Berhati-hati
“ Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan…
Berhati-hati
“ Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya” Q.S. Al Mu’minun 57–60
Hidup di kalangan orang-orang yang (asumsi) bukanlah mukminin apalagi dengan mayoritas orang non-Muslim, terkadang membuat Penulis lelah.
Penulis harus senantiasa sadar dan berhati-hati terhadap apa yang dilakukan bersama, khususnya ketika beramai-ramai. Lelucon yang bisa jadi merugikan, omongan yang menceritakan keburukan orang lain (ghibah), perkataan yang kotor dan tidak bermanfaat, atau bahkan cerita yang dapat memberikan fitnah bagi orang lain, merupakan rintangan-rintangan yang Penulis mesti lalui setiap hari agar tidak melakukan dosa (lagi).
Barangkali mungkin diri ini ingin memuaskan tawaan orang lain? Ingin dianggap tahu semua informasi? Ingin diakui sebagai teman? Tidak ingin diakui sebagai orang aneh?
Mungkin ini saatnya bertanya ; Kita menyembah manusia lain, kekhawatiran kita, atau hanya Allah SWT?
Sering kali terpikirkan untuk mengasingkan diri, jauh dari keramaian ketika memang kehadiran Penulis sedang tidak dibutuhkan, demi menjaga keimanan yang sangat mudah bocor. Ibarat air yang menjadi kebutuhan primer, keimananlah yang membuat kita tetap percaya. Kamu akan perlahan menyadari bahwa kegiatan maksiat yang kamu lakukan, yang nyaris membuatmu kafir, itu karena imanmu sedang bocor dengan kecepatan yang tinggi karena berbagai dosa kehidupan yang menyerang. Entah kenapa teman-teman muslim Penulis tidak terlihat kesulitan dalam menjaga keimanannya.
Kelelahan Penulis dalam berusaha untuk selalu memperhatikan ucapan, respon, pandangan, pendengaran, hati, pikiran, dan berbagai alat indra lainnya membuat Penulis berpikir,
Apakah memang benar untuk selalu bertindak hati-hati dalam hidup ini?
Lalu kemudian Sang Pencipta memberikan ayat kepada Penulis, Al Mu’minun : 57.
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,” Q.S. 23 : 57
Setelah membacanya terasa cukup lega. Ternyata sikap berhati-hati ini memang tidak aneh. Cobaan di akhir zaman memang sangat sulit, bung.
Namun pada akhir hari, timbul pertanyaan sesungguhnya :
Maka bagaimana kamu berhati-hati jika kamu memang mesti hadir di khalayak ramai bersama manusia-manusia tersebut?
Mungkin ini saatnya kita mulai untuk berintrospeksi diri lagi. Jika memang angin sangat kencang sehingga rumah nyaris roboh, apakah yang bisa kita lakukan?
Benar. Yaitu memperkuat pondasi rumah.
Maka dari itu saatnya kita tingkatkan kualitas dan kapasitas diri dalam menghadapi cobaan-cobaan tersebut, agar kita menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah menurun keimanannya.
Salam,
AFS.
Semoga keimananmu dan keimananku semakin meningkat. Aamiin.
메타데이터
- post_id
- a76438d48c9
- slug
- berhati-hati-a76438d48c9
- url
- https://medium.com/@afadius/berhati-hati-a76438d48c9
- canonical_url
- https://medium.com/@afadius/berhati-hati-a76438d48c9
- author_url
- https://medium.com/@afadius
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 03:02:52