Fungsi Sebelum Estetika(Refleksi -1)
Di tengah dunia yang serba cepat dan visual, kita semakin terbiasa menilai sesuatu dari permukaannya saja. Apa yang indah dan menarik di…
Fungsi Sebelum Estetika(Refleksi -1)

sumber: pinterest.com
Di tengah dunia yang serba cepat dan visual, kita semakin terbiasa menilai sesuatu dari permukaannya saja. Apa yang indah dan menarik di mata sering kali langsung mendapat perhatian, disukai, bahkan dibeli. Tapi, apakah sesuatu yang terlihat bagus juga pasti berguna? kita justru perlu bertanya lebih dalam: Apa nilainya secara substansi, bukan sekadar tampilannya?. Inilah mengapa penting untuk kembali menempatkan fungsi di posisi pertama, dan estetika sebagai pelengkap.
Definisi
Fungsi menurut Karl Bühler (psikolog dan linguis): Fungsi adalah kemampuan suatu unsur untuk menjalankan peran dalam keseluruhan sistem yang lebih besar. Jadi fungsi merujuk pada kegunaan atau peran suatu objek, sistem, atau karya dalam memenuhi kebutuhan atau tujuan tertentu.
Estetika menurut Immanuel Kant adalah penilaian bebas berdasarkan rasa, yang tidak bergantung pada konsep atau kegunaan. Kant menyatakan bahwa pengalaman estetika bersifat disinterested (tanpa pamrih), dan keindahan dirasakan tanpa menginginkan manfaat praktis darinya.
Kesimpulan dari konsep fungsi dan estetika yaitu: Fungsi berfokus pada kegunaan. Fungsi menjawab pertanyaan “Apa gunanya?” atau “Untuk apa sesuatu itu ada?. Sedangkan estetika berfokus pada keindahan dan pengalaman indrawi.
Estetika : Daya Tarik Sekilas
kita sering terpesona oleh tampilan luar, kemasan produk yang elegan, desain aplikasi yang mulus, atau arsitektur bangunan yang menawan. Estetika memang punya kekuatan untuk memikat dalam sekejap. Tapi apakah keindahan luar selalu mencerminkan nilai yang sesungguhnya?
“Yang indah tidak selalu berguna. Yang berguna sering kali sederhana.”— parafrase dari prinsip modernis
Estetika bekerja cepat. Dalam hitungan detik, ia bisa membentuk kesan pertama. Kita mengasosiasikan keindahan dengan kualitas, kenyamanan, bahkan kepercayaan. Namun, jika di balik tampilan yang memukau tidak ada fungsi yang berjalan dengan baik, maka keindahan itu hanya ilusi.
Bayangkan: sebuah aplikasi dengan desain antarmuka yang menawan, tetapi lambat, membingungkan, atau bahkan gagal menjalankan fungsinya. Dalam hal ini, estetika justru menjadi pengalih perhatian dari kenyataan bahwa produk tersebut tidak bekerja.
Filsuf seperti Aristoteles menegaskan bahwa nilai sejati suatu hal terletak pada telos (tujuannya). Kursi disebut kursi karena bisa diduduki bukan karena tampilannya. Kalau tidak bisa diduduki, meski indah, ia kehilangan hakikatnya.
Fungsi Sebelum Estetika
Dalam kehidupan sehari-hari, saya semakin menyadari bahwa tidak semua yang tampak indah itu benar-benar berguna. Kita sering tergoda oleh tampilan luar, kemasan produk yang menarik, gadget dengan desain tipis mengilap, atau pakaian yang mengikuti tren. Tapi saat diuji dalam praktik, saya belajar satu hal penting: fungsi harus selalu didahulukan daripada estetika.
Contoh sederhana: saya pernah membeli sepasang sepatu karena desainnya yang keren dan warnanya yang unik. Tapi setelah beberapa kali dipakai, saya sadar betapa tidak nyamannya sepatu itu. Kaki lecet, langkah terasa kaku, dan akhirnya sepatu itu lebih banyak tersimpan daripada digunakan. Dari situ saya belajar: sepatu bagus bukan yang paling menarik dipandang, tapi yang nyaman dipakai berjalan jauh.
Dalam pekerjaan pun, saya makin sadar akan pentingnya mendahulukan fungsi. Sebuah presentasi PowerPoint bisa dibuat dengan desain menarik, penuh animasi dan warna. Tapi jika isinya tidak jelas dan sulit dipahami, semua usaha estetika itu jadi sia-sia.
Hal yang sama terjadi saat memilih handphone. Saya dulu memilih dalam membeli handphone dengan spesifikasi yang tinggi, seperti kamera sekian megapixel, penyimpanan dan ram sekian gigabyte dll. Tetapi dalam kenyataannya spesifikasi tersebut tidak begitu berfungsi bagi saya yang notabene menggunakan handphone hanya untuk berkirim pesan dan berselancar di internet. Mungkin bagi mereka yang bekerja sebagai konten kreator sangat perlu untuk membeli handphone dengan spesifikasi kamera yang bagus misalnya, atau bagi mereka para driver ojek online memerlukan handpone dengan spesifikasi batrai maupun penyimpanan yang besar untuk menunjang pekerjaan mereka.
Kegunaan sebagai Esensi Eksistensi
Saya jadi teringat Filsuf Jerman Martin Heidegger berbicara tentang “being” (ada) dan bagaimana manusia terhubung dengan dunia melalui kegunaan (readiness-to-hand). Dalam pikirannya, kita memahami benda atau ide bukan melalui tampilannya, tetapi melalui fungsinya dalam kehidupan sehari-hari. “Barang menjadi berarti bukan karena dilihat, tapi karena digunakan.” Ini memperkuat pentingnya fungsi sebagai fondasi berpikir dan bertindak yang autentik.
Dalam Being and Time, Heidegger menyebut manusia dengan istilah Dasein, yang secara harfiah berarti “ada di sana” atau “kehadiran”. Dasein adalah makhluk yang menyadari keberadaannya, dan hidupnya tidak bisa dipisahkan dari keterlibatannya dalam dunia. Dasein tidak hanya “ada” seperti batu atau kursi tetapi ia mengalami, menafsirkan, dan menggunakan. Dalam proses itu, dunia tidak dilihat sebagai kumpulan benda mati, melainkan sebagai sesuatu yang bermakna karena kegunaannya.
Heidegger membedakan dua cara kita mengalami benda:
a. Zuhandenheit (Ready-to-hand) — “Siap digunakan”
Ini adalah pengalaman paling otentik dalam hidup sehari-hari. Kita tidak berpikir “secara sadar” tentang benda, tapi langsung menggunakannya dalam konteks.
b. Vorhandenheit (Present-at-hand) — “Hanya ada sebagai objek”
Ini terjadi ketika fungsi itu rusak, atau saat kita “melihat dari luar.” Misalnya, ketika pulpen tidak berfungsi, barulah kita memperhatikannya sebagai benda: bentuk, warna, panjangnya, dsb.
Makna eksistensial hanya muncul ketika kita terlibat dalam kegunaan sesuatu. Kita tidak terlalu memikirkan pena saat sedang asyik menulis. Ia menghilang ke latar, menjadi perpanjangan dari pikiran kita. Tapi saat tinta habis atau pena macet, barulah kita tersadar: ada alat yang selama ini memfasilitasi ekspresi dan pemikiran.
Segelas kopi di pagi hari, di antara obrolan ringan dengan sahabat, itulah momen yang membentuk makna. Kopi bukan lagi sekadar minuman, melainkan bagian dari keintiman dan kehadiran bersama. Tanpa percakapan itu, kopi hanyalah cairan dalam gelas. Fungsinya sebagai “pengikat ruang sosial” menjadikannya bermakna.
Jadi, segala sesuatu memperoleh eksistensi bukan karena bentuk atau estetikanya, tetapi karena kita menggunakannya dalam konteks hidup yang nyata. Makna Tidak Ada di Permukaan, Heidegger menantang cara kita menjalani hidup. Ia mengingatkan bahwa dunia bukan sekadar kumpulan benda yang bisa dilihat dan dinilai secara estetik. Dunia adalah tempat di mana makna muncul melalui fungsi dan keterlibatan.
Mengapa Ini Relevan Hari Ini
Di era media sosial, marketing, dan “branding pribadi”, kita semakin rentan terjebak dalam citra. Ide terlihat hebat karena viral. Orang dianggap bijak karena gaya bicaranya. Hal ini mengingatkan kita untuk bertanya:
Apa makna sejatinya?
Apa manfaatnya bagi kehidupan?
Apakah ini memiliki nilai intrinsik, atau hanya sekadar terlihat indah?
Dalam dunia yang serba visual, menjaga keseimbangan antara fungsi dan estetika menjadi bentuk kesadaran. Filsafat mengajarkan kita untuk tidak berhenti di permukaan. Ia mengajak kita untuk berpikir dalam, menilai berdasarkan esensi, bukan kesan. Dalam hidup dan berpikir, kita perlu membangun fondasi fungsi — baru kemudian menyempurnakan dengan keindahan.
Refleksi ini menuntun saya untuk lebih bijak dalam memilih dan menilai sesuatu. Estetika memang menyenangkan, tapi fungsi yang memberi makna. Saya percaya keindahan bisa memperkaya hidup, memperhalus rasa. Tapi keindahan yang sejati adalah ketika bentuk melayani fungsi, bukan menggantikannya. Bahwa apa yang terlihat baik belum tentu bekerja baik, tapi apa yang bekerja baik pasti membawa nilai yang lebih tahan lama. Kita bukan hanya makhluk yang melihat dunia, akan tetapi kita adalah makhluk yang mengalami dan mengisinya dengan makna. Dan makna itu lahir bukan dari bentuk luar, tapi dari bagaimana kita terlibat secara sadar dalam kehidupan ini.
“Kita tidak hanya ada di dunia. Kita berada dalam dunia dan di sanalah, kita menemukan makna.” — (Refleksi atas Heidegger)
Rahayu~
Kebumen, Rabu Kliwon, 2 Juli 2025
Fajar E Hadianto
메타데이터
- post_id
- a818869ce6e2
- slug
- fungsi-sebelum-estetika-refleksi-1-a818869ce6e2
- url
- https://medium.com/@fajareh/fungsi-sebelum-estetika-refleksi-1-a818869ce6e2
- canonical_url
- https://medium.com/@fajareh/fungsi-sebelum-estetika-refleksi-1-a818869ce6e2
- author_url
- https://medium.com/@fajareh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 04:16:13