← Back to list

Katanya Orang Gendut = Anj*ng?

Menghapus rantai keburukan yang selama ini mengakar

Rifky Pramana · 2026-04-15 00:21 · 76 claps · 4.6 min read
#bahasa-indonesia #sosial #pola-pikir #luka #kesedihan
Open on Medium ↗

Ilustrasi: Chatgpt

Ilustrasi: Chatgpt

Katanya Orang Gendut = Anj*ng?

Menghapus rantai keburukan yang selama ini mengakar

Orang miskin itu goblok.

Orang gendut itu sama kayak anj*ng.

Kata-kata itu terasa sangat menusuk.

Saya pernah melihat anak kecil yang dipanggil dengan nama hewan oleh ayahnya sendiri. Bukan dalam nada bercanda.

Itu cara sang ayah mendidik.

Sepuluh tahun kemudian, anak itu tumbuh menjadi seseorang yang gemar mempermalukan orang lain di depan umum. Ia tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang salah.

Baginya, begitulah cara dunia bekerja.

Kita sering menyebut orang seperti ini “tidak punya adab.” Padahal, adab mereka ada — hanya saja, adab yang mereka pelajari berbeda dari adab yang kita harapkan.

Dan perbedaan itu tidak muncul begitu saja. Ia dibangun, perlahan, dari hal-hal kecil yang dianggap wajar di dalam rumah.

Lingkungan keluarga adalah tempat pertama kita belajar tentang dunia — termasuk belajar tentang cara memperlakukan orang lain.¹

Apa yang dianggap normal di rumah akan terasa normal di mana-mana.

Anak yang tumbuh dalam rumah yang hangat dan penuh apresiasi cenderung membawa kehangatan itu ke luar.

Sebaliknya, anak yang terbiasa dengan hardikan dan cemoohan akan menganggap kekerasan verbal sebagai bahasa yang sah. Bukan karena ia jahat, tetapi karena itulah satu-satunya bahasa yang ia kuasai. Dan bahasa itu menyebar.

Manusia, pada dasarnya, adalah peniru.²

Kita menyerap perilaku lingkungan — bukan hanya melalui interaksi langsung, tetapi bahkan melalui pengamatan dari jauh.

Itulah mengapa seorang penggemar bisa merasa terhubung dengan idolanya tanpa pernah bertemu sekalipun.

Ketika sesuatu dilakukan berulang kali di sekitar kita, otak kita mulai mencatatnya sebagai hal yang wajar.

Inilah yang membuat normalisasi begitu berbahaya: ia bekerja tanpa kita sadari, jauh di bawah permukaan kesadaran kita sehari-hari.

Luka yang Berpindah Tangan

Ada pola yang saya perhatikan dari orang-orang yang paling keras menyakiti orang lain.

Mereka hampir selalu pernah terluka lebih dulu.

Anak yang pernah diejek karena gemuk, lalu berhasil membentuk tubuhnya, sering kali balik menghakimi tubuh orang lain dengan cara yang sama.

Anak yang pernah dianggap bodoh, lalu berprestasi secara akademis, sering kali menjadikan kecerdasannya sebagai senjata untuk merendahkan.

Seseorang yang pernah miskin dan dicemooh, setelah memiliki uang, sering kali menjadi yang paling keras menghina kemiskinan orang lain.

Bahkan seseorang yang baru saja ditinggal pasangannya bisa tiba-tiba menyombongkan pencapaiannya secara berlebihan — bukan karena ia bahagia, tetapi karena ia sedang mencoba menutupi luka yang belum sembuh.

Polanya selalu sama: luka yang tidak diselesaikan akan mencari jalan keluar. Dan jalan yang paling mudah adalah melampiaskannya kepada orang lain.

Inilah yang saya sebut rantai luka.

Sebuah siklus yang terus berputar, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari satu orang ke orang berikutnya.

Seorang ayah yang dulu dididik dengan kekerasan akan menganggap kekerasan sebagai metode yang terbukti.

Seorang atasan yang dulu direndahkan akan menganggap merendahkan bawahan sebagai bagian dari kepemimpinan.

Mereka tidak sedang menjadi jahat secara sadar.

Mereka sedang meneruskan sesuatu yang tidak pernah mereka sukai sejak awal.

Yang membuat rantai ini sulit diputus adalah karena ia tidak terasa seperti rantai.

Ia terasa seperti kebiasaan.

Seperti cara yang benar.

Seperti sesuatu yang memang sudah seharusnya begitu.

Masalah muncul ketika dua dunia yang berbeda itu bertemu.

Orang yang terbiasa belajar dengan hardikan akan menganggap cara itu wajar diterapkan kepada siapa saja.

Sementara orang yang terbiasa belajar dalam suasana yang tenang akan merasa diserang ketika diperlakukan dengan cara yang sama.

Tidak ada yang salah secara mutlak — tetapi gesekan itu nyata, dan jika tidak dipahami, akan berujung pada konflik yang tidak perlu.

Seperti pepatah lama: mata dibalas mata — dan hasilnya, semua orang menjadi buta.

Apa yang Berubah Ketika Kita Memahami Ini

Memahami rantai luka mengubah cara kita melihat orang-orang yang menyebalkan di sekitar kita.

Seseorang yang berbicara kasar bukan semata-mata karena ia jahat.

Seseorang yang sombong berlebihan bukan semata-mata karena ia narsis.

Mereka, lebih sering dari yang kita duga, sedang melampiaskan sesuatu yang jauh lebih tua dari perilaku itu sendiri.

Memahami ini bukan berarti membenarkan — tetapi memahami memberi kita kendali yang sebelumnya tidak kita miliki.

Kita juga menjadi lebih waspada terhadap diri sendiri.

Karena tidak ada dari kita yang benar-benar kebal.

Semua orang pernah terluka dalam kadar yang berbeda-beda.

Semua orang pernah membawa sesuatu pulang ke rumah dan tanpa sadar menuangkannya kepada orang yang paling dekat.

Perbedaannya hanya pada seberapa cepat kita menyadarinya — dan seberapa serius kita mengambil keputusan untuk berhenti.

Kesadaran ini juga mengubah cara kita memandang mereka yang ada di bawah pengaruh kita. Anak, murid, bawahan, anggota komunitas — siapa pun yang belajar dari cara kita bersikap.

Setiap tindakan keras yang kita lakukan memiliki potensi untuk terus menyebar dari satu orang ke orang lainnya.

Seorang anak yang dipermalukan di rumah mungkin akan mempermalukan temannya di sekolah.

Seorang karyawan yang direndahkan atasannya mungkin akan melampiaskannya kepada orang yang lebih lemah darinya.

Efeknya tidak berhenti di satu titik — ia merambat, meluas, dan menghasilkan Joker-Joker baru di dunia nyata: orang-orang yang patah, lalu menjadi berbahaya, karena tidak ada yang memutus rantai itu lebih awal.

Setiap tindakan yang kita pilih untuk tidak diteruskan adalah satu mata rantai yang putus. Dan putusnya satu mata rantai itu bisa menyelamatkan lebih banyak orang dari yang pernah kita bayangkan.

Cara kita diajarkan bukan satu-satunya cara yang ada.

Kita bisa memilih untuk tidak meneruskannya — dan itu adalah salah satu keputusan paling berdampak yang bisa dibuat seseorang dalam hidupnya.

Luka Bisa Berhenti di Kamu

Memutus rantai luka tidak membutuhkan perubahan besar yang dramatis.

Ia dimulai dari satu pertanyaan kecil yang diajukan pada momen yang tepat.

Ketika kamu merasa ingin melampiaskan sesuatu kepada orang lain — berhenti sejenak, dan tanyakan pada diri sendiri: apakah ini milikku, atau ini warisan yang sedang aku teruskan?

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Tapi tidak mudah dijawab dengan jujur, terutama ketika emosi sedang tinggi.

Karena pada momen itu, melampiaskan terasa seperti hak.

Terasa seperti keadilan.

Terasa seperti sesuatu yang sudah lama tertunda.

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita sedang memilih korban berikutnya dari rantai yang sama.

Jika jawabannya adalah warisan, kamu punya pilihan yang tidak dimiliki oleh orang-orang sebelummu: kamu bisa menyudahinya di sini.

Tidak perlu diteruskan. Tidak perlu diwariskan.

Dari sana, energi itu bisa dialihkan.

Ada orang yang menjadikan rasa amarahnya sebagai bahan bakar untuk berlatih lebih keras di lapangan.

Ada yang mengubah cemoohan menjadi motivasi untuk membangun sesuatu dari nol.

Ada yang menulis, berkarya, menciptakan — bukan untuk membalas, tetapi untuk melampaui.

Bentuknya tidak penting. Yang penting adalah energi itu tidak menemukan korban berikutnya melalui tanganmu.

Luka bisa menjadi titik awal tanpa harus menjadi senjata.

Ini berlaku untuk siapa saja — tetapi terutama bagi mereka yang memegang otoritas. Orang tua, guru, atasan, pemimpin komunitas.

Semakin besar pengaruh yang kamu miliki, semakin luas dampak dari setiap pilihan yang kamu buat.

Kamu tidak harus menjadi sempurna.

Kamu tidak harus menghapus semua luka yang pernah kamu terima dalam semalam.

Tapi kamu bisa mulai dengan satu keputusan sederhana: hari ini, luka ini berhenti di sini.

Cukup kamu yang terluka. Jangan sampai luka itu kamu wariskan.

Terima kasih telah membaca.

— Rifky

Baca tulisan lainnya di sini:

[embed]*Rifky Pramana | TikTok, Instagram, X, Facebook, Threads | Linktree *Penulis linktr.ee

Referensi:

  1. https://scholar.stjohns.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1794&context=theses_dissertations
  2. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC2865081/

메타데이터
post_id
a714cc8de7cd
slug
katanya-orang-gendut-anj-ng-a714cc8de7cd
url
https://medium.com/@otakkedua/katanya-orang-gendut-anj-ng-a714cc8de7cd
canonical_url
https://medium.com/@otakkedua/katanya-orang-gendut-anj-ng-a714cc8de7cd
author_url
https://medium.com/@otakkedua
status
ok
fetched_at
2026-06-27 23:56:40