Bisingnya Isi Kepala, Sunyi Antara Kita
Putra terlalu abai menganggap bahwa tak akan ada kesempatan Arsena — mantan kekasihnya — untuk kembali hadir walau hanya sebatas mengantar…
Bisingnya Isi Kepala, Sunyi Antara Kita
[embed]
Putra terlalu abai menganggap bahwa tak akan ada kesempatan Arsena — mantan kekasihnya — untuk kembali hadir walau hanya sebatas mengantar undangan pernikahan yang sialnya langsung diterima oleh sosok yang dipuja-puja.
Tak pernah terlintas dalam kepalanya bahwa sosok yang berhasil sembuhkan luka dalam hatinya itu justru tersakiti dengan aksinya, aksi bodoh karena terlalu abai dan hanya diam tak menjelaskan sepatah kata pun terkait masa lalunya.
Toh, semuanya hanya masa lalu, begitu pikirnya.
Tiga jam sisa waktu bekerja terasa seperti tiga tahun lamanya karena ia ingin segera pulang untuk jelaskan pada Aji yang menunggu dengan sabar di kediaman keluarganya, menunggu tanpa ucapkan kata yang dapat melukai perasaannya — karena nyatanya ia yang justru melukai.
Obrolan terakhirnya dengan Aji menyiksa selama tiga jam tersebut, keinginannya untuk segera kembali dalam rengkuh nyaman sosok itu dan meminta maaf atas sikap abainya semakin meningkat. Ratusan kali ia mengecek jam tangan hingga timbulkan tatapan heran dari beberapa rekan kerjanya bahkan timbul ucapan, “sabar, habis ini bisa pulang ke pelukan pacar tercinta, Mas Putra."
Waktu bahkan baru menunjukkan pukul lima tepat tetapi ia sudah bangkit dari kursi dan menuruni gedung bertingkat sembari berlari kecil mengejar ojek online yang sudah dijadwalkan satu jam sebelumnya, mobil sengaja ia tinggal karena memperkirakan macetnya ibu kota yang tak mungkin berhasil ia tembus kurang dari dua jam sehingga membuatnya memutuskan mengambil moda transportasi umum.
Sepanjang perjalanan itu tak hentinya ia memastikan keberadaan Aji melalui adiknya agar tetap berada di kediaman keluarganya hingga ia tiba.
Perjalanan yang umumnya harus ditempuh dua jam paling cepat, kini berhasil ia lewati hanya dengan satu jam lamanya. Rambut coklat panjang itu terlihat dari balik jendela — membelakanginya dengan lampu temaram ruang tamu yang menyinari dari sisi kiri si pria tampan.
Jantungnya berdegup kencang — masih dengan rasa cinta yang menghinggapinya hanya saja kini didominasi oleh rasa cemas dan takut akan ekspresi wajah itu. Wajah yang ternyata tetap tenang walau tatapan sedih tak bisa membohonginya, terpampang jelas di wajah itu meski senyum simpul terpatri setelah menatapnya yang masuk ke rumah dengan tergesa.
“A’, I gotta go, partner kerjaku melahirkan sekarang jadi aku harus keluar kota beberapa hari aja, aku berangkat ya,” jelasnya sembari bangkit menghampirinya dan berhenti satu meter di hadapannya.
Putra terdiam kaku, bibirnya pun ikut kelu karena segala rencana dan ucapan yang sudah disusunnya sedemikian rupa sepanjang perjalanan pun ikut hilang, buyar bersamaan dengan pamitnya sosok itu.
“Mas,” panggilnya pelan menahan Aji yang hendak mengenakan sepatunya, “kita belum obrolin yang tadi, gak bisa kah ditunda dulu, please?” mohonnya dengan suara lemas.
Gelengan pelan dengan senyum yang benar-benar tak berhasil menenangkannya itu menjadi jawaban. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah mengantar Aji menaiki ojek online yang dipesannya — tanpa kecupan dan pelukan selamat jalan yang biasa mereka lakukan.
Hanya beberapa hari. Itu yang disebutkan oleh Aji sebelum berpamitan, tetapi baru hampir dua hari berada di kota yang berbeda membuatnya gelisah setengah mati karena mereka terpisah jarak dalam kondisi kesalahpahaman yang belum dijelaskan.
Salah siapa? Betul, salah Putra.
Kini ia menggelung dalam selimut, galau, gundah gulana, merana, sebutkan segala kata yang cocok untuknya yang kini bersikap bak remaja patah hati padahal usianya sudah menginjak kepala tiga hingga dapatkan gelengan kepala dari ibunya.
Sudah berkali-kali adik dan ibunya menenangkan dan berkata Aji akan segera kembali dan mendengarkan segala penjelasannya, tetapi benar-benar tak ampuh untuk pria itu. Ia tetap berbaring di hari minggunya hanya konsumsi satu lembar roti tawar saja.
Pada hari berikutnya pun ia masih bertahan dengan sikap itu walau berhasil menjalani pekerjaannya dengan profesional, hanya saja senyumnya tak banyak terpatri. Sebelum istirahat, ia sempatkan membuka ruang pesan dengan Aji walau mengetik dan menghapus isi pesannya beberapa kali dan mengirimnya dengan tangan gemetar.
Usahanya mengirim pesan tak berbuah baik justru ia mendapati kekasihnya tak lagi memanggilnya dengan panggilan sayang itu melainkan nama aslinya, air wajahnya semakin gelap ketika dapati isi pesan yang baru dibalas ketika sore hari.
Ungkapan cintanya pun tak dibalas, left on read. Entah apalagi yang harus ia lakukan, sepertinya memang menunggu adalah satu-satunya usaha yang tersisa untuknya.
Menunggu Mamas, Mamas Ajinya, kekasihnya itu kembali dalam rengkuhan. Itu pun jika ia masih dimaafkan, jika tidak, apa yang akan kau lakukan, Aa?
Tak ada yang berbeda dari isi kepala Aji yang penuh dengan berbagai pikiran negatif memenuhi, wajahnya memang tenang tetapi sinar matanya yang redup dan tatapan sedihnya menunjukkan bahwa kini ia dikuasai oleh suara-suara yang memenuhi isi kepalanya.
Belum ada penjelasan apapun dari Putra tetapi sebagian dirinya sudah ribut memikirkan langkah selanjutnya, langkah apa yang harus ia tempuh jika ternyata hubungan keduanya tak berhasil.
Beberapa jam yang lalu ketika ia membuka pintu kediaman keluarga Putra tak pernah sekalipun ia bayangkan akan menjadi titik yang mengubah hubungan mereka hingga seperti ini, perpaduan wajah tampan dan cantik yang berdiri di balik pagar itu disambutnya dengan ramah tanpa mempertanyakan apapun.
Begitu juga sosok yang menitipkan undangan pernikahan itu, keduanya bertukar senyum ramah karena saat itu Aji tak mengetahui siapa pemuda yang ia perkirakan beberapa tahun lebih muda darinya.
Pernah mendengar sebuah peribahasa curiosity killed the cat? Peribahasa yang bermakna rasa ingin tahu yang berlebihan dapat membahayakan diri sendiri dan di sini lah Ajisaka berada, dipenuhi perasaan negatif setelah mendengar ucapan adik dan ibu dari kekasihnya itu.
His bestest ex-boyfriend. Hanya kalimat itu yang terpatri dalam isi kepalanya berdampingan dengan pemikiran negatif lainnya. Walau sempat ragu, pertanyaan itu akhirnya berhasil ia keluarkan melalui ruang obrolan keduanya.
Menunggu tiga jam lamanya terasa bagai menunggu tiga menit, jujur saja, Aji tak siap mendengar penjelasan apapun yang akan diberikan Putra karena pemikiran negatif dan buruk itu selalu menang dalam isi kepalanya.
Sepanjang tiga jam yang ia habiskan dengan duduk di ruang tamu berlampu temaram dengan menyibukan mengurus pekerjaannya hingga dapati panggilan darurat dari salah satu partner kerjanya — Sheila — yang memberikan kabar bahagia sehingga mengharuskannya menggantikan pekerjaan itu di luar kota.
Maka ketika pintu depan terbuka menampilkan Putra dengan ekspresi wajah yang penuh rasa bersalah dengan kedua alis turun ke bawah, ia bawa tubuhnya untuk bangkit dan mendekat. Beri jarak satu meter sebelum menjelaskan bahwa ia harus segera pergi saat itu juga.
Walau pada kenyataannya, ia masih bisa berbincang sebentar karena jadwal keberangkatannya masih beberapa jam dari sekarang. Namun, Aji terlampau kalut dan takut akan apa yang akan diucapkan oleh Putra.
Mungkin kali ini Aji akan mengalami pengalaman seperti biasanya, pengalaman ditinggalkan, dikecewakan, dan harus kembali menata kepingan hatinya yang rusak.
Dua hari terpisah jarak, Aji menunjukkan sikap yang lebih tenang dibandingkan Putra. Hal ini dikarenakan tanpa ia sadari, berada jauh dari kekasihnya dengan masalah yang belum diselesaikan berarti hubungan mereka masih dapat dipertahankan.
Ajisaka memang terlihat sosok yang tenang, tak berbeda dari Putra yang juga sama tenangnya, tetapi dalam isi kepalanya terlalu rumit hingga pemiliknya pun agak sulit untuk menyatukan pemikiran itu.
Fokusnya ditujukan untuk menyelesaikan pekerjaan dan tak ingin lekas kembali walau dalam hati sudah rindu setengah mati. Kerinduan itu tertimbun oleh ketakutan akan perpisahan.
Pintu unit apartemen itu terbuka perlahan yang langsung menyuguhkan kamar dengan lampu menyala hangat dan angin sejuk yang masuk melalui pintu balkon yang terbuka lebar, gorden panjang bergerak perlahan mengikuti arah angin itu.
Putra mengedarkan netranya dan terkejut ketika dapati Aji sudah duduk dengan tenang di atas kursi meja makan yang terletak agak ke kiri dari pintu balkon, berjarak beberapa langkah darinya.
Koper merah kecil berdiri di sudut ruangan di sebelah sofa bersamaan dengan satu ransel besar yang terlihat tidak penuh — berisi perlatan kerja yang biasa dibawanya berupa tablet dan laptop.
Kepala Aji menoleh dari duduknya tampilkan senyum simpul buat Putra rasakan lututnya lemas karena berhasil mendapatkan senyum manis yang selalu menjadi penyemangatnya. Beberapa hari tak dapatkan sumber energinya itu buat tubuhnya seketika lemas.
Netra keduanya saling tatap, bertahan dalam posisi tersebut cukup lama sebelum Putra langkahkan kakinya untuk duduk di hadapan Aji — sesuai dengan permintaannya barusan.
Kembali diam dan saling tatap, keduanya menyatukan tatapan yang penuh akan kerinduan dan rasa bersalah. Memang pada dasarnya Putra dan Ajisaka selalu menatap penuh akan cinta, hanya dengan tatapan itu sebetulnya sudah memberikan ketenangan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Putra yang sebelumnya khawatir, takut Aji akan pergi meninggalkannya jika ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara Arsena dan dirinya, masa lalunya.
Ajisaka yang sebelumnya takut akan perpisahan jika ia mendengar penjelasan yang diberikan oleh Putra, cemas jika percakapan mereka akan menjadi yang terakhir.
Seluruh komitmen dan usaha yang mereka bentuk untuk membangun hubungan yang tak terasa sudah berjalan hampir dua tahun lamanya itu sempat hampir rusak akibat keduanya lebih percaya isi kepala masing-masing dibandingkan menyuarakan apa yang ada di hati.
“Udah lama sampe, Mas?” tanya Putra.
Gelengan kepala pelan, Aji menyesap air mineral yang sempat dituangnya ke atas gelas tadi. “Aku gambling, gak tau apa Aa akan pulang ke apart atau ke rumah,” jelasnya.
Putra diam tetapi tetap mendengarkan karena ia dengar intonasi Aji seperti akan melanjutkan ucapannya.
“Thank god kamu beneran pulang ke sini.”
“Aku akan pulang ke mana kamu pulang, Mas.”
Mereka kembali selami gelapnya netra masing-masing berusaha saling mengerti tanpa sapatah kata pun, garis lelah di wajah Aji menjadi perhatian Putra. Telapak tangannya terulur untuk mengusap pipi dan rahang kiri Aji dengan lembut.
“Mamas,” panggilnya lembut kemudian menarik tangannya menjauh untuk diletakkan di atas meja, “aku gak punya pembelaan apapun, it was all my fault.”
“Kesalahanku karena gak terbuka dari awal sama kamu, gak menjelaskan masa laluku ke kamu.” Aji mendengarkan penjelasan itu dengan saksama, tenang masih lekat menempel di wajahny awalau netranya tunjukkan lelah.
“Bestest ex-boyfriend? Gak pernah ada hal seperti itu dalam hidupku Mas.” Perlahan Putra meraih jemari Aji, membiarkan telapak tangan yang lebih kecil itu mengukung ibu jari, merematnya erat menyalurkan entah apa yang dirasakan dalam hatinya.
Senyum lembut masih bertahan di wajah Putra terlebih rasakan genggaman itu semakin erat. “Arsena, he was my ex, itu betul. Tapi Mas, hubungan kami buruk, kami saling menyakiti satu sama lain. That’s why we ended our relationship.”
“Are you…, really seeing me as Aji? Bukan Arsena?” Akhirnya pertanyaan itu muncul dari bibir tipis yang biasanya tersenyum manis, ucapkan kalimat sayang dan penenang.
“Never, aku gak pernah sekalipun liat kamu sebagai Arsena, Mas.”
Bagi Aji, ucapan itu masih agak sulit untuk dipercaya, wajahnya dengan jelas menunjukkan keraguan akan ucapan Putra barusan. Putra dapat melihatnya dengan jelas, ia bangkit dari duduknya, berlutut di sisi kursi yang diduduki oleh Aji kemudian meraih kedua tangannya untuk ditangkup dan diusap dengan lembut.
“Mamas, my actions and words maybe sounds like a player but I telling you the truth. Sebelum aku setuju dengan usul Neng dan Adek, aku sudah selesaikan semua masa laluku.”
Hanya ada suara angin kencang yang masuk ke dalam ruangan di dalam unit apartemen itu, tatapan Putra selalu lekat, tak pernah meninggalkan netra coklat muda kegemarannya.
“Aa, maaf kalau aku kedengerannya sulit untuk percaya, I also have dark past.” Ajisaka kembali membuka obrolan setelah keduanya saling tatap untuk beberapa menit.
Namun, sebelum kembali melanjutkan ucapannya, ia menarik lengan Putra untuk bangkit sebelum memeluknya erat di bagian pinggang, menenggelamkan wajahnya pada perut kekasihnya itu.
Putra pun tak tinggal diam, telapak tangannya langsung mendarat pada punggung dan kepala bagian belakang, mengusap perlahan secara lembut bergantian. “I’m all ears sayang.”
“Aku pernah kasih sebagian hatiku buat seseorang, tapi waktu dikhianati dan perpisahan itu secara nyata ada di hadapanku rasanya gak bisa terbayangkan lagi.” Aji bercerita dengan teredam dalam peluk erat itu. “And, what will happen if I give 100% my heart?”.
Putra dihadapkan netra berkaca-kaca yang sialnya sangat cantik itu ketika mendongak dari bawah, menatap tepat ke netranya menusuk langsung ke hatinya. Diusapnya sudut mata dan tulang pipi Aji lembut bagai takut merusaknya.
“Mamas, sayangku, you don’t have to give me your 100% heart, kamu gak harus kasih semuanya ke aku.” Kembali diusap dan ditangkup lembut kedua pipinya. “Adanya kamu, di sini, tetep bareng sama aku itu sudah cukup bahkan lebih dari cukup,” lanjutnya menarik pelan sudut bibir Aji agar tersenyum.
“Kamu senyum.” Putra menunduk untuk mengecup bibir Aji sekali dan lembut.
“Kamu bahagia.” Kecupan itu pindah ke kening dan kelopak mata.
“Bangun tidur peluk kamu.” Kini bergeser ke pipi kanan dan kiri.
“Pulang kerja peluk kamu.” Ujung hidungnya pun tak terlewat.
“That’s all I need, lengkap, bahagia hidupku, Mas.”

Bising dan sunyi, dua kata yang bertentangan tetapi bisa berdampingan seperti isi hati dan isi kepala yang selalu beriringan membentuk kisah cinta keduanya.
Boleh jadi, di masa mendatang akan banyak cerita lain yang serupa tetapi sama-sama menyakitkan. Boleh jadi, keduanya akan melewati cara yang sama.
Namun, satu hal yang bisa dipastikan. Mamas dan Aa akan melewatinya bersama, saling rangkul dan saling menguatkan. Melangkah beriringan dengan kepercayaan yang semakin kuat. Memeluk semakin erat.
Semoga, segala indahnya dunia mampu mereka nikmati.
Selamat dan semoga.
Mamas & Aa, 2026.
메타데이터
- post_id
- a80418b352b9
- slug
- bisingnya-isi-kepala-sunyi-antara-kita-a80418b352b9
- url
- https://medium.com/@lescenarios/bisingnya-isi-kepala-sunyi-antara-kita-a80418b352b9
- canonical_url
- https://medium.com/@lescenarios/bisingnya-isi-kepala-sunyi-antara-kita-a80418b352b9
- author_url
- https://medium.com/@lescenarios
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 14:26:31