Harus Paham Partuturan
Tiba-tiba disuruh panggil Tulang, padahal kenal aja belum
Batak Dall-E — Tetap Halak Hita!
Harus Paham Partuturan
Tiba-tiba disuruh panggil Tulang, padahal kenal aja belum

Salah satu bentuk tarian dari Suku Batak (Penguin Travel Denmark)
Pendahuluan
Sudah berapa lama aku jadi orang Batak? Kalau ditanya itu, aku punya dua jawaban. Pertama, aku menjadi orang Batak sejak lahir. Aku dilahirkan dari kedua orang tua yang BTL (Batak Tembak Langsung). FYI, BTL itu adalah orang Batak yang masih lahir dan besar di Sumatera Utara. Nah, “Batak” aku diwariskan dari mereka berdua.
Jawaban kedua, aku merasa diriku sebagai orang Batak sejak menginjak bangku kuliah. Walaupun latar belakang keluargaku benar-benar Batak, tetapi aku masih denial dengan sisi “Batak” yang aku miliki. Hal ini karena pergaulanku yang beragam dan kurang terpaparnya aku dengan budaya Batak. Mungkin hanya sekadar tahu kalau setiap pergantian tahun ada acara mandok hata dan ikut perayaan pesta bona taon setiap tahun.
Jawaban kedua ini juga yang membuat aku sering kali kikuk ketika bertemu dengan saudara yang jarang bertemu, apalagi yang usianya di atasku. Aku cukup banyak memiliki om dan tante, tetapi panggilan mereka beragam. Hal itu yang selalu aku pikirkan sebelum bertemu seseorang.
Risiko Salah Panggil

Pemberian marga Sidabutar kepada Erick Thohir (RRI)
Ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, Bahasa Indonesia sudah memfasilitasi sebutan yang mudah. Jika bertemu dengan laki-laki yang sekiranya seumuran ayah kita, bisa dipanggil dengan sebutan paman atau om. Begitu juga dengan perempuan yang sebaya dengan ibu, kita bisa panggil dia dengan sebutan tante atau bibi. Namun, hal itu tidak berlaku di orang Batak.
Potensi kesalahan memanggil seseorang bagi orang Batak cukup tinggi, apalagi yang tidak paham partuturan. Kalau yang aku tahu, partuturan itu seperti sebuah sistem yang dipegang oleh orang Batak mengenai panggilan atau cara mengidentifikasi seseorang sesuai dengan hubungan kekerabatan atau pohon keluarga. Bahkan hubungan kekerabatan ini sangat luas, bukan hanya kepada saudara dekat saja.
Kalau aku ditanya apakah pernah salah panggil, tentu pernah. Asumsiku adalah karena aku sendiri jarang ikut acara keluarga atau pesta adat. Jadinya ketika tiba-tiba ikut acara yang banyak saudaranya, aku lebih banyak diam. Tidak ada keberanian untuk memanggil seseorang, takut salah panggil. Soalnya, aku pernah sekali menyapa, ternyata panggilan yang aku sebut itu salah. Malu aku malu.
Pentingkah Tahu Partuturan?

Keluarga Batak (Tobapos)
Penting! Mengetahui partuturan bukan hanya sekadar pemenuhan adat saja, tetapi sebagai petunjuk. Tidak jarang, partuturan ini menolong orang Batak yang sedang berada di perantauan. Walaupun tidak punya saudara kandung di tanah orang, tetapi dengan mengetahui hubungan antar marga, pasti bakal lebih mudah hidup di negeri seberang.
Memang aku belum banyak mengalami “kebaikan” dari partuturan. Namun beberapa kali, aku merasa tertolong karena menemukan “saudara baru” di daerah lain. Ketika aku menyebutkan margaku dan boru dari ibu, bisa ketahuan garis hubungan kekeluargaannya. Tidak jarang malah menjadi penolong ketika kita sendiri sedang kesusahan.
Jujur, aku bangga jadi orang Batak karena ikatan persaudaraannya erat. Walaupun tidak sedikit juga yang memanfaatkan partuturan ini untuk keuntungan sendiri. Namun di luar itu, partuturan memang penting agar kita tidak salah langkah dan sebagai pembuka gerbang bagi banyak hal, mulai dari rezeki, pertemanan, hingga percintaan.
Penutup

Otto Hasibuan bersama istri, Normawaty Damanik serta keluarga manortor saat prosesi Sambut Hula-hula acara Pesta Adat Pernikahan Yakup Hasibuan dan Jessica Mila (Nusantara TV)
Mengetahui partuturan sama dengan mengikat tali silaturahmi. Seperti manusia yang hidupnya saling berkaitan, partuturan ini sebagai cara untuk semakin mendekatkan antar individu. Aku juga sedang belajar mengenai partuturan, baik melalui orang tua atau learning by doing. Susah? Tentu saja, apalagi aku orangnya cukup “mager” dengan urusan seperti itu.
Tinggal bagaimana kita memanfaatkan partuturan ini dengan bijak. Jangan membawa alasan partuturan untuk kepentingan sendiri. Partuturan bukan untuk meminta belas kasihan dan menipu keluarga sendiri. Partuturan bukan untuk orang yang memakai seribu alasan untuk meminjam uang orang lain yang dianggap saudara. Partuturan adalah sebuah budaya yang indah agar hubungan antar manusia tetap harmonis.
Duh, kalau dengar kata-kata harmonis, jadi ingat kerjaan :)
Kalau kamu suka dengan tulisan ini, boleh banget kasih “claps” sebanyak-banyaknya atau komentar untuk mendukung aku agar lebih rajin lagi menulis. Siapa tahu ada kesempatan berkolaborasi, kamu bisa menghubungiku via Instagram: a_ndinatanael atau berkirim pesan via email: andinatanael08@gmail.com, ya!
메타데이터
- post_id
- a7d8cb70d134
- slug
- harus-paham-partuturan-a7d8cb70d134
- url
- https://medium.com/@andinatanael08/harus-paham-partuturan-a7d8cb70d134
- canonical_url
- https://medium.com/@andinatanael08/harus-paham-partuturan-a7d8cb70d134
- author_url
- https://medium.com/@andinatanael08
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 16:30:55