← Back to list

Bukan Cuma Perasaan

“Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja”

Rahmat AB · 2026-05-12 00:40 · 1 claps · 2.7 min read
#relasi-kuasa #mpr-ri #cerdas-cermat-kebangsaan
Open on Medium ↗

Bukan Cuma Perasaan

Photo by Dino Januarsa on Unsplash

Photo by Dino Januarsa on Unsplash

“Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja”

Sebuah frase yang memvalidasi relasi kuasa, feodalisme dan hegemoni. Mengapa kalimat ini amat bermasalah dalam kasus Lomba Cerdas Cermat (LCC) Kebangsaan yang diselenggarakan MPR RI di Kalimantan Barat? Bukankah yang perlu disoroti lebih adalah pernyataan Dewan Juri yang keliru?

Kekeliruan Dewan Juri LCC itu sudah terpampang nyata. Semua orang yang berakal sehat akan sepakat: juri keliru karena yang disampaikan kedua regu tersebut sama. Mengapa yang satu dibenarkan dan lainnya disalahkan? Dalam ilmu mantiq, ada kaidah ‘adam at-tanaqudh, law of non-contradiction, bahwa dua hal yang bertentangan tidak mungkin terhimpun.

Namun, pernyataan MC yang memandu acara tersebut justru mempunyai efek psikologis dan mental yang lebih besar. Kalimat “mungkin itu hanya perasaan” adalah bentuk relasi kuasa yang diperhalus: tidak mungkin dewan juri yang terhormat itu salah.

Kalau mau dibawa dalam realitas yang lebih luas, ketika banyak orang yang protes kebobrokan MBG, militerisme yang menguat, kerusakan alam kian masif, nepotisme merajalela, dengan mudah mereka akan menjawab: “Ah, itu cuma perasaanmu saja.”

Sebagai orang dewasa, sering kali kita melihat mereka yang lebih muda dengan tatapan rendah. Mereka tahu apa? Dewan juri itu orang yang bergelar akademik panjang, ditunjuk oleh negara, dan tak mungkin salah. Ini adalah pemahaman keliru, yang sayangnya sering kita saksikan.

Ketika ada anak muda yang cerdas, alih-alih diberikan ruang, yang senior biasanya merasa tertekan dan terancam. Ini dapat dilihat dari ‘pembenaran’ dewan juri dengan berdalih soal artikulasi. Sudahlah salah, tetap percaya diri bahwa dirinya benar.

Meski tidak semuanya, tetapi ini adalah hasil pendidikan generasi terdahulu yang serba “militeristik”. Semua pertanyaan dijawab dengan kata “Siap, Pak”. Tidak ada ruang dialog, apalagi mengkritisi guru atau yang dianggap lebih sepuh.

Kita hidup dalam alam kebudayaan: lihatlah siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan. Karenanya, kita lebih terkesima dengan orang yang punya gelar seabrek, para pengusaha kaya, anak pejabat, artis beken, dst daripada orang yang benar-benar paham persoalan yang sedang dibahas.

Ketika ada anak muda berkualitas yang bersuara justru ditindas. Sementara ada anak muda modal anak pejabat sebelumnya, rela mengubah aturan main agar bisa ikut ‘permainan’, justru didukung mati-matian dengan segudang jogetan. Itulah potret masyarakat kita. Itulah potret bangsa kita.

Karenanya, alih-alih mengatakan “itu cuma perasaan adik saja”, kita perlu mengapresiasi anak muda yang berani bersuara. Preseden ini sekaligus menjadi harapan bahwa kritisisme di kalangan anak muda tidak sepenuhnya mati. Masih ada yang mau bersuara, membela haknya yang dizalimi.

Saya pernah menjadi peserta Cerdas Cermat dalam Musabaqah Tilawatil Quran atau biasanya disebut Fahmil Quran. Saya tahu rasanya bagaimana tekanan mental untuk bisa menjadi tercepat dan tepat dalam menjawab soal. Ada satu momen ketika di babak final MTQ Tingkat Propinsi Kalimantan Timur, hampir saja regu kami meraih juara, seandainya jawaban saya di sesi rebutan terakhir tidak disalahkan oleh dewan juri.

Menurut saya, dan semua orang yang hadir saat itu, jawaban saya sudah benar. Saya membacakan Surat Al-Fil dengan lagu Rost. Namun, ternyata yang diharapkan oleh dewan juri adalah lagu Rost Zanjiran.

Sesuatu yang tidak disebutkan dalam soalnya. Dan saat itu, belum pernah ada gaya soal nagham Al-Quran dengan jenis nagham turunannya. Saya menggerutu dalam hati. Kecewa, marah, dan mau protes pada saat yang sama. Tapi tak ada keberanian. Dalam waktu yang lama, itu juga membentuk saya yang takut berbicara atau menjawab pertanyaan.

Bayangkan, jika ada banyak anak yang seperti saya. Tumbuh dalam lingkungan yang diskriminatif dan tidak memberikan ruang aman. Dosa jariyah luar biasa besar bagi orang dewasa yang tahu dan membiarkan ketidakadilan pada anak diterima begitu saja.

Jadi, apa yang dilakukan Dewan Juri dan MC LCC yang diselenggarakan oleh MPR RI itu adalah cerminan alam bawah sadar kita. Ada orang yang salah, justru dibela mati-matian, hanya karena mereka lebih tua, anak muda, tahu apa?

Kalau hari ini banyak publik yang marah, tandanya kita sadar, bahwa budaya yang selama ini kita terima begitu saja adalah sebuah kesalahan. Jangan ulangi kesalahan itu, dengan memilih pemimpin yang hanya bisa berjoget saja.


메타데이터
post_id
a719aee18d0a
slug
bukan-cuma-perasaan-a719aee18d0a
url
https://medium.com/@rahmatalbarawi6/bukan-cuma-perasaan-a719aee18d0a
canonical_url
https://medium.com/@rahmatalbarawi6/bukan-cuma-perasaan-a719aee18d0a
author_url
https://medium.com/@rahmatalbarawi6
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13