← Back to list

Surau, Sujud, dan “Illaa Man Taab”

Semi-Structured Side-Reflections for Personal Revisiting

Rakean Radya Al Barra · 2025-10-01 21:02 · 195 claps · 13.6 min read
#refleksi #pribadi #maryam #furqan #ankabut
Open on Medium ↗

Surau, Sujud, dan “Illaa Man Taab”

Semi-Structured Side-Reflections for Personal Revisiting

surau

salah satu hobiku saat menginap di tempat baru adalah mencoba shalat subuh di masjid terdekatnya. sebab, it gets you into real life. di situlah kamu akan sedikit paham dinamika ke-masjid-an sekitar. di situlah kamu akan bertemu dengan the premium edition muslims — kamu akan ber-privilege untuk berkongregasi, berinteraksi, dan guyub dengan mereka hingga terbit mentari.

jalan kaki menuju masjidnya juga is its own experience. komplek perumahan nyaman. pasar yang aktif subuh-subuh. gang sepi bau apek. buah dan ikan dan daging segar. kendaraan sudah mulai bergerak meski gelap. hawa dingin khas prasubuh. bulan dan segala fasenya. oh i love bulan dan segala fasenya.

hal-hal ini yang kutemui pula di melaka, saat ber-solo trip dan menginap di hostel murah di ruko tepat seberang pasar lokal. segala kehidupan terasa beku dan terpreservasi untuk aku saksikan sebagai pendatang. contoh langka dari keasingan yang syahdu.

terhanyutlah aku dalam suasana ini hingga selesai berjejak di tujuanku.

begitu kaget aku saat surau yang kudatangi hanya berisi satu manusia lain.

bayang-bayang idealisme kesyahduan momen subuh itu pecah seketika.

pada akhirnya, yang shalat di sana hanya lima orang total. dua tidak ikut jamaah karena telat. dua adalah pelancong, termasuk aku. jamaah ori on time cuma satu uncle berjenggot panjang — pengurus surau yang datang sebelumku. itu pun lupa kuncinya sehingga kita shalat bertiga di teras. pembicaraan beliau denganku penuh dengan masyallah masyallah seolah beliau kagum ada pendatang beda negeri yang mau shalat subuh berjamaah di surau kecilnya.

sesuatu seperti mengganjal di dada.

esok harinya, jamaah subuh surau tersebut hanya satu orang.

aku.

setengah jam setelah aku selesai shalat di teras, seorang marbot tetiba menghampiriku dan membuka pintu surau— lalu pergi lagi entah ke mana.

maka aku habiskan waktu menuju syuruq tersebut di dekapan sunyi surau dalam perenungan panjang.

why me?

surau berisikan aku seorang

surau berisikan aku seorang

bulan juli hingga awal september tahun ini sebetulnya bagiku adalah beberapa bulan terberat secara emosional in recent memory. meski kurasa sejak dahulu aku cukup reflektif untuk benar-benar menyadari dan mengenal suara-suara diri, aku tak pernah begitu pandai mengurusnya. aku telah menangkap dan menaruh harimau-harimau tersebut di suatu ruang bawah tanah pribadi — tak mengganggu ruang-ruang kerja lainnya — hanya untuk terus saja beralasan dan kekurangan waktu untuk meladeni keperluan-keperluan para hewan buas yang menggaung di bawah situ.

eh harimau menggaung gak sih wkwk

masalahnya, secara tampak, semua memang baik-baik saja. toh, harimaunya tak berkeliaran ke ruangan lain. contoh: aku masuk ke dalam pekerjaan nonmonoton yang penuh dengan fulfilling meaning. aku cukup perform di sana dan putting in some of my best work ever. aku jujur tak begitu risau dengan perihal menunda studi atau ‘kekecewaan’ senada lainnya. aku ada saja teman baik hati yang mengajak atau mau diajak untuk ini dan itu. aku tak pernah kehabisan side-project menarik yang lalu mendanai buku-buku menarik atau jalan-jalan menarik yang lalu memunculkan pikir-tindak menarik. ya. ruang-ruang utamaku bersih, rapi, dan wangi.

on all accounts seolah layak dipertontonkan dunia.

justru dengan begitu, semakin bersalah rasanya menyembunyikan harimau-harimau di basement.

plural. keresahan-keresahan core-ku plural dan sebetulnya sudah kukenal dari lama (palingan ganti wujud tipis-tipis). dan untuk beberapa lama aku mengandalkan teman terdekat untuk setidaknya diceritakan (secara belibet dan berulang-ulang pula) mengenai apa saja hal-hal ribet yang ada di belakang layar. belakang layarnya pun berlapis-lapis, dengan akses bertingkat bergantung pertemanannya. jauh di dalam sana, ada masalah-masalah yang segala konteks, perwujudan, dan kejujurannya sepertinya hanya bisa kuceritakan ke rajji rachman atau arsyad kamili — itu pun amat terbatas karena waktu. lebih dalam lagi, ada core yang memang sepatutnya diketahui oleh diri sendiri dan Sang Pencipta saja.

lalu, tibalah masa-masa transisi (“kok gak pernah abis ya, ‘masa-masa transisi’ sebagai alasan?” pintaku pada diri sendiri) yang menegaskan segala tanggung jawab pribadi dan ke-gharib-an yang mencekam — suatu kondisi yang memaksaku menghadapi semua yang belum beres itu.

dengan begitu, penerbangan seorang diri menuju kuala lumpur pada pivotal solo-trip itu sekaligus menjadi kepergian simbolisku menuju ruang berisikan harimau-harimauku. sembari pesawat mulai melintasi perairan, aku membuka pintu ruangan dan bertanya kepada mereka semua — baik, tuan-tuan belang-belang, apologies for the long wait! ada yang bisa saya bantu?

hingga saat ini tiap langkah ku tlah jauhi beragam tepi terpujilah mandiri di hati

apa yang mengganjal begitu tak nyaman dalam dada di surau itu? ***pertanda akan suatu takdir*.**

aku rasa aku sudah agak keterlaluan dalam eksistensi ini. hidup yang telah dipinjamkan kepadaku sejauh ini begitu manis. terlalu manis. tanpa kuminta, aku telah dilahirkan di keluarga akademisi yang menjadi cukup well off, telah dibibitkan di peradaban amerika yang menumbuhkan keluasan wawasan dan percaya diri, telah ditempa sedemikian sebagai pejalan di indonesia hingga humbled untuk peka sosial, telah dijaga terus dalam mempertahankan values Islam, telah dibuka pintu-pintu terhadap lingkaran pengaruh, telah dianugerahkan dorongan untuk senantiasa memikirkan dan memikirkan dan memikirkan.

biadab rupanya apabila tidak berhasil kupergunakan semua itu for Him in the best way imaginable. harus begitu. aku tak terbayang secara spesifik apa konsekuensi dari the best way itu —toh para penggerak sejarah yang berani mengemban pekerjaan syukur setinggi-tingginya kemudian menghadapi situasi-situasi diuji dengan duniawi, difitnah, disiksa, dibunuh, dan lain-lain.

takutkah aku terhadap bayang-bayang situasi itu? apakah itu yang mengganjal? bukan juga. aku lebih takut kalau aku dan usahaku tidak betul-betul bisa menjalani itu dengan baik. bahwa aku belum piawai bertanggung jawab atas mimpi-mimpi pekerjaan syukurku. bahwa aku belum se-usaha itu secara proporsional terhadap absurd luck pada pinjaman eksistensiku. bahwa aku sebenarnya sembrono dan berantakan. bahwa aku akan tertelan oleh gravitasi syaithan. will i be able to bear this destiny?

sepertinya lebih sederhana terlahir menjadi petani miskin yang jujur — cukup beriman dan sami’na wa a tho’na dalam suatu lingkup usaha yang kecil (toh memang bisanya itu) — tak dibebani dengan pemikiran dan tanggung jawab yang muluk-muluk. paling-paling pahitnya debu dunia akan dirasakan sekejap sebelum balasan-balasan terbaik dari-Nya.

sayangnya, aku tak boleh berandai-andai begitu, karena nyatanya aku rakean. dan rakean harus get things right; the best it possibly can be. dan rakean harus menelan misinya.

dan rakean harus menelan misinya.

lalu ia mencoba menjalankan itu dengan kata-kata manis setengah tulus (lalu protes sendiri dan resah tentang keikhlasannya! *itu salah satu harimau tersendiri*) di atas panggung, memainkan sandiwaranya. bergeraklah sang tubuh di situ, di balik kemilau yang dianugerahkan kepadanya, seolah dipaksa oleh ritme mekanik kaku karena sejatinya tubuh itu sudah terlanjur rapuh. boneka lemas yang dipakaikan baju pangeran. badut bertopeng kesatria.

maka surau yang kosong itu mengingatkanku akan segala peran khususku dan segala jalan sepiku. teringat semua pihak yang begitu getol mengadmirasiku, meminta tolongku ini dan itu, menjadikanku tokoh superhuman yang sejatinya terengah-engah dengan beban punggungnya. tercetuslah kembali bahwa memang hanya sedikit orang yang berafiliasi pada nilai-nilaiku, lalu lebih sedikit lagi yang berada para irisan strategis dunia dieny dan duniawy, lalu lebih sedikit lagi yang dari generasiku, lalu lebih sedikit lagi yang… segala pemikiran ini seketika men-trigger semua harimau yang saling berkaitan dengan aku dan konsep diriku.

sebagai yang tahu betul akan diri sendiri, aku cukup sadar kalau i may not be cut out for this.

eh, eh, sebentar. ada komentar.

pede banget, rak. memangnya iya? sok istimewa banget lu. ampe dibayang-bayang segala kayak bakal kejadian aja jadi ‘peran penting’. cuih.

hmmm. you know, you’re right. that’s exactly what i tell myself too. lalu aku menghardik ego diri yang bisa segitunya narsis nan ambisius untuk berpikir seperti itu. untuk bisa resah dengan imajinasi itu. sembarangan sekali.

itu barangkali contoh salah satu ‘harimau’ fundamental, yang ketika dihadapi malah membawa segerombol harimau lainnya yang saling berhubungan maupun yang tidak terlalu.

meski aku sudah cukup pandai agar ia tidak memengaruhi ‘rakean panggung’ yang bekerja dan mengisi acara dan berjejaring dengan pede, aku menjadi sadar kalau keresahan-keresahan tersebut rawan terbawa ke dalam problematika interpersonal. contohnya, problema-problema ini menjadi cukup terikat dengan suatu masalah hubungan personal yang baru saja bertemu sebuah milestone di bulan juninya, sehingga masa-masa juli dan agustus penuh dengan anxiety berkepanjangan berantai-rantai akibat ruang problema tersebut yang sulit dipisahkan (until maybe recently).

selain di surau, karena aku memang dalam mode berkelana demi menghadapi diri sendiri, aku ter-trigger pula dalam berbagai kesempatan lainnya di masa-masa belakangan ini. contohnya, aku mengalami sedikit mini-breakdown sebagai konsekuensi alur berpikir setelah aku menyadari aku satu-satunya pemuda yang hadir di masjid dekat hotel tempat kutinggal di daerah damansara. betul-betul sampai ada berat fisik yang terasa di dada — sesuatu yang menurutku fenomena yang amat menarik (aku belajar tentang diriku!).

ada pun kondisi eksternal dunia yang semakin membuat pesimis — kezaliman yang terpampang jelas bagi semua yang peka untuk melihatnya dan ketimpangan nyata yang ketidakadilannya menjijikkan hingga mengeruk sisa harap yang bertengger di hati. masalahnya, untukku secara spesifik, kezaliman dan inkompetensi dan kebohongan yang merajalela semakin terafirmasi dari interaksi-interaksiku dengan berbagai pihak di project-project-ku, dan aku yang seolah powerless lalu menyesali ketakberdayaan diri.

dari dalam maupun luar, sepertinya ada saja yang menyulut api kegelisahan pada diriku. untungnya, ia tak mustahil untuk dihadapi, kok. atau setidaknya untuk dijinakkan, jika belum bisa menghabisinya seketika. itu juga kenapa aku agak berani untuk menulis tentangnya sekarang karena sudah kurang-lebih bisa diatur (rencananya dari dulu mau nulis tentang ini, tapi ditunda mulu karena belum kunjung aman hahah). yang kutahu, suatu saat segala keruwetan mengenai persepsi diri ini harus selesai. antara rakean panggung dan rakean belakang layar adalah orang yang sama. dan justru membereskan harimaunya akan otomatis membuatnya lebih kapabel dan lebih punya energi untuk menjalankan takdir-takdir yang diresahkan itu, bukan?

remember

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ

and supplicate

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

sujud

Photo by Najmul Hasan on Unsplash

Photo by Najmul Hasan on Unsplash

seperti yang tadi ku-mention, aku menganggap bahwa fenomena ini menarik sekali. jika kubayangkan diri sebagai pihak netral yang sedang meneliti rakean, rupanya banyak temuan dan kejutan dan penantangan asumsi atau hipotesis yang seru. jadi di satu sisi, menganalisa dan merefleksikan diriku itu asyik sekali hahaha.

terkadang, cukup untuk tersentil sedikit dalam mengakui the ridiculousness of it all, dan itu bisa membuatku jauh lebih better. itu juga mengapa aku sering membercandai diri sendiri (atau orang lain ups) wkwkwk.

suatu hari, contohnya, setelah suatu sesi syahdu shalat sendirian di musholla kantor seperti biasa dan merenungkan hal-hal sampai gelisah, aku caught my own face di cermin wastafel yang berekspresi begitu miris nan menyedihkan. alih-alih mengasihani diri sendiri, aku malah menganggapnya lucu banget karena lah bisa gini juga ni anak — terus respons diri yang se-unserious itu malah menetralkan suasana wgwgwg.

contoh lainnya, ketika pulang dari suatu tempat di malam hari naik lrt dilanjut bus transjakarta, aku sedang letih sekali (juga galau berat) yang membuat overwhelmed dan litereli sesak. did i cry? maybe. maybe not. maybe a lot hahah. lalu, di tengah situasi tersebut — sambil beralih dari bus ke jpo — aku pun entah kenapa mendengarkan lagu berhenti berharap dari sheila on 7 yang tingkat kepasrahannya beuuuuuhh si paling sadboi lah. dengan begitu, saat kembali ke kost, aku malah menganggapnya lucu dan menertawai diri sebagaimana seorang teman dekat, karena cukup absurd aja aku bisa sampai sebegitunya hahahaha.

selain humor, hal helpful lainnya adalah meminta dalam doa. yang kuobservasi, syaratnya agar the act of doa bisa punya immediate effect pada psikis adalah jika betul-betul *mindful dalam menjalankannya. mindful ini memiliki aspek (1) mindful akan apa yang sebenarnya sedang kita risaukan, (2) mindful akan kecenderungan respons kita, dan (3) mindful akan peran Allah yang Maka Kuasa terhadap semua itu — wa Huwa ‘ala kulli syaiin qadiir. ke-mindful-an ini biasanya butuh preparasi diri agar [detached](https://www.youtube.com/watch?v=qm3bi01R2KM) dahulu dari hiruk-pikuk dunia. itu juga mengapa aku sekarang tidak membawa — atau setidaknya mematikan — hp kalau pergi ke musholla atau masjid, juga pergi di awal waktu demi context resetting *melalui shalat sunnah wudhu atau tahiyatul masjid atau rawatib (sekali tebas menggabungkannya niatnya).

dengan mode mindful ini, sang daftar doa yang terbiasa mengalir secara mekanis saja berubah menjadi wasilah penyerahan yang serasa betul-betul menitipkan pada Allah. bahwa — i’ve done what i can, and i’m grateful to have been orchestrated in such a way to already do that much, and i wish to continue to be His vessel— dan semuanya adalah hak-Nya dan hanyalah hak-Nya. laa hawla wa laa quwwata illaa billah. kutemukan juga bahwa semakin detail doanya, semakin banyak kita yakin juga akan peran-peran spesifik Allah. jika diri belum sanggup untuk mengimani sepenuh-penuhnya dengan mencukupkan pada shalawat atau doa catch-all (meminta “yang terbaik”), doa-doa khusus untuk masalah spesifik atau orang spesifik memberi ketenangan bahwa “oh yang ini sudah kuserahkan ke Ar-Razzaq”, “oh kalo yang ini sudah kuserahkan ke Al-Wadud” hingga satu-satu semua sudah tertitipkan dan yakin akan dikabulkan sesuai kebijaksanaan dan keadilan-Nya.

doa-doa ini lebih jleb lagi jika dipanjatkan dalam sujud. betapa indahnya posisi sujud! menempatkan diri di tanah, elemen yang darinya jasad berasal sekaligus tempat jasad akan kembali. merendahkan diri dan mengesakan-Nya saja. it is sunnah juga untuk berdoa sambil sujud, dan aku temukan bahwa sayyidul istighfar untukku jadi jauh lebih termaknai dalam posisi tersebut.

tentu, segala upaya untuk meringankan gejala permukaan in the moment bukanlah solusi root cause (lagipula, hanya Allah yang Al-Jabbar dan Asy-Syaafi), tetapi itulah yang membantu memosisikan diri kembali — sesuatu yang rasanya amat penting di tengah dinamika yang suka membuat lupa diri.

illaa man taab

Photo by Jonathan Borba on Unsplash

Photo by Jonathan Borba on Unsplash

semenjak suatu wisata religi menyusuri masjid-masjid jakarta, aku menjadi amat terpikat dengan Surah Maryam, terutama halaman 309 (ayat 52–64).

awal surat ini distrukturkan pada ajakan ke Rasulullah ﷺ untuk bercerita mengenai kisah-kisah pendahulunya, dimulai dari Nabi Zakaria alaihissalam dan Yahya alaihissalam, dilanjutkan dengan Maryam alaihissalam dan Nabi Isa alaihissalam, dan seterusnya dan seterusnya. setelah mengingatkan Rasulullah ﷺ (dan umatnya) dengan core qualities para pendahulu sebagai hamba, yang membuat lelahku terasa palsu, ditariklah benang merah mengenai orang-orang terpilih ini pada suatu ayat sajdah:

أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مِن ذُرِّيَّةِ ءَادَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍۢ وَمِن ذُرِّيَّةِ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْرَٰٓءِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَٱجْتَبَيْنَآ ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتُ ٱلرَّحْمَـٰنِ خَرُّوا۟ سُجَّدًۭا وَبُكِيًّۭا

those were the ones upon whom Allāh bestowed favor from among the prophets of the descendants of Adam and of those We carried [in the ship] with Noah, and of the descendants of Abraham and Israil, and of those whom We guided and chose. when the verses of the Most Merciful were recited to them, they fell in prostration and weeping. [19:58]

aku pun bersujud dan menangis.

dua ayat kemudian, muncullah janji Allah bagi hamba-Nya yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan kebajikan: surga. sekumpulan ayat berikutnya lalu mendeskripsikan tempat yang begitu elok itu. dengan membacanya aku menangis lagi. lalu, kuselesaikan suratnya dan berdiam begitu lama rasanya untuk mengumpulkan diri dan berbagai kecamuk tak terdefinisi yang mengetuk pintu-pintu dalam diri.

belakangan, satu cuplikan yang menjadi fokusku. tepat setelah ayat sajdah, diisyaratkan bahwa akan ada pengganti umat para nabi terdahulu dengan orang-orang yang tersesat.

kemudian datanglah setelah mereka, pengganti yang mengabaikan salat dan memperturutkan nafsunya, maka mereka kelak akan tersesat,

lanjutannya, illaa man taab, wa aamana, wa ‘amala shaalihan — fa ulaa ika yadkhuluun al-jannah, wa laa yuzhlamuuna syai’aa. artinya:

kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan kebajikan, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dizalimi (dirugikan) sedikit pun. (19:59–60)

tak sulit bagiku untuk membayangkan ketersesatan khalayak manusia luas di zaman pascanabi ini, abai terhadap sembahyang dan menuhankan keinginannya — begitu dibiasakan pula! aku takutkan bahwa barangkali gravitasi berpotensi menarikku dan kekurangelokanku ke arah sana jua hingga terjatuh ke dalam kesesatan yang hina. namun, ayat ke-60 ini — diawali illaa man taab (kecuali orang yang bertaubat) — memberiku harapan akan keselamatan. taubat, iman, dan amal sholeh menjamin para umat akhir zaman tersesat ini untuk masuk surga, tanpa dizalimi sedikitpun — Allah Maha Adil dan Maha Tahu akan segala kesulitannya menggenggam bara iman dan memperjuangkan ishlah dan izzah di masa-masa sulit ini. maka selama pintu itu selalu terbuka, aku seharusnya bisa selalu mengunjunginya.

suatu hari di musholla kantor, saat membaca Surah Al-Furqan, aku baru menyadari bahwa ‘ayat-ayat ibadurrahman’ juga memiliki ayat yang serupa dengan Surah Maryam ayat 60 tadi. dalam ayat 68 dan 69 Surah Al-Furqan, dideskripsikan bahwa akan dilipatgandakan azab untuk mereka yang mempersekutukan Allah, membunuh orang yang diharamkan Allah, dan berzina. ngeri sekali. namun, ada pengecualian. siapakah itu?

lagi-lagi, illaa man taab.

lengkapnya: kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

maka untuk orang-orang akhir zaman yang tersesat ini, bahkan orang-orang yang syirik, membunuh, dan berzina, masih sangat ada harapan untuk masuk ke surga, diadili tanpa zalim sedikitpun, dan digantikan kejahatannya dengan kebaikan. ayat 70 inilah yang Rasulullah ﷺ singgung kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anh yang telah didatangi seorang wanita yang membunuh bayinya yang baru lahir (hasil perzinaan); Abu Hurairah telah bilang kepadanya bahwa tidak ada harapan untuknya sampai ia menangis-nangis, tetapi setelah diceritakan kasusnya, Rasulullah ﷺ membacakan ayat 70 tersebut dan meminta Abu Hurairah untuk menemui wanita itu kembali untuk memberikannya harapan lagi.

istilah sayyi-aat dalam ayat tersebut membuatku teringat pula terhadap ayat 7 dari Surah Al-Ankabut yang menyebut kalau orang-orang yang aamanu wa ‘amilush shaalihaat tidak hanya dihapus kesalahan-kesalahannya, tetapi akan dibalas sesuai dengan amal-amal terbaiknya. kata ust. nouman ali khan, umpamanya seperti menjalani masa sekolah tapi nilai akhir kita diambil dari kuis-kuis yang paling bagusnya aja. luar biasa. just try and think of what exactly that entails. again, luar biasa. kurang baik apa, Allah?

meski aku tak sesuci dan bergemilang itu juga, ketika kubermuhasabah tentang segala kurang-kurangku, sepertinya belum seekstrem contoh-contoh dalam kedua ayat illaa man tab sebelumnya. dan insyallah kalau soal syirik dan pembunuhan dan zina mah tidak pernah dan tidak terbayang akan melakukan to the full extent of the sin. maka seharusnya pintu harapan dari Allah selalu terbuka untukku, bi idznillah.

(kalau kata arsyad, “cheer up man, it’s not like you’re evil or something like benjamin netanyahu.” lalu kukatakan padanya bahwa itu perbandingan yang amat buruk ahaha.)

maka di kala harimau-harimau mulai aktif, dan dengannya terseret-seret pula segala konsep ketakberterimaan diri, aku tahu apa yang dapat menentang lara.

when i think my luck will come to its end in a grand downfall. when i think the consequences of the sins of my selfishness will catch up to me. when i think i am irredeemable and destined for doom— illaa man taab

when i think the world will discover me as phony. when i think i am incapable of swallowing my destiny. when i think i can’t get my role right. when i think that i will drown by gravity— illaa man taab

when i think i am incapable of staying, even when i want to. when i think i am incapable of getting people to stay, even when i want to. when i think i am incapable of peace with myself, even when i want to (do i?). when i think i will constantly choose pain — illaa man taab

karena azab yang sesungguhnya adalah tercabutnya kesempatan untuk bertaubat kepada Allah. maka jika betul ingin merdeka dan murni walau dengan segala beban tanggung jawab yang lahirkan ragu dan sesal, pintu itu masih tetap terbuka— biarpun konsekuensinya aku harus menghadapi harimau-harimau yang berada di situ terlebih dahulu.

tapi tak apa, itu pr-ku.

Photo by Ryunosuke Kikuno on Unsplash

Photo by Ryunosuke Kikuno on Unsplash

hahaha lumayan triggering juga, but im glad i got this all down. meski setelah dibaca berulang aku agak sedikit ragukan akurasi dari narasiku, but hey i guess that’s what im able to do this time around. jadi tidak sabar tuk lengkapi refleksi-refleksi lebih rapi dan processed untuk Q3 di tulisan jumat besok. ohya tentu, karna kebayangnya cuma aku sama temen deket yang bakal bener-bener fully appreciate this piece, buat audiens umum mohon maaf kalo tulisan ini agak dibawa ke hutan lol.

regardless, trimakasih sekali buat teman dekat, teman jauh, dan teman-teman pembaca lainnya (termasuk diri karena ia adalah teman juga ya, rak!) yang menemani berefleksi — i genuinely wish you all the best ^^


메타데이터
post_id
a7aff94cb6e9
slug
surau-sujud-dan-illaa-man-taab-a7aff94cb6e9
url
https://medium.com/@rakeanradya/surau-sujud-dan-illaa-man-taab-a7aff94cb6e9
canonical_url
https://medium.com/@rakeanradya/surau-sujud-dan-illaa-man-taab-a7aff94cb6e9
author_url
https://medium.com/@rakeanradya
status
ok
fetched_at
2026-07-17 02:55:38