← Back to list

Tubuh yang selalu Diadili.

Harvi Tejari.

Verstappen · 2026-06-19 00:07 · 9 claps · 1.3 min read
#identity #belonging #alienation #gender-expectations #masculinity
Open on Medium ↗

Tubuh yang selalu Diadili.

Harvi Tejari.

Harvi Tejari.

Aku menyukai warna pink.

Warna langit yang malu-malu sebelum fajar dilahirkan. Warna surat cinta yang tak pernah sempat dikirim. Warna yang kucintai diam-diam, seperti seseorang yang takut terciduk pulang ke rumahnya sendiri.

Tapi entah sejak kapan, manusia mulai memberi jenis kelamin pada warna.

Katanya, pink terlalu lembut untuk lelaki. Seolah-olah menjadi lelaki berati harus rela kehilangan kelembutan.

Aku ingin sekali sekali memanjangkan rambutku dan membiarkannya jatuh di bahu seperti doa-doa yang tak pernah sampai. Namun setiap helai yang tumbuh selalu terasa seperti dosa di mata dunia.

“Untuk Harvi yang biru, untuk Shelo yang pink, ya.” Ujar Tante Maryam sambil menyerahkan dua kotak pensil baru. Kami sama-sama tersenyum waktu itu.

Hanya saja, aku belum tahu bahwa sejak hari itu warna-warna pun memiliki jenis kelamin. Dan pada usia sepuluh, seorang anak laki-laki sudah diajarkan cara meninggalkan hal-hal yang ia sukai.

Aku belajar bertutur kata lembut dari Ibu, belajar bahwa suara yang halus dapat menenangkan hati seseorang yang runtuh. Tetapi dunia lebih dulu berkata: lelaki harus lantang!

Lalu aku bertanya-tanya, jika kelembutan diwariskan oleh ibu, mengapa aku harus membunuhnya hanya untuk disebut lelaki?

Apakah aku harus mengeraskan suara seperti yang Bapak lakukan, dan melupakan kelembutan seperti yang diajarkan Ibu?

Apakah nada suaraku yang lembut lebih hina daripada teriakan?

Apakah menyukai warna pink membuat kejantananku gugur?

Apakah surai panjang di pundakku membatalkan kelelakianku?

Di malam yang dingin sering kali kutangisi tubuh ini, merasa seperti kesalahan ketik dalam naskah besar yang bernama dunia.

Aku tak pernah meminta untuk dilahirkan begini.

Aku hanya ingin hidup tanpa harus mengubur bagian-bagian diriku agar orang lain merasa nyaman.

Sebab ternyata, yang paling menyakitkan bukanlah ejekan. Melainkan kesadaran bahwa ada orang-orang yang akan lebih mudah menerima kematianku daripada menerima diriku yang sebenarnya.


메타데이터
post_id
a71ea8d42378
slug
tubuh-yang-selalu-diadili-a71ea8d42378
url
https://medium.com/@naylasunghoon12/tubuh-yang-selalu-diadili-a71ea8d42378
canonical_url
https://medium.com/@naylasunghoon12/tubuh-yang-selalu-diadili-a71ea8d42378
author_url
https://medium.com/@naylasunghoon12
status
ok
fetched_at
2026-08-25 07:56:36