Kitab Kuning di Tengah Gempuran Digital:Masih Relevankah?
Di tengah hiruk pikuk dunia digital dan menjamurnya platform pembelajaran daring, ada satu warisan keilmuan Islam yang terus bertahan di…
Kitab Kuning di Tengah Gempuran Digital:Masih Relevankah?

Kitab-Kitab Klasik dalam Tradisi Keilmuan Islam. (Sumber: Pexels)
Di tengah hiruk pikuk dunia digital dan menjamurnya platform pembelajaran daring, ada satu warisan keilmuan Islam yang terus bertahan di pelosok Aceh: kitab kuning. Kitab klasik berbahasa Arab tanpa harakat ini menjadi tonggak utama pendidikan Islam di pesantren atau dayah tradisional, khususnya di Aceh Utara. Namun, seiring waktu, pertanyaan muncul: masihkah kitab kuning relevan di tengah transformasi zaman?
Dayah Babussalam Al-Hasany, sebuah lembaga pendidikan salafiyah di Gampong Teungoh, Kabupaten Aceh Utara, adalah contoh nyata bagaimana tradisi keilmuan Islam klasik masih hidup hingga hari ini. Berdiri sejak tahun 1991, dayah ini menggunakan kurikulum khas Ahlussunnah wal Jama’ah dengan fokus utama pada pembelajaran kitab kuning. Santri belajar fikih, tauhid, tasawuf, hingga mantiq dari kitab-kitab yang ditulis para ulama besar seperti Imam Nawawi, Ibnu Malik, dan Sayyid Abu Bakar ad-Dimyathi.
Metode pembelajarannya pun sangat khas dan sarat makna: bandongan, sorogan, dan halaqah. Santri duduk melingkar, menyimak penjelasan guru dengan adab yang tinggi, sembari mencatat makna gandul di sela-sela tulisan Arab gundul. Tak ada suara gadget, tak ada slide presentasi — hanya keheningan, adab, dan haus akan ilmu.
Namun, warisan ini menghadapi tantangan. Generasi muda semakin terbiasa dengan teknologi instan, sumber informasi cepat saji, dan pola belajar yang serba visual. Kitab kuning, dengan bahasanya yang rumit dan penjelasan yang mendalam, mulai dianggap “kuno” oleh sebagian anak muda. Bahkan di kalangan santri sekalipun, minat mendalami teks klasik semakin menurun. Padahal, kitab kuning tidak sekadar teks keagamaan. Ia adalah simbol keilmuan, kedalaman berpikir, dan etika belajar dalam tradisi Islam. Lewat kitab ini, santri belajar cara berpikir kritis, menelaah dalil, dan menghargai perbedaan pendapat para ulama. Kitab kuning juga menjadi ruang dialektika yang membentuk karakter keilmuan seorang muslim.
Melihat kenyataan ini, saya percaya bahwa tradisi kitab kuning harus dipertahankan, namun juga perlu beradaptasi. Dayah seperti Babussalam Al-Hasany bisa menjadi model pendidikan Islam yang menyeimbangkan antara kedalaman tradisi dan kecakapan zaman. Misalnya, melalui digitalisasi kitab, platform pembelajaran hybrid, atau pelatihan menulis ilmiah berbasis kitab klasik.
Jika kita meninggalkan kitab kuning hanya karena dianggap tidak praktis, maka kita juga meninggalkan warisan keilmuan ratusan tahun yang membentuk peradaban Islam Nusantara. Sudah saatnya generasi muda kembali menghargai proses belajar yang tidak instan — belajar yang membentuk kepribadian, bukan sekadar informasi.
“Kitab kuning bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk diwariskan”.
Khairun Nisa,
Mahasiswi UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
메타데이터
- post_id
- a6fa417cd119
- slug
- kitab-kuning-di-tengah-gempuran-digital-masih-relevankah-a6fa417cd119
- url
- https://medium.com/@khairunnisaapril25/kitab-kuning-di-tengah-gempuran-digital-masih-relevankah-a6fa417cd119
- canonical_url
- https://medium.com/@khairunnisaapril25/kitab-kuning-di-tengah-gempuran-digital-masih-relevankah-a6fa417cd119
- author_url
- https://medium.com/@khairunnisaapril25
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 08:45:00