Ketenangan
Sore ini hujan turun deras dari langit-langit kota yang biasanya dipenuhi cahaya terik dan suara tergesa. Jalanan basah, udara menjadi…
Ketenangan
Sore ini hujan turun deras dari langit-langit kota yang biasanya dipenuhi cahaya terik dan suara tergesa. Jalanan basah, udara menjadi dingin, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa dunia melambat sebentar.
Konon katanya, petang dan hujan adalah waktu terbaik untuk mengetuk langit lewat doa. Terlebih hari ini adalah hari Arafah: hari yang istimewa bagi banyak orang, termasuk aku yang tumbuh dan hidup di dalam agama ini. Entah mengapa, sore ini terasa berbeda. Seolah hujan turun bukan hanya membasahi bumi, tetapi juga membersihkan isi kepala yang terlalu penuh.
Sudah hampir 23 tahun aku hidup. Namun hari ini, rasanya seperti sedang dilahirkan kembali.
Beberapa bulan terakhir dipenuhi banyak hal yang tidak pernah benar-benar bisa aku ceritakan dengan utuh. Tentang takut yang datang diam-diam, tentang kecewa yang dipendam terlalu lama, tentang lelah yang bahkan sulit dijelaskan kepada diri sendiri. Ada malam-malam sunyi yang hanya diisi suara tangis pelan dan pikiran yang tidak mau berhenti bekerja.
Di tengah semua itu, aku terus berjalan seperti biasa. Tertawa seperlunya. Menjawab “aku baik-baik saja” sesering mungkin. Sampai akhirnya aku sadar, ada bagian dalam diriku yang terlalu lama dibiarkan kosong.
Dan sore ini, di tengah suara hujan yang saling bersahutan di luar jendela, aku memilih berhenti sejenak untuk kembali pulang kepada Tuhan.
Aku mulai meminta. Mulai mengeluh. Mulai bercerita.
Seolah DIA benar-benar ada di sana…mendengarkan tanpa memotong, memahami tanpa menghakimi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku membiarkan diriku jatuh sepenuhnya di atas sajadah. Tidak sedang mencoba terlihat kuat. Tidak sedang berpura-pura tabah. Hanya seorang manusia yang akhirnya mengaku lelah.
Mungkin selama ini dunia terasa begitu berat karena aku terlalu sering mencoba menghadapinya sendirian.
Padahal Allah tidak pernah meminta kita menjadi manusia yang selalu kuat. Kadang kita hanya diminta kembali. Kembali percaya. Kembali bersandar. Kembali yakin bahwa ada tempat pulang yang tidak akan menolak kita seburuk apa pun keadaan hati kita hari itu.
Dan anehnya, setelah semua tangis itu reda, tidak ada jawaban besar yang datang. Tidak ada keajaiban yang tiba-tiba menyelesaikan hidupku. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih menenangkan: hati yang perlahan terasa ringan.
Lembut sekali suara di dalam diriku berkata, “semuanya akan baik-baik saja.”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi seseorang yang sudah terlalu lama cemas tentang masa depan, terlalu keras pada diri sendiri, dan terlalu sering merasa sendirian, kalimat itu terasa seperti pelukan.
Hari ini aku belajar, ketenangan bukan berarti hidup kita sudah sempurna. Kadang ketenangan hadir saat kita akhirnya berhenti melawan semuanya sendiri.
Mungkin memang benar, beberapa doa tidak langsung dijawab dengan apa yang kita minta. Ada yang dijawab lewat hujan. Lewat hati yang dilapangkan. Lewat kemampuan untuk kembali bernapas lebih lega.
Dan atas rasa percaya itu, hari ini aku merasa tenang.

“hujan yang jatuh dalam genggaman”
메타데이터
- post_id
- a727dcb35f96
- slug
- ketenangan-a727dcb35f96
- url
- https://medium.com/@niswatusshabrina69/ketenangan-a727dcb35f96
- canonical_url
- https://medium.com/@niswatusshabrina69/ketenangan-a727dcb35f96
- author_url
- https://medium.com/@niswatusshabrina69
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 14:34:10