← Back to list

Bagai “Kepatil” Kata Kapitil

Apakah itu cukup untuk mempersilakan kata kapitil masuk ke KBBI?

Aprilia Kumala · 2026-01-11 09:58 · 203 claps · 5.1 min read
#kapitil #kapital #nonkapital #kbbi #badan-bahasa
Open on Medium ↗

Bagai “Kepatil” Kata Kapitil

Saking lamanya tidak bekerja penuh waktu (rekor terlama!), saya kaget sendiri saat menyadari bahwa sudah lebih dari 7 tahun berlalu sejak saya menulis artikel tentang kapitalisasi judul di sini. Apa yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini akan sedikit berkaitan dengan artikel tersebut, terutama ilustrasinya.

Dulu, rubrik Versus di Mojok.co adalah alasan saya tetap hidup dan semangat kerja. Meski pengetahuan saya soal bahasa Indonesia masih sedikit, menulis artikel untuk Versus selalu terasa menyegarkan. Kadang-kadang, saya menyelipkan lelucon aneh dan garing, menyadari bahwa hanya saya yang mungkin akan tertawa. Setelah tulisan-tulisan di Versus dibukukan dalam Saya Sebetulnya Bisa Menjadi Polisi Bahasa, Tapi Lebih Memilih Menjadi yang Setia (Buku Mojok, 2018), saya merasa sangat gembira mendapatkan kiriman pesan dan reviu atas tulisan-tulisan absurd itu.

Baik, kembali ke inti cerita.

Kapital dan Kepatil

Saat menjadi redaktur Mojok.co, saya bekerja sama dengan ilustrator yang bertugas “menghias” tulisan dengan satu gambar utama. Salah satunya bernama Mas Ega, orang paling ceria yang saya kenal seumur hidup. Saat menulis artikel “Cara Menulis Judul: Pakai Huruf Kapital Semua atau Nggak, sih?” di atas, saya menghubunginya untuk meminta ilustrasi. Tidak ada brief yang saya berikan — saya begitu percaya dengan kepiawaiannya meracik gambar terbaik.

Begitulah akhirnya gambar itu muncul: seekor lele yang ditemani tulisan “kapitalisasi judul”. Saya terkikik menyadari plesetan yang dimaksud Mas Ega. Artikel Versus diselipi permainan kata dan gambar — menurut saya itu selalu menarik! Setelah tulisan tersebut tayang, barulah kru yang lain ikut terkekeh menyadari ilustrasi yang digunakan.

Gambar Mas Ega! (Sumber: Mojok.co)

Gambar Mas Ega! (Sumber: Mojok.co)

Gambar buatan Mas Ega merujuk pada patil lele. Dalam KBBI, patil berarti duri sirip dada yang tajam dan berbisa (pada sebagian kelompok ikan bersungut). Jika seekor lele melukaimu lewat patilnya, artinya kamu sedang mengalami kepatil — sebuah kata yang mirip dengan kata kapital.

Penafian: Patil lele bisa menyebabkan cedera. Baca cara penanganannya di sini.

Bertahun-tahun kemudian, saya tidak menyangka akan bertemu satu lagi kata yang mirip dengan kapital: kata baru yang menghebohkan media sosial, yaitu kapitil.

Lelucon Huruf i

Uda Ivan Lanin membahas kapitil pada video Narabahasa berikut. Beberapa pengguna media sosial juga sudah angkat bicara sebelum dan setelahnya, membandingkan kapitil dengan syarat-syarat sebuah kata bisa masuk KBBI.

Saat mendengar kapitil masuk ke KBBI, saya mengira itu sekadar lelucon khas internet. Namun, saat menyadari hal itu sungguh-sungguh terjadi, saya menemukan informasi bahwa kata tersebut diberi label cak — kata cakapan. Label itu membuat saya sedikit santai karena setidaknya saya bisa berjanji pada diri sendiri untuk tidak menggunakannya saat bekerja menyunting naskah.

Mengapa demikian? Jujur saja, saya tak begitu menikmati bagaimana kata kapitil terdengar saat diucapkan. Tidak hanya karena — mengutip dari pendapat sejumlah orang — kata tersebut terdengar seperti bagian dari alat kelamin, tetapi kata itu juga terdengar seperti lelucon adik saya saat masih kecil.

Ya, saat usianya belum menyentuh remaja, adik saya suka sekali membuat istilah-istilah aneh yang eufonik menurut dirinya sendiri. Kebiasaan yang paling sering dilakukannya adalah mengubah huruf vokal pada semua kata.

“Mbik Lii nyibilin bingit, lih!” (“Mbak Lia nyebelin banget, loh!”)

“Ipi iyi?” (“Apa iya?”)

“Hiii …. Ipi Mbik Lii inggik isin?” (“Hiii …. Apa Mbak Lia enggak isin — malu?”)

Sumber: www.freepik.com

Sumber: www.freepik.com

Kami sekeluarga jadi sering berkomunikasi dengan huruf i begitu fasih. Adik saya mengucapkannya dengan sangat baik sampai-sampai saya berpikir dia akan bicara seperti itu bahkan saat nantinya dia menikah (“Siyi tirimi nikih din kiwinnyi ….”). Kami tertawa saat berandai-andai dunia dipenuhi dengan huruf i.

Huruf i yang digunakan adik saya memberi kesan semua kata terdengar lebih lucu, imut, dan … kecil. Entah bagaimana menjelaskannya, tetapi begitulah yang saya rasa. Kesan ini tidak mengganggu saya sebab adik sayalah yang menggunakannya: Toh, dulu memang dia lucu, imut, dan kecil (huek).

Dalam video Uda Ivan yang saya sebut di atas, saya menyadari jawabannya: fonestem. Pada menit 1:33, Uda memaparkan bahwa huruf vokal a, u, dan o memberi kesan besar, sedangkan huruf e dan i menampilkan kesan sebaliknya. Contoh yang sederhana: Cekakak adalah tawa terbahak-bahak, sedangkan cekikik adalah tawa yang agak tertahan.

Dengan penilaian fonestem tersebut, kata kapitil jadi terkesan masuk akal karena “lebih kecil” daripada kapital. Lelucon bahasa khas adik saya pun terdengar lebih imut saat diucapkan dengan “Ipi iyi?” ketimbang “Opo oyo?”.

Namun, apakah itu cukup untuk mempersilakan kapitil masuk ke KBBI?

Kelahiran Kapitil

Sejak kata kapitil menjadi bagian dari KBBI, pengguna internet beramai-ramai menyampaikan pendapatnya. Saya lebih sering mendengar ketidaksetujuan, terutama terkait syarat-syarat sebuah kata masuk ke KBBI.

Tangkapan layar kata kapitil di KBBI VI Daring (https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/kapitil)

Tangkapan layar kata kapitil di KBBI VI Daring (https://kbbi.kemendikdasmen.go.id/entri/kapitil)

Salah satu aspek yang paling sering dibahas adalah frekuensi penggunaan kata kapitil. Menurut artikel di *Detik.com, Kepala Redaksi KBBI menyebut bahwa kapitil sudah lama digunakan di kalangan Badan Bahasa. Sederhananya, kapitil lahir dari candaan internal mereka. Sementara itu, sebagai bagian dari masyarakat di luar lembaga tersebut, saya belum pernah mendengar penggunaan kapitil. Rasanya, kata nonkapital sudah cukup jelas bagi saya. Jika butuh opsi lain, selalu ada kata onderkas.*

Namun, saya ingat lagi: Kapitil hanya ditandai sebagai ragam cakapan. Kondisi ini tentu berbeda dengan nonkapital dan onderkas yang bisa digunakan dalam ragam formal. Kepala Redaksi KBBI, dalam artikel di Detik.com, menyebut keadaan ini “seharusnya, sih, tidak masalah”.

Saya, lowkey, memang tidak merasa ini masalah dalam hal penggunaan kata. Tentu saja saya geli dan gemas saat mengingat kata ini hanya lahir dari candaan internal kelompok yang jauh lebih kecil dibanding masyarakat Indonesia. Namun — lagi-lagi — kapitil bukan ditetapkan sebagai ragam formal sehingga hal ini “terasa aman”.

Menariknya, Kepala Redaksi KBBI, dalam artikel yang saya sebut di atas, memberi pernyataan tambahan. Katanya, Badan Bahasa akan melihat tanggapan dari masyarakat mengenai kapitil. Jika mayoritas pengguna bahasa Indonesia merasa keberatan, tim redaksi akan mempertimbangkan kembali pemuatan kata tersebut di KBBI.

Waaah, dinamis sekali, ya, kata-kata di KBBI? Seandainya saja bagian akhir serial How I Met Your Mother bisa dipertimbangkan ulang semudah itu — Tracy seharusnya hidup dan terus menjalani keluarga yang hangat bersama Ted alih-alih meninggal dunia dan membuat Ted kembali (lagi) pada sahabat sekaligus mantan kekasihnya, Robin, yang seharusnya tidak dibuat bercerai dengan Barney karena mereka adalah pasangan paling sempurna di dunia.

Ups. Maaf, kelepasan.

“Ipi Iyi?”

Sebagai penyunting, saya dituntut bekerja sesuai set standar bahasa Indonesia yang resmi. Selain EYD V, KBBI kerap menjadi acuan yang saya gunakan. Namun, dalam praktik sehari-hari, saya tak selalu mengikutinya.

Pada bagian awal tulisan ini, misalnya, saya menggunakan kata plesetan alih-alih bentuk bakunya: pelesetan. Beberapa waktu lalu, saat KBBI mengubah kata tapi menjadi kata baku, saya tetap menggunakan tetapi dalam banyak tulisan. Saya bahkan baru tahu kalau sekarang kata tapi kembali diberi label ragam cakapan.

Keberadaan kata kapitil memang terasa aneh dan tiba-tiba, terutama karena kata tersebut tidak banyak digunakan. Kita “dipaksa” menerima meski kata itu hanya berupa ragam cakapan. Namun, pernyataan bahwa “tim KBBI akan melihat tanggapan masyarakat dan mungkin mempertimbangkannya kembali” justru membuat saya teringat pada viral-based policy yang sering terjadi. Tahu, kan: Sebuah kebijakan dilempar, lalu dianulir setelah menuai penolakan dari khalayak luas?

Yang terlihat seperti sisi positif adalah fakta bahwa suara kita bisa saja didengar. Namun, saya jadi bertanya-tanya: Bukankah momen “lempar, lalu cabut” seperti yang kerap terjadi belakangan ini justru akan memengaruhi kredibilitas pembuat kebijakan?

Maksud saya, apa iya rasa percaya di antara masyarakat dan pembuat kebijakan bisa tumbuh dengan baik dengan cara seperti itu — berulang kali?

Ah, maaf, saya salah menggunakan kata. Maksud saya … ipi iyi?


메타데이터
post_id
a82e14d55fa9
slug
bagai-kepatil-kata-kapitil-a82e14d55fa9
url
https://medium.com/@adkumala/bagai-kepatil-kata-kapitil-a82e14d55fa9
canonical_url
https://medium.com/@adkumala/bagai-kepatil-kata-kapitil-a82e14d55fa9
author_url
https://medium.com/@adkumala
status
ok
fetched_at
2026-06-18 00:10:23