah payah berusaha?

Aku teringat selang waktu sepuluh tahun. Aku terus berdiri di peron yang sama dan berharap kereta berikutnya datang bersama keberanian. Sementara aku sibuk menunggunya, ternyata kehidupan tetap berjalan untuk yang lain.

Aku mengusap layar membuka ruang obrolan. Jempolku menggantung di atas layar cukup lama sebelum akhirnya mengetik balasan.

Saskia Maaf, Aska.

Aku menghapusnya. Mengetik ulang, menghapus lagi. Lalu akhirnya kukirim pesan yang paling bisa menjelaskan situasi.

Saskia Maaf, Aska. Tiba-tiba gue enggak enak badan. Kita ketemu lain kali saja.

Pesan itu langsung terkirim. Aku tidak menunggu balasannya. Lain kali, bohong sekali. Lain kali itu tak akan pernah ada. Sama seperti aku yang selalu menunggu waktu terbaik, yang ternyata sudah habis sebelum aku sempat memulai.

Kereta melambat. Pintu terbuka. Aku berdiri meski pemberhentianku masih beberapa peron lagi. Namun aku tetap melangkah keluar.

Udara sore menjelang malam menyapa. Semburan jingga di langit yang menggelap kini tampak menyebalkan, seolah mengejek keberanianku yang datang terlambat.

Pintu kereta tertutup kembali di belakangku. Perlahan, rangkaian gerbong itu bergerak menjauh. Aku berdiri di peron, memperhatikannya hingga hilang dari pandangan. Lalu aku berbalik arah, duduk di salah satu tempat kosong.

Bingung, aku membuka ponsel, mencari-cari lagu yang mungkin cocok dengan suasana hati. Album patah hati terbaru itu tidak cocok untukku. Aku mencari yang lain. Tetap tak ada yang sesuai.

Aku tertawa. Menyedihkan sekali. Bahkan musisi pun tak ada yang sepakat denganku. Lagu-lagu patah hati selalu bercerita tentang seseorang yang pernah saling memiliki. Tapi tak ada yang bernyanyi untuk seseorang yang tak pernah dekat, yang jatuh cinta pada kemungkinan lalu patah hati sendirian.

Aku menutup ponsel, menatap rel yang kosong di depan. Apa yang aku harapkan dari ini? Aku bahkan tidak yakin.

Mungkin kita akan mengobrol, saling mengenal dan berteman. Tapi naif sekali membayangkan kau akan menyukaiku kembali.

Mungkin aku memang ingin kau mematahkan hatiku jadi dua. Setidaknya itu akan lebih baik dari apa pun yang kumiliki saat ini. Setidaknya itu akan memberiku alasan untuk meratapi nasib.

Kereta datang lagi. Pintu-pintunya terbuka, seolah mengundangku masuk. Dengan langkah gontai, aku bangkit dan menghampirinya.

Benar sekali. Sudah seharusnya aku kembali ke rumah.

Jika berminat kirim tulisan, silakan baca link di bawah ini:

[embed]Panduan 2025 — Teman Menulis Let’s grow together and inspire as writersmedium.com


메타데이터
post_id
a6f7e6eaf80f
slug
peron-bernama-kemungkinan-a6f7e6eaf80f
url
https://medium.com/teman-menulis/peron-bernama-kemungkinan-a6f7e6eaf80f
canonical_url
https://medium.com/teman-menulis/peron-bernama-kemungkinan-a6f7e6eaf80f
author_url
https://medium.com/@syafirrama
status
ok
fetched_at
2026-08-22 14:29:32